Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.
(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.
Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?
SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 SENTUHAN TAK DISENGAJA
🗓️🗓️🗓️🗓️🗓️🗓️🗓️
🕒🕒🕒🕒🕒🕒🕒
Waktu bergulir bagaikan aliran air di parit-parit irigasi desa; tenang, konstan, dan membawa kehidupan di setiap gerakan alirannya.
Tanpa terasa, lembaran kalender di dinding rumah tua Zaki telah berganti.
Sudah hampir satu bulan penuh pemuda itu menetap di rumah masa kecilnya itu, meninggalkan seluruh gemerlap dan kejamnya kehidupan di ibu kota Jakarta.
Perubahan secara fisik Zaki terlihat begitu nyata. Kulit kuning langsatnya yang dulu selalu terlindung di balik dinding kaca gedung perkantoran ber-AC, kini telah berubah warna menjadi kecokelatan, terpanggang secara alami oleh terik matahari pegunungan.
Otot-otot di lengan dan punggungnya yang dulu kaku karena terlalu lama duduk di depan meja kerja, kini terbentuk lebih padat dan kokoh berkat rutinitas mengayunkan cangkul, memanggul karung pupuk, dan menebas gulma liar setiap harinya.
Dan yang paling mencolok adalah kedua telapak tangannya. Tangan yang dulu bersih, halus, dan hanya akrab dengan tombol keyboard serta layar sentuh ponsel pintar itu, kini telah menebal. Kapalan tumbuh di beberapa titik pangkal jarinya.
Guratan-guratan kotoran tanah liat dan getah kopi seolah telah menyatu menjadi tato alami yang sulit dihilangkan meski sudah disikat dengan sabun berkali-kali.
Namun, bukannya mengeluh, Zaki justru menatap kedua tangannya yang kotor itu dengan senyum kebanggaan yang luar biasa.
Baginya, kotoran tanah di tangannya ini adalah sebuah metafora penebusan.
Tangannya mungkin kotor oleh tanah dan apapun itu, tetapi batin dan jiwanya tak pernah terasa sebersih ini. Tak ada lagi kotoran energi gaib. Tak ada lagi hawa dingin mencekam dari sosok lelembut yang menuntut. Tak ada lagi beban takdir astral yang mengikatnya pada Nisa.
Zaki telah terlahir kembali menjadi manusia merdeka yang mencari nafkah dari keringat dan tanah perkebunan kopi warisan.
Hari-hari Zaki kini berpusat pada satu poros rutinitas yang damai. Bangun di sepertiga malam untuk tahajud tanpa harus melakukan interaksi dengan perewangannya dahulu (Sekar Mayang), menikmati secangkir kopi hitam di teras saat fajar menyingsing, lalu berjalan kaki menanjak menuju kebun kopi warisan keluarganya.
Di kebun seluas setengah hektar itu, Zaki bukan lagi sekadar "anak majikan" yang datang untuk meninjau. Ia turun tangan langsung. Benar-benar merawat dan mengurusnya sebaik mungkin.
Bersama Pak Doyo, ia belajar mengenali mana dahan kopi yang harus dipangkas agar tak menghalangi sinar matahari, bagaimana cara memupuk tanah agar unsur haranya kembali optimal, dan bagaimana memetik biji kopi yang sudah merah sempurna tanpa merusak pangkal tangkainya.
Akan tetapi, jika Zaki mau benar-benar jujur pada dirinya sendiri...
Alasan terbesar yang membuatnya selalu bersemangat bangun pagi dan mendaki bukit setiap hari bukanlah sekadar dedikasinya pada tanaman kopi.
Melainkan, ada sebuah kehadiran yang selalu ia tunggu-tunggu setiap menjelang tengah hari.
Sebuah kehadiran yang bernama Dek Wiwi.
🥰🥰🥰🥰🥰
.....
.....
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳
Siang itu, matahari bersinar tak terlalu terik karena terhalang arak-arakan awan putih yang bergelayut di atas perbukitan.
