Indonesia
NovelToon NovelToon
Bayu Dan Batu Kali Ajaib

Bayu Dan Batu Kali Ajaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Bayu hanyalah siswa SMA miskin sebatang kara yang terpaksa memancing di sungai setiap sore agar perutnya bisa diisi makanan.

Nasib malangnya berubah total saat sebuah sambaran petir misterius menyatukan tubuhnya dengan sebuah batu kali yang mendadak berubah menjadi batu giok hijau yang bercahaya.

Batu ajaib itu langsung menjejalkan ribuan pengetahuan tabib dewa dan ilmu pengobatan kuno ke dalam kepalanya, sekaligus memancarkan aura pemikat yang membuat wanita mana pun tak berdaya di dekatnya.

Kini, berbekal ilmu medis di luar nalar dan pesona mematikan, Bayu siap membungkam para murid kaya yang sering menghinanya dan membangun jalan pintas menuju puncak dunia kedokteran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Darah di Gang Gelap

Ting!

Suara notifikasi bernada nyaring dari ponsel Android murahan dengan layar retak itu memecah keheningan kamar kontrakan Bayu.

Sinar matahari pagi baru saja mengintip dari celah jendela kayu yang lapuk, membawa udara dingin sisa embun semalam.

Bayu perlahan membuka matanya, merasakan tubuhnya yang sangat segar tanpa ada rasa pegal sedikit pun.

Dia meregangkan otot-ototnya sejenak, lalu meraih ponsel yang tergeletak di lantai sebelah kasur tipisnya.

Mata Bayu yang tadinya masih setengah terpejam kini langsung terbuka lebar sempurna.

Di layar ponselnya, terpampang sebuah pesan singkat dari layanan perbankan yang menyatakan ada dana masuk.

Nominalnya bukan ratusan ribu atau jutaan, melainkan satu miliar rupiah pas tanpa potongan.

"Satu miliar..." gumam Bayu dengan suara serak, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.

Dia mengucek matanya berulang kali, lalu menghitung jumlah angka nol di layar itu satu per satu.

Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan.

Benar, itu adalah uang satu miliar yang dijanjikan oleh Pak Herman semalam.

Bagi seorang yatim piatu miskin yang setiap sore harus memancing di sungai kotor hanya untuk makan, angka itu terlihat seperti sebuah ilusi.

Bayu tertawa pelan, tawanya terdengar getir namun juga penuh dengan kepuasan yang mendalam.

"Ternyata begini rasanya menjadi orang kaya, bahkan bernapas pun rasanya jadi lebih ringan," batin Bayu sambil meletakkan kembali ponselnya.

Dia bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi kecil di sudut ruangan.

Air dingin yang mengguyur tubuhnya pagi ini terasa sangat menyegarkan.

Sambil mengusap rambutnya yang basah, Bayu menatap telapak tangan kanannya.

Batu giok hijau yang tertanam di sana memancarkan cahaya redup, seolah ikut merasakan kebahagiaan tuan barunya.

Bayu mengepalkan tangannya kuat-kuat, merasakan tenaga luar biasa yang mengalir di setiap serat ototnya.

"Uang ini baru permulaan, aku akan menggunakan ruko dari Pak Herman untuk membangun kekuasaan yang sesungguhnya," pikir Bayu penuh tekad.

...

Suasana SMA elit pagi itu berjalan seperti biasanya, dipenuhi dengan murid-murid kaya yang turun dari mobil mewah mereka.

Bayu berjalan kaki memasuki gerbang sekolah dengan langkah tenang dan postur tubuh yang jauh lebih tegap dari hari-hari sebelumnya.

Seragamnya masih sama lusuhnya, namun aura yang dia pancarkan membuat siapa pun yang berpapasan dengannya refleks menyingkir memberi jalan.

Saat Bayu berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya, tatapannya tidak sengaja beradu dengan tatapan Kevin.

Kevin sedang berdiri di depan pintu kelas bersama teman-temannya, lengannya masih sesekali diusap karena ngilu sisa kejadian kemarin.

Melihat Bayu, wajah Kevin langsung mengeras dan matanya memancarkan aura permusuhan yang sangat kental.

Bayu hanya tersenyum miring, sebuah senyuman meremehkan yang sukses membuat darah Kevin mendidih hingga ke ubun-ubun.

