Pada suatu malam minggu yang gerimis, hubungan asmara antara Rama dan Ratna resmi berakhir di sebuah kedai kopi yang sunyi. Ratna mengambil keputusan untuk menyudahi hubungan mereka karena menyadari adanya standar hidup dan perbedaan kelas sosial yang tidak mampu dipenuhi oleh Rama. Meski hancur, Rama menerima keputusan tersebut dengan ketegaran yang dipaksakan. Perpisahan itu menjadi semakin kontras dan menyakitkan ketika Ratna dijemput oleh sebuah sedan Eropa putih mewah yang merepresentasikan dunia barunya yang penuh kenyamanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
masa lalu yg terlambat
Di tengah suapan nasi bungkus hangat malam itu, keheningan sempat kembali menyelimuti kamar kos petak Rama. Di atas lantai semen yang dingin, Rama meletakkan sendok plastiknya sejenak. Pandangannya lurus menatap Iwan yang sedang asyik menenggak minuman kalengnya. Ada satu hal penting yang harus segera ia urus sebelum melangkah masuk ke gerbang Keluarga Antasena lusa nanti.
"wan besok aku mau ke kantor untuk resign," ucap Rama memecah keheningan.
Mendengar keputusan bulat sahabatnya, Iwan menghentikan aktivitas minumnya. Ia menaruh kaleng minumannya ke lantai, lalu menatap Rama dengan binar mata yang dipenuhi rasa bangga yang tulus. Tidak ada sedikit pun rasa iri atau penyesalan di wajahnya.
"selamat kamu bro. semoga hidupmu jadi sukses. aku hanya bisa mendoakan saja," kata Iwan dengan nada suara yang mendadak melunak, menyampaikan harapan terbaiknya untuk babak baru kehidupan sahabat seperjuangannya itu.
Rama tersenyum kecil, merasa tersentuh sekaligus tidak enak hati mendengar kerendahan hati Iwan. "ah kamu wan. smua ini kan gara gara kamu juga. jadi kamu juga ikut andil."
Kemenangan ini bukan milik Rama sendiri; ada andil besar dari kenekatan sahabatnya.
Mendengar pujian itu, Iwan justru tertawa terbahak-bahak, mencoba mencairkan kembali atmosfer yang sempat mendadak melow. "hahaha aku cuma daftarin kamu saja bro.."
"ah sudahlah," kata rama sambil menggelengkan kepala, tahu bahwa berdebat tentang siapa yang paling berjasa dengan Iwan tidak akan pernah ada habisnya. Namun, ekspresi wajah Rama kembali berubah serius saat menatap mata sahabatnya. "pastikan saja kamu jangn ganti no telfon."
Rama tidak ingin setelah ia masuk ke dalam lingkaran kasta atas Keluarga Antasena, lalu kehilangan kontak dengan satu-satunya sahabat sejati yang menemaninya sejak masa-masa sulit menunggangi motor matic tua.
Iwan memberikan hormat dua jari dengan jenaka. "siap brooo. ayo kita lanjut makan.. hahaha.
"Malam panjang itu akhirnya ditutup dengan tawa dan obrolan santai hingga kantong plastik besar bawaan Iwan kosong tak bersisa.
Keesokan harinya, matahari pagi baru saja terbit membelah kabut kota. Besok pagi rama pun masuk ke kantor seperti biasa. Namun, kedatangannya kali ini bukan untuk menghidupkan komputer atau memeriksa lembar kerja yang membosankan. Yah. dia mengajukan surat pengunduran diri secara resmi ke kubikel bagian personalia. Prosesnya berjalan cukup cepat dam singkat mengingat status Rama sebagai karyawan biasa yang tidak terikat kontrak rumit.
Setelah urusan administrasi selesai, Rama melangkah kembali ke lantai divisinya. Dia juga berpamitan pada rekan rekan kerjanya satu per satu.
Suasana perpisahan itu awalnya berjalan normal, diwarnai dengan jabat tangan formal dan ucapan semoga sukses yang standar dari teman-teman sekantor yang selama ini mengenalnya sebagai pemuda cuek berambut sebahu.
