Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.
Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.
Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
apakah yang akan terjadi kepada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tsania 31
Malam Sabtu, tepat dua puluh empat jam sebelum badai besar yang dirancang Arsen meletus di Grand Ballroom, suasana kamar VVIP 601 terasa kian sunyi dan mencekam.
Tsania sebenarnya telah mendapatkan izin resmi dari tim dokter untuk pulang sejak pagi tadi. Namun, ia bersikeras pada Maya dan Raihan untuk menunda kepulangannya hingga esok pagi. Hati kecilnya membisikkan satu harapan yang menggebu: ia ingin tahu apakah pria yang pernah mengisi seluruh semestanya itu akan kembali menyusup di kegelapan malam, ataukah pertemuan malam lalu adalah ucapan selamat tinggal yang terakhir.
Sekitar pukul sebelas malam, desir pendingin udara terhalang oleh bunyi gesekan pintu mahoni yang terkuak pelan.
Aroma familiar parfum woody bercampur tembakau tipis langsung menyeruak masuk, membelai indra penciuman Tsania. Dada wanita itu berdesir hebat. Ia bergegas mengatur pola napasnya, memejamkan kelopak matanya rapat-rapat, dan membiarkan jemarinya terhampar pasrah di atas sprei putih rumah sakit kembali berpura-pura terlelap dalam tidur nyenyaknya.
Derap langkah kaki terikat sepatu kulit mahal mendekat tanpa suara. Arsen menghentikan langkah tepat di samping kasur Tsania. Ia tidak langsung duduk. Pria itu berdiri mematung beberapa saat, memandangi wajah pucat Tsania yang diterpa pendar sinar bulan dari celah gorden yang terbuka tipis.
Arsen menghembuskan napas panjang, sebuah helaan yang sarat akan beban berat, kelelahan batin, dan kepasrahan yang mendalam.
Secara perlahan, Arsen berlutut di lantai yang dingin. Ia meraih jemari tangan kiri Tsania dengan sangat hati-hati, seolah takut jika genggamannya yang terlalu keras dapat menghancurkan tubuh wanita itu. Arsen menempelkan punggung tangan Tsania ke dahi dan pipinya sendiri, membiarkan kulit dingin Tsania merasakan hangat napas dan kelembapan matanya.
"Sayang..." bisik Arsen, suaranya parau tercekik emosi yang membendung di tenggorokan.
"Malam ini... mungkin malam terakhir aku bisa melihatmu setenang ini, sayang. Karena besok kamu sudah tak ada lagi di rumah sakit ini dan aku juga tak bisa curi-curi bertemu dengan kamu seperti ini... Dan aku akan sangat merindukan kamu..."
Tsania menggigit bagian dalam pipinya kuat-kuat. Dari balik kelopak matanya yang terpejam, pertahanan batinnya mulai goyah.
Arsen mengecup buku-buku jari Tsania satu per satu dengan ketulusan yang teramat dalam.
"Besok malam... panggung megah yang dirancang Papaku dan keluarga Aurelia akan berubah jadi kuburan untuk reputasi mereka. Semua dokumen penganiayaan almarhum Ayahmu, semua ancaman dan aliran uang haram mereka, semuanya akan kubuka di depan ratusan media nasional."
Arsen berhenti sejenak, mengusap helai rambut Tsania yang menutupi dahinya dengan jempol yang gemetar.
"Aku tahu akibatnya, Nia," lanjut Arsen dengan tawa kecil yang getir dan memilukan.
"Aku akan kehilangan jabatan, harta, dan nama besar Pratama. Aku akan dipandang sebagai anak durhaka yang menghancurkan keluarganya sendiri. Tapi aku tidak peduli... Bagi Arsen, nama baikmu dan almarhum Ayahmu jauh lebih berharga dari seluruh kekayaan di gedung itu. Walau mungkin setelah ini..."
Air mata bening perlahan lolos dari sudut mata Tsania yang terpejam, membasahi bantal di bawah kepalanya. Arsen yang melihat lelehan air mata itu tersentak pelan. Jemarinya yang mengusap pipi Tsania membeku di udara.
"Nia...?" panggil Arsen ragu, suaranya bergetar hebat. "Kamu... kamu tidak tidur?"
Tsania perlahan membuka matanya. Manik matanya yang basah bertabrakan langsung dengan iris hitam Arsen yang dipenuhi pendar kaget dan rasa bersalah yang luar biasa.
Arsen secara refleks hendak menarik tangannya kembali, merasa tak pantas memegang jemari wanita itu. Namun sebelum Arsen sempat mundur, Tsania meraih dan mencengkeram erat pergelangan tangan Arsen dengan kedua tangannya.
