Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Permintaan Tak Terbatas

Sistem Permintaan Tak Terbatas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:18.6k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Alex hanyalah karyawan biasa—bekerja keras, sering diinjak, dan tidak pernah dianggap. Sampai suatu malam, hidupnya hancur dalam sekejap oleh orang-orang yang seharusnya dia percaya.

Di titik paling rendah dalam hidupnya, Alex menemukan sesuatu yang mengubah segalanya: sebuah sistem misterius yang bisa mengabulkan permintaan apa pun.

Tidak ada batas kekayaan. Tidak ada batas kekuatan. Hanya satu syarat—dia harus terus menyelesaikan misi untuk mendapatkannya.

Namun kekuatan tanpa batas punya harga yang tidak terlihat. Perlahan, pria yang dulu selalu menunduk itu mulai berubah menjadi seseorang yang bahkan tidak dia kenali sendiri.

Dan orang-orang yang pernah menghancurkan hidupnya akan segera tahu, bahwa yang mereka injak dulu... tidak akan pernah lagi bisa mereka injak sekarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

[Misi berhasil diselesaikan.]

[Hadiah: +2 Permintaan.]

[Total Permintaan: 2.]

Alex membaca tulisan itu sambil duduk di bangku taman kota, tempat dia berhenti sejenak setelah meninggalkan kediaman Hartono. Angin pagi bertiup pelan, membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam, tapi dadanya masih terasa panas mengingat wajah Daniel dan Sarah yang tertawa di hadapannya.

'Dua permintaan lagi.' Dia menatap layar ponselnya, mencari nama perusahaan kosmetik milik keluarga Hartono yang selama ini menjadi salah satu bisnis utama mereka. Ada logo bunga stilasi berwarna emas di beranda situs resmi mereka, lengkap dengan daftar produk yang harganya membuat Alex mendengus pelan. 'Mahal sekali. Cocok buat orang-orang yang mau kelihatan kaya tanpa peduli isinya apa.'

Bibirnya melengkung tipis.

"Aku ingin sebuah perusahaan," dia berkata pelan namun mantap, matanya menatap lurus ke arah gedung-gedung tinggi di kejauhan, "lengkap dengan karyawan-karyawan paling bertalenta yang ada. Perusahaan kosmetik, yang bisa menyaingi perusahaan keluarga Hartono."

[Permintaan diterima.]

[Memproses...]

[Permintaan berhasil dikabulkan.]

[Alamat properti telah dikirim ke perangkat Host.]

Dia langsung menuju alamat yang tertera, menaiki taksi online dengan tangan yang tanpa sadar mengetuk-ngetuk lutut karena tidak sabar. Sepanjang perjalanan, dia terus membuka dan menutup aplikasi peta, memastikan sopir tidak salah jalan, meski jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh dari pusat kota.

Begitu mobil berhenti di depan sebuah gedung delapan lantai bertuliskan nama perusahaan yang belum pernah dia dengar sebelumnya, Alex hampir tidak bisa berkata apa-apa.

Ratusan orang berdiri berbaris di depan gedung itu, memegang map berisi lamaran kerja, mengenakan kemeja rapi, beberapa di antaranya bahkan masih terlihat seperti baru lulus kuliah kemarin sore. Barisan itu mengular hingga ke ujung blok, melewati tiga toko dan satu halte bus yang penumpangnya ikut menoleh penasaran.

"Ini... antrean buat apa?" Alex bertanya pada salah satu orang yang berdiri di barisan paling belakang, seorang pemuda berkacamata yang menenteng map plastik bening.

"Katanya ada perusahaan kosmetik baru buka lowongan besar-besaran, Mas. Katanya gajinya tinggi banget," jawab pemuda itu bersemangat, matanya berbinar meski keringat sudah membasahi kerah kemejanya. "Saya udah nunggu dari jam lima pagi. Denger-denger yang bikin perusahaan ini orang misterius, gak pernah muncul di media."

"Misterius, ya?" Alex bergumam, lebih kepada dirinya sendiri.