Namun, kejutan besar yang tak pernah diduga oleh siapa pun terjadi di penghujung barisan. Namun pas giliran bersalaman dengan anita, langkah Rama mendadak terkunci. Anita adalah salah satu karyawati di divisi sebelah yang selama ini dikenal pendiam dan jarang berinteraksi dengannya secara intens.
Bukannya menerima uluran tangan Rama untuk berjabat tangan perpisahan, wanita itu malah memeluknya dengan erat di depan koridor kantor. Tubuh Anita bergetar, dan tentu saja air mata membasahi pipi anita... Isak tangisnya yang tertahan pecah begitu saja di pundak kemeja Rama, melepaskan seluruh emosi tersembunyi yang selama ini ia pendam rapat-rapat.
Hal itu membuat kaget bagi rekan yg lain yang sedang memperhatikan dari kubikel masing-masing. Bisik-bisik langsung berdengung di sekeliling ruangan, dan atmosfer kantor mendadak menjadi sangat canggung.
Apalagi rama...
Pemuda itu mematung dengan tangan yang masih menggantung di udara. Jantungnya berdegup cemas karena sama sekali tidak siap menghadapi ledakan perasaan dari Anita di hari terakhirnya bekerja, menyisakan teka-teki baru tepat sebelum ia melangkah pergi menuju kediaman Antasena.
Pelukan erat yang mendadak itu terasa begitu hangat, namun sekaligus membekukan seluruh gerakan Rama di tengah koridor kantor yang ramai. Isak tangis Anita yang tertahan di pundaknya seolah meredam riuh rendah suara papan ketik dan bisik-bisik rekan kerja di sekitar mereka. Di tengah kebingungan yang melanda, ingatan Rama mendadak melompat ke belakang. Rama tentu saja ingat dengan perkataan iwan kemaren saat mereka mengobrol di kubikel kerja. Waktu itu, Iwan sempat berbisik menghiburnya bahwa karyawan lain pun tak kalah cantik dengan mantan nya, dan ada juga yg sudah lama menaruh rasa sama rama..
Saat Iwan mengatakan hal itu kemarin, Rama hanya menganggapnya sebagai angin lalu atau sekadar bualan sahabat untuk membesarkan hatinya yang baru saja didepak demi sedan Eropa. Namun sekarang, di depan matanya sendiri, teka-teki itu pecah berkeping-keping. Dan pertanyaan yg sudah lama itu akhirnya terjawab. Yah dialah anita.... Sosok wanita pendiam yang selama ini menyembunyikan badai perasaan di balik senyum tipisnya setiap kali mereka berpapasan.
Namun kenapa baru sekarang...??? Sebuah pertanyaan besar langsung berputar hebat di dalam kepala Rama. Toh mereka sudah lama 1 kantor, melewati hari demi hari di bawah atap perusahaan yang sama selama berbulan-bulan, bahkan tahunan. Namun tegur sapa saja jarang... Interaksi mereka bisa dihitung dengan jari, hanya sebatas anggukan formal di dekat mesin foto kopi atau ucapan permisi saat berpapasan di lorong. Anita selalu menjaga jarak dengan sangat rapi, seolah ada dinding kaca tak kasat mata yang memisahkan mereka berdua. Rama tidak pernah tahu bahwa di balik sikap dingin dan diamnya Anita, ada sepasang mata yang selalu memperhatikannya dengan tulus.
Kenyataan ini datang di waktu yang sangat tidak tepat. Penyesalan atau pengakuan cinta yang terlambat selalu menyisakan rasa sesak yang aneh. Apalagi rama sudah resign secara resmi dari perusahaan ini. Surat pengunduran dirinya sudah ditandatangani, barang-barangnya sudah dikemas, dan yang paling krusial: dia sudah terikat sumpah seleksi dan mau melangkah ke kastil keluarga antasena...
lusa nanti...
Takdirnya sudah dikunci oleh Nyonya Antasena dan sang putri yang berwajah dingin. Tidak ada jalan untuk berbalik arah lagi sekarang.
Aduuhhh otak rama bekerja keras menghadapi kenyataan ini. Dilema baru ini menghantam logikanya yang biasanya selalu dingin dan pragmatis. Bagaimanapun ia harus merespons pelukan ini tanpa harus menyakiti hati wanita yang ternyata telah tulus menyukainya sejak lama, di saat lembaran hidup barunya bersama klan penguasa kota sudah berada di ambang pintu? Rama menarik napas dalam-dalam, perlahan mengangkat tangannya yang sempat mematung untuk menyentuh pundak Anita, mencoba mencari kata-kata terbaik untuk menyudahi momen emosional yang mengagetkan seluruh isi kantor ini.
