Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.
Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.
Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.
Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.
Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Membiarkan Umpan Bergerak
Ara masih duduk di sofa dan tirai jendela masih melambai ketika pintu kamar terbuka.
Dante masuk tanpa tergesa. Tatapan pria itu langsung jatuh pada Ara, lalu pada ponsel yang masih berada di tangannya. Ia tidak bertanya siapa yang mengirim pesan. Seolah sudah tahu. Tetapi ia juga tidak menanyakannya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Suara Dante yang dingin memecah lamunan Ara.
Ara menoleh, "Kau sudah pulang?"
"Sepertinya kau terlalu sibuk dengan ponselmu dan tidak mendengar suara mobilku," ujar Dante menyindir dengan kekhasan sarkasnya yang dingin.
Ara menelan ludah. "Maaf," katanya datar.
Dante membentangkan tangan di depan Ara. "Tidakkah kau harusnya melakukan sesuatu untukku?"
Ara memicingkan mata. Ia segera berdiri dan membantu Dante melepaskan jasnya. Ia kemudian memeriksa kantong saku jas itu. Ketika ia sudah memastikan setiap saku tidak ada isinya, baru ia meletakkan jas itu di keranjang pakaian kotor. Dante punya kebiasaan unik, satu hari satu jas. Pria itu tidak akan pernah memakai satu jas selama dua hari berturut-turut.
"Ada yang ingin kukatakan padamu?" Ara menatap Dante. Ia melihat Dante melonggarkan dasinya. Dengan tanggap, ia sekali lagi membantu Dante melepaskan dasinya.
"Katakan," ujar Dante yang masih berdiri di depan Ara.
"Aku ingin bertemu Alessia." Ara akhirnya bisa mengatakannya juga.
Dante menatapnya cukup lama sebelum katanya, "Kapan dan dimana?"
Ara sedikit terkejut. Tidak ada larangan dari Dante. Tidak ada perintah agar Ara melupakan kakaknya.
"Besok," jawab Ara menyebutkan waktunya.
Dante lebih mendekat. Pria itu makin mempersempit jarak diantara mereka berdua. Ara bahkan sampai bisa merasakan hembusan nafas Dante.
"Dimana?" tanya Dante mengulangi pertanyaan yang belum dijawab Ara.
"Alessia akan mengirimkan lokasinya," sahut Ara sedikit terbata. Entah kenapa ia menjadi lebih gerah dari sebelumnya.
Dante mengangkat alis tipis. "Kenapa Alessia ingin menemui mu?"
Ara menatap Dante. Mata pria itu menuntut jawaban. Kali ini Ara tidak mungkin menghindar.
"Ara ingin menyampaikan kebenaran terkait dengan kaburnya ia di hari pernikahan," jawab Ara jujur.
Jawaban itu membuat ekspresi Dante berubah sedikit.
Ara melanjutkan, "Alessia terus memancingku untuk datang sendiri. Setiap kali aku bertanya apa yang sebenarnya dia inginkan, dia menghindar."
Dante mengangguk pelan. "Apa kau ingin bertemu dengan kakakmu?"
Ara mengerutkan kening. "Ya," sahutnya lagi.
"Kenapa?" tandas Dante tak mengerti.
"Bagaimanapun seburuk apapun dia tetap kakakku." Jawaban itu tulus keluar dari lubuk hati terdalam.
Dante kemudian duduk di sofa. Ia memberi isyarat agar Ara duduk di hadapannya.
"Kau tahu betapa buruknya kakakmu. Tapi kau masih mau menemuinya. Tidak takutkah kau?"
"Sedikit. Tapi aku harus mengambil resiko ini. Aku juga ingin tahu kebenarannya."
"Apakah kebenaran itu bisa merubah kenyataan kau istriku yang sah bukan Alessia?" tegas Dante dingin.
Ara menundukkan kepala. Sekali mengambil keputusan, Dante tidak akan merubah keputusannya dengan mudah. Apalagi keputusan itu menyangkut pilihan istri kepala keluarga Theo.
"Jawab aku Ara!" suara Dante naik beberapa oktaf.
"Tidak. Aku tetap istrimu apapun yang terjadi dan apapun yang kudengar nanti tentang kebenaran itu."
