Indonesia
NovelToon NovelToon
Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Luxw

Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.

Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.

Altair Varellion.

Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.

Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.

Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

...

Setelah perjalanan yang cukup santai dari apartemen, akhirnya Evelyn dan Celine tiba juga di kampus, karena siang ini mereka ada jadwal matakuliah.

Suasana siang itu jauh lebih ramai dibanding biasanya. Mahasiswa berlalu-lalang memenuhi area kampus. Ada yang sedang terburu-buru menuju kelas, ada yang duduk santai di taman sambil mengerjakan tugas, bahkan ada yang sibuk membuat konten untuk media sosial.

Evelyn dan Celine berjalan berdampingan di sepanjang jalur pejalan kaki. Di tangan Evelyn masih ada jus mangga yang dibelinya sebelum masuk kampus.

Sedangkan Celine sibuk memainkan ponselnya sambil sesekali mengomentari postingan orang-orang yang dikenalnya.

"Hidup mahasiswa ternyata capek juga ya." Evelyn menghela napas panjang.

Celine meliriknya. "Baru masuk seminggu. Udah ngeluh."

"Sebagai mantan karyawan, gue berhak mengeluh." Evelyn.

"Itu nggak nyambung." Celine.

"Pokoknya gue berhak." Evelyn.

Celine hanya menggeleng pasrah. Namun langkahnya tiba-tiba melambat. Matanya membesar. Lalu tanpa aba-aba ia menarik lengan Evelyn.

"Eh eh eh!"

"Apa lagi?" Evelyn hampir menjatuhkan minumannya.

Celine langsung menunjuk ke arah taman kampus dengan semangat berlebihan.

"Jangan nengok langsung!"

"Kalau lo bilang jangan nengok langsung ya otomatis gue nengok."

Dan benar saja. Evelyn langsung menoleh. Di bawah rindangnya pohon besar dekat taman fakultas bisnis, tampak dua sosok sedang berbincang santai.

Yang pertama tentu sudah tidak asing. Adrian Vale. Ketua BEM kampus.

Pria yang terkenal karena wajahnya, prestasinya, dan jumlah penggemarnya yang kemungkinan bisa membentuk satu negara kecil. Di sampingnya berdiri seorang gadis berambut panjang yang tampak cantik dan kalem.

Ia mengenakan pakaian sederhana, namun justru itu membuat auranya terlihat semakin elegan. Mereka sedang berbicara santai. Sesekali Adrian tersenyum tipis. Sedangkan gadis itu tampak nyaman berada di dekatnya.

Melihat pemandangan itu, radar gosip milik Celine langsung aktif maksimal.

"Tau nggak siapa itu?"

Evelyn menggeleng.

"Nggak."

"Itu Lexa."

"Oh."

"Lexa dari kelas Bisnis Internasional sebelah."

"Oh."

"Cantik kan?"

"Oh."

"Pinter juga."

"Oh."

"Kabarnya lagi deket sama Adrian."

"Oh."

Celine langsung melotot.

"Bisa nggak sih jawaban lo lebih dari satu suku kata?"

Evelyn terkekeh. "Ya maap... Tapi emang cantik sih."

Memang harus diakui.

Bahkan dari jarak sejauh itu pun Lexa terlihat menonjol. Tipe gadis yang kalau masuk ruangan pasti langsung menarik perhatian tanpa perlu melakukan apa pun.

Namun entah kenapa... Saat mendengar nama itu, langkah Evelyn perlahan melambat.

Lexa.

Nama itu...

Tidak asing.

Sama sekali tidak asing.

Alisnya langsung berkerut.

"Lexa..." gumamnya pelan.

"Hm?" Celine menoleh.

"Nggak." Evelyn memijat pelipisnya.

"Tapi gue kayak pernah denger nama itu."

"Ya iyalah. Kampus ini setengah penduduknya tau dia."

"Bukan gitu." Evelyn menghela napas.

Perasaan aneh muncul lagi.

Sama seperti saat mendengar nama-nama tertentu sebelumnya. Perasaan yang membuatnya yakin bahwa nama itu pernah muncul dalam novel.