"Tertawalah selagi bisa, gembel sialan," gerutu Kevin dengan suara sangat pelan agar tidak terdengar murid lain.

"Nanti malam, aku jamin tanganmu itu tidak akan bisa digunakan untuk tersenyum lagi."

Bayu tidak mempedulikan Kevin dan langsung masuk ke kelas, duduk di bangkunya yang berada di pojok belakang.

Pelajaran pertama hari ini adalah biologi, yang artinya dia akan bertemu kembali dengan Bu Rina.

Tak lama kemudian, guru muda berseragam ketat itu masuk ke dalam kelas.

Langkah sepatu hak tinggi Bu Rina terdengar sedikit tidak beraturan hari ini.

Wajah guru cantik itu terlihat lebih pucat dari biasanya, dan ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya seolah dia tidak tidur semalaman.

Begitu Bu Rina meletakkan buku absen di atas meja guru, pandangannya langsung menyapu seluruh ruangan dan berhenti tepat pada sosok Bayu.

Deg.

Jantung Bu Rina langsung berdetak tidak karuan hanya dengan melihat wajah pemuda itu dari kejauhan.

Ingatan tentang kejadian panas di ruang persiapan biologi kemarin berputar kembali di kepalanya layaknya kaset rusak.

Sentuhan tangan Bayu, ciuman panas mereka, dan hawa maskulin yang memabukkan itu membuat Bu Rina nyaris gila semalaman.

Dia bahkan harus meredakan hasratnya sendiri di kamar mandi rumahnya sambil terus membayangkan wajah muridnya itu.

"Selamat pagi anak-anak, buka buku cetak kalian halaman empat puluh lima," ucap Bu Rina dengan suara yang terdengar sedikit bergetar.

Sepanjang jam pelajaran, Bu Rina sama sekali tidak bisa fokus menjelaskan materi anatomi tumbuhan di papan tulis.

Matanya terus-menerus mencuri pandang ke arah pojok belakang kelas, tempat Bayu duduk dengan tenang.

Setiap kali Bayu menatap balik ke arahnya, Bu Rina langsung menundukkan wajahnya dengan pipi merona merah.

Dia merasa udara di kelas ini terlalu panas, padahal pendingin ruangan menyala dengan suhu paling rendah.

Kedua paha Bu Rina tanpa sadar saling bergesekan perlahan di balik meja guru, mencoba meredakan rasa kosong yang kembali menyerang bagian bawah tubuhnya.

"Bayu, ibu butuh bantuanmu," ucap Bu Rina tiba-tiba, memecah keheningan kelas saat murid-murid sedang mencatat.

Semua mata langsung menatap ke depan.

"Tolong bawa tumpukan buku tugas ini ke meja ibu di ruang guru setelah bel istirahat berbunyi."

"Hanya kamu yang ibu izinkan masuk ke ruangan ibu hari ini, mengerti?" lanjut Bu Rina dengan nada yang dipaksakan senormal mungkin.

Namun, bagi Bayu yang memiliki pendengaran tajam, dia bisa menangkap getaran penuh hasrat dari nada suara wanita itu.

Bayu hanya mengangguk pelan sambil tersenyum penuh arti.

"Baik, Bu Rina, saya akan mengantarkannya dengan senang hati," jawab Bayu tenang.

Mendengar jawaban itu, Bu Rina menelan ludah dengan susah payah, membayangkan apa yang akan terjadi di ruang guru nanti saat keadaan sepi.

...

Bel istirahat berbunyi nyaring.

Bayu baru saja berniat berdiri untuk membawa tumpukan buku Bu Rina, namun langkahnya terhenti.

Aroma parfum mahal bercampur wangi vanila yang manis tiba-tiba memenuhi indra penciumannya.

Bayu menoleh dan melihat Natasha sudah berdiri di samping mejanya.

Gadis primadona yang biasanya dikelilingi oleh banyak pengawal dan teman wanita itu kini berdiri sendirian.

Wajah Natasha terlihat canggung, tangannya memegang sebuah kotak makan siang bermerek yang terlihat sangat mahal dan eksklusif.

Semua murid di kelas yang tadinya ingin keluar menuju kantin langsung menghentikan langkah mereka, tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.

