Indonesia
NovelToon NovelToon
BERANDAL

BERANDAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Urban
Popularitas:608
Nilai: 5
Nama Author: Denis Suhendar

JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya

***

"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."

***

Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."

Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Kelinci di Sarang Serigala

Sinar matahari siang itu terasa begitu menyengat di pelataran SMA Tunas Bangsa, namun rasa dingin yang aneh di tengkuk Nasya sama sekali tidak kunjung hilang. Sepanjang jam pelajaran berlangsung sejak pagi tadi, fokus perhatiannya pecah berantakan hingga ia tidak mampu mencerna penjelasan guru di papan tulis. Jemari mungilnya berkali-kali bergerak secara tidak sadar menuju balik kerah seragam putihnya, memastikan bahwa kalung perak bermata merah pemberian Eksan masih melingkar dengan aman di sana. Surat peringatan singkat yang ditulis dengan tinta hitam berantakan dari sang berandal jalanan itu terus terngiang-ngiang di kepalanya bak kaset rusak yang tak bisa dihentikan.

*Simpan kalung ini dan pakai jika kamu keluar. Jangan sampai hilang. — Eksan.*

Nasya menghela napas berat yang terdengar sangat lelah sambil merapikan buku-buku dan tas sekolahnya yang sudah usang. Bel yang menandakan jam pulang sekolah baru saja berbunyi dengan nyaring beberapa menit yang lalu, membuat koridor kelas yang tadinya ramai perlahan mulai sepi karena para murid berhamburan pulang menuju gerbang luar. Namun, Nasya sengaja menunda langkah kakinya di dalam kelas. Dia sangat berharap suasana jalanan raya di luar pagar sekolah sudah sedikit lebih sepi dan aman untuk meminimalkan kecemasannya yang berlebihan sejak kejadian pengepungan mencekam semalam.

Ketika sepasang kakinya akhirnya melangkah keluar menembus gerbang utama sekolah, Nasya mencoba mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling area dengan penuh kewaspadaan. Jalanan di depan sekolah tampak normal dan berjalan seperti biasa. Ada deretan tukang jajanan kaki lima yang sedang melayani pembeli dan beberapa mobil angkutan umum yang mengetem di pinggir jalan untuk mencari penumpang anak sekolah. Nasya mengembuskan napasnya sedikit lega, mencoba meyakinkan hatinya sendiri bahwa ketakutannya sejak pagi hanyalah luapan rasa panik akibat imajinasinya yang terlalu berlebihan.

Namun, rasa lega yang baru saja singgah itu langsung sirna dan menguap dalam hitungan detik.

Saat Nasya mulai berjalan berbelok memasuki trotoar jalan sepi yang mengarah ke halte bus umum, tiga buah motor sport besar berwarna merah menyala tiba-tiba melesat kencang memotong jalurnya secara paksa. Motor-motor besar berkekuatan mesin tinggi itu berhenti mendadak dengan posisi mengepung rapat, menutup mati seluruh jalan pelarian Nasya di atas trotoar yang kebetulan sedang sangat sepi dari pejalan kaki tersebut.

*Vroom! Vroom!*

Suara raungan knalpot yang memekakkan telinga sengaja dimainkan berulang kali oleh para pengendaranya, menciptakan polusi suara yang mengintimidasi sekaligus membuat beberapa pejalan kaki lain di kejauhan memilih untuk mempercepat langkah mereka dan berpura-pura tidak melihat. Di kota metropolitan yang keras ini, semua orang tahu betul siapa pemilik motor-motor sport merah dengan jaket kulit berlambang kepala serigala hitam di punggungnya. Mereka adalah kelompok inti dari klan Red Wolf, penguasa jalanan yang terkenal kejam, sadis, dan sama sekali tak tersentuh oleh hukum formal.