Zaki tengah berada di blok bagian utara kebun, sibuk memetik biji-biji kopi yang sudah matang dan memasukkannya ke dalam keranjang rotan yang diikatkan di pinggangnya.
Telinganya yang kini jauh lebih peka terhadap suara alam, tiba-tiba menangkap bunyi gemerisik dedaunan kering yang terinjak dari arah jalan setapak. Jantung Zaki mendadak berdetak dengan ritme yang lebih cepat, sebuah refleks otomatis yang belakangan ini selalu terjadi di jam-jam seperti ini.
Zaki menghentikan aktivitasnya. Ia menoleh ke arah sumber suara, dan senyum lebar tanpa sadar langsung terukir di wajahnya.
Benar saja...
Dari balik rimbunnya semak belukar, berbekal rantang hijau enamel dan kendi tanah liat, Wiwi berjalan mendekat. Perempuan muda itu mengenakan kebaya katun sederhana berwarna biru muda dengan lengan yang digulung sebatas siku, dipadukan dengan kain jarik lilit yang memudahkan langkahnya. Rambutnya diikat rapi, menyisakan tengkuknya yang putih bersih.
"Assalamu'alaikum, Mas Zaki..." sapa Wiwi dengan suara lembutnya yang khas, disertai senyuman simpul yang selalu berhasil mengaduk-aduk kewarasan Zaki.
"Wa'alaikumsalam, Dek Wiwi. Tumben agak siangan hari ini?" balas Zaki seraya berjalan menghampiri, membiarkan keranjang rotannya menggantung di pinggang.
Wiwi meletakkan rantang dan kendi itu di atas balai-balai gubuk bambu yang tak jauh dari mereka.
"Inggih, Mas. Wau enjing kedah ngrencangi Simbok ndamel jajanan pasar rumiyin. Lha Bapak teng pundi, Mas?" (Iya, Mas. Tadi pagi harus menemani Ibu membuat jajanan pasar dulu. Lha Bapak di mana, Mas?) tanyanya, mengedarkan pandangan mencari sosok Pak Doyo.
"Pak Doyo lagi ke bawah, ke mata air sebentar buat benerin pipa paralon yang bocor katanya. Dek Wiwi istirahat aja dulu di gubuk, saya mau nyelesaiin baris ini sebentar, tanggung," jawab Zaki.
Alih-alih duduk di gubuk, Wiwi justru melangkah mendekati Zaki. Ia meraih sebuah keranjang rotan kecil yang menganggur di dekat gubuk, lalu mengikatkannya ke pinggang rampingnya sendiri.
"Kula rencangi nggih, Mas. Eman-eman lho kopi ingkang sampun abrit menawi mboten enggal dipetik, mangke didhahar lawa," (Saya bantu ya, Mas. Sayang lho kopi yang sudah merah kalau tidak segera dipetik, nanti dimakan kelelawar) ucap Wiwi.
Tanpa menunggu persetujuan Zaki, perempuan itu mulai memetik biji-biji kopi yang merah ranum dengan jari-jemarinya yang lentik dan cekatan.
Zaki tak bisa menolak.
Justru, inilah momen-momen yang paling ia syukuri dan dinantikan.
Mereka berdua akhirnya bekerja berdampingan di bawah naungan pohon kopi yang rimbun. Jarak di antara mereka tak lebih dari satu meter. Aroma keringat Wiwi yang bercampur dengan wangi sabun mandi floral khas pedesaan menguar tipis, bersaing dengan aroma biji kopi segar.
Keheningan yang menenangkan menyelimuti mereka.
Sesekali, Zaki mencuri pandang ke arah Wiwi. Ia mengagumi betapa telatennya gadis itu. Tak ada keluhan panas, tak ada rasa jijik pada ulat atau serangga yang sesekali merayap di dahan kopi. Wiwi begitu menyatu dengan alam, sama seperti dirinya sekarang.
Tiba-tiba, saat Zaki hendak memetik sekumpulan biji kopi di sebuah dahan yang agak rendah, tangan Wiwi ternyata juga terulur ke arah dahan yang sama.