Suasana di koridor divisi itu masih terasa begitu hening, menyisakan sepasang mata rekan kerja yang menatap penuh tanda tanya ke arah mereka berdua. Rama meraba pundak kemejanya yang terasa sedikit basah oleh air mata wanita di pelukannya. Ia menyadari bahwa membiarkan momen emosional ini berlarut-larut hanya akan mempersulit posisi Anita di kantor setelah kepergiannya nanti. Dengan perlahan, Rama menepuk lembut punggung wanita itu, mencoba menyalurkan ketenangan melalui sisa-sisa suaranya yang terdengar rileks.
"anita," kata rama, memecah keheningan dengan nada bicara yang santai seperti biasanya. "kita hanya berpisah tempat kerja saja dan aku juga belum mati... jadi sudahi tangismu..."
Rama sengaja menggunakan sedikit gurauan hambar itu untuk mencairkan suasana yang terlanjur membeku. Ia ingin menegaskan bahwa ini bukanlah sebuah perpisahan abadi yang tragis, melainkan sekadar perpindahan rute perjalanan hidup.
Mendengar hal itu, bukannya langsung mereda, pelukan anita makin erat.. Wanita itu mempererat dekapannya selama beberapa detik, seolah-olah sedang menyerap sisa kehangatan dan aroma tubuh pria yang selama ini hanya bisa ia pandang dari kejauhan kubikel kerjanya. Itu adalah pelukan akumulasi dari rasa kagum, rindu, dan kepasrahan atas cinta yang tak pernah sempat ia utarakan secara langsung. Namun tak lama akhirnya pelukan itu melonggar dan terlepas.
Anita melangkah mundur satu pijakan, menyeka sisa air mata di sudut matanya dengan jemari yang sedikit bergetar. Pelepasan pelukan itu berjalan beriringan dengan lepasnya beban mental yg dirasakan oleh anita... Selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, menyembunyikan perasaan sendirian di bawah satu atap kantor yang sama terasa seperti siksaan tak kasat mata bagi dirinya. Hari ini, dengan nekat memeluk Rama di depan semua orang, ia setidaknya telah menuntaskan separuh dari beban rahasia di dalam dadanya. Ia tidak lagi harus menyimpan penyesalan bahwa ia membiarkan pria itu pergi tanpa mengetahui keberadaannya.
Anita menatap lurus ke dalam manik mata Rama, mencoba memaksakan sebuah senyuman tipis di balik wajahnya yang masih sembab.
"rama... tolong jaga dirimu..." pesan anita.. Suaranya terdengar sangat tulus, sebuah untaian doa dari seseorang yang benar-benar peduli pada keselamatannya di luar sana.
Rama membalas tatapan itu dengan sebuah anggukan mantap. Ia tidak memberikan janji-janji manis yang semu, tidak juga membahas mengapa perasaan itu baru terungkap hari ini. Logikanya tahu, takdirnya lusa sudah terkunci di dalam kastil Keluarga Antasena, dan membawa harapan baru bagi Anita hanya akan menjadi sebuah kekejaman.
Rama kemudian mengalihkan pandangannya ke sekeliling ruangan, menatap satu per satu rekan kerja yang selama ini membantunya melewati hari-hari menjemukan di kubikel kantor ini. Ia mengangkat tangan kanannya, memberikan lambaian perpisahan yang resmi.
"baiklah smuanya... aku pamit dulu," kata rama dengan tulus.
Kalimat itu menjadi penutup dari seluruh rangkaian babak kehidupannya sebagai seorang karyawan biasa. Rama berbalik badan, meraih tas ranselnya, dan melangkah mantap menuju pintu keluar gedung kantor. Di belakangnya, Iwan hanya memperhatikan dengan senyuman penuh arti, sementara Anita terus menatap punggung tegap berambut sebahu itu hingga hilang di balik pintu lift yang tertutup rapat, membawa Rama menuju takdir baru yang sesungguhnya.