"Jangan pergi, Mas..." bisik Tsania, suaranya pecah oleh isakan yang tak mampu lagi ia tahan.
Arsen membelalakkan mata. Tubuh tegapnya membeku mendengar panggilan hangat yang sudah tiga tahun memudar dari bibir wanita itu.
"Nia... kamu mendengar semuanya?"
"Aku mendengar semuanya sejak kemarin malam, Mas!" seru Tsania terisak-isak, membiarkan tangisnya tumpah memenuhi ruangan.
"Kenapa kamu harus melakukan ini sendirian?! Kenapa kamu harus menghancurkan hidupmu dan mengorbankan segalanya demi menebus dosa Papamu?!"
"Karena itu memang kewajibanku, Nia!" sahut Arsen dengan mata yang ikut berkaca-kaca. Ia tidak lagi menyembunyikan tangisnya.
"Aku pria yang dulu berjanji untuk meratukanmu dan melindungimu! Tapi aku justru menjadi monster yang menambah rasa sakitmu karena kebodohan dan dendam mataku! Kalau aku tidak menghancurkan panggung itu besok malam, aku tidak akan pernah sanggup menatap wajahmu lagi seumur hidupku!"
"Tapi aku tidak mau kamu hancur, Arsen!" jerit Tsania lirih seraya menarik tubuh Arsen mendekat.
Tsania melingkarkan kedua tangannya di leher Arsen, memeluk pria itu dengan seluruh sisa tenaganya, membenamkan wajahnya di celah leher kemeja hitam Arsen. Tangisnya pecah di sana, membasahi kain kemeja sang CEO.
"Aku sudah tidak membencimu..." tangis Tsania di balik dada Arsen.
"Rasa takutku hilang saat tahu kamu juga menderita di neraka yang sama... Aku cuma takut kalau besok malam terjadi sesuatu padamu. Pak Bisma dan keluarga Aurelia sangat berbahaya, Mas!"
Arsen tertegun seketika. Pengakuan Tsania yang menyatakan tidak lagi membencinya merobohkan seluruh pertahanan besi di dada Arsen. Pria itu melingkarkan lengan berototnya mengelilingi pinggang dan punggung Tsania, merengkuh tubuh rapuh itu ke dalam pelukan yang teramat erat dan posesif, menyalurkan seluruh kerinduan mendalam yang terpendam selama bertahun-tahun.
"Maafkan Mas, sayang... Maafkan Mas..." bisik Arsen berulang kali di atas kepala Tsania, membenamkan wajahnya di rambut harum wanita itu seraya meneteskan air mata hangat.
"Kamu tidak perlu cemas. Aku dan Danu sudah menyiapkan segalanya dengan sangat matang. Hukum dan media akan melindungi kita besok malam. Dan aku juga sudah menyiapkan perlindungan untuk kamu..."
Arsen melepaskan pelukannya perlahan, memegang kedua pipi Tsania yang basah dan menatap lurus ke dalam matanya dengan binar tekad yang tak tergoyahkan.
"Setelah besok malam selesai, Nia..." tutur Arsen lembut, jempolnya menyapu sisa air mata di pipi Tsania.
"Aku akan melepas semua atribut Pratama Group. Aku akan datang padamu bukan sebagai CEO yang angkuh, tapi sebagai Arsen yang dulu... pria biasa yang hanya punya cinta tulus untukmu. Kalau kamu mau memberi Mas kesempatan kedua untuk menata hidup kita dari awal... Mas akan sangat bersyukur. Tapi kalau kamu tetap memilih pergi... Mas akan melepasmu dengan ikhlas."
Tsania menatap dalam-dalam ke dalam manik mata Arsen. Ia tidak lagi menemukan sisa-sisa tatapan dingin dan kejam yang sempat membuatnya trauma di kantor beberapa hari lalu. Di depannya kini hanyalah sosok Arsen pria yang siap menerjang badai paling dahsyat demi mengembalikan kehormatan cintanya.
Tsania menggeleng pelan, lalu menggenggam jemari Arsen yang berada di pipinya.
"Aku tidak akan kemana-mana, Mas," bisik Tsania mantap di antara sisa isakannya.
"Aku akan menunggu di sini... Janji padaku kamu harus kembali dengan selamat setelah acara besok malam selesai."
Senyuman paling tulus dan hangat yang telah lama hilang akhirnya mekar kembali di wajah tegas Arsen. Pria itu mendekatkan wajahnya, menempelkan keningnya pada kening Tsania cukup lama, lalu mengecup kening Tsania secara lembut dan sarat akan janji suci.
"Mas janji, Ratuku," balas Arsen mantap.
"Tunggu Mas besok malam."
👍👍👍👍
selamat mendekam d penjara pak Bisma