Update tiap hari dijam 12.00 WIB.
Ji Mo-Xian, pemuda yang terlahir di keluarga berdarah bangsawan. Namun, ia memiliki mata yang unik menurut para tetua klan mata Mo-Xian adalah mata dewa naga air yang masuk ke dalam tubuh Mo-Xian.
Alih-alih dibenci Ji Mo-Xian menjadi buronan para kultivator karena kekuatan matanya yang hebat. Ji Mo-Xian memilih menutup matanya menjadi pendekar buta yang menggunakan kekuatan syair kematian.
Ketika Ji Mo-Xian membuka ikatan matanya, maka musuh akan hancur seketika tanpa sisa. Kekuatan Ji Mo-Xian bukan asalan untuk digunakan.
Apa yang terjadi dengan Ji Mo-Xian? Ikuti kisahnya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang di Ujung Fajar
Fajar merah merekah di ufuk timur, mengusir sisa-sisa malam kelam yang menyelimuti Kota Naga Tidur. Namun, keindahan langit pagi itu berbanding terbalik dengan kondisi di dalam kota. Reruntuhan gang tempat pertempuran dahsyat antara Ji Mo-Xian dan Bai Hai-Long semalam kini menjadi kawah kosong yang mengeluarkan uap dingin berenergi spiritual. Penduduk kota dan para kultivator rendahan yang memberanikan diri keluar rumah hanya bisa menatap terpesona bercampur ngeri, menyaksikan bagaimana sebuah distrik kecil musnah tanpa menyisakan jejak selain debu halus dan lapisan es tipis yang belum mencair.
Beberapa mil dari reruntuhan tersebut, di sebuah padang rumput hijau yang berbatasan langsung dengan hutan purba, Ji Mo-Xian berjalan perlahan.
Langkah kakinya kali ini tidak sesantai malam sebelumnya. Setiap kali ia mengambil langkah, napasnya terasa berat, dan rasa sakit yang membakar menjalar dari dada hingga ke ujung tenggorokan. Pertempuran berturut-turut melawan para master agung—mulai dari Feng Qing-Yang, Lei Tian-Ba, Nenek Yin-Sha, hingga Bai Hai-Long—telah menguras habis esensi tenaga dalamnya. Membuka ikatan mata dewa naga air secara sempurna di ujung pertempuran semalam hampir meremukkan seluruh meridian di tubuh fisiknya.
Ji Mo-Xian berhenti di dekat sebuah sungai kecil yang airnya mengalir jernih. Ia berlutut di atas rerumputan basah, lalu mencuci tangan dan wajahnya dari sisa-sisa darah kebiruan yang sempat menetes.
"Ukh..."
Sebuah erangan tertahan lolos dari bibirnya saat ia mencoba mengatur pernapasan. Setetes darah segar kembali menetes ke atas permukaan air sungai, mengubah warna jernihnya menjadi kemerahan sebelum akhirnya hanyut terbawa arus.
"Tubuh ini sudah mencapai batasnya," gumam Ji Mo-Xian lirih pada dirinya sendiri. Suaranya terdengar serak, mencerminkan kelelahan fisik yang luar biasa.
Ia tahu, jika ia tidak segera menemukan tempat aman untuk bermeditasi dan menyembuhkan luka meridiannya dalam beberapa hari ke depan, sisa umur fisiknya akan terpangkas drastis. Mata dewa naga air di dalam tubuhnya memang memberikan kekuatan destruktif yang mampu meremukkan dunia, tetapi wadah manusia yang ia miliki hampir tidak sanggup menanggung beban energi dewa tersebut.
Namun, di dunia kultivasi yang kejam, ketenangan adalah barang langka yang mustahil didapatkan begitu saja.
Indra pendengarannya yang tajam mendadak menangkap getaran halus dari kejauhan. Bukan suara langkah kaki manusia, melainkan kepakan sayap ribuan burung elang spiritual yang membelah udara dengan kecepatan tinggi. Langit di sebelah utara yang tadinya cerah kini mendadak berubah gelap, tertutup oleh barisan bendera perang raksasa berukuran besar yang melayang di atas awan.