Dante mengangkat sudut bibirnya sedikit. Ia tidak tersenyum. Itu lebih mirip seringai mematikan.
"Kau tahu aku sangat bersabar terhadap mu. Jika orang lain, aku sudah lama kehilangan kesabaran ku." Dante menatap Ara makin tajam.
Ara mengangguk. "Aku tahu." Sejauh ini bahkan Dante tidak menyentuhnya meskipun mereka sudah resmi menjadi suami isteri. Itu karena Dante menghormati Ara. Pria itu rela menunggu Ara mengembangkan dan menumbuhkan perasaan cinta. Pria itu bersedia memberikan waktu pada Ara.
"Kau masih ingin menemui Alessia?" tanya Dante lagi.
Ara mengangguk. "Iya."
Dante menarik nafas panjang. "Baiklah, kau bisa menemuinya." Jeda. Ia kembali menatap lama Ara. Istrinya itu memang keras kepala. Ia tahu dan herannya ia bisa memakluminya.
"Ada sesuatu yang belum kukatakan." Dante melanjutkan kata-katanya.
"Apa?"
"Aku sudah menemukan lokasi Alessia."
Ara langsung menatapnya. "Kau menyelidikinya?"
Dante tak menyangkal. "Aku tahu kau juga tahu aku mengawasimu." Pria itu menyipitkan mata.
Ara mengangguk lemah. Ia sudah punya kecurigaan isi ponselnya disadap oleh suaminya. Itu artinya apapun percakapannya dengan Alessia ter-record dan terbaca Dante.
"Jadi jangan berpura-pura bodoh dalam hal ini. Aku tidak suka menjelaskan apa yang sudah jelas-jelas kau tahu." Dante tampak memperingatkan Ara dalam kata-kata terselubung nya.
Ara menelan ludah. Ia tak berani memprotes suaminya.
"Beberapa waktu lalu, Luca melaporkan temuan lokasi kakakmu," beritahu Dante lebih serius. Tak ada rasa bersalah di wajah pria itu. Seolah wajar dan sudah sepatutnya membaca isi ponsel Ara. Karena Ara istrinya, milik kepunyaannya.
"Jika kau sudah tahu tempat persembunyiannya, kenapa kau tidak menangkap nya?"
"Karena kalau aku menangkapnya sekarang, yang didapatkan hanya Alessia."
Dante menatap Ara lurus, sebelum lanjutnya, "Padahal aku ingin tahu siapa saja yang terlibat dengannya."
Ara terdiam.
Dante melanjutkan, "Orang yang membantunya. Orang yang memberinya tempat. Orang yang menyediakan kendaraan. Orang yang mungkin mengawasi mansion."
Baru sekarang Ara memahami kenapa Dante tidak buru-buru bertindak. Alessia bukan satu-satunya yang dicari. Dante ingin membongkar jaringan di belakangnya.
"Jadi pesan-pesan itu..."
"Bagian dari permainan yang sama."
Ara menunduk menatap ponselnya. Pesan terakhir Alessia kembali terlintas di kepalanya. Besok. Kalau kau tidak datang, seseorang akan membayar harganya.
"Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan?"
Dante bersandar. "Kita tidak perlu mengejarnya."
Tatapan Ara terangkat. "Kita bisa membuat dia datang kepada kita."
Beberapa jam kemudian, ruang kerja Dante berubah menjadi pusat koordinasi. Luca berdiri di depan meja dengan sebuah tablet di tangan.
Beberapa layar menampilkan peta sekitar mansion, rekaman kamera keamanan, serta jalur-jalur kendaraan yang biasa digunakan.
Dante menunjuk satu titik. "Informasi ini harus terlihat seperti kebocoran."
Luca mengangguk.
"Katakan Ara akan keluar mansion."
Luca memahami maksudnya.
"Bukan benar-benar keluar."
"Benar."
Dante menatap layar. "Kita tentukan hari dan jam. Biarkan informasi itu beredar melalui orang yang menurut Alessia bisa dipercaya."
Luca mengangguk lagi.
"Dia akan bergerak."
"Untuk menjemput Nyonya?"
Dante menggeleng. "Bukan hanya Alessia." Tatapannya menjadi tajam. "Aku juga ingin tahu siapa yang datang bersamanya."
Luca diam sejenak. "Jadi kita tidak menangkap Alessia begitu dia muncul?"
