Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:374k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.

Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.

Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Aslan tidak membuang waktu. Begitu melihat Liza tersungkur di lantai sambil menangis, ia langsung melangkah cepat menghampirinya. Tangannya menopang bahu istri mudanya itu dengan hati-hati, membantunya bangkit, lalu mendudukkannya di sofa panjang seolah Naya tidak ada di ruangan yang sama.

“Sudah, jangan menangis lagi,” bisiknya pelan pada Liza, suaranya jauh lebih lembut daripada saat berbicara dengan Naya beberapa menit lalu.

Naya yang sejak tadi duduk diam akhirnya bangkit berdiri. Ia menatap tajam ke arah Aslan, punggung tegak, dagu sedikit terangkat. 

“Bawa mereka pergi dari sini,” ucapnya tegas, setiap kata diucapkan dengan jelas. “Aku tidak sudi satu rumah dengan mereka.”

Aslan langsung menoleh, wajahnya mengeras. “Naya! Ini rumahku. Aku yang menentukan siapa saja yang berhak tinggal di rumah ini!” sentaknya, nada suaranya naik.

Naya tertawa kecil, pahit. “Baik, Kalau begitu aku yang akan pergi meninggalkan rumah ini.” jawabnya datar. Ia berbalik, siap melangkah menuju tangga untuk mengambil barang-barangnya. Ia tidak mau tinggal satu atap dengan madu dan ibunya. Tidak hari ini, tidak besok, tidak selamanya.

Tepat saat kakinya mulai melangkah, Aslan lebih dulu mencekal pergelangan tangannya. Genggamannya kuat. “Bukan begitu, Naya,” bujuknya, nada suaranya berubah mencoba merayu. “Setidaknya biarkan mereka tinggal di sini dulu untuk sementara waktu. Jangan buru-buru.”

Naya menatap tangan yang mencengkeramnya, lalu mengangkat wajah. Matanya dingin. “Lepas.”

Sebelum Aslan sempat menjawab, Liza bangkit dari sofa. Ia mengusap air mata yang masih tersisa, lalu menatap Naya dengan wajah penuh drama. “Mbak Naya… biarkan saya tinggal di sini dulu. Saya sedang hamil. Saya tidak bisa langsung pulang ke Bandung.”

Kalimat itu membuat seluruh ruangan seolah berhenti sejenak.

Aslan membelalak. Ia melepaskan tangan Naya hampir secara refleks, lalu beralih menatap wajah Liza dengan penuh kejutan. “Kamu hamil?” tanyanya, suaranya naik satu oktaf.

Liza tersenyum kecil, senyum yang sengaja dibuat lembut dan penuh harap. Ia meraih tasnya, mengeluarkan selembar kertas hasil pemeriksaan, lalu menyerahkannya pada Aslan. “Iya, Mas. Aku datang ke sini karena ingin memberitahumu. Aku hamil.”

Aslan menatap kertas itu dengan mulut sedikit terbuka. Ekspresinya campur aduk, kaget, panik, dan haru. 

Naya yang berdiri di samping mereka hanya merotasi bola matanya, jengah. Ia menghela napas pendek, lalu tanpa mengucapkan satu kata pun berbalik dan naik ke lantai atas. Langkahnya stabil, tidak tergesa, seolah drama yang baru saja dimainkan di ruang tamu tidak layak mendapat perhatian lebih.

Di balik pintu kamar yang ia tutup pelan, Naya bersandar sejenak. Ia tertawa getir sendiri. Hamil? Tentu saja. Selama ini dia tidak memiliki anak, karena Aslan tidak menginginkannya. Setelah berhubungan intim dengannya, Aslan selalu memberikan dirinya pil pencegah kehamilan. 

Ia membuka lemari, mengeluarkan koper kecil, dan mulai memasukkan beberapa pakaian. Gerakannya tenang, rapi, tanpa amarah yang meledak. Di bawah sana, suara Aslan dan Liza masih terdengar samar, satu panik, satu penuh sandiwara.

Naya menarik ritsleting koper. Hari ini, ia tidak akan tinggal satu atap dengan mereka.

