Indonesia
NovelToon NovelToon
Gadis Manis Anak Tuan Adrian

Gadis Manis Anak Tuan Adrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Rumah besar Wijaya yang biasanya tenang, kini terasa seperti sarang lebah yang terusik. Setelah kejadian dengan Kevin, suasana di dalam rumah berubah menjadi lebih tegang dan waspada. Adrian menghabiskan lebih banyak waktu di ruang kerjanya, menelepon klien dan mitra bisnis dengan suara yang terdengar lelah dan frustasi. Elena berusaha menjaga ketenangan di dalam rumah, tetapi matanya yang sembab menunjukkan bahwa dia juga ikut merasakan beban yang berat.

Adeline mengamati semua itu dari sudut-sudut rumah. Gadis kecil itu duduk di tangga sambil memeluk boneka beruangnya, matanya mengikuti setiap gerakan ayahnya yang mondar-mandir di lorong sambil berbicara di telepon. Dia bisa mendengar suara hati ayahnya yang penuh dengan kekhawatiran dan kebingungan. Ada sesuatu yang salah di perusahaan, sesuatu yang lebih besar dari sekadar pengkhianatan Kevin.

Suatu sore, Adrian memanggil semua anggota keluarga untuk berkumpul di ruang tamu. William datang dengan langkah pelan, diikuti oleh Elena yang menggandeng tangan Adeline. Wajah Adrian terlihat lebih tua dari usianya. Kerutan di dahinya semakin dalam dan matanya yang biasanya tajam kini tampak redup.

"Ada kabar buruk," kata Adrian dengan suara berat. "Beberapa dokumen penting perusahaan hilang dari server pusat. Dan beberapa kontrak besar yang seharusnya ditandatangani minggu ini, tiba-tiba dibatalkan oleh klien tanpa alasan jelas."

William mengerutkan kening. "Apakah ini ulah Victor? Bukankah kita sudah mengambil tindakan terhadapnya?"

Adrian menggeleng. "Victor sudah tidak memiliki akses ke sistem perusahaan setelah kejadian dengan Kevin. Aku sudah memblokir semua aksesnya. Tapi entah bagaimana, dokumen-dokumen itu tetap hilang. Dan keputusan pembatalan kontrak datang dari klien yang selama ini loyal kepada kita. Ada seseorang di dalam yang masih bekerja untuk menjatuhkan kita."

Elena menggenggam tangan suaminya erat. "Apa yang bisa kita lakukan sekarang?"

"Aku sudah meminta Daniel untuk menyelidiki," jawab Adrian. "Tapi butuh waktu. Sementara itu, perusahaan kita mengalami kerugian besar. Beberapa karyawan mulai khawatir dan ada yang sudah mengirimkan surat pengunduran diri."

Di sudut ruangan, Adeline duduk diam sambil memainkan ujung gaunnya. Gadis kecil itu mendengarkan semua percakapan orang dewasa dengan seksama. Lalu dia menutup matanya dan membiarkan indranya merayap keluar, mencoba menangkap setiap suara hati yang berada di sekitar rumah besar itu.

Dan kemudian dia mendengarnya.

Di antara kebisingan pikiran ayahnya yang gelisah, kekhawatiran ibunya, dan ketenangan kakeknya, ada satu suara yang berbeda. Suara itu datang dari suatu tempat di luar rumah, mungkin dari telepon atau dari seseorang yang sedang berkendara di dekat sana. Suara itu penuh dengan kepuasan jahat.

Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka pikir Victor adalah dalangnya. Bodoh. Keluarga Wijaya akan hancur dan aku akan mendapatkan semua yang aku inginkan.

Adeline membuka matanya dengan cepat. Jantungnya berdegup kencang. Dia menatap ayahnya yang sedang berbicara dengan kakeknya tentang langkah-langkah penyelamatan perusahaan. Gadis kecil itu tidak tahu siapa yang memiliki suara hati itu, tetapi dia tahu bahwa suara itu sangat dekat. Begitu dekat sehingga mungkin berada di dalam rumah ini sendiri.

"Ibu," bisik Adeline sambil menarik lengan Elena. "Ada suara. Suara yang jahat. Dia senang karena keluarga kita hancur."

Elena menunduk dan menatap putrinya dengan cemas. "Kamu mendengar suara itu sekarang?"

Adeline mengangguk. "Dia di sini, Bu. Atau di dekat sini. Dia bilang kita bodoh karena hanya menyalahkan Paman Victor. Ada orang lain yang lebih jahat."

Elena segera memberitahu Adrian. Adrian menghentikan pembicaraannya dengan William dan berlutut di hadapan putrinya. "Apa yang kamu dengar, Sayang? Apakah kamu bisa mengenali suaranya?"

Adeline menggeleng dengan frustasi. "Aku tidak tahu siapa dia, Ayah. Tapi suaranya dekat. Sangat dekat. Mungkin dia salah satu orang yang sering datang ke rumah ini."

Adrian dan William saling pandang. Pikiran yang sama melintas di kepala mereka. Jika Adeline benar, maka musuh mereka bukan hanya Victor, tetapi seseorang yang lebih dekat dan lebih berbahaya. Seseorang yang memiliki akses ke rumah ini dan mungkin juga ke rahasia-rahasia perusahaan.

"Apa kita harus memeriksa semua orang yang sering berkunjung?" tanya Elena dengan suara bergetar.

William menghela napas panjang. "Kita tidak bisa sembarangan menuduh orang. Tapi kita bisa lebih waspada. Adrian, mulai sekarang batasi akses ke rumah ini. Hanya orang-orang yang benar-benar kita percaya yang boleh masuk."

Adrian mengangguk. "Aku akan mengatur keamanan rumah dan kantor. Dan aku akan meminta Daniel untuk menyelidiki semua orang yang memiliki akses ke dokumen perusahaan."

Malam itu, setelah semua orang tidur, Adeline terbangun dari tidurnya. Dia mendengar suara hati yang sama lagi. Kali ini lebih keras dan lebih jelas.

Besok mereka akan tahu. Besok rencana besarku akan dimulai. Aku akan mengambil semuanya. Keluarga Wijaya tidak pantas memiliki semua ini.

Adeline memeluk boneka beruangnya erat-erat dan menutup matanya. Air mata mengalir di pipinya. Dia takut. Dia takut pada orang jahat yang bersembunyi di balik senyuman. Dia takut pada rahasia-rahasia yang mulai terungkap satu per satu. Dan dia takut bahwa dia tidak akan cukup kuat untuk melindungi keluarganya.

Tetapi di dalam kegelapan kamarnya, Adeline berbisik pada dirinya sendiri, "Aku akan melindungi Ayah, Ibu, dan Kakek. Aku tidak akan membiarkan siapapun menghancurkan keluarga kita." Dia tidak tahu bagaimana caranya, tetapi dia tahu bahwa dia harus mencoba. Kemampuannya adalah satu-satunya senjata yang dia miliki. Dan dia tidak akan menyia-nyiakannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!