hiduplah seorang penyihir cantik yang bernama Elizabeth bertemu dengan raj vampir .dan dia diam" mngandung ada vampir . sampai dia Terusir oleh ayahnya sendiri .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Latief_ayra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 11
Tangan Carmilla yang dingin dan keras seketika mencengkeram leher Elizabeth dengan kekuatan yang luar biasa, mengangkat tubuh wanita itu hingga kakinya menjuntai di udara. Napas Elizabeth terhenti seketika, rasa sesak yang menyakitkan menjalar seketika ke seluruh tubuhnya. Kedua tangannya meronta-ronta mencoba melepaskan cengkeraman itu, namun jari-jari Carmilla bagaikan besi yang membeku tak tergoyahkan.
"Leoooonnnn...!" jerit Elizabeth dengan suara parau dan tercekik, air mata bercucuran deras membasahi pipinya yang pucat. Matanya menatap tajam ke arah anaknya yang terkapar lemah di tanah, penuh ketakutan sekaligus kepedihan yang tak terlukiskan. "Lari... Nak... Lari... Jangan lihat ke belakang... Lari sekarang juga...!"
Tubuh kecil Leon gemetar hebat saat melihat ibunya diangkat tinggi di udara, wajah ibunya mulai membiru, napasnya kian tersengal-sengal dan suaranya makin melemah. Melihat ibunya yang selalu melindunginya kini terancam nyawanya, sesuatu yang dalam selama ini terpendam di dalam diri Leon seketika meledak bagaikan gunung berapi yang meletus dahsyat. Cahaya terang benderang seketika memancar dari tubuh kecilnya, menyilaukan mata siapa pun yang melihatnya.
Suara ledakan udara terdengar mengguntur keras! Tubuh kecil Leon tiba-tiba membesar, bertumbuh pesat dalam sekejap mata. Pakaiannya yang sempat lusuh dan sobek berubah seketika menjadi jubah hitam elegan yang berkilauan, menutupi tubuh tegap dan kekar seorang pemuda yang tampan luar biasa. Kulitnya yang semula pucat kini tampak bersinar bersih, wajahnya yang kekanak-kanakan kini berubah menjadi wajah tampan dan tegas nan berwibawa, sepasang mata merah menyala yang sama persis dengan mata Raja Draven kini menatap tajam ke arah Carmilla, memancarkan amarah yang mencekam.
Dan dari punggungnya, perlahan terbentang sepasang sayap raksasa yang lebar dan gagah perkasa, berwarna hitam pekat dengan ujung-ujung yang memancarkan cahaya keemasan, sayap yang begitu besar dan perkasa hingga bayangannya menutupi seluruh taman yang luas itu. Saat sayap itu mengepak pelan namun kuat, angin kencang seketika berhembus, menumbangkan dedaunan dan membuat bumi seakan bergetar hebat.
Kekuatan yang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya melonjak keluar dari tubuh Leon, mendorong ular-ular sihir hitam itu hingga terpental jauh seketika dan lenyap menjadi asap tipis. Gelombang kekuatan itu pun menghantam tangan Carmilla yang mencekik leher Elizabeth, begitu dahsyat hingga membuat Carmilla terpental mundur beberapa langkah, terpaksa melepaskan cengkeramannya dengan rasa sakit yang menjalar hingga ke tulang sumsum.
Elizabeth jatuh terhempas ke tanah, terbatuk-batuk hebat sambil menarik napas panjang demi menghirup udara segar. Napasnya masih tersengal-sengal, namun ia segera mendongak menatap sosok gagah perkasa yang kini berdiri di hadapannya, melindunginya dari bahaya. Matanya membelalak tak percaya, napasnya tertahan melihat sosok pemuda bersayap raksasa itu. Wajah itu... begitu mirip dengan pria yang pernah ia temui bertahun-tahun silam... wajah yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.
Leon berdiri tegak bagaikan menara yang tak tergoyahkan. Sayapnya yang besar terbentang lebar melindungi Elizabeth di belakang punggungnya. Matanya yang merah menyala kini menatap tajam dan menusuk lurus ke manik mata Carmilla, penuh dengan amarah yang sedemikian membara hingga suaranya menggelegar bagaikan guntur yang menyambar-nyambar, bergema di seluruh penjuru taman:
"BERANI KAU... MENYAKITI IBUKU...?!"
Suara itu bukan lagi suara anak kecil yang lemah dan tak berdaya, melainkan suara penguasa yang agung dan berwibawa, penuh dengan kekuatan yang tak tertandingi. Setiap kata yang meluncur dari bibirnya seakan membuat udara di sekitarnya menegang, membuat Carmilla yang sombong itu pun perlahan mundur selangkah, hatinya seakan dicengkeram ketakutan yang luar biasa. Ia menatap mata merah menyala itu, dan seketika itu pula ia menyadari sesuatu yang membuat darahnya membeku di dalam pembuluh nadi.
Mata itu... persis sama dengan mata Raja Draven! Dan kekuatan yang memancar dari tubuh pemuda itu... kekuatan darah emas yang legendaris itu... kekuatan yang sudah punah ratusan tahun lamanya!
Leon mengepakkan sayapnya sekali lagi, dan kali ini gelombang kekuatan yang jauh lebih dahsyat meluncur ke arah Carmilla, membuat wanita vampir itu tersungkur jatuh berlutut di tanah. Darah segar menetes dari sudut bibir Carmilla, wajahnya pucat pasi menatap tak percaya ke arah sosok pemuda yang kini berdiri tegak bagaikan dewa pembalas dendam.
Leon melangkah pelan namun mantap mendekati Carmilla, setiap langkahnya seakan menggetarkan bumi. Cahaya keemasan mulai menyelimuti kedua telapak tangannya, semakin terang dan semakin menyilaukan seiring ia mendekat. Dan di balik amarah yang meluap-luap itu, terdengar suara Leon yang rendah namun penuh dengan ancaman yang tak dapat dibantah:
"Aku telah bersabar... dan membiarkanmu hidup. Namun kau justru melukai hati ibuku... Kau menyakiti wanita yang paling kusayangi di dunia ini... Sekarang... saatnya kau membayar segala perbuatanmu... dengan nyawamu!"
Ia berhenti tepat di depan Carmilla, menatapnya dari atas ke bawah dengan pandangan yang begitu dingin dan tajam, seakan Carmilla hanyalah debu tak berharga di hadapannya. Sayap besarnya mengepak pelan, menebarkan aura keagungan dan kekuatan yang membuat siapa pun yang menyaksikannya merasa takluk seketika.