Bahkan jika harus pergi sekarang juga. Namun sebelum melangkah pergi, Naya sudah menyiapkan beberapa berkas.

Ceklek.....

Pintu terbuka. Aslan masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk, tanpa meminta izin terlebih dahulu. Wajahnya masih tegang, napasnya belum sepenuhnya stabil setelah adegan di ruang tamu. 

Ia menutup pintunya, lalu menatap Naya yang sedang berdiri di dekat lemari dengan koper terbuka di atas ranjang.

“Naya,” suaranya pelan, hampir memohon. “Aku mohon, jangan pergi. Tetaplah di sini. Aku janji akan memindahkan Liza ke tempat lain. Tapi… untuk sementara waktu, kamu tidur di kamar tamu dulu. Aku ingin Liza tidur di kamar ini bersamaku.”

Kalimat itu jatuh tepat di dada Naya seperti pisau yang diputar pelan. Ia sudah menahan banyak hal hari ini, kedatangan Liza, drama air mata, pengumuman kehamilan, dan kini suaminya dengan terang-terangan meminta ranjang pernikahan mereka diserahkan pada wanita lain. Rasa sakit yang sempat ia tekan kembali naik, menusuk hingga ke tenggorokan. Tapi Naya tidak membiarkan ekspresinya retak. Ia hanya menatap Aslan dalam diam beberapa detik, lalu menghela napas pelan.

“Iya,” jawabnya akhirnya, suaranya datar. “Tapi sebelum itu, kamu harus tanda tangani berkas ini terlebih dahulu.”

Naya meraih map tipis dari atas meja rias, lalu menyodorkannya pada Aslan. Gerakannya tenang, hampir terlalu tenang.

Aslan mengerutkan kening, menerima map itu. “Berkas apa, Naya?” tanyanya sambil menatap wajah istrinya, mencari-cari emosi yang biasa ia lihat dulu, kesedihan, kemarahan, atau setidaknya getaran di sudut mata.

“Asuransi kesehatan,” jawab Naya asal, tanpa berkedip.

Aslan mengangguk singkat. Ia membuka map itu, melihat beberapa lembar kertas dengan kop formal, lalu tanpa membaca lebih lanjut langsung mencari bagian tanda tangan. Selama bertahun-tahun, urusan seperti ini memang selalu diserahkan pada Naya. Asuransi, tagihan, dokumen rumah tangga, semua ia percayakan. Maka hari ini pun, ia melakukan hal yang sama. Pulpen diambil dari saku jas, lalu goresan tanda tangan di buat cepat di beberapa tempat yang ditandai.

Naya menatap wajah suaminya dalam diam. Di dalam hati, ia tertawa getir. "Bahkan kamu tidak mau membacanya sedikit pun"

Setelah Aslan mengembalikan map itu, Naya menerimanya dengan kedua tangan. Ia memeriksa tanda tangan sekali, memastikan semuanya jelas, lalu memasukkannya kembali ke dalam map dan menyelipkannya ke dalam tasnya. Tidak ada rasa lega di wajahnya. Hanya kepastian yang semakin dingin.

Tanpa mengucapkan terima kasih, Naya berbalik ke arah lemari. Ia merapikan sisa pakaian yang masih tersisa, memasukkannya satu per satu ke dalam koper dengan gerakan rapi dan efisien. Baju tidur, beberapa set pakaian ganti, charger, dan beberapa dokumen penting. Setelah ritsleting ditutup, ia mengangkat koper itu tanpa kesulitan.

Aslan masih berdiri di dekat pintu, seolah menunggu Naya berubah pikiran atau setidaknya menoleh padanya. Tapi Naya tidak melakukannya. Ia berjalan melewati suaminya dengan jarak yang sengaja dijaga, membawa koper menuju kamar tamu di ujung lorong.

Di belakangnya, Aslan hanya bisa menatap punggung istrinya yang semakin menjauh. Ia merasa telah menyelesaikan masalah dengan cara yang menurutnya paling masuk akal menenangkan Liza, menahan Naya agar tidak pergi jauh, dan tetap menguasai situasi.

