"Mo Ling'er! Kau berjanji memberiku tiga tahun!" raungnya seperti harimau yang terluka. "Sekarang baru dua tahun! Kenapa kau lakukan ini padaku! Kenapa?!"
Mo Ling'er menyeringai, tersenyum penuh penghinaan.
"Menunggumu? Hmmph!
"Kau tidak pantas!"
Kalimat itu menghantam arena seperti petir.
"Aku dulu buta karena menganggapmu istimewa," kata Mo Ling'er sengaja lantang, biar semua orang mendengar.
"Kau memang Tuan Muda Ketiga Keluarga Feng, tapi selama enam belas tahun apa yang kau raih?"
"Jiwa Bela Diriku Peringkat Enam! Aku jenius Keluarga Mo, sekaligus jenius nomor satu di antara rekan-rekan di Kota Wushuang! Sementara kau hanya Peringkat Dua, apa hakmu menyuruhku menunggu?
"Hari ini, kau juga hanya sanggup membangkitkan Jiwa Bela Diri diperingkat Dua. Perempuan saja bahkan lebih baik darimu!"
"Dasar sampah!"
Seketika hati Feng Wuchen terasa seperti ditusuk ribuan pisau.
Enam belas tahun kenangan indah mereka terlintas di benaknya. Tawa, senda gurau, janji, kebersamaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Salah Memilih Lawan
Begitu keluar dari Paviliun Wanbao, Ling Xiaoxiao masih memikirkan pengobatan terakhir yang baru saja dilakukan Feng Wuchen terhadap Yu Wanxiong. Setelah tiga kali penanganan, Racun Api yang selama bertahun-tahun menyiksa Ketua Paviliun itu akhirnya benar-benar hilang.
“Kakak Feng,” katanya sambil berjalan di sisi Feng Wuchen, “sekarang Racun Api Ketua Paviliun Yu sudah sepenuhnya hilang. Apa kau tidak khawatir dia akan berubah pikiran setelah tidak lagi membutuhkan bantuanmu?”
Feng Wuchen tersenyum santai. “Yu Wanxiong memang seorang alkemis, tetapi dia juga pedagang. Orang seperti dia lebih memahami nilai keuntungan daripada kebanyakan orang. Menurutmu, setelah mengetahui apa yang bisa kuberikan kepadanya, apakah dia akan memilih menjadi teman atau musuh?”
Ling Xiaoxiao memikirkan pertanyaan itu sejenak, lalu tersenyum kecil. Kekhawatirannya memang tidak diperlukan. Bahkan kalau Yu Wanxiong ingin mengingkari kesepakatan, Feng Wuchen sepertinya sudah menyiapkan jalan lain.
Mereka baru berjalan beberapa langkah ketika ekspresi keduanya berubah hampir bersamaan.
“Hati-hati!”
Feng Wuchen merasakan hawa membunuh datang dari samping. Pada saat yang sama, suara tajam membelah udara terdengar di dekat telinganya.
Tanpa sempat berpikir panjang, ia meraih pinggang Ling Xiaoxiao dan menariknya ke samping.
Sebuah belati melesat melewati tempat mereka berdiri sepersekian detik sebelumnya, kemudian menghantam tiang kayu di depan Paviliun Wanbao hingga sebagian bilahnya tertanam.
Ling Xiaoxiao menatap belati itu sebelum perlahan mengalihkan pandangan.
Wajahnya yang biasanya lembut berubah dingin.
Feng Wuchen juga sudah menemukan pelakunya.
“Mo Yu.”
Seorang pemuda berjalan keluar dari kerumunan dengan langkah tenang. Senyum angkuh menghiasi wajahnya, seolah serangan yang hampir merenggut nyawa seseorang tadi hanyalah sapaan biasa.
Mo Yu merupakan putra Tetua Agung Klan Mo. Usianya beberapa tahun lebih tua daripada Feng Wuchen dan termasuk generasi yang sama dengan Feng Yuan. Kultivasinya pun sudah mencapai Alam Pengumpulan Qi Tingkat Tiga, membuatnya cukup terkenal di kalangan generasi muda Kota Wushuang.
Namun keterkejutan sempat melintas di matanya ketika melihat Feng Wuchen berhasil menghindari serangan tadi.
