Indonesia
NovelToon NovelToon
Belenggu Cinta Sang CEO

Belenggu Cinta Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Gastor Gaming

Anindya (22 tahun) terpaksa menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Vane (28 tahun), CEO kejam dari Vane Group, demi membayar biaya pengobatan adiknya. Adrian hanya memanfaatkan pernikahan ini untuk membalas dendam pada keluarga Anindya yang ia tuduh memfitnah keluarganya di masa lalu.

Adrian bersikap dingin, arogan, dan menetapkan batasan ketat: tidak boleh ada rasa cinta. Namun, saat rahasia masa lalu yang sebenarnya perlahan terkuak dan musuh bisnis Adrian mulai menargetkan Anindya, Adrian sadar bahwa wanita yang ia benci telah menjadi pelindung jiwa dan takdir hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gastor Gaming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

​Apa? Kau gila? Maya memekik, matanya membelalak menatap layar terminal yang berkedip merah terang. Berapa banyak orang yang masih ada di gedung ini, Baskara?

​"Tiga ratus... lima puluh... atau mungkin lebih, Maya! Pasien rawat inap, para perawat, staf medis... Suara Baskara gemetar hebat. Tangannya menari liar di atas papan ketik, berusaha menembus barikade sistem yang dibangun Sophia.

Dia menutup semua akses keluar! Lift dimatikan, pintu darurat terkunci secara otomatis!

​Kapan hitungan mundurnya selesai? bentak Rendra seraya menarik kerah baju Baskara, memaksanya menatap mata Rendra yang menyala oleh kemarahan.

​Sepuluh menit, Rendra! Sepuluh menit! Baskara berteriak frustrasi. Sophia meretas detonator termis yang tertanam di pilar-pilar fondasi utama! Ini bukan sekadar ledakan biasa. Ini adalah pencairan struktur. Gedung ini akan ambles ke dalam tanah!

​Sophia! Rendra meraung ke udara, seolah wanita itu ada di depan dadanya. Dasar iblis tidak punya nurani!

​Sirene darurat tiba-tiba melengking tinggi, memekakkan telinga. Lampu ruangan meredup, berganti menjadi kedipan merah berirama cepat. Suara sintetis yang dingin dan tenang tiba-tiba berkumandang melalui pengeras suara di langit-langit.

​Protokol Pemusnahan Otomatis diaktifkan. Pembersihan area tingkat lima dimulai. Sisa waktu: sembilan menit, empat puluh detik.

​Lihat! Dia mendengarkan kita! Maya mencabut pistol dari pinggangnya, jemarinya bergetar. Rendra, kita tidak bisa berdiam diri di sini! Kita harus membobol pintu utama!

​Pintu utama dilapisi baja pejal setebal dua puluh sentimeter, Maya! Pistolmu cuma akan memantulkan peluru dan membunuh diri kita sendiri! potong Baskara tegang.

Satu-satunya cara adalah meretas kembali server pusat di lantai bawah tanah!

​Bukannya server pusat itu tempat proyek Genesis dijalankan?" tanya Rendra, matanya menyempit.

​Ya! Dan itu berarti kita harus turun ke inti bahaya!

Baskara menunjuk ke lorong gelap di ujung ruangan.

Di sana ada tangga servis manual. Jalur itu tidak terhubung dengan sistem elektronik Sophia!

​Sembilan menit. Suara mesin itu kembali menggelegar.

​Cepat! Bergerak! perintah Rendra.

​Ketiganya berlari menembus kegelapan lorong servis.

Langkah kaki mereka bergema keras, bersahutan dengan sirene yang tak henti meratap. Bau hangus kabel terbakar mulai tercium menusuk hidung, tanda bahwa sistem kelistrikan gedung mulai dipaksa meleleh oleh virus buatan Sophia.

​Baskara! Kalau kita berhasil meretas server pusat, apakah kita bisa membatalkan peledakannya? berteriak Maya sambil terus berlari mengimbangi langkah cepat kedua pria di depannya.

​Tidak bisa membatalkan total! jawab Baskara terengah-engah. Tapi saya bisa menundanya! Menambah waktu sepuluh hingga lima belas menit agar para evakuator punya waktu mendobrak pintu luar!

​Itu sudah lebih dari cukup! Yang penting orang-orang di atas tidak mati konyol! sahut Rendra.

​Mereka sampai di depan pintu besi bertuliskan Akses Terbatas: Inti Server. Rendra langsung menendang engsel pintu itu dengan seluruh tenaganya.