Namun yang tidak ia sadari, di dalam map yang baru saja ia tanda tangani tanpa membaca…

Terdapat sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar asuransi kesehatan.

Dan malam nanti, Naya tidur di kamar tamu dengan senyum tipis di wajahnya, senyum yang sama sekali tidak berhubungan dengan kemenangan kecil, melainkan dengan langkah panjang yang semakin mendekati akhir.

1
Night Watcher
di atas, aslan sbg ceo, didesak oleh direktur utama agar aslan nonaktif.
sekarang aslan sbg direktur utama, didesak agar nonaktif.
yg bener yg mana jabatan aslan?
Night Watcher
perusahaan punyamu lan, kamu yg mbangun, kenapa tunduk pd org² yg cuma pekerja?
yg ada mereka mentok mengundurkan diri atau keluar dr pekerjaan..😇
Marina Tarigan
semoga kamu dan bayi sehag terus dsn suami siagamu ber tambah2 mencintaimu dan bernuang menjadi suami siaga utk menhhapus lukamu dulu Naya
Marina Tarigan
meninggal dlm kancah dosa semoga bayimu jafi anak soleha nanti tdk mengikuti jejak ibunya yg hina
Marina Tarigan
aslan taya hidupmu kembali dan menjadi pribafi yg lebih baik
Lioniwati Ben
dasar perempuan sundal otaknya udah konslet udah dpt lakinya msh mau hak istri sah nya dasar perempuan sundal
Marina Tarigan
perbuata arogan kamu bertiga adalah hadiah paling besar buat kebangkitan Naya yg kalian hi na sangat kasar tanpa hati jadiah yg setimpal pd Aslan Lisa Tianti yh serakah
Marina Tarigan
baguslah lida sdh meninggal lisa wanita serakah otoriter menganggap dirinya paling benar menyakiti sesama wanita tdk punya hati memaksa tempat sakral suami istri Naya dan mengusir Naya lebih dari pembantu daro rmhnya semdiri perbuafan keji yg tdk bisa dimaafkan Aslan kamu berpetan penuh menyakiti istri sahmu Naya yg penuh air mata sampai kami tampar demi pelacur itu sekarang berbalil pdmu Adlan sampai hancur lebur Naya sekarang diratukan oleh Erlan sang suami yg punya sehala kehormatan kekayaan lekuasaan yg tdk bisa kamu lawan kamu kejam dan tdk punya hati pd istrimu sendiri yv pintsr dan penurut kamu sia2kam nikmati kehancuranmu dan bertobatlah demi masa depanmu
irma hidayat
cerita yg bagus
fatmiatun sahono
maaf ortu nya Aslan TDK ada ya....
fatmiatun sahono
cuma karena Naya hrs berkorban begitu besar. itu kan pengorbanan Erlan Aslan satu cinta satu marah. setipis plastik perbedaan nya. dampak nya luarr biasa....🙏 tinggal sedikit lagi ya tamat...🙏💪💪💪💪
fatmiatun sahono
heran....nikah siri itu emang dpt hak ya....
fatmiatun sahono
bukan jaim. bodohhhhh
Lioniwati Ben
terima salah Aslan
udah lah
mengalah aja lbh terhormat loh
drpd bikin rencananya busuk pdhal km yg busuk dr awalnya kg
Susi Yanti
sukurin.....
emang enak ngerebut milik org lain ?, diawal emang yg nampak sorga,namun waktu berjalan melintasi indahnya,selamat dtg kemasa sulit....
Cicih Sophiana
eh Naya tunjukan ke si Aslan klo kamu kuat kamu bisa melawan... jgn cuma nangis doang...
Cicih Sophiana
Naya kamu payah ah...
Lioniwati Ben
mencintaimu dalam senyap ath yah Erlan 👍 brarti tulus sih cinta Erlan utk nara
Night Watcher
sebenarnya posisi yg lebih tinggi di perusahaan itu apa ya? CEO atau direktur?
fatmiatun sahono
yahhhh sy pengen baca novel , setelah pergi de suami nya trus ketemu jodoh yg notabene bule tp maaf🙏muslim . yg konon bule nya bucin amat ma org indo. pasti romantisass....semngat Thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!