Lebih mengejutkan lagi, ia bisa merasakan Qi Sejati dari tubuh Feng Wuchen.
Alam Pengumpulan Qi Tingkat Satu?
Mo Yu menyembunyikan keterkejutannya di balik senyum dingin.
Belum lama ini Feng Wuchen masih berada di Alam Penempaan Tubuh Tingkat Delapan. Sekarang ia sudah menyusul Mo Ling'er dan mencapai Alam Pengumpulan Qi.
Ayahnya benar.
Jika pemuda ini dibiarkan tumbuh, cepat atau lambat ia akan menjadi ancaman besar bagi Klan Mo.
“Kakak Feng, biarkan aku membunuhnya.”
Suara Ling Xiaoxiao terdengar begitu dingin hingga Feng Wuchen menoleh kepadanya.
Gadis itu benar-benar marah.
Kalau reaksi Feng Wuchen terlambat sedikit saja, belati tadi bisa mengenai bagian vital tubuhnya. Bagi Ling Xiaoxiao, itu sudah cukup menjadi alasan untuk membunuh Mo Yu.
Feng Wuchen menahan lengannya.
“Jangan.”
Ling Xiaoxiao mengernyit. “Dia mencoba membunuhmu.”
“Aku tahu. Tapi kalau kita membunuhnya sekarang, Klan Mo akan mendapatkan alasan untuk menyerang Klan Feng secara terbuka. Jangan lupa, di belakang mereka masih ada Klan Huangfu.”
Ling Xiaoxiao masih terlihat tidak puas.
Feng Wuchen tersenyum tipis. “Aku hanya bilang jangan membunuhnya. Aku tidak bilang harus membiarkannya pergi tanpa membayar harga.”
Barulah kemarahan di mata Ling Xiaoxiao sedikit mereda.
Mo Yu berhenti sekitar sepuluh meter di depan mereka.
“Feng Wuchen, kudengar kau mengancam ayahku di Paviliun Wanbao kemarin. Benarkah?”
Feng Wuchen menatapnya tanpa minat.
“Siapa yang tahu?”
Jawaban acuh tak acuh itu membuat wajah Mo Yu mengeras.
“Kalau begitu, kuanggap kau mengakuinya.”
Qi Sejati segera mengalir dari tubuh Mo Yu. Tekanan Alam Pengumpulan Qi Tingkat Tiga menyebar di jalan, membuat orang-orang yang sebelumnya hendak mendekat buru-buru menjauh.
Tidak ada yang ingin terseret dalam perselisihan dua klan besar.
Mo Yu menghentakkan kaki dan melesat maju. Feng Wuchen tidak mundur. Napas Dewa Naga mulai mengalir melalui meridiannya, menyelimuti kedua tinjunya dengan cahaya kebiruan yang samar.
Melihat Feng Wuchen berani menyambut serangannya secara langsung, Mo Yu tidak menjadi ceroboh. Ia sudah mengetahui bagaimana Yang Tiansen dikalahkan. Selisih tingkat kultivasi jelas tidak bisa digunakan untuk menilai Feng Wuchen seperti kultivator biasa.
Ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah, Feng Wuchen lebih dahulu melayangkan pukulan.
Mo Yu segera merendahkan tubuh sehingga tinju itu melewati kepalanya. Kedua telapak tangannya menyentuh tanah, kemudian tubuhnya berputar dan kedua kakinya menyapu ke atas menuju dada Feng Wuchen.
Gerakannya cepat dan terlatih.
Namun bagi Feng Wuchen, serangan itu masih terlalu mudah dibaca.
Ia memiringkan tubuh untuk menghindari tendangan pertama. Pada saat bersamaan, kaki kanannya melesat dari sudut yang sulit diduga dan menghantam wajah Mo Yu.
Benturan keras membuat Mo Yu terhuyung.
Rasa sakit menjalar dari pipinya, tetapi yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa dirinya lebih dahulu terkena serangan dari seseorang yang dua tingkat lebih rendah.
Wajah Mo Yu memerah karena marah.
Ia kembali menyerang tanpa memberikan kesempatan Feng Wuchen bernapas. Kali ini tubuhnya melompat tinggi dan sebuah tendangan diarahkan lurus ke kepala lawan.
Feng Wuchen justru maju.