Salah satu pria bertubuh kekar dengan tato serigala besar yang menjalar di sepanjang lengan kanannya perlahan turun dari atas motor. Pria beringas itu melangkah maju mendekati Nasya dengan sebuah seringai licik yang membuat lutut gadis itu mendadak lemas seketika bagai jeli yang tak bertulang.

"Jadi, ini dia kelinci kecil peliharaan si Kobra Sialan itu?" suara pria bertato itu terdengar sangat serak dan berat, dipenuhi oleh nada meremehkan yang kental saat matanya meneliti seragam sekolah Nasya dari atas ke bawah tanpa ada rasa sungkan sedikit pun.

Nasya bergerak mundur beberapa langkah dengan panik hingga membentur dinding pagar beton yang dingin di tepi trotoar jalan. "Siapa kalian? Aku sama sekali tidak kenal dengan kalian ataupun kelompok kalian. Tolong biarkan aku lewat, aku harus segera pulang," cicit Nasya dengan suara yang bergetar hebat menahan tangis ketakutan yang mendalam.

Pria bertato serigala itu terkekeh sinis melihat ketakutan Nasya, lalu memberikan isyarat dagu yang tegas kepada dua anak buahnya yang berada di belakang. Kedua anak buah Red Wolf itu langsung turun dari motor dan melangkah maju untuk mengunci pergerakan Nasya dari sisi kiri dan kanan, memastikan gadis itu tidak memiliki celah sedikit pun untuk melarikan diri.

"Kau memang tidak kenal dengan kami, Manis. Tapi pelindung barumu yaitu musuh kami yaitu, Eksan Prasetya, punya utang darah yang sangat besar pada geng kami sejak pertempuran semalam," ucap sang wakil ketua Red Wolf sembari melangkah maju satu langkah lagi, mempersempit jarak aman di antara mereka hingga Nasya bisa mencium bau asap rokok yang pekat dari tubuh pria itu. "Karena si Kobra itu pandai sekali bersembunyi seperti tikus got setelah terluka parah, kami terpaksa harus meminjam tubuhmu sebentar sebagai umpan agar dia mau merangkak keluar dari lubang persembunyiannya."

"Aku tidak tahu apa-apa tentang dia! Hubunganku dengannya tidak ada! Tolong lepaskan aku!" teriak Nasya histeris, air matanya kini benar-benar luruh membasahi pipinya yang pucat pasi karena ketakutan yang teramat sangat.

Saat salah satu anak buah Red Wolf bergerak maju dengan kasar untuk mencengkeram paksa lengan kiri Nasya, gerakan tubuh gadis itu yang meronta membuat kerah seragam sekolahnya sedikit tertarik ke bawah. Akibatnya, kilauan perak dari kalung rantai dengan bandul berbentuk kepala kobra kecil bermata merah menyala langsung terekspos dengan sangat jelas di bawah terik sinar matahari siang itu.

Gerakan tangan anak buah Red Wolf yang hendak menyentuh Nasya mendadak membeku di udara dalam sekejap. Seringai kejam yang sedari tadi terukir di wajah sang wakil ketua geng pun langsung lenyap seketika, digantikan oleh tatapan mata yang membelalak sempurna penuh dengan keterkejutan sekaligus amarah yang meluap-luap hingga rahangnya mengeras.

"Kalung itu..." bisik salah satu anak buahnya dengan suara yang mendadak menciut ketakutan sambil melangkah mundur satu langkah. "Bos, lihat itu... itu adalah kalung takdir faksi tertinggi Black Cobra. Benda sakral itu hanya boleh dipegang dan diberikan oleh ketua tertinggi mereka!"

Mendengar laporan tersebut, sang wakil ketua Red Wolf langsung maju dengan beringas dan merenggut kerah bajunya sendiri karena murka yang tak tertahankan. "Sialan! Eksan benar-benar memberikan identitas kematiannya pada bocah sekolah ingusan ini?! Berarti dugaan informan kita benar, gadis ini adalah nyawa kedua bagi si keparat Eksan!"