Dia melangkah melewati kerumunan itu menuju pintu masuk gedung. Beberapa orang menatapnya heran karena dia berjalan langsung tanpa antre, ada yang berbisik-bisik curiga, ada pula yang malah ikut mendekat berharap bisa menyerobot barisan bersamanya. Tidak ada yang berani menegurnya secara langsung—entah karena caranya berjalan yang terlalu tenang untuk orang biasa, atau karena tatapannya yang tidak menunjukkan sedikit pun keraguan.

Pintu kaca gedung terbuka otomatis begitu dia mendekat, memantulkan bayangannya sendiri sekilas sebelum dia melangkah masuk.

Di dalam, lobi luas dengan lantai marmer mengkilap menyambutnya, langit-langit tinggi dengan lampu gantung kristal yang berkilauan meski belum ada satu pun resepsionis yang duduk di meja depan. Tapi begitu dia melangkah lebih jauh ke ruangan utama yang seharusnya menjadi kantor operasional, dia malah berhenti.

Kosong.

Tidak ada meja kerja. Tidak ada komputer. Tidak ada mesin produksi kosmetik satu pun yang seharusnya mengisi lantai produksi di bawah. Hanya ruangan luas dengan dinding putih polos dan jendela besar yang memantulkan cahaya matahari pagi tanpa ada satu pun benda untuk menghalanginya.

'Sial, lagi-lagi begini.'

Alex menahan tawa getir yang hampir keluar dari mulutnya sendiri. Dia berjalan ke tengah ruangan, langkahnya bergema di lantai kosong itu, sama persis seperti langkahnya di mansion beberapa hari lalu.

'Aku lupa lagi. Sistem cuma ngasih apa yang aku minta persis. Perusahaan, iya. Karyawan bertalenta, iya. Tapi alatnya?'

Dia menghela napas panjang, menatap ke arah jendela sebentar sebelum berkata lebih hati-hati kali ini. "Aku ingin alat dan mesin terbaik untuk seluruh operasional perusahaan ini. Lengkap, siap pakai, tertata rapi di setiap lantai yang membutuhkan."

[Permintaan diterima.]

[Memproses...]

[Permintaan berhasil dikabulkan.]

Dalam sekejap, ruangan yang tadi kosong itu kini dipenuhi deretan meja kerja lengkap dengan komputer menyala, mesin produksi berjajar rapi di lantai bawah yang terlihat dari tangga kaca di tengah ruangan, dan laboratorium kecil dengan peralatan yang berkilau seperti belum pernah disentuh sebelumnya. Bau plastik baru dan logam bersih memenuhi udara, bercampur dengan aroma karpet yang masih terasa kaku di bawah sepatunya.

Alex berdiri di tengah ruangan itu, menatap sekeliling dengan dada membusung, tangannya menyentuh permukaan salah satu meja kerja yang dinginnya masih terasa baru.

'Sekarang baru terlihat seperti perusahaan sungguhan.' Dia berjalan keluar menuju kerumunan pelamar yang masih mengular panjang di luar gedung, langkahnya lebih mantap dari sebelumnya. Dia naik ke anak tangga pintu masuk, berdiri lebih tinggi dari kerumunan, lalu berteriak lantang.

"Semuanya diterima!"

Sorak sorai langsung memenuhi jalanan, tepuk tangan dan teriakan gembira bersahutan dari ratusan orang yang tadinya hanya berharap-harap cemas. Beberapa orang bahkan berpelukan, ada yang menangis haru, ada pula yang langsung menelepon keluarganya sambil berteriak kegirangan di tengah trotoar.

Di tengah kegembiraan itu, seorang pemuda dengan kemeja putih mengangkat tangannya tinggi-tinggi, suaranya berusaha mengalahkan riuhnya sorakan di sekelilingnya.

"Gajinya gimana, Pak?"

1
Israel
alah bct kwontol. tinggal minta semua kebohongan daniel terungksp di public apasusah nya sih. author alay bau kencur pmo otak isekai. halu 100%
Israel
tlol bet kenapa ga minta regenerasi tanpa batas?
Israel
Tlol
Leonardo Akob
Saya suka baca Novelton
Anonim
bodoh mc nya buat aja permintaan uang tidak terbatas unlimited
Israel: Bullshit
total 5 replies
Ria Gazali Dapson
kasian alex , bertubi² cobaan nya
Syahraman [Hiatus]
pergi ke isekai
Israel: bct lu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!