Sebelum kaki Mo Yu mencapai sasaran, ia sudah masuk ke bawah jangkauan serangan. Satu tangan menangkap pergelangan kaki Mo Yu, sementara tangan lainnya menahan pinggangnya.
Ekspresi Mo Yu langsung berubah.
Ia belum sempat membebaskan diri ketika Feng Wuchen memutar tubuh dan melemparkannya begitu saja.
Tubuh Mo Yu menghantam sebuah lapak kosong di tepi jalan. Kayu-kayu penyangganya patah dan debu beterbangan, membuat penampilannya yang semula angkuh berubah memalukan.
Orang-orang yang menyaksikan dari kejauhan mulai berbisik.
Mereka memang pernah mendengar Feng Wuchen mengalahkan Yang Tiansen ketika kultivasinya masih di Alam Penempaan Tubuh. Namun menyaksikan sendiri bagaimana ia mempermainkan Mo Yu yang berada di Alam Pengumpulan Qi Tingkat Tiga memberikan kesan yang jauh berbeda.
“Kalau kemampuanmu hanya sebatas itu,” ujar Feng Wuchen tenang, “sebaiknya jangan menyerang orang dari belakang.”
Mo Yu bangkit dari puing-puing lapak dengan wajah yang nyaris berubah karena amarah.
Di depan Paviliun Wanbao, Yu Wanxiong dan Zhang Han juga telah keluar setelah mendengar keributan.
Seorang penjaga segera menjelaskan apa yang terjadi.
“Mo Yu menyerang Tuan Muda Feng lebih dahulu. Belati itu hampir mengenai bagian vitalnya.”
Yu Wanxiong mengangguk tanpa berniat ikut campur.
Perhatiannya justru tertuju pada Feng Wuchen.
Baru saja mencapai Alam Pengumpulan Qi Tingkat Satu, tetapi sudah bisa menekan Tingkat Tiga seperti ini...
Semakin lama mengenalnya, semakin Yu Wanxiong merasa pemuda tersebut sulit dinilai dengan akal sehat.
Di tengah jalan, Mo Yu mengerahkan seluruh Qi Sejatinya. Hawa dingin mulai menyebar dari tubuhnya hingga suhu di sekeliling turun dengan cepat.
“Jangan terlalu bangga, Feng Wuchen!”
Kedua tangannya membentuk segel.
“Jurus Tingkat Kuning Kualitas Menengah—Tebasan Es!”
Qi Sejati atribut es berkumpul di depannya dan berubah menjadi bilah es sepanjang lengan orang dewasa. Sesaat kemudian, bilah tersebut melesat menuju Feng Wuchen dengan membawa hawa dingin menusuk.
Ling Xiaoxiao sedikit menegang.
Feng Wuchen justru tidak bergerak menghindar.
Napas Dewa Naga di tubuhnya berubah mengikuti kehendaknya. Dalam sekejap, Qi Sejati yang mengalir melalui meridiannya mengambil sifat es yang sama dengan serangan Mo Yu.
Ia kemudian berlari lurus ke depan.
Yu Wanxiong mengerutkan kening.
“Apa yang ingin dia lakukan?”
Tebasan Es semakin dekat.
Ketika jaraknya tinggal beberapa sentimeter, lapisan es mendadak menyelimuti tubuh Feng Wuchen. Pada saat bilah energi itu menyentuhnya, tubuhnya seakan melebur dengan serangan tersebut.
Detik berikutnya, Feng Wuchen sudah muncul di sisi lain.
Tidak ada luka.
Langkahnya bahkan tidak berhenti.
Kerumunan yang menyaksikan mendadak kehilangan suara. Tidak seorang pun memahami bagaimana Feng Wuchen dapat menembus sebuah serangan atribut es tanpa mengalami cedera.
Mo Yu sendiri terpaku.
“Bagaimana mungkin—”
Ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.
Feng Wuchen sudah berada di depan wajahnya.
Siku Feng Wuchen menghantam dada Mo Yu dengan keras. Tubuh pemuda Klan Mo itu terangkat sebelum terlempar beberapa meter, kemudian berguling di jalan dengan darah mengalir dari sudut bibirnya.
Yu Wanxiong menarik napas dalam.
Ia melihatnya lebih jelas daripada kebanyakan orang.
Feng Wuchen bukan menghindari Tebasan Es.