Pria bertato itu berbalik ke arah anak buahnya dengan raungan penuh amarah yang menggema di jalanan. "Jangan pedulikan kalung sialan itu! Seret dia masuk ke dalam mobil van hitam di seberang jalan sekarang juga! Kita bawa dia ke markas utama kita! Kita lihat seberapa cepat EkSan si berandal itu akan merangkak datang memohon di kakiku demi menyelamatkan nyawa kelinci kesayangannya ini!"

Nasya menjerit histeris dan terus meronta saat kedua tangan kekar anak buah Red Wolf mulai mencengkeram lengannya dengan sangat kuat, menyeret tubuh mungilnya secara paksa menjauh dari dinding trotoar. Rasa sakit menjalar di pergelangan tangannya, namun rasa takut akan dunia hitam jauh lebih mendominasi pikirannya. Di tengah keputusasaan yang teramat sangat dan pandangan yang mulai buram oleh air mata, Nasya memejamkan matanya rapat-rapat. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia berteriak memanggil nama pemuda berandal yang telah berjanji akan menjaganya semalam.

*Eksan... tolong aku...*

*BRRUUUAAAKKK!*

Sebuah suara hantaman keras berkekuatan besar tiba-tiba menggema dengan dahsyat di sepanjang jalan trotoar tersebut, memotong jeritan Nasya seketika.

Salah satu motor sport merah milik geng Red Wolf yang terparkir di tepi jalan hancur berkeping-keping dan terseret beberapa meter di atas aspal setelah dihantam secara brutal dari arah samping oleh sebuah motor gede hitam pekat berlogo mawar berdarah. Motor hitam besar itu melesat gila melompati pembatas jalan raya tanpa memedulikan keselamatan atau rem sama sekali, menciptakan percikan api akibat gesekan logam yang mengerikan.

Pengendara motor hitam itu melompat turun dengan sangat lihai sebelum motornya benar-benar berhenti berguling. Jaket kulit hitam tebalnya berkibar gagah tertiup angin jalanan, menampilkan sosok pemuda bertubuh tegap dengan seragam sekolah yang acak-acakan serta pelipis kiri yang masih ditutupi oleh plester luka akibat pertempuran semalam.

Sepasang mata elangnya memancarkan aura kematian yang luar biasa pekat, berkilat tajam penuh nafsu membunuh yang amat sangat mengerikan saat melihat tangan-tangan kotor musuh sedang menyentuh paksa wilayah terlarangnya.

Dia adalah Eksan Prasetya. Sang berandal penguasa tertinggi gang kota telah kembali untuk menagih darah.

"Lepaskan tangan kotor kalian dari gadisku sekarang juga..." suara Eksan terdengar sangat rendah, berat, serak, namun dipenuhi oleh getaran rasa intimidasi tingkat tinggi yang membuat seluruh area trotoar itu mendadak terasa mencekam dan kehilangan pasokan udaranya.

Eksan melangkah maju dengan santai namun pasti, namun setiap ketukan langkah sepatu bot beratnya di atas aspal terdengar seperti hitungan mundur kematian bagi siapa saja yang berani berdiri menghalangi jalannya. Ia mengepalkan kedua tangan kasarnya dengan sangat kuat hingga urat-urat birunya menyembul menegang di sepanjang lengannya, bersiap untuk meratakan dan menghancurkan siapa saja yang berani mengusik ketenangannya.

"Atau aku bersumpah demi nama Black Cobra..." Eksan menyipitkan matanya yang pekat dengan kilatan haus darah yang murni, menunjuk langsung ke arah wajah wakil ketua Red Wolf yang mulai menegang. "...tidak akan ada satu pun dari kepala kalian yang bisa pulang malam ini dengan tubuh yang masih utuh."

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semngat nulis nya k👍
Denis Suhendar: semangat ganbate 💪💪
total 1 replies
Rudik Irawan
sering² up Thor
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: mampir KA berikan ulasan agar aku bisa Berkembang
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!