Indonesia
NovelToon NovelToon
Gadis Manis Anak Tuan Adrian

Gadis Manis Anak Tuan Adrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Rumah besar Wijaya terasa sunyi pada malam itu. Adrian duduk di ruang kerjanya dengan kepala tertunduk, menatap tumpukan dokumen yang tidak bisa dia fokuskan. Pikirannya melayang pada putrinya, pada semua yang telah terjadi beberapa bulan terakhir. Dia mengingat bagaimana Adeline telah memperingatkannya tentang Victor, tentang Daniel, tentang Kevin. Dan setiap kali, peringatan itu terbukti benar.

Tetapi Adrian juga mengingat bagaimana dia sering meragukan putrinya. Bagaimana dia menganggap kemampuan Adeline sebagai imajinasi liar. Bagaimana dia lebih memilih mempercayai orang dewasa yang tersenyum manis daripada mendengarkan anak kecilnya sendiri. Rasa bersalah itu menghantui setiap malamnya.

Dia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju kamar Adeline. Pintu terbuka perlahan dan dia melihat putrinya sedang duduk di tempat tidur, memeluk boneka beruangnya sambil menatap langit-langit. Gadis kecil itu tersenyum kecil ketika melihat ayahnya masuk.

"Ayah, Adeline belum tidur," katanya dengan suara lembut.

Adrian mendekati putrinya dan duduk di tepi tempat tidur. Dia mengusap rambut Adeline dengan penuh kasih sayang. "Kenapa kamu belum tidur, Sayang?"

"Aku mendengar suara hati Ayah," jawab Adeline polos. "Ayah sedih. Ayah memikirkan banyak hal. Adeline tidak bisa tidur sebelum Ayah tenang."

Adrian merasakan dadanya sesak. Bahkan di tengah malam yang sunyi, putrinya masih mendengar kegelisahannya. Dia menarik napas dalam-dalam dan menatap mata jernih Adeline.

"Sayang, Ayah ingin minta maaf," kata Adrian dengan suara bergetar. "Ayah minta maaf karena selama ini Ayah sering meragukanmu. Ayah menganggap kemampuanmu sebagai sesuatu yang aneh. Ayah lebih memilih mempercayai orang lain daripada mendengarkan kata-katamu."

Adeline menatap ayahnya dengan mata penuh pengertian. "Tidak apa-apa, Ayah. Adeline tidak marah."

"Tapi Ayah marah pada diri Ayah sendiri," lanjut Adrian. "Ayah seharusnya menjadi orang pertama yang percaya padamu. Ayah seharusnya melindungimu, bukan membuatmu merasa bahwa kemampuanmu adalah beban."

Adeline menggeleng cepat. "Kemampuanku bukan beban, Ayah. Itu adalah anugerah. Clara bilang begitu. Dan Adeline senang bisa menggunakan kemampuanku untuk melindungi Ayah dan keluarga."

Adrian memeluk putrinya erat, air mata mengalir di pipinya. "Kamu adalah gadis kecil yang luar biasa, Sayang. Ayah tidak pantas memiliki anak sepertimu."

"Ayah pantas, Ayah," bisik Adeline. "Ayah adalah ayah terbaik yang pernah Adeline miliki. Ayah selalu melindungi Adeline, selalu menyayangi Adeline. Ayah hanya butuh waktu untuk mengerti."

Adrian menangis dalam pelukan putrinya. Untuk pertama kalinya, dia membiarkan semua emosinya keluar. Semua ketakutan, semua penyesalan, semua rasa syukur karena memiliki anak yang begitu istimewa.

"Ayah berjanji, Sayang," katanya dengan suara mantap setelah tangisnya reda. "Mulai sekarang, Ayah akan selalu mendengarkanmu. Bukan karena kemampuanmu, tetapi karena kamu adalah anakku. Kamu adalah bagian dari diriku dan Ayah akan selalu percaya padamu."

Adeline tersenyum dan mencium pipi ayahnya. "Adeline sayang Ayah. Adeline selalu percaya pada Ayah. Dan Adeline akan selalu melindungi Ayah."

Adrian tertawa kecil mendengar kata-kata putrinya. "Seharusnya Ayah yang melindungimu, Sayang. Bukan sebaliknya."

"Kita bisa saling melindungi, Ayah," jawab Adeline dengan polos. "Keluarga itu saling melindungi, kan?"

Adrian mengangguk, air mata bahagia mengalir di pipinya. "Kamu benar, Sayang. Keluarga itu saling melindungi. Dan Ayah akan selalu ada untukmu, apapun yang terjadi."

Mereka berdua duduk dalam keheningan yang nyaman. Adrian merasakan beban yang selama ini dia pikul mulai terangkat. Dia tidak lagi merasa harus menjadi orang tua yang sempurna yang menyembunyikan semua kelemahannya. Dia bisa menjadi ayah biasa yang belajar bersama putrinya.

"Ayah," kata Adeline tiba-tiba. "Adeline juga ingin minta maaf pada Ayah."

Adrian terkejut. "Mengapa kamu minta maaf, Sayang?"

"Karena Adeline sering membuat Ayah khawatir," jawab Adeline pelan. "Adeline tahu Ayah selalu cemas mendengar Adeline bercerita tentang suara-suara jahat. Adeline tidak mau Ayah terus menerus khawatir."

Adrian mengusap rambut putrinya dengan lembut. "Kamu tidak perlu minta maaf, Sayang. Ayah khawatir karena Ayah sayang padamu. Itu hal yang wajar bagi seorang ayah."

Adeline tersenyum dan merebahkan kepalanya di pangkuan ayahnya. "Ayah, bisakah Ayah menemani Adeline tidur malam ini?"

Adrian tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja, Sayang. Ayah akan menemanimu sampai kamu tertidur."

Dia berbaring di samping putrinya dan memeluk gadis kecil itu dengan lembut. Adeline memejamkan matanya dan dalam beberapa saat, dia sudah tertidur dengan tenang. Adrian menatap wajah putrinya yang damai dan berjanji dalam hatinya bahwa dia tidak akan pernah meragukan Adeline lagi.

Di luar kamar, Elena dan William berdiri dengan senyum haru. Mereka mendengar seluruh percakapan dari balik pintu yang sedikit terbuka. Elena menggenggam tangan mertuanya dan berbisik, "Dia akhirnya mengerti."

William mengangguk dengan mata berkaca-kaca. "Ya. Adrian akhirnya mengerti bahwa kepercayaan adalah fondasi keluarga. Dan dia menemukannya melalui putrinya yang kecil."

Malam itu, rumah besar Wijaya terasa lebih hangat dari biasanya. Sebuah ikatan baru terbentuk antara Adrian dan Adeline, ikatan yang didasarkan pada kepercayaan dan cinta tanpa syarat. Dan di dalam kamar yang sunyi, seorang gadis kecil tertidur dengan tenang dalam pelukan ayahnya, mengetahui bahwa dia tidak perlu berjuang sendirian lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!