"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"
"Mau."
Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.
Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.
Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Begitu pintu itu tertutup rapat, Erlangga langsung melangkah lebar mendekati area shower, dan langsung menurunkan Kara di sana.
"Erlangga! Lo mau apasih?!" bentak Kara. Matanya menatap nyalang penuh amarah.
Bukannya menjawab, Erlangga malah maju satu langkah dan langsung mengunci pergerakan Kara. Ia sedikit menundukkan kepalanya, dan matanya langsung tertuju pada bibir wanita itu yang sedikit mengerucut sebal.
"Gue kan udah bilang. Gue mau mandi bareng sama lo," jawab Erlangga santai, tanpa dosa.
Otak yang biasa dipakai Kara untuk berdebat dengan Erlangga kali ini langsung berputar dua kali lebih cepat. Seketika itu juga, sebuah ide gila langsung melintas di pikirannya.
Kara langsung meringis hebat, matanya yang semula menyalang langsung terpejam rapat sambil memegangi perut bagian bawahnya. "Aduh!" lenguhnya dengan nada yang sesakit mungkin.
Erlangga yang tadinya memasang wajah datar, langsung menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa lo?" tanyanya.
"Erlangga... Perut gue... Perut gue sakit..." rintih Kara. Ia bahkan sampai menekuk sedikit tubuhnya ke depan agar aktingnya terlihat totalitas dan meyakinkan di depan Erlangga.
"Kok bisa?!" tanya Erlangga. Ia benar-benar dibuat bingung oleh perubahan drastis wanita di hadapannya ini.
Kara langsung mendongak, memasang wajah semelas mungkin dengan bibir yang mengerucut.
"Kayaknya... Ini karena datang bulan deh," jawab Kara.
Erlangga langsung terdiam. Ia menatap Kara dari kepala hingga ujung kaki, mencoba mencari celah apakah wanita ini sedang mengelabuinya atau tidak. "Terus?"
"Ya bawa gue kembali ke ranjang lah. Gue mau rebahan disana, biasanya kalau di buat rebahan sakitnya akan berkurang," pinta Kara dengan suara yang sengaja dilembut-lembutkan, berharap Erlangga segera luluh dan membawanya keluar dari zona berbahaya ini.
Erlangga langsung menghela nafas berat. "Apa perlu gue panggil dokter pribadi gue?" tanyanya. Ia sengaja bertanya seperti itu agar istrinya itu panik setengah mati.
Dan benar saja, mata Kara langsung membelalak lebar. "Hah? Nggak usah! Ini cuma kram perut biasa kok," sahutnya cepat. Menyadari nadanya yang sempat panik dan meninggi, ia buru-buru memejamkan matanya dan kembali meringis untuk memperdalam aktingnya.
Tanpa ragu, Erlangga kembali mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongannya. Lalu ia melangkah keluar dari kamar mandi untuk menuju ranjang.
Begitu sampai di tepi kasur, Erlangga langsung menurunkan tubuh Kara dengan hati-hati.
"Istirahat lah," ucap Erlangga datar.
Kara hanya mengangguk lemah.
Setelah mengucapkan itu, Erlangga langsung melangkah keluar dan menutup pintu kamar perlahan.
Begitu punggung lelaki itu menghilang, Kara langsung mengubah posisinya menjadi duduk tegak, lalu bibirnya terangkat membentuk senyum penuh kemenangan.
"Ternyata bohongin Erlangga tuh gampang banget!" batinnya sambil terkekeh sinis.
**
Dor!
Dor!
Dor!
Suara tembakan yang memekakkan telinga itu menggema di area lapangan tembak pribadi milik Erlangga.
Rafael yang sedang duduk di sebuah bangku kayu tak jauh dari sana langsung berdecak pelan. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap jam tangan yang kini sudah menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran sepupunya itu.
Begitu tembakan terakhirnya tepat sasaran di bagian tengah papan target, Erlangga langsung menurunkan pistolnya secara perlahan. Lalu ia memutar tubuhnya, dan melangkah tegap ke arah Rafael.
