Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keretakan Naga Selatan
Langkah kaki Larasati bergemerincing tegas membelah keramaian Balai Desa, menembus kerumunan pemburu yang sibuk memeriksa papan misi, menuju meja markas Naga Selatan yang berada di sudut ruangan paling ramai.
Tiga hari telah berlalu sejak kejadian di hutan, tiga hari yang cukup baginya untuk memikirkan segala sesuatu dengan kepala dingin, jauh dari gejolak emosi yang sempat menguasainya malam itu. Namun setiap kali ia mengingat kembali momen Sekar bertarung mati-matian melawan Kalabayu, momen Galih membangkitkan kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh logika sihir mana pun, tekadnya justru semakin menguat, bukan melemah. Malam-malam itu ia habiskan duduk sendirian di kamar sewaannya, menimbang untung rugi keputusan yang akan ia ambil, hingga akhirnya tidak ada lagi keraguan tersisa.
Raka duduk santai di kursi kayu utama markas mereka, kaki disilangkan di atas meja, sedang bercerita dengan bangga kepada beberapa pemburu lain yang mengelilinginya tentang keberhasilan Naga Selatan menaklukkan misi tingkat tinggi minggu lalu. Bayu dan Damar duduk di sisinya, sesekali menimpali cerita itu dengan tawa dan komentar yang semakin melebih-lebihkan, gelas minuman anggur murah tergenggam santai di tangan masing-masing.
"...dan begitu boss itu tumbang, seluruh desa langsung tahu siapa kelompok terkuat di Wanasari," Raka mengakhiri ceritanya dengan seringai puas, disambut tepuk tangan kagum dari para pendengarnya.
Larasati berhenti tepat di depan meja itu, bayangannya jatuh menutupi lembaran misi yang tergeletak di atas kayu.
"Raka," panggilnya, suaranya datar namun cukup keras untuk memotong obrolan riang itu seketika.
Raka menoleh, alisnya terangkat melihat kedatangan Larasati yang tidak biasa mendekat tanpa diundang. "Laras? Kau ke mana saja tiga hari ini? Kupikir kau tersesat cari jamur di hutan." Ia terkekeh sendiri mendengar leluconnya, tidak menyadari betapa jauh perhitungannya meleset.
Beberapa anak buahnya tertawa kecil mendengar sindiran itu, namun Larasati tidak menunjukkan reaksi apa pun. Ia merogoh saku jubahnya, mengeluarkan sebuah lencana perak berukir kepala naga, lambang keanggotaan yang selama ini melekat di dadanya sejak bergabung dengan kelompok itu.
Tanpa berkata-kata lebih dulu, ia melemparkan lencana itu ke atas meja, tepat di hadapan Raka, menimbulkan bunyi denting logam yang memecah keheningan sesaat sebelum tatapan seluruh ruangan tertuju padanya.
"Aku keluar dari Naga Selatan," katanya tegas, tidak ada keraguan sedikit pun dalam nada suaranya. "Efektif sekarang juga."
Seluruh meja itu langsung senyap. Beberapa pemburu di sekitar yang tadi ikut menikmati cerita Raka kini menoleh penuh rasa penasaran, merasakan ketegangan yang tiba-tiba muncul di udara.
Raka menurunkan kakinya dari meja, berdiri perlahan dengan mata membelalak, campuran antara terkejut dan amarah yang mulai membara di balik wajah tampannya. "Kau bercanda? Keluar? Kau tahu betapa sulitnya masuk ke Naga Selatan?"
"Aku tidak bercanda," jawab Larasati tenang, matanya menatap lurus tanpa gentar sedikit pun. "Aku sudah memutuskan. Aku ingin bergabung dengan kelompok lain."
"Kelompok lain?" Bayu, yang duduk di sisi kiri Raka, ikut bangkit berdiri, seringai mengejek terpampang jelas di wajahnya. "Jangan bilang kau mau gabung sama kelompok konyol si cupu dan gadis galak itu. Kau serius, Laras?"
Larasati tidak menjawab, hanya menatap Bayu dengan ekspresi datar yang justru membuat pemuda itu semakin gerah dan salah tingkah.
