Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*
Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".
Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17: Tekanan dari Grup Sinema Halim
Keesokan siang, jawaban keluarga Halim tiba dalam bentuk tiga pembatalan kontrak.
Sebuah merek minuman menghentikan kampanye dengan artis PE. Produser acara varietas mengundurkan diri dari kerja sama yang sudah dinegosiasikan dua bulan. Terakhir, jaringan bioskop menghapus satu film PE dari jadwal pemutaran percobaan.
Alasannya berbeda-beda.
"Penyesuaian strategi."
"Kondisi pasar."
"Keterbatasan layar."
Namun ketiga surat dikirim dalam jarak empat puluh menit.
Anindya menaruh salinannya di meja rapat. "Nilai potensi kerugian Rp12 miliar. Belum termasuk dampak reputasi."
Kepala pemasaran menambahkan, "Dua mitra lain meminta waktu mempertimbangkan ulang. Mereka tidak menyebut Halim, tetapi salah satu direkturnya baru menerima telepon dari Bu Meilani."
"Simpan semua kronologi," kata Anindya. "Jangan tuduh di publik tanpa bukti. Hubungi alternatif distribusi dan pisahkan kampanye yang masih bisa jalan."
Kepala produksi membuka jadwal di layar. "Film kita kehilangan empat puluh dua layar pada pekan pertama. Kalau dipindah tanggal, biaya promosi ulang minimal Rp2 miliar."
"Jangan pindah dulu," jawab Anindya. "Hubungi jaringan independen di Surabaya, Malang, dan Yogyakarta. Tawarkan sesi tanya jawab pemain untuk menambah nilai."
"Mereka tidak bisa mengganti seluruh kapasitas Halim."
"Tidak perlu seluruhnya. Kita butuh cukup data penonton untuk menunjukkan film ini layak. Setelah itu platform digital punya dasar harga."
Kepala pemasaran ragu. "Sponsor minuman meminta penalti pembatalan dibebaskan."
"Tolak. Mereka yang mengakhiri sepihak. Jalankan somasi ringan melalui legal, jangan publikasi dulu."
Arya yang sejak tadi duduk di belakang meja tidak memotong. Ia sengaja membiarkan Anindya mengatur pertahanan. Perempuan itu tidak panik, tidak mencari nama Adiwangsa untuk menekan balik, dan tidak mengorbankan pekerja agar laporan kerugian terlihat kecil.
Setelah para kepala departemen keluar, Anindya menoleh. "Anda diam saja."
"Kamu sudah mengambil keputusan yang benar."
"Saya tidak membutuhkan ujian dari Anda."
"Saya juga tidak memberi ujian. Saya mengamati orang yang memegang empat puluh sembilan persen perusahaan saya."
"Perusahaan kita," koreksi Anindya tajam. "Saham Anda hanya dalam perwalian."
Arya tersenyum. "Bagus. Saat marah pun kamu masih ingat struktur hukum."
Ia kemudian mendorong satu lembar catatan. Di atasnya tercantum tiga distributor independen dan dua merek lokal yang tidak punya kepemilikan silang dengan Halim.
"Hubungi mereka sebelum pukul lima," katanya. "Jangan bilang kita terdesak. Tawarkan paket kreator baru sekaligus hak promosi digital."
Anindya membaca daftar itu. "Kapan Anda menyiapkan ini?"
"Saat kamu menjelaskan kerugian."
Kini Anindya mengerti alasan Arya diam. Ia bukan membiarkannya tenggelam. Ia sedang menyusun jalan keluar sambil menilai apakah ia dapat berenang sendiri.
Di apartemennya, Bella menerima panggilan dari Rina, manajernya.
"Besok kamu harus ikut kegiatan pasar tradisional," kata Rina. "Tim mau memperbaiki citra. Bantu pedagang, masak dengan warga, unggah tiga video."
"Aku sedang tidak ingin tampil."
"Kontrakmu tidak bertanya soal keinginan. Setelah insiden Graha Swarna, sponsor minta bukti kamu masih disukai publik."
Bella memandang berita mengenai kebijakan artis PE di ponselnya. Foto Arya dan Anindya berdiri di panggung tersebar di akun internal yang kemudian bocor ke media hiburan.
"Rina, apakah keluarga Halim sedang menekan PE?"
"Jangan campuri itu. Datang pukul enam pagi dan tersenyum."
Panggilan diputus.
Di rumah Halim, Bu Meilani menyilangkan tiga nama mitra pada daftar. "Ini baru peringatan," katanya.
