Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Usai mengobrol beberapa saat, Mia berpamitan kepada kedua orang tuanya dan masuk ke kamar.
Baru beberapa langkah menuju tempat tidurnya, tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering dari dalam tas.
Mia langsung menoleh. Ia mengenali suara dering khas ponsel Nokia miliknya. Mia segera membuka tas, lalu merogoh ke dalamnya. Keningnya berkerut ketika melihat layar ponsel.
"Nomor siapa ini?" Nomor yang tertera di layar tidak tersimpan di kontaknya.
Mia sempat ragu untuk mengangkat.
Namun, mengingat nomor tersebut mungkin saja penting, akhirnya ia menekan tombol hijau. "Halo?"
"Halo, Teh Mia. Ini aku, Iki. Aku dapat nomor Teteh dari Mbak Tarmi."
Mia langsung mengenali suara di seberang. "Oh, A Iki. Iya, A. Aku kira siapa." Terkekeh kecil Mia di akhir ucapannya.
Di tempat lain, Rifki yang sedang berada di kontrakannya langsung tersenyum lebar. "Kata Pak Udin, Teteh pulang ke Bandung, ya?"
"Iya, A."
Rifki terdiam sesaat sebelum bertanya, "Tapi Teteh mau ke sini lagi, kan?"
"Mau, A." Mia duduk di tepi tempat tidur. "Cuma aku mau menyelesaikan masalahku dulu sama Edo. Setelah dapat surat talak tertulis, aku akan kembali lagi ke sana, kok."
Mendengar jawaban itu, Rifki spontan mengangkat kedua tangannya dengan wajah semringah. Namun, ia segera menurunkannya ketika menyadari Mia masih berada di ujung telepon. "Syukurlah," gumamnya pelan.
"Hah? A Iki bilang apa?" tanya Mia.
Rifki langsung tersadar. "Eh, nggak. Aku bilang... syukurlah kalau Teteh sudah ada di rumah." Ia kemudian sengaja mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana keadaan Teteh sekarang? Sudah lebih baik?"
"Sudah, A. Alhamdulillah. Jauh lebih baik."
"Syukurlah."
Mia tersenyum kecil. "A Iki sendiri sudah pulang dari pabrik?"
"Sudah, Teh. Baru saja sampai."
"Oh..."
Rifki mengangguk meskipun tahu Mia tidak bisa melihatnya.
Mia menceritakan semuanya kepada Rifki.
"Jadi sekarang si Edo mau pulang?" tanya Rifki memastikan.
"Iya. Teh Erma sudah menyuruhnya pulang. Katanya Edo juga akan memberikan surat talak tertulis kepadaku."
"Alhamdulillah." Rifki menarik napas lega. "Berarti setelah itu Teteh bisa kembali ke sini?"
"Iya, A. Insya Allah."
Rifki kembali tersenyum lebar. "Kalau begitu, Teteh jangan terlalu banyak pikiran, ya."
"Iya, A."
"Kalau Teteh butuh jemputan, kabari aku saja, Teh. Aku bersedia kok menjemput Teteh ke sana."
Mia tersenyum kecil. "Terima kasih atas tawaran baiknya, A. Tapi aku kayaknya naik bus saja."
Percakapan mereka terus berlanjut. Sesekali Rifki menanyakan keadaan Mia dan keluarganya, sementara Mia juga bercerita sedikit tentang suasana di Bandung.
Di balik percakapan sederhana itu, ada satu hal yang membuat Rifki diam-diam merasa lega. Mia akan kembali. Dan kali ini, ia berharap perempuan yang selama ini dikenalnya sebagai sosok baik hati itu benar-benar bisa memulai hidup baru tanpa Edo lagi.
Setelah percakapannya dengan Rifki berakhir, Mia meletakkan ponselnya di atas tempat tidur. Baru saja ia hendak merapikan isi tas, ponselnya kembali berdering. Kali ini nama yang muncul di layar membuat Mia tersenyum tipis. "Ya Allah... Teh Neneng." Mia segera mengangkatnya. "Halo, Teh?"
"Mia!" suara Neneng terdengar dari seberang. "Aku sudah pulang kerja, tadi kamu janji mau cerita alasan sebenarnya kamu pulang mendadak ke Bandung."
Mia terdiam sejenak, mengangguk. "Iya, Teh."
"Jangan bilang nanti-nanti lagi, ya. Dari tadi aku penasaran banget."
Mia menarik napas panjang. Entah kenapa, setelah menceritakan semuanya kepada keluarganya, kini rasanya ia juga ingin mengeluarkan semua yang selama ini dipendam kepada sahabat sekaligus rekan kerjanya itu. "Kalau aku cerita, Teteh jangan kaget, ya."
"Emangnya ada apa?"
Mia menunduk. Jemarinya memainkan ujung selimut. "Aku sama Edo sudah cerai."
"Hah?" Suara Neneng langsung meninggi. "Serius, Mia?!"
"Iya."
"Astagfirullah..." Neneng terdiam beberapa detik. "Kok bisa?"
Mia mulai menceritakan semuanya.
Tentang perselingkuhan Edo dengan Bela. Tentang perlakuan Edo kepadanya selama ini. Tentang pertengkaran yang tadi malam terjadi. Sampai akhirnya Edo menjatuhkan talak kepadanya.
Ada satu bagian yang membuat suara Neneng seketika berubah. "Dia tega memukuli kamu?!"
"Iya, Teh."
