Indonesia
NovelToon NovelToon
TAWANAN MUSUHKU

TAWANAN MUSUHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

ZONA DEWASA‼️
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Namun, sepertinya dewi keberuntungan sedang tidak berpihak padanya. Baru setengah perjalanan, mobil taksi itu tiba-tiba berguncang hebat.

*Jleg! Jleg!*

"Aduh, Neng, mohon maaf sekali. Sepertinya ban kita kempes, kena paku payung kayaknya," ujar sang sopir sambil menepikan mobilnya ke bahu jalan.

Setelah mengecek keluar, sopir itu kembali dengan wajah menyesal.

"Nggak bisa lanjut, Neng. Harus ganti ban dulu. Silakan cari taksi lain saja, pesanan ini saya batalkan."

Luna hanya bisa melongo. Ia turun dari mobil dan berdiri di pinggir trotoar yang panas. Sambil membetulkan tas ranselnya, ia mendongak ke langit yang mulai terik.

"Luar biasa," gerutunya kesal. "Sudah lapar, hampir telat, ban kempes pula, hah...sungguh pagi yang indah!!"

Ia tidak tahu bahwa terkadang, doa-doa kesal seperti itu justru menjadi magnet bagi kejadian yang tak terduga.

Napas Luna nyaris habis saat ia tiba di depan gerbang kampus, namun jantungnya justru terasa berhenti berdetak saat melihat besi tinggi itu sudah terkunci rapat.

Ia mematung, merutuki nasibnya yang sejak bangun tidur tadi seolah sedang diajak bercanda oleh semesta.

"Pak! Pak Alex, tolonglah, Pak!" seru Luna sambil menempelkan wajahnya di teralis besi, menatap memelas ke arah pos satpam.

Pak Alex keluar sambil menggeleng tegas. "Nggak bisa, Neng. Aturan tetap aturan. Telat satu menit saja gerbang dikunci, apalagi Neng telatnya sudah hampir satu jam."

"Aduh Pak, saya tadi kena musibah! Taksi saya bannya kempes, terus saya harus naik angkot yang muter-muter dulu. Masa saya harus nunggu sampai jam istirahat? Bisa kering saya terjemur di sini, Pak. Kulit saya nggak bisa kena matahari kelamaan!" Luna mulai mengeluarkan jurus protesnya, meski ia tahu disiplin kampus ini sangat ketat.

Pak Alex tidak bergeming. Ia hanya menunjuk kursi kayu di bawah pohon, menyuruh Luna menunggu di sana dengan wajah tanpa dosa.

Luna mendengus kencang, baru saja ia hendak mengeluarkan omelan lebih panjang, tiba-tiba sebuah bayangan mendekat.

Seorang pemuda dengan kemeja yang tertata rapi dan aura yang begitu memikat muncul entah dari mana. Ia tidak berteriak, tidak juga protes. Pemuda itu hanya mendekati Pak Alex, membisikkan beberapa kata sambil tersenyum tipis.

Ajaib. Pak Alex langsung mengangguk patuh.

*Krieeet...*

"Masuk, Neng. Ini dibuka karena permintaan Den Adrian," ujar Pak Alex sambil membukakan pintu kecil di samping gerbang utama.

Luna terpaku. Matanya berbinar menatap sosok di depannya. Matahari yang terik seolah berubah menjadi lampu sorot yang hanya menerangi Adrian.

Senyum manis pria itu benar-benar melumpuhkan sisa-sisa kekesalan Luna pagi ini. Untuk sesaat, Luna lupa caranya bernapas. Ia hanya berdiri mematung seperti patung selamat datang di depan gerbang.

Adrian terkekeh pelan melihat reaksi Luna.

"Loe mau terus berdiri di sana sampai jam istirahat tiba?" tanyanya lembut, memecah keheningan.

Luna tersentak. Kesadarannya kembali pulih meski wajahnya kini terasa panas karena malu.

"Eh? Ah... i-iya! gue masuk kok!" jawabnya gagap dengan cengiran canggung yang dipaksakan. "Makasih banyak ya, Kak Adrian."

Dengan langkah seribu dan perasaan yang campur aduk antara malu dan kagum, Luna segera melesat masuk ke dalam area kampus.

Di dalam hatinya, ia bersorak. Sepertinya, setelah semua kesialan pagi ini, pertemuan dengan Adrian adalah hadiah yang sepadan.