"Belum."
Dante menunjuk peta. "Kita ikuti kendaraan mereka." Kemudian ia menambahkan, "Aku ingin tahu dari mana mereka datang."
Luca memahami seluruh strateginya. Dante tidak sedang memasang jebakan untuk Alessia. Ia sedang memasang jaring. Semakin banyak orang yang bergerak, semakin banyak yang bisa terlihat.
Keesokan harinya, informasi itu mulai menyebar. Tidak secara langsung. Tidak pernah disebut di depan Ara. Tidak pernah disampaikan melalui orang yang terlalu dekat dengan Dante.
Sebuah percakapan kecil sengaja terjadi di tempat yang diketahui memiliki kemungkinan didengar oleh orang lain. Tentang jadwal keluar mansion. Semuanya dibuat cukup meyakinkan.
Dan seperti yang diharapkan—informasi itu akhirnya sampai ke Alessia.
Malam harinya, ponsel Ara kembali bergetar.
##Akhirnya kau mau menemuiku##
Ara menatap layar. Pesan kedua masuk.
##Aku tahu kau akan datang.##
Ara menahan napas. Pesan berikutnya muncul.
##Datang sendiri ke tempat yang sudah kita sepakati##
Ara membaca semuanya dengan tenang. Pikirannya bekerja semakin cepat. Jarinya mengetik dengan cepat.
#Orang yang kau maksud akan membayar harganya, orang itu ada di mansion Dante bukan?##
Tidak ada balasan. Ara menunggu. Ia mengetik lagi.
##Kenapa?? Kau bahkan menanam mata-matamu di mansion!##
Masih tidak ada jawaban.
##Orang itu juga yang membocorkan aku akan pergi? Jadwalku adalah harga dari nyawanya?##
Pesan masuk. ##Kuakui kau memang pintar adikku. Sayang ayah tidak pernah melirikmu##
DEG!! Ternyata tebakan Ara benar. Apakah itu artinya hari ini Alessia ingin mengirim mayat mata-mata nya mati di depannya. Karena Ara menunda kepergiannya menjadi lusa. Itu pengaturan Dante. Dan mana mungkin ia melawan pria yang sudah menjadi suaminya itu.
Tetapi itu bukan masalah lagi. Setidaknya satu nyawa selamat. Dan yang terpenting, Alessia percaya Ara akan datang. Alessia juga percaya Ara akan datang tanpa Dante.
Ara menatap layar cukup lama. Ia mengetik satu kalimat.
##Kau benar-benar takut Dante tahu?##
Beberapa detik kemudian, balasan muncul.
##Ini bukan tentang takut. Ini tentang kesempatan terakhir kita sebagai saudara.##
Ara tersenyum kecut. Ia mengetik sindiran yang sedikit sarkas. #Memangnya kau pernah menganggap ku saudara??##
Tidak ada jawaban. Ara mematikan layar.
Pintu kamar terbuka. Dante berdiri di ambang. Tatapan mereka bertemu.
Dante tidak perlu bertanya.
Ara hanya berkata, "Dia percaya aku akan datang."
Dante mengangguk. "Luca sudah menemukan mata-mata Alessia."
"Siapa dia? Apa yang kau lakukan padanya?"
"Salah satu pelayan dapur. Ia cukup dekat dengan kita. Ia sudah dipecat."
"Kau tidak membunuhnya?"
"Tadinya aku hendak menenggelamkannya di laut. Tapi ia mengakui dan menjelaskan semua yang kakakmu perintahkan. Jadi demi dirimu, aku mengampuni nya." Dante menjelaskan panjang lebar.
Ara menatapnya tak mengerti. demi dirinya??---batinnya merenung. Apa maksudnya Dante. Apakah itu berarti jika bukan mempertimbangkan keinginannya, sudah pasti pelayan itu juga bakal ditenggelamkan. Di tangan mereka, adakah arti sebuah nyawa?
Dante berjalan mendekat. Ia berhenti di hadapan Ara.
"Kali ini, kita yang menunggu."
Ara mengangguk. Alessia sudah menggigit umpannya. Sekarang giliran mereka yang menunggu sampai ia menarik tali itu sendiri. Dan Dante sudah menyiapkan perangkapnya.
***