Sret...
Punggung tangan Zaki yang kotor dan kasar bersentuhan langsung dengan punggung tangan Wiwi yang halus.
Keduanya seketika terdiam.
Gerakan mereka membeku.
🤭🤭🤭🤭🤭
Zaki menoleh menatap Wiwi, dan di saat yang sama, Wiwi juga menoleh ke arahnya. Jarak wajah mereka cukup dekat.
Zaki bisa melihat dengan sangat jelas rona merah yang langsung menjalar dari pipi hingga ke telinga gadis itu. Mata bening Wiwi mengerjap pelan, memancarkan kepolosan dan rasa gugup yang tak bisa disembunyikan.
😳😳😳😳😳
"Eh... ngapunten, Mas..." (Eh... maaf, Mas...) kata Wiwi buru-buru menarik tangannya, menundukkan kepalanya dalam-dalam menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah hampir semerah kulit tomat mengkal.
Zaki tertawa pelan. Sebuah tawa yang sangat dalam dan hangat.
Ia tidak menarik tangannya, melainkan memetik sekumpulan kopi merah itu, lalu alih-alih memasukkannya ke keranjangnya sendiri, ia menjatuhkan biji-biji kopi itu ke dalam keranjang milik Wiwi.
"Nggak apa-apa, Dek. Namanya juga kebetulan," ucap Zaki dengan nada menggoda yang sangat tipis, namun cukup untuk membuat Wiwi semakin salah tingkah.
Zaki memandangi punggung tangannya sendiri. Tangan yang dipenuhi noda getah cokelat kehitaman dan sisa tanah.
"Maaf ya, tangan saya kotor banget, bikin tangan Dek Wiwi ikut kotor pasti," ujar Zaki merendah.
Wiwi mengangkat wajahnya. Ia menggeleng kuat-kuat.
Rona di pipinya masih ada, namun kali ini ia memberanikan diri menatap mata Zaki dengan berani dan tulus.
"Mboten napa-napa, Mas Zaki. Tangan ingkang kotor amargi pados rezeki ingkang halal niku... langkung mulya tinimbang tangan ingkang resik nanging mboten nate kringeten," (Tidak apa-apa, Mas Zaki. Tangan yang kotor karena mencari rezeki yang halal itu... jauh lebih mulia daripada tangan yang bersih tapi tidak pernah berkeringat) jawab Wiwi dengan suaranya yang mengalun lembut namun penuh penekanan.
Kata-kata sederhana itu meluncur begitu saja dari bibir Wiwi, namun efeknya bagi batin Zaki bagaikan hantaman gelombang kehangatan yang meruntuhkan sisa-sisa pertahanan hatinya.
Zaki tertegun sesaat.
Di matanya saat ini, Wiwi bukan lagi sekadar gadis desa yang cantik fisiknya.
Wiwi adalah wujud nyata dari keikhlasan dan kesederhanaan hidup yang selama ini Zaki cari hingga ke sudut-sudut ibu kota, dan tak pernah ia temukan. Wiwi memiliki pemahaman hidup yang begitu dalam tanpa perlu merangkai kata-kata puitis yang rumit.
Dalam keheningan di sela-sela rimbunnya pohon kopi itu, di bawah tatapan mata bening yang menyejukkan jiwa, Zaki akhirnya menyerah pada perasaannya sendiri.
Hatinya telah berlabuh sepenuhnya.
Benih-benih ketertarikan yang ia rasakan sejak pertemuan pertama mereka, kini telah tumbuh berakar menjadi sebuah perasaan cinta yang kokoh.
Ia jatuh cinta pada Dek Wiwi.
Dan dari cara pandang mata Wiwi yang tak lagi menghindar, Zaki tahu...
Perasaan Zaki itu...
Tidak bertepuk sebelah tangan.
🥰🥰🥰🥰🥰
Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.
Selamat Datang di Cirebon Yuli.
semangat yul💪💪
seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull
( duhh aku komen apa sihh) next aja ya