"Ck... Lo nyuruh gue datang malam-malam begini ke sini, cuma buat nontonin lo main tembak-tembakan doang?" tanya Rafael sambil mendengus pelan. Ia melipat kedua tangannya di atas dada dengan wajah yang tertekuk masam.
Erlangga tak bergeming. Ekspresi wajahnya tetap datar dengan pandangan lurus ke depan. Tangannya yang terbalut sarung tangan hitam bergerak kasar mengambil sebatang rokok dari dalam kotak yang tergeletak di atas meja tepat di hadapan Rafael.
Rafael mengamati setiap pergerakan sepupunya itu. Lalu memajukan tubuhnya ke depan dan menatap lekat-lekat wajah Erlangga yang tampak mengeras menahan geram.
"Lang, lo marah sama gue?" tanya Rafael lagi. Nadanya kini berubah serius, mencoba memancing reaksi dari pria berwajah batu di depannya ini.
"Tidak."
"Terus? Kenapa muka lo kayak singa kelaparan gitu? Ada masalah kerjaan di kantor?" tanya Rafael bertubi-tubi.
Erlangga tidak langsung menjawab. Ia menyalakan korek api, lalu menyesap rokoknya dalam-dalam hingga ujungnya menyala merah, lalu menghembuskan asap pekatnya ke udara. Sementara matanya, menatap dingin ke arah papan target yang sudah berlubang di depannya itu.
"Bukan karena kerjaan," jawab Erlangga.
Rafael langsung mengernyit bingung. "Terus karena siapa? Kimberly? Lo marah karena gue menyuruh lo jemput dia tadi pagi?"
Erlangga langsung terkekeh sinis, sebuah tawa hambar yang terdengar mengerikan. "Istri gue. Dia berani bohongin gue."
Mendengar kalimat itu, Rafael langsung tertawa terbahak-bahak sampai kepalanya terdongak ke belakang. "Jiahahaha! Ternyata seorang Erlangga bisa juga ya di bohongin! Emang dia bohongin lo soal apa, sih?"
Erlangga langsung menoleh tajam. "Urusan pribadi."
Seketika, tawa Rafael langsung mereda, digantikan oleh senyum jail yang menggoda. "Jangan-jangan... lo belum dapat jatah malam pertama dari dia, ya?"
Erlangga langsung mematikan puntung rokoknya ke asbak dengan gerakan menekan yang kuat, lalu menatap Rafael sambil menarik sudut bibirnya, membentuk senyum miring yang penuh arti.
"Hmm... Dia selalu punya seribu alasan."
"Dan lo percaya gitu aja?" tanya Rafael sambil menaikkan sebelah alisnya heran.
"Gue sangat menikmati wajah paniknya saat dia mencoba meyakinkan gue," sahut Erlangga tenang.
Rafael langsung berdecak pelan. "Ck, menikmati apanya? Lo aja melampiaskan kekesalan lo dengan cara brutal kayak gini, mana pakai acara seret gue ke sini pula."
"Memangnya lo keberatan?" tanya Erlangga dingin sambil menatap ke arah Rafael datar.
"Mana ada sih, Lang, gue berani keberatan sama perintah lo. Padahal tadi gue udah rencana mau kencan sama Kimberly. Eh, malah lo merengek minta..."
Belum sempat Rafael menyelesaikan ceritanya, Erlangga tiba-tiba bangkit dan langsung membalikkan badannya. Ia melangkah tenang meninggalkan Rafael yang masih asyik berceloteh itu.
"Lang! Sialan! Gue belum selesai cerita nih!" teriak Rafael kesal.
Erlangga tidak mempedulikan teriakan itu. Dengan langkahnya yang lebar, ia terus berjalan membelah kegelapan malam untuk menuju rumah utama. Pikirannya saat ini tertuju sepenuhnya pada kamar atas, berniat melihat kembali bagaimana kelanjutan akting istrinya itu.
thor tolong kasih pelajaran ke kara🤣🤣🤣
yg ada kara takut kehilangan erlangga
lanjut double up kak
lanjut kak
lanjut kak
lanjut kak