Suara gemericik air hujan yang menabrak kaca jendela kamar menjadi satu-satunya dentang yang memecah keheningan di dalam ruangan bernuansa minimalis itu. Riana duduk di tepi tempat tidur berukuran king size, jemarinya meremas pinggiran sprei satin yang dingin. Di sudut ruangan lain, berdiri seorang pemuda berpostur jangkung yang sedang merapikan kerah kemeja hitamnya di depan cermin besar. Dialah Reza, sosok pria yang sejak dua bulan lalu secara sah menyandang status sebagai suaminya.
Dua bulan bukan waktu yang singkat untuk hidup di bawah satu atap tanpa suara. Dua bulan berjalan seperti rentetan hari tanpa warna, di mana keberadaan satu sama lain dianggap layaknya bayangan yang tak memiliki wujud. Pernikahan ini bukanlah impian yang dianyam oleh cinta, melainkan sebuah simpul paksaan yang dijahit oleh warisan janji masa lalu.
Nenek moyang dari kedua keluarga besar mereka pernah membuat kesepakatan tertulis puluhan tahun lalu, sebuah amanah keluarga yang tak boleh dilanggar oleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hening Yang Membekukan
Kalo kamu kayak gini cuma karena emosi, aku gak mau! Aku juga belum siap!" ucap Riana gelagapan, melangkah mundur makin mepet ke meja rias hingga badannya tak bisa berkutik lagi.
"Kenapa belum siap?" tanya Reza dengan suara rendah yang menuntut. Pria itu tidak menghiraukan penolakan Riana dan kembali melangkah maju. Tanpa memberikan Riana ruang untuk menghindar, Reza mencengkeram lembut kedua bahu Riana lalu kembali menempelkan bibirnya dengan paksa.
Ketakutan dan amarah menyatu di dalam diri Riana. Saat Reza makin mendesaknya, Riana refleks mengatupkan giginya kuat-kuat.
Crrr!
Gigitan keras Riana mendarat tepat di bibir bawah Reza. Bau amis darah mendadak menyeruak di antara mereka. Reza meringis kesakitan, menarik tubuhnya mundur seketika sembari memegangi mulutnya. Darah segar menetes dari luka gigitan itu, membasahi jemarinya.
"Aaghh!" Reza berteriak histeris, menatap telapak tangannya yang bernoda darah dengan raut wajah syok.
Melihat darah mengalir dari bibir Reza dan mendengar teriakan pria itu, kepanikan Riana mendadak puncak. Amarah yang semula membakar langsung berganti dengan rasa bersalah dan ketakutan.
"Reza! Maaf... aku gak sengaja, aku kaget!" ucap Riana panik.
Tanpa berpikir panjang, Riana langsung berlari menuju lemari pakaian tempat ia menyimpan kotak P3K. Jemarinya yang gemetar hebat membuka kotak plastik putih itu, menyambar botol antiseptik, kapas, dan salep luka.
Riana bergegas kembali mendekati Reza yang kini terduduk kaku di tepi tempat tidur sembari menekan bibirnya dengan tisu yang mulai memerah.
"Duduk yang benar, biar aku obatin," cicit Riana dengan suara gemetar.
Reza mendongak, menatap Riana dalam diam. Kemarahan dan hawa nekat yang sempat menguasai dirinya perlahan luntur, berganti dengan rasa perih yang menjalar di bibirnya serta kesadaran akan betapa jauhnya ia telah melampaui batas. Reza menyingkirkan tisunya tanpa memprotes.
Riana berlutut pelan di depan Reza. Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, ia membasahi kapas dengan cairan antiseptik lalu mengusapkannya perlahan pada luka gigitan di bibir Reza.
"Aw... pelan-pelan," desis Reza menahan perih saat antiseptik itu menyentuh lukanya.
"Iya, maaf... makanya kamu jangan nekat kayak tadi," bulir suara Riana terdengar sangat pelan, fokus menatap luka di bibir suaminya. Jaraj yang begitu dekat membuat Reza bisa merasakan hembusan napas Riana dan melihat kelingbungan di matanya.
Saat Riana mengoleskan salep tipis-tipis di bibirnya, Reza menatap paras wanita di depannya itu dengan pandangan yang rumit. Ada penyesalan mendalam yang mendadak menyusup ke dadanya. Reza menyadari, intimidasi dan pemaksaan tidak akan pernah bisa memenangkan hati Riana—justru makin menjauhkannya dari wanita yang seharusnya ia lindungi ini.
Ruang kamar utama itu mendadak hening seketika. Hawa panas bekas pertengkaran dan kepanikan perlahan menguap, menyisakan kecanggungan luar biasa yang membelenggu keduanya. Suara detik jarum jam dinding terasa bergema begitu nyaring di antara ketenangan yang dipaksa.
Riana selesai mengoleskan salep, lalu merapikan kembali tutup botol antiseptik dan sisa kapas ke dalam kotak P3K. Ia menunduk dalam-dalam, mengelakkan kontak mata langsung dengan pria di depannya. Rasa bersalah karena telah melukai Reza bertumpuk dengan sisa ketakutan akibat dorongan impulsif suaminya tadi.
Sementara itu, Reza tetap terduduk kaku di tepi tempat tidur. Jemarinya yang bertengker di atas paha mengepal perlahan, merasakan denyut perih di bibir bawahnya yang masih terasa panas. Tatapannya terpaku pada Riana yang bergerak canggung membereskan peralatan medis kecil itu. Tidak ada lagi bentakan, tidak ada lagi adu mulut atau rintihan kesakitan—hanya keheningan pekat yang membuat dada terasa sesak.
Reza menghela napas panjang tanpa suara. Kejadian beberapa menit lalu benar-benar menampar kesadarannya. Ia sadar, amarah dan egonya telah mendorongnya melewati batas yang seharusnya tidak pernah ia langgar. Namun di sisi lain, penolakan dan ketakutan Riana yang begitu nyata makin memperjelas betapa jauhnya jarak yang membentang di antara mereka.