Indonesia
NovelToon NovelToon
Terikat Cinta Sang Mafia

Terikat Cinta Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.

‎Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.

‎"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.

‎Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4 : Jari atau langsung?

Setelah menyelesaikan urusan di wilayah utara dan melihat empat peti mati diturunkan, Damian pergi ke markas bawah bersama dengan Luca. Ruangan itu tertutup rapat tanpa celah sedikit pun. Tak ada jendela. Dinding-dindingnya terbuat dari beton kasar yang catnya sudah mengelupas, memperlihatkan lapisan abu-abu yang kusam dan lembap. Lantainya berupa semen dingin yang terasa menusuk hingga ke tulang. Satu-satunya sumber cahaya hanyalah sebuah bohlam kuning temaram yang menggantung terpasang di kabel tua, bergoyang pelan ditiup angin samar, sehingga bayangan di dinding seakan bergerak sendiri bagai hantu.

‎‎Udara di dalamnya pekat dan sesak. Tercium bau karat logam yang tajam, bau asap rokok yang menempel lama, dan bau darah kering yang menyengat hingga ke kerongkongan.

‎‎Damian duduk tenang di kursi besi tua yang berderit. Jas hitamnya sudah dilepas dan diletakkan di sisi. Kemeja hitamnya digulung rapi hingga siku, memperlihatkan lengan kekarnya yang tegap. Di atas meja kayu reyot di hadapannya, tergeletak sepasang sarung tangan kulit hitam dan sebuah pistol yang berkilau dingin di bawah cahaya remang.

‎‎KREEEET...

‎‎Suara gesekan besi yang berat dan nyaring membelah keheningan. Pintu besi tebal itu terbuka perlahan.

‎‎Dua orang anak buah melangkah masuk sambil menyeret seorang pria berbadan membungkuk tak berdaya. Wajah pria itu babak belur, bibirnya pecah berdarah, salah satu matanya lebam membiru hingga nyaris tak terbuka, dan kemejanya yang lusuh penuh noda darah yang sudah mengering gelap. Kedua pergelangan tangannya diborgol erat di belakang punggung.

‎‎DUG!

‎‎Pria itu dilempar ke lantai semen hingga jatuh terjerembab, napasnya tercekat nyaris tak terdengar.

‎‎Luca melangkah masuk paling belakang, lalu menarik pintu besi itu kembali menutup rapat.

‎‎"Don." Luca menunduk hormat, suaranya rendah dan tegas. "Laporan. Namanya Johan. Salah satu anak buah kita yang bertugas di wilayah utara. Selama tiga bulan terakhir, dia menyampaikan data lokasi gudang senjata kita kepada keluarga Moretti."

‎‎Luca meletakkan sebuah tablet di atas meja kayu reyot itu. "Ini bukti transfer uang ke rekeningnya, serta rekaman pertemuan rahasianya dengan utusan mereka."

‎‎Kembali hening. Hanya terdengar dengungan samar bohlam yang bergoyang pelan.

‎‎Pria yang terbaring di lantai itu berusaha mendongak dengan sisa tenaganya. Wajahnya penuh ketakutan dan keputusasaan.

‎‎"Don... sumpah... sumpah saya tidak bermaksud..." isaknya tertahan. "Anak saya sakit... saya butuh uang... saya khilaf, Don... saya khilaf..."

‎"Ampuni saya... sekali ini saja... saya mohon..."

‎‎Damian tak menjawab. Tatapannya tetap datar, tak terbaca sedikit pun emosi. Ia perlahan meraih sepasang sarung tangan kulit hitam di atas meja. Memakainya dengan gerakan tenang dan terukur, seakan sedang bersiap untuk urusan yang sepele.

‎‎Kemudian ia meraih pistol di atas meja, memeriksa pelurunya sejenak lalu berdiri dan melangkah mendekat. Berhenti tepat di hadapan pria yang gemetar hebat di lantai itu.

‎‎DOR!!!

‎‎Gema tembakan langsung memantul di dinding beton, ‎‎Johan tersentak sekali. Matanya terbuka lebar sejenak, lalu perlahan mendelik kosong. Tubuhnya lemas seketika, terkulai tak berdaya di atas lantai semen. Darah segar mulai menggenang perlahan, merembes membasahi lantai dingin itu.

‎‎Damian berdiri diam di sana. Melepas sarung tangan hitamnya yang kini terkena cipratan darah segar. Lalu melemparkannya begitu saja ke atas tubuh yang kini tak lagi bergerak itu.

‎‎Ia berbalik perlahan menatap Luca.

‎‎"Bersihkan." ucapnya singkat, seakan barusan ia baru saja mematikan lampu, bukan merenggut nyawa seseorang. "Kirimkan uang santunan kepada keluarganya. Katakan dia meninggal karena kecelakaan saat bekerja."

‎‎Damian berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang sama dinginnya.

‎‎"Dan sebarkan berita ini ke seluruh jajaran. Biar yang lain berpikir dua kali sebelum berani berkhianat."

‎‎"Siap, Don." jawab Luca hormat.

‎Damian melangkah pergi melewati genangan darah yang masih basah. Di luar, mobilnya sudah menunggu. Tujuan berikutnya adalah Mansion. Menemui istrinya.

-

-

-

‎‎Celine terbangun saat telinganya menangkap suara riak air yang samar. Ruangan itu hanya diterangi cahaya lembut dari lampu tidur di sudut ruangan. Sisi ranjang di sebelahnya masih kosong, dingin, tak tersentuh siapa pun.

