Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.
Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.
Akankah Alfa bisa menemukan Senja?
Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alfa dan Ares
"Mas?"
Senja terkejut bukan main. Matanya yang jernih mengerjap pelan menatap sosok pria yang kini berdiri tegap di samping mejanya.
Alfa menyusulnya ke kafe ini jauh lebih cepat dari yang ia bayangkan. Dalam benak Senja, Alfa akan menghabiskan waktu setidaknya satu hingga dua jam untuk mendampingi Dila yang sedang dalam kondisi kritis di rumah sakit, menumpahkan segala kepanikan dan rasa cintanya di sana. Namun, di sinilah suaminya berdiri, bernapas sedikit terengah dengan wajah menegang.
"Sudah pesan makan?" Tanya Alfa. Suara baritonnya terdengar amat dalam.
"Sudah Mas" Sahut Senja cepat, mencoba mencairkan ketegangan yang mendadak melingkupi sudut kafe yang tadinya tenang.
"Mas mau dipesankan sekalian, atau Mas sudah makan di rumah sakit?"
"Belum. Tolong pesankan sekalian" Balas Alfa singkat. Pria itu mengalihkan pandangan tajamnya persis ke arah adiknya.
"Dan kau... kenapa kau bisa berada di sini?"
Ares terkekeh pelan. Tanpa rasa bersalah sedikit pun, pria muda bertudung hoodie itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, membalas tatapan intimidatif sang kakak dengan cengiran santai yang provokatif.
"Ya untuk apa lagi kalau datang ke kafe kalau bukan buat makan atau minum, Kak?" Jawab Ares ringan, menyilangkan kedua tangannya di atas dada.
"Lagipula, kebetulan tadi aku lihat kakak iparku duduk sendirian di sudut sepi ini. Ya... daripada dia kesepian, aku duduk di sini menemani. Formalitas keluarga yang baik, kan?"
Alfa tidak menjawab. Pria itu menarik kursi kosong di tepat sebelah Senja, lalu mendudukinya.
Kehadiran Alfa secara instan merubah atmosfer di sekitar meja tersebut. Suasana yang tadinya terasa luwes, santai, dan penuh candaan mengalir saat Senja hanya berdua dengan Ares, mendadak berubah menjadi amat canggung dan mencekam.
Ketegangan itu merambat cepat. Alfa duduk kaku dengan garis rahang yang mengetat, sementara Ares tetap mempertahankan senyum miring di bibirnya.
Senja yang berada di tengah-tengah dua bersaudara itu hanya bisa menghela napas pendek dalam hati. Kedatangan Alfa yang terlalu kaku dan penuh prasangka justru menjadi pemantik dinding tebal yang mematikan keceriaan.
Ares memajukan tubuhnya sedikit ke depan, menopang dagu dengan satu tangan sembari menatap Alfa dengan binar mata mengejek.
"Ngomong-ngomong... kenapa kau kembali secepat ini, Kak?" Tanya Ares, nadanya sengaja dibuat seolah-olah prihatin.
"Seharusnya kau mengabari dulu. Biarkan saja aku yang menemani istrimu makan siang sampai selesai. Kau kan punya prioritas lain di rumah sakit sana."
Mata Alfa memicing mendengarkan sindiran halus itu.
"Secepat ini? Kau tahu kapan Senja datang ke sini?"
Ares sempat terpaku sejenak, namun dengan sangat cerdik ia langsung menguasai keadaan. Raut wajahnya berubah santai dalam hitungan detik.
"A-aku... aku hanya kebetulan lewat dan melihat Kak Senja masuk ke kafe ini sendirian" Ujar Ares santai, kembali mengumbar senyuman tanpa beban.
"Makanya aku ikut masuk. Lagipula... sayang sekali, kan? Wanita secantik ini dibiarkan sendirian di tempat umum, sementara suaminya entah pergi ke mana."
Kalimat terakhir Ares telak menghantam kesadaran Alfa. Pria itu tersentak kecil di tempat duduknya.
Kata-kata sang adik seolah menampar dada Alfa dengan kenyataan pahit bahwa ia memang telah menelantarkan istri sahnya di hari pertama mereka bekerja demi wanita lain.
Alfa membisu, pikirannya berkecamuk hebat antara rasa bersalah pada Dila, kewajibannya pada Senja.
Suasana hening menekan selama beberapa saat. Tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara sampai akhirnya seorang pelayan kafe datang membawa nampan berisi cangkir kopi tambahan dan pesanan makanan untuk Alfa.
"Ayo makan dulu!" Ajak Senja memecah ketegangan yang nyaris membekukan udara di antara mereka. Senja menggeser piring dan cangkir kopi ke hadapan Alfa dengan gerakan yang sangat halus.
Namun, sebelum Alfa sempat meraih sendoknya, Ares sudah lebih dulu berdiri dari kursinya. Pria muda itu merapikan tudung hoodie hitamnya, lalu menatap Senja dengan senyuman paling manis yang ia miliki.
"Maaf ya, Kakak Iparku yang cantik... aku masih ada urusan lain yang harus diselesaikan." Ujar Ares dengan nada suara yang sengaja dilembutkan.
"Karena suamimu ini sudah kembali, jadi aku pergi saja daripada jadi obat nyamuk di sini."
Ares kemudian melirik Alfa yang masih menatapnya dingin. Senyum miring kembali terukir di wajah Ares sebelum ia membungkukkan badan sedikit ke arah Senja.
"Aku pergi dulu, Kak" Pamit Ares. Lalu, ia menepuk bahu Alfa pelan sembari berbisik dengan nada yang cukup nyaring untuk didengar Senja.
