Indonesia
NovelToon NovelToon
Benih Jenius Sang Miliarder

Benih Jenius Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Lari Saat Hamil / One Night Stand / Anak Genius / CEO / Mafia
Popularitas:17.2k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

Lima tahun lalu, Clara Jasmine melarikan diri dari sebuah malam penuh gairah di daratan Swiss, meninggalkan secarik pesan usang dan membawa pergi rahasia besar yang mengubah hidupnya selamanya.
​Kini, Clara kembali ke Jakarta sebagai single mother yang berjuang membesarkan anak kembarnya, Ken dan Key. Namun, si kembar bukanlah balita biasa. Di balik wajah polos mereka, Ken dan Key adalah peretas cilik jenius dengan sepasang mata abu-abu yang sangat tajam.
​Takdir seolah mempermainkan Clara ketika ia tak sengaja bekerja di Van Der Berg Group.

Alexio Van Der Berg, sang CEO dingin dan tak tersentuh penguasa perusahaan tersebut.
​Melihat sepasang mata abu-abu yang menatapnya dengan berani, dunia Alexio berhenti berputar. Pria yang selama lima tahun nyaris gila mencari pemilik surat di dompetnya itu akhirnya menemukan buruannya.

​"Lima tahun kau berlari membawa darah dagingku, Clara. Mulai hari ini, kau dan anak-anak tidak akan bisa pergi ke mana-mana lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Setelah menempuh belasan jam penerbangan non-stop melintasi benua dengan jet supersonik pribadinya, roda Gulfstream G700 berlambang singa bermahkota itu akhirnya menyentuh landasan pacu pribadi di Bandara Internasional Jenewa.

Udara beku Swiss di malam hari langsung menyambut begitu pintu jet terbuka.

Alexio melangkah turun menapaki tangga jet dengan rahang mengeras. Ia mengenakan mantel wol hitam panjang yang berkibar tertiup angin malam.

Di bawah tangga, belasan komandan Pasukan Taktis Bayangan cabang Eropa sudah berdiri menunduk hormat.

"Tuan Alexio," lapor komandan pasukan Eropa dengan suara tegas.

"Sesuai instruksi Anda selama penerbangan, kami telah menggerebek markas paramiliter di perbatasan dua jam yang lalu. Markas mereka telah kami ratakan, dan target utama sudah kami amankan di dalam hanggar."

Alexio tidak menjawab. Ia terus melangkah dengan langkah panjang dan mematikan menuju hanggar VVIP yang tertutup rapat.

Begitu pintu hanggar dibuka, pemandangan di dalamnya terasa mencekam. Sang pemimpin kelompok bayaran, pria berotot dengan luka codet di pipinya, terduduk di lantai beton dalam keadaan babak belur dan diikat di sebuah kursi besi. Di sekelilingnya, moncong senjata laras panjang siap menyalak kapan saja.

Alexio berjalan perlahan, suara langkah sepatunya menggema di hanggar yang sunyi. Ia berhenti tepat di hadapan pria itu, menatapnya dengan iris abu-abu yang lebih dingin dari badai salju di luar sana.

"K-kau... Alexio Van Der Berg," cicit pemimpin bayaran itu dengan bibir pecah-pecah.

Sekujur tubuhnya gemetar hebat. Ia mengira pasukan elit ini adalah polisi internasional, ternyata ia berhadapan langsung dengan sang dewa kematian dunia bisnis.

Alexio berjongkok, melepas sebelah sarung tangan kulitnya, lalu mencengkeram rahang pria itu dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang.

"Kalian dibayar untuk membakar kain dan menghancurkan mimpi istriku," bisik Alexio, suaranya pelan namun menggema mengerikan.

"Katakan padaku... siapa nama anjing yang memberi kalian perintah?"

"K-kami tidak tahu! Demi Tuhan, kami hanya menerima transfer dana secara anonim!"

Bugh!

Sebuah hantaman telak dari kepalan tangan Alexio mendarat di rahang pria itu, membuatnya memuntahkan darah segar ke lantai beton.

Alexio berdiri, menatap jijik pada darah di tangannya, lalu menerima saputangan dari Reno untuk membersihkannya.

"Reno," panggil Alexio datar.

Reno melangkah maju, menyodorkan sebuah tablet canggih ke hadapan pemimpin bayaran itu.

Di layar tersebut, sebuah panggilan video jarak jauh tersambung secara real-time. Meski waktu di Jakarta sudah menunjukkan waktu siang hari, Ken dan Key tampak segar bugar di dalam laboratorium mereka.

"Halo, Tuan Pemimpin Bayaran yang tidak kompeten," sapa Key dengan senyum manis yang sangat kontras dengan situasi berdarah di hanggar itu.