Novel yang sekarang justru menjadi dunia tempat ia hidup.

'Lexa... .Lexa siapa? Lexa berperan apa? Korban? Tokoh sampingan? Teman pemeran utama? Atau... tokoh penting?'

Evelyn mencoba mengingat.

Namun yang muncul justru potongan-potongan adegan yang tidak jelas. Seperti kepingan puzzle yang hilang setengahnya.

Ia merasa pernah membaca nama itu. Sangat yakin. Tapi semakin dipaksa mengingat, semakin kabur semuanya.

"Ah sial..."

Evelyn mengacak rambutnya frustrasi.

"Gue benci otak gue."

Celine langsung menarik tangannya turun. "Jangan rusak rambut sendiri."

"Gue lagi mikir."

"Kelihatannya lebih mirip orang stres."

"Memang stres." Evelyn mengembuskan napas panjang.

Kenapa sih saat hal penting justru dia lupa? Padahal kalau soal dialog receh atau meme internet, otaknya bisa mengingat sampai bertahun-tahun. Sedangkan informasi yang mungkin menyangkut keselamatan hidupnya malah hilang entah ke mana. Sungguh tidak adil.

Sementara itu, di kejauhan Adrian dan Lexa masih berbincang santai. Sesaat *

kemudian Lexa tertawa kecil karena sesuatu yang dikatakan Adrian. Pemandangan yang cukup normal. Cukup biasa.

*

*

Dua jam berlalu tanpa terasa.

Suara dosen yang sejak tadi memenuhi ruangan akhirnya berhenti bersamaan dengan kalimat yang paling ditunggu seluruh mahasiswa.

"Baik, sampai di sini untuk pertemuan hari ini."

Seketika suasana kelas yang tadinya tenang berubah ramai. Suara kursi bergeser terdengar di berbagai sudut ruangan. Mahasiswa mulai membereskan laptop, buku, dan alat tulis mereka sebelum berbondong-bondong meninggalkan kelas.

Di tengah keramaian itu, Evelyn meregangkan tubuhnya panjang-panjang.

Krrkk...

Tulang punggungnya bahkan sampai berbunyi.

"Ahhh... Enaaaak."

Celine yang sedang memasukkan buku ke dalam tas meliriknya sekilas. "Lo kayak nenek-nenek habis bangun tidur."

"Gue capek."

"Ngapain capek?"

"Duduk."

Celine menatapnya datar.

Kadang ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran temannya itu.

Tak lama kemudian ruangan mulai semakin sepi. Beberapa mahasiswa terakhir juga sudah keluar. Menyisakan mereka berdua.

Evelyn menopang dagunya di atas meja. Matanya mengikuti Celine yang masih sibuk merapikan barang-barangnya. Kemudian tiba-tiba ia bertanya,

"Cel."

"Hm?"

"Malam ini nggak nginep lagi?"

Celine berhenti sebentar.

Lalu menggeleng. "Nggak bisa."

"Hah..."

Kepala Evelyn langsung terkulai di atas meja.

"Pengkhianat."

Klaim

"Apanya yang pengkhianat?"

"Kita baru sehari hidup bersama. Terus sekarang lo ninggalin gue."

Celine hampir tertawa. "Drama banget."

Evelyn tetap bersandar lesu.

Jujur saja, setelah semua

kejadian beberapa hari terakhir, keberadaan Celine cukup membuatnya merasa lebih tenang.

Setidaknya ada orang yang bisa diajak ngobrol saat paranoia mulai menyerang. Melihat ekspresi sedih itu, Celine akhirnya menjelaskan.

"Gue ada acara keluarga malam ini."

"Oh."

"Kalau nggak ada acara juga sebenarnya gue mau ngajak lo."

Evelyn mengangkat kepala. "Hah?"

"Acara keluarga gue. Makan malam. Ketemu saudara-saudara."

Evelyn langsung menggeleng cepat. "Nggak jadi."

"Kenapa?"

"Takut ditanya kapan nikah."

Celine tertawa keras. "Kita baru umur tujuh belas woy!"

"Nggak ada yang mustahil di dunia ini."

"Parah."