"Lain kali kalau kau mau menemui kekasihmu lagi... hubungi saja aku! Biar aku yang menemani istrimu!"
Alfa tersentak kecil mendengar kalimat lancang itu. Jarinya menggepal erat di tepi meja, namun pria itu tetap memilih diam tanpa memberikan tanggapan verbal. Ia sadar, meladeni Ares di tempat umum hanya akan membuat situasi semakin runyam dan memancing perhatian pengunjung lain.
Ares melangkah pergi meninggalkan kafe dengan siulan kecil yang santai, menghilang di balik pintu kaca.
Sementara itu, Senja sama sekali tidak terpengaruh oleh drama kecil yang baru saja terjadi. Ia hanya diam, kembali menyesap cappuccino-nya dan menikmati makanan siangnya dengan sangat tenang. Senja bersikap seolah tak peduli dengan apa pun yang baru saja dibicarakan atau diperebutkan oleh dua pria berdarah Arthanagara tersebut.
Alfa menatap Senja dari samping. Sikap tenang wanita itu justru membuat dadanya terasa semakin sesak. Ada keheningan yang menakutkan di balik paras cantik Senja, sebuah ketenangan dari seorang wanita yang sudah terlalu terbiasa melapisi hatinya dengan benteng yang tak tertembus.
"Senja..." Panggil Alfa lirih, suaranya sarat akan rasa bersalah yang teramat mendalam.
"Maafkan aku... aku meninggalkanmu terlalu lama."
Senja menoleh, mengulas senyum tipis yang amat santun dan sempurna, senyuman formal yang kini menjadi topeng andalannya.
"Tidak apa-apa, Mas" Jawab Senja lembut, suaranya sangat stabil tanpa ada nada cemburu atau amarah sedikit pun.
"Bagaimana keadaan Dila? Apakah dia sudah lebih tenang?"
Alfa menghembuskan napas berat, menundukkan kepalanya menatap cangkir kopi yang masih berasap.
"Dia sudah lebih stabil setelah dokter memberikan obat penenang. Tapi... melihatku datang terburu-buru justru membuat Dila merasa semakin bersalah padamu. Dia menyuruhku cepat-cepat kembali ke kantor untuk menyusulmu."
"Dila wanita yang baik" Sahut Senja tulus.
"Dia memikirkan posisiku di saat tubuhnya sendiri sedang bertaruh dengan rasa sakit. Kamu beruntung mendapatkan wanita seperti dia, Mas."
Alfa mengangkat kepalanya, menatap mata Senja dengan pandangan tak percaya sekaligus penuh tanya.
Pengakuan tulus Senja tentang Dila membuat rasa kerdil di dalam diri Alfa semakin menjadi-jadi. Bagaimana mungkin seorang wanita yang diabaikan di hari pertamanya bekerja bisa memuji kekasih gelap suaminya sendiri dengan begitu anggun?
"Kamu tidak marah padaku, Senja?" Tanya Alfa, memajukan tubuhnya demi mencari kepastian di manik mata Senja.
"Atau... pada Ares tadi? Dia mengatakan hal-hal yang tidak sopan padamu."
Senja meletakkan sendok dan garpunya dengan pelan di atas piring yang sudah bersih. Ia menatap Alfa lurus-lurus, memancarkan kedewasaan batin yang melampaui usianya.
"Untuk apa aku marah, Mas?" Tutur Senja pelan namun menusuk.
"Kita berdua sepakat menjalani pernikahan ini sebagai sebuah aliansi bisnis untuk memenuhi keinginan orang tua kita. Sejak awal, aku tidak pernah menuntut hatimu, dan kamu pun tidak perlu merasa terbebani oleh keberadaanku."
Senja jeda sejenak, melirik ke arah pintu keluar tempat Ares pergi tadi.
"Mengenai Ares... dia hanya seorang adik yang sedang mencoba menggoda kakaknya" Lanjut Senja dengan senyum tipis.
"Aku tahu mana batas bercanda dan mana yang serius. Kamu tidak perlu khawatir. Fokus saja pada pekerjaanmu di kantor, dan tentu saja... pada proses kesembuhan Dila."
Alfa membeku di tempatnya. Kata-kata Senja terdengar begitu rasional, logis, dan sempurna tanpa cela.
Namun justru karena itulah, ada bagian di dalam dada Alfa yang terasa perih. Senja tidak marah bukan karena wanita itu sangat penyabar, melainkan karena Senja memang sama sekali tidak memiliki rasa apa pun padanya. Tidak ada cinta, tidak ada cemburu, dan tidak ada kepemilikan.
"Ayo, Mas... makan siangnya dihabiskan" Ujar Senja memecah lamunan Alfa, suaranya kembali ramah seperti biasa.
"Waktu istirahat kita hampir habis. Kita harus kembali ke kantor sebelum staf lain mulai mempertanyakan keberadaan kita."
Alfa mengangguk pelan dalam keheningan. Ia menyuap makanannya tanpa bisa merasakan cita rasanya lagi. Di bawah naungan atap kafe itu, Alfa menyadari satu hal, bertetangga dengan ketenangan Senja ternyata jauh lebih menyiksa daripada menghadapi badai kemarahan wanita mana pun di dunia.
biar dia tau perasaan .yg sesungguhnya ...
Karena bisa jadi nanti pelarian Senja dalam pernikahan ada campur tangan orang tua Senja karena Senja diabaikan oleh Alfa
" Selama kita bersama, aku akan selalu ada disini menemanimu." Jangan terlalu umbar janji Alfa. saat masih bersama sebagai suami istri, dihatimu masih ada Dila.