Karena sudah terlambat satu jam penuh, Luna memutuskan bahwa masuk ke kelas hanya akan membuatnya menjadi pusat perhatian yang tidak diinginkan.

Ia lebih memilih untuk membelokkan langkah ke kantin, tempat di mana perutnya yang sejak tadi berdemo bisa diisi.

Ia memilih meja di sudut, tepat di samping sebuah pot bunga besar yang daunnya rimbun—posisi sempurna untuk bersembunyi sekaligus menyegarkan mata.

Saat Luna sedang asyik menyantap mi ayamnya dengan lahap, pergerakan di koridor yang tak jauh dari kantin menarik perhatiannya.

Di sana, Adrian berjalan dengan langkah santai namun berwibawa. Tangannya mendekap beberapa buku tebal—pemandangan tipikal seorang mahasiswa teladan yang mungkin sedang menuju perpustakaan.

Namun, Adrian tidak sendirian. Di belakangnya, tiga orang mahasiswi tampak mengekor dengan gaya yang sengaja dibuat centil, sesekali tertawa keras hanya untuk menarik perhatian sang idola kampus.

Luna berhenti mengunyah sejenak. Ia menyandarkan dagu di tangan, menatap pemandangan itu dengan datar.

Ia tahu betul siapa Adrian. Selain ketampanannya yang di atas rata-rata, statusnya sebagai putra pemilik yayasan di universitas elite ini menjadikannya magnet bagi siapa saja yang ingin memperbaiki status sosial atau sekadar mencari sensasi.

*“Ganteng sih, banget malah,”* batin Luna sambil terus memperhatikan sosok Adrian yang tetap terlihat tenang meski dikerubungi gadis-gadis itu.

Sejenak, Luna merasakan kekaguman yang sama seperti gadis-gadis lain. Siapa yang tidak akan terpesona pada sosok se-sempurna Adrian?

Namun, Luna segera menggelengkan kepala. Ia bukan tipe gadis yang suka berebut. Baginya, ikut masuk ke dalam lingkaran gadis-gadis yang mengejar Adrian hanya akan merusak image yang baru saja ia bangun.

*“Mengagumi dari jauh itu sudah lebih dari cukup. Lagipula, saingannya satu kampus,”* gumamnya sambil kembali menyuap makanannya.

Luna merasa sudah cukup puas hanya dengan melihat "pemandangan indah" itu sebagai pencuci mata setelah pagi yang buruk.

Ia tidak butuh drama tambahan, terutama saat ia sendiri masih harus bersembunyi dari ayahnya.

Tepat sebelum Adrian berbelok di ujung koridor menuju perpustakaan, ia menolehkan kepalanya sedikit.

Mata mereka bertemu. Luna membeku di tempatnya, sendok masih menggantung di depan mulut.

Di sana, di antara kerumunan gadis-gadis centil yang memujanya, Adrian memberikan sebuah senyuman tipis—namun jelas ditujukan langsung ke arah Luna.

Luna tersentak, refleks mengucek matanya dengan keras. "Hah? Salah lihat kali ya?" gumamnya tidak percaya.

Ia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada orang lain di belakang pot bunga besarnya.

Kosong. "Nggak mungkin. Masa sih Adrian yang sempurna itu senyum ke aku??."

Luna akhirnya menggelengkan kepala kuat-kuat. Ia memutuskan bahwa itu pasti hanya halusinasinya karna sempat memikirkan Adrian.

Dengan prinsip "jangan terlalu percaya diri", Luna kembali fokus menghabiskan makanannya sebelum bergegas menuju kelas untuk jam kedua.

Begitu Luna melangkah masuk ke dalam kelas, sesosok gadis berambut sebahu langsung melompat dari kursinya.

Itu Dita, sahabat Luna yang paling ekspresif sekaligus sumber informasi terpercaya di kampus.

"Luna! loe dari mana aja, sih? loe kok nggak masuk di jam pertama, hah?" seru Dita heboh, menarik tangan Luna agar segera duduk di sampingnya.

Luna menghela napas panjang dan mulai menceritakan rangkaian "hari naasnya"—mulai dari taksi yang ban-nya kempes, gerbang yang terkunci, sampai momen ajaib saat Pak Alex membukakan pintu atas perintah Adrian.

Mata Dita hampir keluar dari kelopaknya. "APA?! Adrian? Adrian anak pemilik yayasan itu nyelamatin loe dari gembok maut Pak Alex?" Dita menjerit tertahan, membuat beberapa mahasiswa lain menoleh.