"Kau pikir kau bisa apa tanpa kami?" sahut Damar dari sisi lain, ikut berdiri dengan lengan bersedekap, nada suaranya penuh remeh. "Kau cuma healer, Laras. Tanpa perlindungan kami, kau bahkan tidak akan bertahan lima menit menghadapi monster level menengah sendirian. Pikirkan baik-baik sebelum menyesal."
Tawa mengejek dari Bayu dan Damar menggema, disambut beberapa pemburu lain yang ikut terkekeh melihat situasi itu, meski tidak semuanya terlihat nyaman dengan konfrontasi yang sedang berlangsung.
"Benar," tambah Bayu, "tanpa dukungan kelompok besar, seorang penyihir cahaya cuma jadi beban yang menunggu dilindungi. Kau pikir kau bisa apa-apa sendirian?"
Kata-kata itu dirancang untuk melukai, untuk membuat Larasati ragu dan kembali merangkak meminta maaf. Namun gadis itu berdiri tegak, tidak menunjukkan sedikit pun goyah di wajahnya. Ia sudah menyaksikan sendiri apa yang bisa dilakukan Sekar dengan tekad yang benar, apa yang bisa dibangkitkan Galih ketika rasa takut kehilangan seseorang mengalahkan segalanya. Penghinaan dari mulut orang-orang yang bahkan tidak pernah benar-benar menghargainya terasa begitu kecil dibandingkan hal itu. Ia teringat betapa hangatnya diterima Sekar dan Galih di tepi danau, tanpa syarat, tanpa perhitungan untung rugi seperti yang selama ini ia rasakan di Naga Selatan.
"Terima kasih atas waktu yang pernah kita habiskan bersama," kata Larasati akhirnya, suaranya tetap tenang meski dikelilingi ejekan. "Tapi aku sudah menemukan tempat yang lebih pantas untukku. Sampai jumpa, Raka."
Ia berbalik badan dengan anggun, langkahnya tegas dan tanpa keraguan sedikit pun, meninggalkan meja markas Naga Selatan yang masih dipenuhi tawa mengejek dan bisikan penasaran dari sekelilingnya. Rambutnya yang sewarna madu berkibar pelan mengikuti gerakannya, punggungnya tegak lurus tanpa sekali pun menoleh ke belakang, seolah setiap ejekan yang baru saja dilontarkan padanya sudah lenyap begitu ia melangkahkan kaki pertamanya menjauh.
Raka berdiri mematung, tangannya terkepal erat menyaksikan kepergian Larasati yang begitu tenang, begitu tanpa beban, seolah keputusan besar itu tidak pernah menyisakan sedikit pun keraguan di hatinya. Rasa malu bercampur amarah membuncah di dadanya, terlebih dengan begitu banyak pasang mata yang menyaksikan seluruh insiden itu, menambah beban harga diri yang baru saja diinjak-injak untuk kedua kalinya oleh orang-orang yang berkaitan dengan Sekar dan pemuda asing itu. Ia bisa mendengar bisikan-bisikan pelan mulai menyebar di antara para pemburu yang menonton, membicarakan keberanian Larasati dan kegagalannya menahan salah satu anggota terbaiknya sendiri.
"Bawa dia kembali kalau ketemu di jalan," gumam Damar, meski nada suaranya sendiri terdengar kurang yakin sekarang, melihat betapa mantapnya langkah Larasati menjauh tanpa sekali pun ragu.
Raka tidak menjawab. Rahangnya mengeras, matanya masih terpaku pada punggung Larasati yang semakin kecil di antara keramaian Balai Desa, sebelum akhirnya tangannya terkepal semakin erat dan menghantam permukaan meja kayu di hadapannya dengan keras.
Bunyi retak kayu yang keras menggema, membuat beberapa pemburu di sekitar tersentak kaget. Permukaan meja itu retak memanjang tepat di titik hantaman kepalan tangan Raka, sementara wajahnya sendiri memerah padam menahan dendam yang kini membara jauh lebih dalam dari sebelumnya, terhadap Sekar, terhadap Galih, dan kini juga terhadap Larasati yang baru saja mengkhianati kelompok yang selama ini ia bangun dengan susah payah. Bayu dan Damar saling berpandangan, tidak berani berkomentar lagi melihat amarah pemimpin mereka yang jauh lebih besar dari yang mereka duga.