"Ada apa, Tuan Putri? Ruang VIP komite siswa sedang dikunci hari ini?" goda Bayu dengan nada santai.

Pipi Natasha langsung merona merah muda saat Bayu mengungkit kejadian di ruang kedap suara kemarin.

Dia menggigit bibir bawahnya, menahan rasa malu yang membuat perutnya terasa geli.

"Jangan bahas itu di sini, bodoh," desis Natasha pelan sambil menoleh ke sekeliling kelas dengan panik.

Dia kemudian meletakkan kotak makan siang mewah itu di atas meja Bayu dengan gerakan sedikit kasar untuk menutupi kegugupannya.

"Ini dari koki pribadi keluargaku, Papa yang menyuruhku membawakannya untukmu sebagai tanda terima kasih tambahan."

"Bukan berarti aku yang mau memasakkannya untukmu, jadi jangan besar kepala," ucap Natasha dengan nada ketus yang terdengar sangat dibuat-buat.

Bayu menatap kotak makan berisi daging wagyu premium dan hidangan laut mewah itu, lalu menatap wajah Natasha yang masih memerah.

"Kalau cuma disuruh papamu, kenapa detak jantungmu cepat sekali saat memberikannya padaku?" bisik Bayu sambil mencondongkan tubuhnya ke depan.

Mata Natasha membelalak lebar, dia langsung mundur selangkah dengan dada yang naik turun cepat.

Gadis itu tidak bisa membalas kata-kata Bayu karena apa yang dikatakan pemuda itu seratus persen benar.

Aura pemikat Bayu kembali bekerja, membuat Natasha merasa lemas dan ingin terus berada di dekat pemuda miskin tersebut.

"Makan saja makanan itu dan jangan banyak bicara!" teriak Natasha kesal untuk menutupi rasa malunya, lalu berbalik dan berlari keluar kelas.

Bayu tertawa pelan melihat tingkah gadis sombong yang kini mulai jinak layaknya kucing peliharaan itu.

...

Waktu berlalu dengan cepat, dan matahari akhirnya tenggelam di ufuk barat.

Setelah menghabiskan sore harinya meninjau ruko tiga lantai di Jalan Sudirman yang kini resmi menjadi miliknya, Bayu memutuskan untuk pulang.

Dia sengaja berjalan kaki menyusuri rute yang sama seperti biasanya.

Jalan pintas menuju rumah kontrakannya adalah sebuah gang sempit yang diapit oleh dinding beton tinggi dan pabrik tua yang sudah lama ditinggalkan.

Lampu jalan di gang itu banyak yang mati, membuat suasananya sangat gelap dan lembap.

Bau sampah basah dan air selokan yang menggenang menjadi ciri khas tempat kumuh tersebut.

Bayu melangkah dengan santai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.

Namun, telinganya yang sudah diperkuat oleh giok hijau menangkap suara langkah kaki yang mengikutinya sejak dari jalan raya tadi.

Bukan hanya satu orang, melainkan tiga orang dengan postur tubuh besar.

Bayu menghentikan langkahnya tepat di tengah-tengah gang yang paling gelap.

"Keluar saja, tidak perlu repot-repot bersembunyi di balik tong sampah seperti tikus got," ucap Bayu dengan suara lantang yang menggema di gang sempit itu.

Tap. Tap. Tap.

Tiga sosok pria berbadan kekar keluar dari kegelapan.

Pria yang berdiri di tengah memiliki tato ular besar yang melingkar dari leher hingga ke lengannya.

Di tangannya, dia memutar-mutar sebuah pisau lipat yang memantulkan cahaya redup dari sisa lampu jalan.

Dua pria di belakangnya membawa tongkat bisbol dari besi padat.

"Ternyata pendengaranmu cukup tajam juga, anak sekolah," ucap pria bertato ular itu dengan suara serak yang berat.

"Baguslah, jadi aku tidak perlu repot-repot menyapamu dari belakang."

Bayu memutar tubuhnya perlahan, menatap ketiga preman itu dengan pandangan sedatar air kolam yang tenang.

1
syarif ibrahim
👍👍👍💪
syarif ibrahim
tidak perlu jendral, karena cucumu sdh jadi milikku... 🤣🤣🤣🤣🤣
syarif ibrahim
terbalik bab nya
Yui: Terimakasih atas koreksinya kak😊😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!