Mereka sama-sama tertawa kecil. Namun beberapa detik kemudian Evelyn teringat sesuatu.

"Oh iya."

"Malam ini gue juga ada rapat."

"Rapat?"

"Perusahaan."

Seketika senyum Celine melebar. "Nah tuh. Harusnya lo semangat."

Evelyn justru menjatuhkan dahinya ke meja.

DUK.

"Semangat dari mana?

Bayangin aja. Seminggu lalu gue masih karyawan. Hari ini gue disuruh ikut rapat perusahaan. Gue bahkan masih belum ngerti banyak istilah-istilah bisnis di sini."

"Kalau mereka ngomong angka miliaran nanti gimana?"

"Kalau mereka tanya pendapat gue gimana?"

"Kalau gue salah ngomong terus harga saham turun gimana?"

Semakin lama suaranya semakin putus asa. Celine sampai harus menahan tawa.

"Ev."

"Hm."

"Lo sadar nggak?"

"Apa?"

Klaim

"Masalah terbesar hidup lo sekarang bukan lagi tugas kuliah."

"Bukan lagi dosen killer."

"Tapi takut jadi CEO."

Evelyn terdiam. Beberapa detik kemudian ia menunjuk dirinya sendiri.

"...iya juga ya."

"Normalnya orang senang. Lo malah stres."

"Karena gue nggak pernah bercita-cita jadi CEO!" protes Evelyn. "Gue bercita-cita jadi orang kaya yang rebahan."

Celine tertawa lagi. Benar-benar tertawa sampai bahunya bergetar. Melihat itu, Evelyn akhirnya ikut tertawa meskipun masih merasa sedikit gugup.

Jujur saja... Ia memang takut. Bukan karena rapatnya. Melainkan karena semuanya terasa terlalu cepat. Kuliah. Perusahaan. Kerja sama dengan Aurelius Consortium. Dan berbagai kejadian aneh yang terus muncul di sekitarnya.

Seolah-olah hidupnya sedang bergerak menuju sesuatu yang belum bisa ia lihat. Sesuatu yang mungkin tidak baik.

Namun untuk saat ini... Ia memilih mengabaikan perasaan itu.

"Evelyn."

"Hm?"

Celine menepuk pundaknya pelan. "Tenang aja. Kalau lo bingung waktu rapat, tinggal pasang muka serius."

"Hah?"

"Orang-orang kaya suka begitu. Mukanya serius. Padahal belum tentu ngerti." jelas Celine memberikan saran.

Evelyn menatapnya. Lalu mengangguk pelan. "Masuk akal."

"Kan?"

"Kalau gitu gue tinggal pura-pura jadi orang pintar."

"Jangan keterusan."

Mereka kembali tertawa.

Untuk beberapa saat, ketakutan yang terus menghantui Evelyn terasa sedikit lebih ringan.

1
Shela Pereira
😍😍😭😍😭😭👍💪
Luxw: trimakasih kabsudah menyempatkan waktu untuk mendukung karya kami🙏😄
total 1 replies
Shela Pereira
selalu ada bagian yang terulan teruuuus kadang sampai tiga kali sama 2 kakiiii
Luxw: Terima kasih banyak sudah membaca novel ini. Kami minta maaf karena cerita dalam novel ini banyak pengulangan cerita, Hal itu terjadi karena ada masalah teknis pada perangkat atau laptop yang kami pakai saat menulis.
total 1 replies
Shela Pereira
kaaak tolong cerita nya jangan di ulangggg terrrrus


curang tauuu😒😒
Luxw: Hai ka! Terima kasih banyak atas masukannya yang luar biasa. Komentar kamu tentang cerita yang berulang sangat membantu kami melihat kekurangan yang ada untuk segera diperbaiki. Kami sangat berterima kasih atas pembaca seperti kamu yang peduli pada perkembangan cerita kami."
total 1 replies
Shela Pereira
kenapa kata² nya ulang²😒
Luxw: maaf ka, kami akan segera memperbaiki kesalahan kami agar kaka bisa lanjut menikmati karya kami dengan nyaman🙏
total 1 replies
Nana Nana
cerita baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!