"Berdasarkan pelacakan jalur IP dana yang masuk ke rekening offshore kalian, kami menemukan bahwa sisa deposit sepuluh juta Euro kalian berasal dari akun cangkang Swiss milik keluarga Smith. Benar begitu, kan?"

Pemimpin bayaran itu membelalakkan matanya ngeri. Rahasia yang ia lindungi dengan sistem keamanan tingkat tinggi berhasil dibongkar hanya oleh sepasang anak kecil yang memakan biskuit dari seberang benua?!

Alexio mengambil tablet itu dari tangan Reno. "Matikan panggilannya, Ken. Pastikan ibumu tidak tahu aku sedang mengotori tanganku di sini. Fokus saja membantu fitting gaunnya."

"Siap laksanakan, Papa! Kirimkan salam kami untuk Tuan Smith," jawab Ken cerdas sebelum layar itu mati total.

Alexio menoleh menatap Reno. "Bereskan sampah ini. Masukkan lencana tentaranya ke dalam kotak, dan siapkan mobil. Kita akan melakukan kunjungan keluarga sekarang juga."

Pagi hari di Jenewa seharusnya menjadi pagi yang tenang. Namun, bagi keluarga Smith, pagi itu adalah awal dari akhir segalanya.

Pintu utama mansion megah mereka digedor dengan kasar. Tuan Smith yang sedang menyesap kopi di ruang makan, membukanya dengan marah.

Namun, amarahnya seketika menguap, digantikan oleh kengerian yang membekukan darah.

Di depan pintu rumahnya, Alexio Van Der Berg berdiri menjulang bagai malaikat pencabut nyawa. Di belakang pria itu, puluhan pria berjas hitam telah mengepung seluruh area mansion.

"T-tuan Van Der Berg..." Tuan Smith terbata, kakinya mendadak lemas.

Alexio tidak menunggu dipersilakan masuk. Ia melangkah melewati Tuan Smith begitu saja, masuk ke dalam ruang keluarga. Sofia yang baru saja turun dari tangga mengenakan gaun tidur sutranya, menjerit tertahan melihat siapa yang berdiri di ruang tamunya. Begitu juga dengan nyonya Smith yang baru muncul dari arah dapur.

"Selamat pagi, keluarga smith," sapa Alexio dingin. Ia memberi isyarat, dan Reno maju meletakkan sebuah kotak kayu hitam di atas meja marmer.

"Buka," titah Alexio.

Tuan Smith dengan tangan gemetar membuka kotak itu. Wajahnya seketika seputih kapas. Di dalamnya, terdapat lencana gosong milik kelompok bayaran yang ia sewa sebelumnya.

"T-Tuan Van Der Berg... ini... ini pasti ada kesalahpahaman!" sangkal Tuan Smith panik, keringat dingin membanjiri dahinya.

"Kami tidak ada hubungannya dengan—"

"Tutup mulutmu," potong Alexio tanpa menaikkan nada suaranya, namun cukup untuk membuat Tuan Smith bungkam seketika.

"Lima tahun lalu, istriku kabur dari mansion ini tanpa membawa apa pun karena perlakuan keji kalian. Saat itu aku membiarkan kalian bernapas karena aku belum menemukan wanitaku."

Alexio berjalan pelan mengitari sofa, menatap Sofia yang kini menangis tersedu-sedu karena ketakutan.

"Tapi kemarin, kalian berani menyewa hama untuk membakar kerja keras istriku," lanjut Alexio, auranya semakin menekan hingga Sofia dan ibunya jatuh berlutut di lantai.

"Kalian mengira jarak ribuan kilometer bisa menyelamatkan kalian dari murkaku?"

"K-kami minta maaf! Tolong lepaskan kami!" tangis Nyonya Smith histeris, merangkak memohon di kaki Alexio.

"Clara... Clara pasti akan memaafkan kami! Dia adik angkatku!" tambah Sofia memelas.

Mendengar nama istrinya disebut oleh mulut kotor itu, mata Alexio berkilat marah. Ia menendang meja marmer di hadapannya hingga hancur berantakan, membuat seluruh keluarga Smith menjerit ketakutan.

"Jangan pernah berani menyebut nama istriku dengan mulut busukmu itu!" desis Alexio mematikan. Ia merapikan jasnya, lalu melirik Reno.

"Reno, bacakan status mereka."

Reno membuka dokumen di tangannya.

"Pukul enam pagi waktu Swiss, seluruh aset keluarga Smith, termasuk mansion ini, perusahaan, dan dana di bank telah disita oleh pengadilan internasional atas bukti pendanaan terorisme dan pencucian uang yang kami serahkan. Kalian berdua berstatus bangkrut total, dan surat penahanan dari Interpol sedang dalam perjalanan kemari."