‎Tak berselang lama pintu kamar mandi terbuka lebar. Uap panas berembun perlahan keluar, menyebarkan hawa hangat ke sekujur ruangan. Dan dari balik kepulan uap putih itu, Damian melangkah keluar perlahan.

‎Hanya sehelai handuk putih yang melingkar rendah di pinggangnya, menampakkan perawakan tubuhnya yang tegap dan kekar. Rambut hitamnya basah, air menetes pelan dari ujung rambutnya turun membasahi dada bidangnya.

Di sepanjang punggungnya yang lebar, tampak jelas tato besar berwarna hitam pekat, tato kepala serigala yang menatap tajam dengan mata berwarna merah menyala. Di atasnya terlukis mahkota dari tulang-belulang, seakan memperingatkan siapa pun yang berani menatapnya, bahwa pria ini adalah penguasa yang tak kenal ampun.

‎Jantung Celine seketika berpacu liar. Ia langsung bangkit duduk, menarik selimut hingga ke dada, napasnya tertahan di kerongkongan. Matanya tak mampu beralih, terpaku pada sosok itu yang tampak begitu memukau sekaligus mengerikan.

‎Damian berjalan tenang menuju lemari pakaian, meraih sebuah kemeja hitam baru dan memakainya. Setelah kancing terakhir telah terpasang rapi, ia perlahan menoleh. Tatapannya menyapu wajah dan tubuh Celine, meneliti gaun tidur berwarna merah yang sengaja ia siapkan untuk istri barunya.

‎"Kau belum tidur." suaranya terdengar serak dan berat, rendah namun menembus ke dada.

‎Celine menggeleng pelan, tenggorokannya terasa kering dan pahit. "Belum..."

‎‎Damian melangkah mendekat hingga akhirnya ia berhenti di tepi ranjang, tepat di hadapan Celine. Aroma wangi sabun mahal yang bercampur wangi khas tubuhnya langsung memenuhi indra penciuman Celine, membuatnya menelan ludah susah payah.

‎‎Damian mencondongkan tubuhnya perlahan ke depan. Satu tangannya bertumpu di atas kasur, mengurung Celine sepenuhnya dalam jangkauan lengan pria itu. Wajahnya kini berada hanya beberapa jengkal dari wajah Celine. Terlalu dekat. Celine bisa merasakan hembusan napas hangatnya menyentuh kulit wajahnya.

‎‎Jantungnya nyaris berhenti berdetak saat dua jari jemari Damian terulur lembut namun tegas, menyentuh dagunya dan mengangkatnya perlahan, memaksanya menatap lurus ke dalam mata pria itu.

‎‎Mata itu gelap dan kosong. Sedingin biasanya. Namun jauh di dalam sana, tampak samar jejak kelelahan yang mendalam.

‎‎"Katakan padaku, Nyonya Salvatore..." bisik Damian pelan. "Kau lebih suka dimulai dengan jari... atau langsung?"

‎‎Celine membelalak, wajahnya memerah seketika. Otaknya langsung kosong.

‎‎"Hah...? Apa?" suaranya bergetar.

‎‎Damian menyeringai tipis, "Jangan pura-pura bodoh. Pasal tiga."

‎‎"Aku bilang. Jangan pernah menolak saat aku memanggilmu."

‎‎Jemarinya mengusap pelan pipi Celine. Sentuhan itu terasa dingin di pipi Celine yang mulai memanas karena malu dan terkejut.

‎‎"Jadi, pilih. Atau kau lebih suka aku langsung bertindak?"

-

-

-

Bersambung...

1
Mei Mei
semoga hp nya valentine di sadap biar Damian bisa tau Matteo dimn ,
Lembang Azam
udah sana ikuti suamimu yg penghianat itu,, biar kamu bisa melihat kbenaran klw mmg Matteo itu ingin menggantikan posisi damian😤
🔥Violetta🔥: Perlu dikasih faham dulu si Valen kak 🤭😂😂
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
sulit Cel... mana dia bos nya
🍓ADIRA🍓
Yuuhuuuuu 💃 selamat buat kalian berdua yang mau jadi orang tua 🤗
🍓ADIRA🍓
Etdah ini si nona,,, masih aja banyak bacot gak jelas 🙄🙄🙄 perlu diseruduk banteng dulu kayaknya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
bakalan ada Don junior kah 😱
〈⎳ FT. Zira
kecebong sudah berkembang beneran kann🤭
🍓ADIRA🍓
Kalaupun si Matt tak balik, masih ada yang nganggur di depan mu noh Val 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Masih aja dirimu Val /Proud/
〈⎳ FT. Zira
bales aja Cel.. doakan juga yaa sambil ngelus perut🤣
〈⎳ FT. Zira
ketika kekakuan berubah menjdi jelly🤭🤭
🍓ADIRA🍓
Kwkwkwkwk... diriku cuma intip dikit Thoorrr 🫣😂😂
🍓ADIRA🍓: Diriku masih polos Thorrrr 😂😂 janganlah kau nodai dengan kelakuan messyyumm si Revan 😂😂😂
total 2 replies
🍓ADIRA🍓
jawab apa hayo 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Seketika Val pun lupa dengan gengsinya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Pamer 🤮🤮🤮
🍓ADIRA🍓
Oh si remote toh 😂😂
MamDeyh
Aku bukan bocil tp emak yg punya bocil, jadi boleh yaaa/Grin/
🔥Violetta🔥: boleh banget... diwajibkan malah /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
Siapa. pulak ini /CoolGuy/
🍓ADIRA🍓
Yeeee suka^ Oma donk /Tongue/
MamDeyh
Siapa itu yaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!