"Ya Allah!" Suara Neneng terdengar bergetar. "Kurang ajar banget si Edo! Selama ini aku memang tahu rumah tangga kalian nggak baik-baik saja, tapi aku nggak pernah menyangka dia sampai tega melakukan itu!"
Mia terdiam.
Di seberang telepon, Neneng terdengar terisak. "Mia... kenapa selama ini kamu nggak pernah cerita sama aku?"
Mia menelan ludah. "Aku malu, Teh. Aku juga masih berusaha mempertahankan rumah tanggaku waktu itu."
"Ya ampun, Mia..." Neneng semakin sesenggukan. "Kamu itu terlalu sabar. Sudah diselingkuhi, masih berusaha bertahan. Sudah diperlakukan seperti itu, masih memikirkan kebutuhan dia."
Mia mengusap sudut matanya. "Aku juga salah, Teh. Mungkin selama ini aku terlalu-"
"Nggak!" potong Neneng cepat. "Jangan salahkan dirimu sendiri! Yang salah itu si kunyuk Edo. Dia yang nggak bisa menghargai kamu!" Mia tercenung. "Mi, dengar, ya," lanjut Neneng dengan suara bergetar. "Kamu nggak perlu merasa gagal hanya karena pernikahan ini berakhir. Justru menurut aku, kamu hebat karena akhirnya berani keluar dari keadaan itu."
Air mata Mia mulai mengalir.
"Mulai sekarang, kamu pikirkan dirimu sendiri. Kerja, nabung, bahagiakan orang tua. Kalau memang kamu mau kembali ke Bekasi, kembali dengan kepala tegak. Jangan takut sama Edo."
Mia mengusap pipinya. "Iya, Teh."
"Dan jangan pernah merasa sendirian. Ada aku. Ada teman-teman di pabrik. Kalau kamu balik ke sini, kita ketemu. Kita makan bareng lagi. Jangan malah mengurung diri."
Mia tertawa kecil di tengah tangisnya. "Iya."
"Pokoknya kamu harus kuat."
"Iya, Teh."
"Janji?"
Mia mengangguk meskipun Neneng tidak bisa melihat. "Janji." Tangis Mia kembali pecah. Namun kali ini berbeda.
Bukan hanya karena mengingat semua perlakuan Edo yang menyakitkan. Ada rasa lega yang perlahan memenuhi dadanya karena akhirnya ia bisa menceritakan semuanya kepada seseorang yang benar-benar peduli.
"Terima kasih, Teh," ucap Mia dengan suara tersendat.
"Iya, Mia."
"Aku kira aku bakal malu kalau cerita ke Teteh."
"Ngapain malu sama aku? Kita kan teman."
Mia kembali terisak. "Iya..."
"Sudah, jangan nangis terus. Kamu harus bahagia sekarang."
Mia mengangguk sambil tersenyum di balik air matanya.
Setelah tiga tahun menjalani rumah tangga yang penuh luka, Mia merasa tidak perlu lagi menyembunyikan semuanya sendirian. Ia memang telah kehilangan seorang suami. Namun, ia masih memiliki keluarga dan orang-orang yang peduli kepadanya.
Dan perlahan, Mia mulai percaya bahwa hidupnya setelah Edo mungkin justru akan menjadi jauh lebih baik.
______
Suara azan Magrib mulai terdengar dari masjid di setempat ketika Edo akhirnya memasuki halaman rumah orang tuanya. Ia menghentikan Kawasaki Ninja-nya, lalu mematikan mesin. Setelah menurunkan standar, Edo turun dari motor dengan tubuh yang terasa lelah setelah menempuh perjalanan dari Bekasi.
Namun, baru saja ia hendak melangkah menuju teras, pintu rumah mendadak terbuka.
Erma muncul dengan wajah yang sudah dipenuhi amarah. Tanpa banyak bicara, perempuan itu langsung turun dari teras dan menghampiri adiknya. Tangannya langsung mencengkeram rambut Edo dan menjambaknya keras. "Dasar tak punya hati!"
"Aduh!" Edo meringis. "Sakit, Teh!"
Erma kembali menarik rambutnya. "Dasar preman! Berani sekali kamu menganiaya Mia!"
Edo memejamkan mata menahan sakit. Tangannya sempat terangkat, tetapi ia tidak berani menepis tangan kakaknya. "Teh, sakit!"
"Sakit yang kamu rasakan sekarang tidak sebanding dengan sakit yang dirasakan Mia?" bentak Erma.
Edo terdiam.
Azan Magrib masih terdengar menggema dari masjid, tetapi halaman rumah mereka justru dipenuhi ketegangan.
Erma akhirnya melepaskan jambakannya dengan kasar. "Masuk!"
Edo membenahi rambutnya yang berantakan sambil mengusap kepala.
"Kenapa kamu masih berdiri di situ?!" bentak Erma.
Edo menundukkan kepala. "Iya, Teh." Ia pun melangkah masuk ke rumah tanpa berani membantah.
Namun, baru beberapa langkah, Erma kembali berseru dari belakang. "Dan ingat, Edo!" Edo menghentikan langkah. "Setelah salat Magrib, kamu ceritakan semuanya di depan Bapak dan Mama. Jangan ada satu pun yang kamu tutupi!"
Edo menghela napas panjang. "Iya, Teh." Kali ini, suaranya terdengar jauh lebih kecil.
cemen nya amit amit.
nag kya itu ja g da nyali tp menganiaya bisa ae tu..
dasar banci cocok nya pakai rok aja
untung udah cere ...klo blm bisa hbis rontok tulang gigi dan rambut mu mia😅😅😅