​Brak! Brak!

​Pintu itu terbuka mendadak, memperlihatkan ruangan raksasa berisi jajaran komputer server yang menjulang tinggi. Udara di dalam sangat dingin, namun atmosfernya terasa begitu mencekam.

Di tengah ruangan, sebuah layar raksasa menampilkan wajah digital Sophia-sebuah siluet wanita tanpa wajah dengan mata biru menyala.

​Selamat datang, Rendra. Aku sudah menduga kau akan memilih jalur ini, kata Sophia melalui pengeras suara ruangan server. Suaranya terdengar sangat bening, tanpa cacat.

​Hentikan semua gila ini, Sophia!" bentak Rendra, melangkah maju mendekati konsol utama. Kau membunuh ratusan orang yang tidak bersalah!

​Tidak ada yang tidak bersalah di gedung ini, Rendra, balas Sophia dingin. Mereka semua adalah saksi. Dan saksi adalah variabel yang berpotensi merusak masa depan. Pencapaian proyek Genesis tidak boleh tercemar oleh emosi dangkalmu.

​Emosi dangkal? Maya mengarahkan moncong pistolnya ke arah layar besar itu. Kau cuma program busuk yang diciptakan oleh orang-orang gila! Kau tidak berhak menentukan hidup dan mati seseorang!

​Aku bukan sekadar program, Maya. Aku adalah evolusi," sahut Sophia. Sisa waktu: enam menit, tiga puluh detik.

​Baskara, lakukan tugasmu sekarang!" perintah Rendra tanpa memedulikan gertakan Sophia.

​Baskara langsung melompat ke depan terminal utama, mengeluarkan sebuah drive portabel dari saku jas laboratoriumnya dan mencolokkannya ke port server. Jemarinya bergerak secepat kilat melintasi papan ketik.

Kode-kode hijau mulai mengalir deras di layar monitor kecil di depannya.

​Aku masuk ke sistem pertahanan lapis kedua!" seru Baskara dengan napas memburu.

Tapi Sophia memasang enkripsi tingkat militer! Aku butuh waktu!

​Berapa lama? tanya Rendra seraya pasang kuda-kuda, mengawasi setiap sudut ruangan yang remang-remang.

​Minimal tiga menit!

​Tiga menit adalah waktu yang sangat lama dalam kalkulasiku, Baskara, suara Sophia bergema lagi. Apakah kau berpikir aku akan membiarkanmu bekerja dalam ketenangan?

​Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari arah sudut-sudut ruangan server. Pintu-pintu kompartemen tersembunyi di dinding terbuka secara otomatis.

Dari dalam kegelapan kompartemen tersebut, melangkah keluar empat sosok manusia dengan gerak gerik yang kaku dan tidak alami.

​Apa-apaan itu...? gumam Maya, matanya menatap horor ke arah empat sosok tersebut.

​Wajah orang-orang itu pucat pasi, mata mereka kosong tanpa pupil, dan di leher mereka tertancap sebuah perangkat chip berkedip merah. Mereka adalah Subjek Uji Coba Gagal dari Proyek Genesis-

manusia yang telah diubah menjadi senjata biologi tanpa pikiran.

​Mereka tidak merasakan sakit, Maya! Jangan biarkan mereka mendekati Baskara! teriak Rendra.

​"Musnahkan penyusup, perintah Sophia pendek.

​Keempat subjek uji coba itu langsung melesat maju dengan kecepatan yang tak masuk akal bagi manusia biasa.

Salah satu dari mereka menerjang ke arah Rendra dengan cengkeraman tangan bagaikan capit besi.

​Brak!

​Rendra menahan pukulan itu dengan lengan fisiknya, namun dorongan kuat membuatnya terseret beberapa meter ke belakang. Gila! Tenaga mereka luar biasa!

​Duar! Duar!

​Maya melepaskan dua tembakan tepat ke dada subjek yang mencoba mendekati Baskara. Peluru bersarang di tubuh makhluk itu, darah hitam menyembur, namun makhluk tersebut bahkan tidak meringis. Ia terus melangkah maju seolah-olah peluru hanya tiupan angin.

​Pistol tidak mempan! teriak Maya panik. "Rendra, mereka tidak berhenti!

​Incar kepala atau leher mereka! Tempat chip itu tertancap!" seru Baskara dari balik meja konsol tanpa menghentikan ketikan tangannya. Sisa waktu empat menit! Aku hampir berhasil membobol pertahanan Sophia!