Bendera itu bergambar pedang bersilang di atas kobaran api—lambang dari Paviliun Langit Membara, salah satu dari tiga sekte penguasa tertinggi di Tiga Benua.
Berita tentang kehancuran para tetua Klan Ji di dataran es dan kematian empat master agung di Kota Naga Tidur telah sampai di telinga para penguasa tertinggi sekte-sekte raksasa. Mereka tidak lagi mengirim pembunuh bayaran atau pemimpin sekte menengah. Kali ini, para tetua agung dan master utama dari faksi-faksi terkuat di dunia kultivasi bergerak secara serentak untuk memburu sang pendekar buta.
Di atas formasi awan Paviliun Langit Membara, berdiri seorang pria paruh baya berambut merah menyala dengan jubah brokat emas berlapis sulaman api. Ia adalah Huo Yan-Zhu, Master Utama Paviliun Langit Membara, seorang kultivator legendaris yang telah mencapai puncak alam Nirwana tahap akhir dan tinggal selangkah lagi menuju alam Pemuka Keabadian.
Matanya memandang rendah ke arah daratan di bawahnya, menatap lurus ke arah sosok berjubah putih yang sedang berlutut di tepi sungai.
"Ji Mo-Xian..." suara Huo Yan-Zhu menggema di udara, merambat lewat gelombang Qi yang membuat air sungai di hadapan Mo-Xian bergejolak hebat. "Kau pikir dengan membunuh sekumpulan orang bodoh seperti Bai Hai-Long dan Lei Tian-Ba, kau bisa merajai Tiga Benua seorang diri? Kau hanyalah pencuri kecil yang menelan pusaka dewa tanpa tahu cara mengendalikannya!"
Ji Mo-Xian perlahan bangkit berdiri. Ia merapikan jubah putihnya yang kotor oleh debu, lalu meraba kain sutra hitam yang melilit matanya. Meskipun tubuhnya terasa lemah dan meridiannya nyaris hancur, ia sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar. Ia mendongakkan kepalanya ke arah langit, menghadapi puluhan kapal perang spiritual yang mengepung area tersebut dari segala penjuru.
"Pencuri?" Ji Mo-Xian tersenyum tipis, suaranya meluncur tenang namun sarat akan ejekan tajam. "Kalian semua menghabiskan ratusan tahun bermeditasi, memuja kekuatan, dan merampas apa pun yang bukan hak kalian demi mencapai keabadian palsu. Dan sekarang, ketika seseorang hidup dengan caranya sendiri, kalian menyebutnya sebagai dosa?"
Wajah Huo Yan-Zhu mengeras seketika. Kemarahan meluap dari matanya yang menyala bagaikan bara api. "Lancang! Anak ingusan sepertimu berani menceramahi master agung? Serahkan mata dewa naga air itu sekarang juga, atau aku akan membakar jiwa ragamu hingga tersisa abu di tempat ini!"
Begitu kalimat itu selesai diucapkan, puluhan ribu murid dan tetua Paviliun Langit Membara yang berada di kapal perang melepaskan tekanan Qi mereka secara bersamaan. Suhu di sekitar sungai mendadak melonjak drastis, mengubah rumput hijau yang subur menjadi layu dan mengering dalam hitungan detik.
Ji Mo-Xian menarik napas dalam-dalam. Ia tahu, menghadapi kekuatan penuh dari salah satu sekte terkuat di Tiga Benua dalam kondisi terluka parah adalah pertaruhan nyawa yang sesungguhnya. Seruling bambunya telah hancur total malam tadi, tetapi ia tidak membutuhkan instrumen apa pun untuk melantunkan syair kematiannya.
Ia mengangkat tangan kanannya perlahan, bersiap menyambut badai api yang datang menghancurkan, melanjutkan perjalanan panjangnya sebagai sang pendekar buta yang menulis takdirnya sendiri di atas lembaran darah dan keheningan.