Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM DI DUNIA KULTIVASI

SISTEM DI DUNIA KULTIVASI

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Time Travel
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Chen Yiyi adalah pelayan di Puncak Sakte. Namun nyaris tak ada satu pun murid atau Tetua Sekte yang pernah melihat wajahnya. Dia tak pernah turun ke bawah, tak pernah bergaul, tak pernah meminta apa-apa.

Selama ini dia hanya mengurung diri di gubuk tua itu, merawat taman bunga obat dan menjaga tempat ini untuk orang yang pernah memberinya tempat bernaung — Tetua Puncak Sakte.

Hingga hari itu, kabar datang bagaikan badai: Tetua Puncak telah meninggal dunia. Tanpa pelindung, tanpa nama, tanpa keluarga, Chen Yiyi merasa tak ada lagi alasan baginya untuk tetap hidup. Di tengah malam yang sunyi, di dalam gubuk tua itu, dia memilih mengakhiri hidupnya sendiri.

Darah menetes ke lantai kayu yang lapuk. Matanya perlahan tertutup. Napasnya berhenti.

Namun kematian bukanlah akhir.
Saat kesadaran asli Chen Yiyi lenyap, seketika itu juga cahaya menyelimuti ruangan. Sebuah jiwa dari dunia lain, seorang manusia dari zaman modern yang baru saja meninggal, tersentak masuk ke dalam tubuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Sumber Daya

Tiga hari berlalu sejak Xiao Tian dan Su Ling berangkat bersama lima murid inti lainnya. Mereka menaiki kapal terbang kecil yang meluncur rendah di atas hutan dan pegunungan, mengikuti titik-titik cahaya di peta yang diberikan Lin Yue.

Setiap titik menandakan sumber daya langka, namun mereka tahu — tempat yang berharga pasti tidak mudah didapat.

Titik pertama berada di sebuah lembah tersembunyi yang dikelilingi tebing curam. Begitu kapal mendarat, semua orang merasakan udara yang berbeda — berat, sunyi, dan dipenuhi energi roh yang begitu pekat hingga membuat kulit merinding.

"Ini..." Xiao Tian melangkah maju, matanya menatap ke depan dengan waspada. "Ada formasi segel di sini. Wilayah ini sudah dikunci selama ribuan tahun. Energi di dalamnya terperangkap, tidak bisa keluar, tidak bisa dimasuki sembarang orang."

Su Ling mengangguk, tangannya sudah memegang pedang di pinggang. "Tidak heran sumber dayanya begitu melimpah. Selama ribuan tahun tidak ada yang menyentuhnya. Tapi segel ini bukan buatan manusia biasa. Kita harus berhati-hati."

Mereka berjalan perlahan masuk ke lembah itu. Pohon-pohon raksasa menjulang tinggi, akarnya menjalar seperti ular purba.

Di tanah itu, batu spiritual tingkat tinggi bersinar terang di mana-mana — berkilauan biru dan ungu, tersebar hingga ke kaki mereka. Namun sebelum sempat mengambilnya, tanah di depan mereka bergetar hebat.

Dari balik semak-semak, muncul sesosok makhluk besar — setinggi sepuluh orang, bersisik keras berwarna hitam keemasan, matanya menyala merah menyala.

Itu adalah Binatang Roh Naga Tanah, penjaga lembah itu sejak zaman purba. Aura yang dipancarkannya begitu dahsyat, membuat beberapa murid di belakang mundur selangkah dengan napas tertahan.

"Ini wilayah kami!" suara makhluk itu bergema seperti guntur, getarannya menjalar hingga ke telapak kaki mereka. "Siapa pun yang melanggar ke sini... harus melangkahi mayat kami dulu!"

Xiao Tian melangkah maju, tidak mundur walau satu langkah pun. Matanya menatap tajam, semangat bertarung menyala di dadanya. "Kami tidak bermaksud merusak tempat ini. Tapi sumber daya di sini milik seluruh makhluk di bawah langit. Jika kau menjaganya dengan kekerasan, kami terpaksa melawan!"

"Kalau begitu... cobalah!" Naga Tanah itu meraung keras, lalu menerjang ke depan.

Pertarungan itu berlangsung sengit. Xiao Tian dan Su Ling memimpin serangan, saling melindungi dan bergantian menyerang.

Sisik Naga Tanah itu begitu keras hingga senjata biasa tak mampu melukainya. Setiap kali ia menghentakkan kaki, tanah terbelah dan batu beterbangan.

Murid-murid lainnya tidak berdiam diri — mereka membentuk formasi, mengalirkan energi roh untuk menahan serangan dan mencari celah.

Darah menetes dari lengan Su Ling, napas mereka memburu, namun tidak satu pun dari mereka yang berniat mundur. Mereka mengasah kemampuan, menguji batas kekuatan sendiri — setiap serangan, setiap pertahanan, membuat mereka semakin kuat.

Setelah berjam-jam bertarung, Naga Tanah itu pun mulai terengah. Ia menatap mereka dengan tatapan hormat yang baru pertama kali ia berikan kepada manusia. "Kalian... kuat. Dan tidak serakah. Bisa bertahan selama ini tanpa berniat membunuhku... itu belum pernah terjadi sebelumnya."