Reno berdiri di dekat jendela. "Tarik semuanya. Biar PE lumpuh."
"Jangan bodoh. Kalau kita memutus semua kontrak sekaligus, mereka punya pola yang bisa dibawa ke pengadilan persaingan dan media. Tekanan bekerja baik ketika korban sulit membuktikan tangan yang menekan."
"Arya mempermalukan gue dua kali."
"Karena kamu datang dengan emosi dua kali." Bu Meilani meletakkan pena. "Kalau ingin menang, serang arus kasnya, bukan mulutnya."
Menjelang sore, Anindya menemukan pola kepemilikan silang antara tiga mitra yang mundur dan dua perusahaan iklan langganan Halim. Ia mengirim bagan itu kepada Arya, lalu menelepon.
"Saya perlu bantuan."
Arya sedang berada di lapangan parkir studio bersama Bara. "Saya mendengar kata yang menarik. Ulangi."
"Jangan mulai."
"Kamu menelepon saya."
"Ada produser bernama Yanto yang menawarkan mediasi. Pukul delapan malam di Restoran Cendana. Dia mengaku bisa memulihkan dua kontrak jika saya datang sendiri."
"Kedengarannya seperti jebakan."
"Tentu. Tapi saya perlu tahu harga yang mereka minta."
"Mohon aku. Kalau berani."
Sunyi dua detik.
"Lupakan. Saya pergi sendiri."
"Nindya..."
Panggilan berakhir.
Bara bersandar pada kap mobil. "Lo sengaja bikin dia marah?"
"Kalau saya melarang, dia tetap pergi dan akan menyembunyikan detail. Sekarang dia marah, tapi saya tahu tempat dan waktunya."
"Romantis sekali."
"Ikuti dia. Jaga jarak. Jangan masuk kecuali ada ancaman fisik atau dia memberi sinyal."
Bara mengangguk. "Cendana punya dua pintu servis dan parkir belakang. Gue cek dulu."
"Cari kendaraan yang mengikuti dari kantor. Catat pelat, jangan hadang."
"Siap."
Arya menghubungi Kevin berikutnya. "Pantau komunikasi publik sekitar restoran. Tidak ada pembobolan perangkat pribadi. Saya ingin tahu kalau ada tim dokumentasi atau akun media menunggu."
"Jadi Bu Nindya masuk pertemuan, Cak Bara jaga fisik, gue jaga jejak digital, dan lo apa?"
"Makan malam di seberang."
Kevin tertawa. "Suami teladan."
Pukul tujuh lewat tiga puluh, Anindya turun ke basement PE. Ia mengenakan setelan kerja yang sama, mengganti sepatu hak dengan sepatu lebih rendah agar mudah bergerak. Sekretaris menawarkan sopir, tetapi ia menolak.
Sebelum masuk mobil, ia melihat pesan dari Arya.
Kirim lokasi langsung. Bukan karena saya khawatir. Untuk kepentingan perusahaan.
Anindya hampir mengabaikannya. Namun setelah berpikir, ia membagikan lokasi selama tiga jam.
Balasan datang.
Keputusan bisnis yang bagus.
"Menyebalkan," gumamnya.
Ia menjalankan mobil keluar. Sebuah sepeda motor Bara mengikuti dua lajur di belakang, helm menutupi wajahnya. Di sisi lain jalan, Arya mengemudikan Kijang tua menuju kawasan Restoran Cendana.
Anindya tidak melihat keduanya.
Di layar navigasi, titik merah bergerak mendekati tempat pertemuan. Ia menelepon produser Yanto untuk konfirmasi.
"Saya akan tiba lima belas menit lagi."
"Bagus, Bu Anindya," jawab pria itu. "Datang sendiri, ya. Pihak yang ingin berdamai tidak suka kejutan."
"Saya juga tidak."
Anindya memutus panggilan. Ia memahami kemungkinan dipermalukan, direkam, atau dipaksa menerima syarat buruk. Namun jika Halim mengira tekanan akan membuatnya menyerahkan kontrol PE, mereka harus mendengarnya langsung dan jelas.
Lampu Restoran Cendana terlihat di ujung jalan.
Anindya mempererat genggaman pada kemudi dan melaju seorang diri menuju meja perundingan.
Di belakangnya, dua lapis perlindungan bergerak tanpa suara. Di depannya, orang-orang Halim sudah menyiapkan harga untuk martabat PE.
Malam itu, salah satu pihak akan pulang dengan perhitungan yang hancur total.