Tuan Smith memegangi dadanya, jatuh terduduk di kursi dengan napas putus-putus. Dunianya hancur dalam semalam. Sofia menjambak rambutnya sendiri, meraung seperti orang gila.

"Tidak! Ini tidak mungkin terjadi! Hartaku... semuanya lenyap hu hu hu!" tangis nyonya Smith tak bisa menerima kenyataan.

"Ini hukuman karena kalian berani menyentuh apa yang menjadi milik Van Der Berg," ucap Alexio final. Ia membalikkan badan, melangkah keluar dari mansion yang kini hanya tinggal kenangan itu tanpa menoleh lagi.

Di dalam mobil Maybach yang melaju meninggalkan pekarangan keluarga Smith. Urusannya di benua ini sudah selesai. Sekarang, ia harus segera kembali ke Jakarta.

Besok malam adalah panggung kebesaran istrinya, dan ia tidak akan melewatkan satu detik pun untuk melihat Clara bersinar.

Namun, saat jet pribadi Alexio bersiap lepas landas untuk membawanya pulang, ponsel rahasia Reno berdering. Asisten itu mendengarkan pesan dari seberang telepon, wajahnya mendadak tegang.

"Tuan Muda," lapor Reno dengan nada mendesak.

"Ada masalah di Jakarta. Salah satu model utama Nyonya Muda Clara untuk gaun The Phoenix mendadak membatalkan kontrak sepihak dan menghilang."

Alexio menatap tajam ke luar jendela pesawat. Musuh utamanya memang sudah hancur, tapi riak-riak keputusasaan mereka masih mencoba menyabotase detik-detik terakhir acara istrinya.

Bersambung...

1
Ariany Sudjana
puji Tuhan, penerbangan Alexio berhasil diselamatkan dan Clara juga selamat, semua karena ke jeniusan si kembar.... bravo Ken dan key

asli part ini bacanya seru
Umi Zein
waalaikumsalam... Alhamdulillah baik kak Ri🤗 sehat2 selalu juga buat kak othornya 🥰Ok ka siaap 🫡😄
Rani R.I
gpp byk musuh tapii jgn biarkan si terkalahkan,,membaca sambil bersitegang 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rani R.I
sgtt Seruuu dan menegangkan thourr 🤣🤣🤣🤣🤣,, terimakasih thourr 👍💪🔥,, semangat up thourr dan sehat slalu 🤲🤲🤲🔥🔥🔥
Siti Nurhayati
cerita y sangat menarik sprti d film
Ariany Sudjana
waduh kok bisa Alexio kecolongan dan pergi ke eropa? semoga si kembar bisa menangani kejadian di mansion dan menangkap pelakunya
Siti Nurhayati
hebat bner si kembar bsa melindungi keluarga y Mantappp
Umi Zein
kak maaf kyanya kalo umur 4th agak aneh klo anak seusia mereka bisa mengendalikan komputer seorang hacker suhu. walau cm Novel, klo usia 7th masuk akal😄😄
Rani R.I
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 duhhh Dimitri nama mu bagus tapii syg harus jadi musuh yang harus di musnah kan oleh si kembar,,hmmm Baru permulaan yea 🤣🤣🤣,,, kita lihat sampai mana kemampuan mu tuan Dimitri 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Munas Tuti
gaaaaass teroooos 💪💪
Munas Tuti
buseeeet...dasar bocil genius
Rani R.I
wowww musuh sudah mulai mendekat,, Ayuk ken dan key jgn biarkan siapapun mendekati mama dan adek kalian 🔥🔥🔥🔥💪💪💪💪
Rani R.I
wowww kerennn ken dan key,, lindungi mamah dan adek bayi 💪💪💪💪🥰🥰🥰🥰
Munas Tuti
perang pewaris di mulaiii
Munas Tuti
👍👍👍👍👍
Ariany Sudjana
puji Tuhan, si kembar bisa mengatasi gangguan di rumah sakit. fixed mereka keturunan Alexio yang sangat jenius dan calon mafia masa depan. tapi kok Alexio Dan Reno bisa kecolongan ya?
Bu Kus
sih kembar emang ada aja akalnya cerdas dan jenius
Bu Kus
senangnya bisa berkumpul dan hidup penuh kebahagian semoga semakin bahagia Clara
neny
keren cerita nya,,seru banget
Rani R.I
Wihh seperti nya ini lawan yg tangguh,,ken dan key harus hati-hati,, thourr gpp byk musuh tapii jgn buat si kembar kalah dan lengah,,biar SERUUU
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!