Xiao Tian mengangkat tangannya, memberi isyarat berhenti. Ia menyeka darah dari sudut bibirnya, lalu menatap makhluk itu dengan tulus. "Kami tidak ingin membunuhmu. Kau adalah penjaga tempat ini, bukan musuh. Bagaimana jika kau tetap menjadi penjaga — namun kali ini, bersama kami?"

Naga Tanah itu menyipitkan matanya. "Maksudmu?"

"Kita membuat kontrak darah," ucap Xiao Tian tegas. "Kau menjadi pelindung sekte kami, dan kami akan menghormatimu serta tempat ini. Sumber daya di sini akan diambil secukupnya, tidak dihabiskan. Kami akan menjaga lembah ini sebagaimana kau menjaganya selama ribuan tahun. Jika kau setuju — mari kita berjanji dengan darah kita sendiri."

Su Ling maju selangkah, menatap makhluk itu dengan lembut namun tegas. "Kami tahu tempat ini adalah rumahmu. Kami tidak akan mengusirmu. Kami hanya ingin menjadi bagian dari penjaganya. Bersama-sama, tempat ini akan semakin aman dan makmur."

Naga Tanah itu terdiam lama, lalu perlahan menundukkan kepala besarnya — tanda persetujuan. "Selama ribuan tahun... aku sendirian. Tidak ada yang berani bertarung denganku tanpa niat membunuh. Kalian berbeda. Aku setuju."

Xiao Tian mengiris telapak tangannya dengan pedang, lalu meneteskan darah ke tanah di antara mereka. Itu bukan kontrak darah Tuan dan bawahan, tapi sebagai bentuk perjanjian, jika Binatang tersebut sudah jadi bagian Sekte Surgawi langit.

[ KONTRAK DARAH TERBENTUK! ]

Binatang Roh Naga Tanah — kini menjadi Pelindung Sekte Surgawi Langit!

Kekuatan kedua belah pihak saling bertambah!

Cahaya itu perlahan mereda. Naga Tanah itu terasa berbeda — lebih kuat, lebih tenang. Ia menunduk hormat kepada Xiao Tian dan Su Ling. "Namaku Guan Long. Mulai hari ini, nyawaku milik Sekte Surgawi Langit."

***

Mereka melanjutkan perjalanan ke titik kedua — sebuah gua di tengah pegunungan yang kabur dari pandangan mata biasa.

Begitu mendekat, mereka merasakan tekanan yang lebih berat dari sebelumnya. Di pintu masuk gua itu tertulis huruf kuno yang sudah pudar: "Wilayah Segel Roh — Terkunci sejak zaman purba."

"Segel ini lebih tua dari yang sebelumnya," ucap salah satu murid inti sambil menyentuh dinding batu yang dingin. "Kekuatannya belum hilang sepenuhnya. Jika kita masuk sembarangan, bisa terjebak di dalam selamanya."

Namun saat mereka berdiri ragu, bayangan melayang keluar dari kegelapan gua — Binatang Roh Burung Petir, sayapnya memancarkan kilatan listrik biru, matanya tajam mengawasi mereka. Ia tidak langsung menyerang, melainkan menatap mereka dengan penuh pertimbangan.

"Kalian datang untuk mengambil apa yang ada di dalam?" suaranya bergema di udara, disertai bunyi petir yang samar. "Banyak yang datang sebelum kalian. Mereka ingin membunuhku, ingin merampas tempat ini. Semuanya gagal, dan semuanya binasa."

Xiao Tian melangkah maju sendirian, tidak membawa senjata terhunus. "Kami tidak datang untuk membunuhmu. Kami tidak datang untuk merampas. Kami datang untuk meminta izin — untuk mengambil secukupnya, dan untuk menjaga tempat ini bersama-sama. Jika kau menolak, kami akan pergi. Tidak ada paksaan."

Burung Petir itu terdiam, lalu perlahan turun ke tanah di hadapan mereka. "Manusia yang tidak serakah... sungguh jarang ada. Jika kalian bisa bertarung denganku dan bertahan tiga puluh serangan tanpa niat membunuh, aku akan percaya pada kata-katamu."

Pertarungan itu berbeda — lebih cepat, lebih mematikan. Kilat biru menyambar ke segala arah, gua itu berguncang hebat.

Xiao Tian dan Su Ling bergantian menangkis dan menghindar, belajar membaca gerakan yang mustahil diprediksi. Setiap serangan yang mereka terima membuat mereka tumbuh lebih tangguh, lebih waspada. Pada serangan ketiga puluh, Burung Petir itu berhenti, sayapnya terlipat tenang.

"Kalian lulus," ucapnya pelan namun penuh pengakuan. "Tidak ada yang bertahan sampai serangan terakhir tanpa membenciku. Kalian berbeda."

Mereka kembali melakukan kontrak darah. Cahaya biru petir bercampur dengan cahaya merah darah mereka — ikatan kedua pun terbentuk.

Burung Petir itu bernama Qing Dian, dan sejak saat itu, ia menjadi pelindung gua sekaligus pengawas langit di atas wilayah sekte.

.

.

1
Alia Chans
Hadirr Thor
cerita nya seru banget.... singgah juga di karya baru aku ya🤭🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!