"Lun, ini keajaiban dunia kedelapan! Adrian itu nggak pernah ikut campur urusan remeh kayak gitu!"

Luna memutar bola matanya, mencoba bersikap santai meski jantungnya sedikit berdesir mengingat senyuman tadi.

"Duh, Dit, biasa aja kali. Mungkin dia cuma kasihan lihat gue yang udah kayak ikan asin dijemur di depan gerbang. Secara dia yang punya yayasan, mungkin dia nggak mau ada mayat mahasiswa di depan kampus karena dehidrasi."

"Tapi tetap aja, Lun! Itu Adrian!"

"Sudahlah, Dit. Itu cuma kebetulan," potong Luna cepat.

Dita menyeret kursi dengan semangat, membuat Luna terpaksa ikut duduk di tempat yang sama seperti tadi pagi.

Luna hanya memesan segelas jus alpukat, perutnya masih terasa penuh, berbeda dengan Dita yang sudah siap menyantap sepiring bakso panas.

"Lun, Lun! loe tahu nggak?" Dita menepuk lengan Luna dengan keras sampai jus alpukatnya hampir tumpah.

Luna mengaduk minumannya dengan malas. "Ada apa lagi, Dit? Kalau soal diskon *skincare*, gue dah tau."

"Bukan! Ini lebih besar dari itu," Dita merunduk, suaranya mengecil seolah sedang membagikan rahasia negara.

"Moreno sudah balik dari Amerika seminggu yang lalu. Dan katanya, hari ini dia mulai masuk kampus lagi!"

Luna hanya menaikkan sebelah alisnya, ekspresinya sangat datar. "Oh ya? Terus?"

"Kok 'terus' sih? loe tahu kan dia siapa? Dia itu adik Adrian. Tapi, ya... loe tahu lah, beda ibu," Dita mulai bersemangat dengan mode *update* gosipnya.

"Moreno itu blasteran, gantengnya kelewatan tapi auranya gelap banget. Kalau Adrian itu pangeran berkuda putih, Moreno itu... yah, mungkin kuda hitamnya. Dia pembuat onar, kabarnya dia jarang masuk karena lebih suka balapan atau entah apa yang dia lakukan di luar sana."

Luna menyesap jusnya, tidak terlalu terkesan. "Ya baguslah kalau dia masuk. Berarti dia sudah insaf,"

Karena selama dua bulan kuliah Moreno tidak pernah terlihat, Luna merasa pria itu hanyalah karakter fiktif dalam drama kampus yang dibesar-besarkan Dita.

"Pokoknya loe harus hati-hati, Lun," Dita memperingatkan. "Dia nggak seramah Adrian. Kalau loe nggak sengaja bikin dia marah, hidup loe di kampus ini bisa kayak neraka."

Luna hanya terkekeh pelan, menganggap peringatan Dita berlebihan. "Tenang saja, Dit. gue nggak punya urusan sama orang kayak gitu. Kita nggak bakal ketemu juga, kan?"

Aura di kantin seketika berubah. Suara riuh mahasiswa lain seolah meredup, digantikan oleh suara langkah sepatu bot yang berat dan dominan.

Segerombolan pria berjalan masuk, dipimpin oleh seorang pria yang ketampanannya sanggup menghentikan detak jantung siapa pun yang melihatnya—perpaduan sempurna antara garis wajah tegas Rusia dan struktur wajah Indo yang eksotis.

Namun, alih-alih terlihat seperti model katalog, pria itu tampak seperti definisi dari masalah.

Jaket kulit hitam, beberapa anting perak yang berkilat di telinga, dan tatapan mata yang seolah ingin menantang dunia.

"Itu dia! Itu Moreno!" bisik Dita sangat kencang sambil menyenggol lengan Luna berkali-kali. Jus alpukat Luna bergoyang hebat, hampir tumpah untuk kedua kalinya.

Luna mendongak, niatnya ingin melihat "legenda" yang diceritakan Dita. Namun, saat matanya menangkap sosok Moreno, dahi Luna mengernyit.

1
piercing
novel stuck with you up tidak? kalau up lanjut aku mau baca
Meow: Halo kak terima kasih atas atensinya novel stuck with you akan update 1-2 hari lagi 🙏
total 1 replies
piercing
masih ori ga lu ren? 🐊
piercing
jangan kasih ampun! plok2 segera🌚🌚🌚
piercing
cie 🐊
piercing
semangat ya.. harus sampai ending☻️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!