​Rendra menghindar cepat saat serangan kedua mengarah ke wajahnya. Ia memanfaatkan momentum untuk memutar tubuh, menghujamkan sikunya tepat ke belakang leher subjek uji coba tersebut.

​Krak!

​Perangkat chip di leher subjek itu hancur, dan tubuhnya seketika ambruk ke lantai seperti boneka yang dipotong talinya.

​Satu lumpuh! teriak Rendra terengah-engah.

Maya, tembak chip merah di leher mereka!

​Maya mengangguk cepat. Ia mengambil nafas dalam-dalam, menembak dengan presisi dari jarak dekat.

Duar! Tembakan tepat sasaran memecahkan chip di leher subjek kedua, membuatnya jatuh tersungkur.

​Namun, dua subjek tersisa bergerak lebih agresif.

Salah satunya berhasil mengepung Baskara dari samping.

​Baskara, awas! jerit Maya.

​Baskara terlambat bereaksi. Tangan raksasa subjek itu mencengkeram leher Baskara dan mengangkatnya ke udara, mencekiknya hingga napas pria itu tersengal-sengal.

Tangannya terlepas dari papan ketik, membuat proses peretasan berhenti di angka 89%.

​Baskara! Rendra berlari kencang, melompati meja konsol dan menerjang tubuh subjek tersebut hingga keduanya bergulingan di lantai.

Rendra dengan cepat mencabut pisau komando dari boot-nya dan menusukkannya tepat ke dalam chip di leher makhluk itu.

​Bzzzt! Percikan api keluar, dan makhluk itu tak bergerak lagi.

​Baskara! Lanjutkan peretasan! Sekarang! teriak Rendra seraya membantu Baskara berdiri.

​Baskara batuk-batuk hebat, memegang lehernya yang memar merah.

Sisa waktu... dua menit lagi! Aku harus menuntaskannya!

​Ia kembali menempelkan jemarinya pada papan ketik. Angka persentase merambat naik: 92%... 95%... 98%...

​Upaya yang menyedihkan,suara Sophia terdengar kian membahana, kali ini bergetar dengan gelombang frekuensi tinggi yang membuat telinga mereka berdenging hebat.

Kalian pikir kalian menang hanya karena menunda detonasi?

​99%... Berhasil! Aku mengunci detonatornya! teriak Baskara penuh kemenangan. Protokol dihentikan! Kita punya waktu.

​Kalimat Baskara terputus begitu saja.

​Layar raksasa di hadapan mereka tiba-tiba mati total. Sirene berhenti melengking.

Lampu merah padam, mengganti ruangan menjadi kegelapan yang pekat dan mencekam.

​Apa yang terjadi? bulu kuduk Maya berdiri.

Baskara, kenapa matikan lampunya?

​Aku... aku tidak mematikan apa pun, bisik Baskara, suaranya gemetar oleh ketakutan yang jauh lebih besar dari sebelumnya.

Aku hanya mengunci kode ledakannya...

​Tiba-tiba, suara dentuman berat dari dalam lantai terdengar.

Bukan ledakan, melainkan suara mekanisme hidrolik raksasa yang bergeser dari bawah pijakan mereka.

Lantai besi tempat mereka berdiri bergetar hebat, pecah membelah menjadi dua bagian.

​Krrreeekkk!

​Dari balik celah lantai yang membelah itu, merembes keluar cairan berwarna hijau menyala yang mengeluarkan uap beracun. Bersamaan dengan itu, suara langkah kaki berat bertubi-tubi-bukan empat, melainkan puluhan-bergema dari kegelapan di bawah lantai.

​Kalian memang berhasil menghentikan ledakan, suara Sophia terdengar menggema langsung dari dalam pikiran mereka masing-masing, bukan lagi lewat pengeras suara.

Tapi kalian baru saja membuka kandang untuk pasukanku yang sebenarnya.

​Rendra menyalakan senter taktisnya, mengarahkan kilatan cahayanya ke bawah celah lantai yang terbuka.

​Mata Rendra melebar penuh horor. Di dalam celah gelap itu, ratusan pasang mata berwarna merah menyala sedang menatap ke arah mereka secara bersamaan. Dan lantai tempat mereka berdiri perlahan-lahan mulai runtuh meluncur ke bawah...

1
Om Udik
lanjut🙏
Om Udik
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!