Ia benar-benar melewatinya dengan menggunakan Qi Sejati atribut es untuk menyatu sesaat dengan energi serangan lawan.
Pengendalian Qi Sejati semacam itu bahkan belum tentu mampu dilakukan kultivator yang jauh lebih tinggi tingkatnya.
“Luar biasa...” gumam Yu Wanxiong.
Mo Yu sendiri sudah kehilangan ketenangannya.
Ia bangkit dengan susah payah, sementara matanya memerah dipenuhi amarah dan penghinaan. Ia datang untuk menyingkirkan Feng Wuchen, tetapi sejak pertarungan dimulai justru dirinya yang terus dipermainkan.
“Kau pikir sudah menang?”
Feng Wuchen berjalan mendekatinya dengan tenang.
“Dalam pertarungan, tingkat kultivasi memang penting. Tetapi kalau hanya mengandalkan kekuatan tanpa menggunakan kepala, selisih dua tingkat tidak akan menyelamatkanmu.”
Mo Yu menggertakkan gigi.
Saat Feng Wuchen semakin dekat, jemarinya diam-diam bergerak.
Belati yang sebelumnya tertancap di tiang Paviliun Wanbao mendadak bergetar, kemudian terlepas dan melesat dari belakang Feng Wuchen.
Pada saat yang sama, Mo Yu menyerbu dari depan.
Serangan dari dua arah.
Feng Wuchen bahkan tidak menoleh.
Saat belati hampir mencapai punggungnya, ia memutar tubuh dan menendangnya tepat pada gagang. Arah senjata itu seketika berbalik, bahkan melesat jauh lebih cepat daripada sebelumnya.
Mata Mo Yu membesar.
Ia berusaha menghindar, tetapi jaraknya terlalu dekat.
Belati menembus bahu kanannya.
Rasa sakit membuat langkah Mo Yu terhenti. Namun sebelum ia sempat menarik senjata itu, Feng Wuchen sudah tiba di hadapannya.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada keraguan di mata Feng Wuchen.
Telapak tangannya menghantam gagang belati yang masih tertancap.
Bilah itu menembus bahu Mo Yu sepenuhnya dan terlempar keluar dari belakang, sementara tubuhnya ikut terpukul mundur beberapa meter. Ia jatuh keras ke tanah dan kali ini tidak mampu segera bangkit.
Ling Xiaoxiao memperhatikannya tanpa sedikit pun rasa kasihan.
Feng Wuchen sendiri tidak melanjutkan serangan. Ia berdiri beberapa langkah dari Mo Yu, lalu memandang orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut.
“Kalian semua melihat apa yang terjadi.”
Suaranya tenang, tetapi cukup jelas terdengar di sepanjang jalan.
“Mo Yu menyerangku lebih dulu. Serangan pertamanya bahkan diarahkan untuk membunuh. Kalau aku tidak menghindar tepat waktu, mungkin sekarang aku sudah menjadi mayat.”
Ia kemudian menatap Mo Yu yang terbaring dengan wajah pucat.
“Aku tidak mengambil nyawanya hari ini.”
Senyum dingin muncul di bibir Feng Wuchen.
“Anggap saja itu sebagai muka yang masih kuberikan kepada Klan Mo.”
Tak seorang pun membantah.
Ada terlalu banyak saksi.
Kalaupun Klan Mo datang menuntut pertanggungjawaban, seluruh Kota Wushuang mengetahui siapa yang lebih dahulu mencoba membunuh siapa.
Feng Wuchen kemudian berbalik dan berjalan menuju Ling Xiaoxiao tanpa lagi memandang Mo Yu.
Namun orang-orang yang berada di jalan masih terdiam.
Baru beberapa hari lalu, mereka mengetahui bahwa Tuan Muda Ketiga Klan Feng bukan lagi pemuda lemah yang dahulu mereka kenal.
Hari ini, mereka akhirnya melihatnya sendiri.
Dan bagi mereka yang masih berniat memperlakukannya seperti Feng Wuchen yang dulu, pertarungan ini menjadi sebuah peringatan.
Pemuda itu telah berubah.
Bukan hanya kultivasinya.
Bahkan cara dirinya menghadapi musuh kini cukup membuat orang berpikir dua kali sebelum berdiri di jalannya.
......................
Bersambung...