"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______
"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______
Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.
Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.
Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.
Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
"Wanita pelayan yang kau tabrak dan kau tinggalkan di jalanan malam itu..." bisik Snow, suaranya parau dan bergetar hebat oleh air mata yang kembali menetes membasahi pipinya yang pucat. "...dia adalah ibuku, Arthur. Pelayan itu... adalah mommy kandungku."
Dunia di sekitar Arthur serasa berhenti berputar seketika. Lidahnya membeku kaku, suaranya menyangkut di tenggorokan seolah seluruh pasokan udara ditarik paksa dari paru-parunya. Jemari tegapnya yang tadi merapikan pakaian Snow perlahan terlepas dan terkulai memudar di udara, bergetar tanpa daya.
"Apa...?" bisik Arthur dengan sepasang mata melotot tak percaya. Raut wajahnya yang biasanya dipenuhi wibawa militer kini pucat pasi bagaikan mayat yang kehilangan kehidupan. " Mommy-mu...? Sejak kapan pelayan itu jadi mommy-mu, Sayang? Kau pasti bercanda... Ini tidak mungkin..."
Snow menyapu air matanya secara kasar dengan celah jemarinya. Ia menatap Arthur yang berlutut di bawah kakinya bukan lagi dengan tatapan hangat yang dulu pernah ada, melainkan dengan sorot mata dingin yang sarat akan kebencian mendalam, menghunus lurus tepat ke celah jiwa pria itu.
"Kau ingat pelayan yang sering menemuiku di rumah hutan bertahun-tahun lalu?" desis Snow, setiap kata yang meluncur dari bibirnya bagaikan belati tajam beracun yang menghantam dada Arthur berulang kali.
"Dia pelayan itu, Arthur! Itu adalah ibuku! Wanita yang kau tabrak tanpa rasa bersalah dan kau biarkan nyawanya melayang begitu saja di atas aspal dingin! Kau telah membunuh ibuku! Kau membunuhnya, Arthur!"
Deg!
Dada Arthur dihantam hantaman tak terlihat yang teramat dahsyat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging hebat, diiringi rasa sakit yang begitu pekat mendera relung dadanya. Seluruh dosa masa lalu yang ia sembunyikan kini menjelma menjadi iblis yang mencabik-cabik sukmanya.
Sebelum Arthur sempat meraih tangannya, sebelum pria itu sempat merangkai kata maaf yang sia-sia atau memohon ampun di bawah kakinya, Snow berbalik secara mendadak.
Tanpa sepatah kata pun lagi, Snow membuka pintu kamar dengan menghentak, lalu melangkah lebar meninggalkan Sayap Timur tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Air matanya menetes meratapi takdir, namun langkah kakinya begitu mantap mengusung dendam. Arthur hanya bisa mematung di posisi berlututnya di atas lantai marmer yang membeku, menatap punggung wanita yang dicintainya itu menghilang di balik remang lorong dengan pandangan mata yang hancur berkeping-keping.
••••
Tiga jam berlalu bagaikan siksaan neraka yang berjalan lambat di dalam Istana Blackwood. Udara pagi yang biasanya menyegarkan kini terasa begitu menyesakkan, dipenuhi oleh firasat buruk yang menggantung di balik dinding-dinding megah bertatahkan emas.
Keheningan yang mencekam pecah ketika Ratu Baxeena dan Raja Alistair mengumpulkan seluruh anggota keluarga utama dan para dokter di aula sidang internal.
Lampu gantung kristal memantulkan bayangan-bayangan kaku dari orang-orang yang berdiri penuh ketegangan.
Savea berdiri di sudut ruangan dengan wajah tirus bersimbah dendam, tangannya mencengkeram kain gaunnya hingga kusut.
Sementara itu, Arthur berdiri mematung di sisi lain ruangan. Matanya kosong, membisu bagaikan raga tanpa jiwa, terus menerus terngiang akan pengakuan Snow beberapa jam lalu.
Langkah kaki yang bergema memecah hening. Dokter David Guetta melangkah ke tengah ruangan membawa dua amplop dokumen berwarna perak berlapis segel resmi kerajaan. Wajah dokter muda itu tampak begitu serius. Dengan penghormatan singkat, ia menyerahkan dokumen tersebut langsung ke tangan Raja Alistair.
"Hasil analisis laboratorium utama telah selesai, Yang Mulia," ulas Dokter David dengan nada suara profesional namun tegas. "Sesuai dengan arahan mendesak pagi ini, kami melakukan dua tes paralel secara terpisah dan mendalam."
Raja Alistair membuka amplop tersebut dengan jemari yang dingin. Ratu Baxeena berdiri sangat rapat di sisinya, napasnya tertahan sewaktu matanya ikut menyapu lembaran kertas analisis genetik di hadapannya.
"Hasil tes pertama..." ujar Raja Alistair, suaranya yang berat dan dalam menggelegar di seluruh penjuru aula sidang, "...kecocokan DNA antara Pangeran Arthur dan Bayi Ocean adalah sebesar 99,99 persen. Pangeran Ocean dikonfirmasi secara sah merupakan putra kandung dari Pangeran Arthur."
Brak!
Savea tersentak kaku di tempatnya berdiri. Bagai dihantam petir, napasnya tertahan di tenggorokan, kakinya mendadak lemas. "Tidak... Tidak mungkin! Ini pasti salah!"
Namun sebelum amukan Savea pecah lebih jauh, Raja Alistair membacakan lembar dokumen kedua dengan raut wajah yang kian menegang keras, mata Sang Raja membelalak penuh keterkejutan mendalam.
"Dan hasil tes kedua..." lanjut sang Raja, mengangkat pandangannya lalu menatap tajam ke arah Snow yang berdiri tenang di barisan pelayan paling belakang, "...kecocokan DNA antara Bayi Ocean dan Snow adalah sebesar 99,99 persen. Bayi Ocean sah merupakan putra kandung dari Snow!"
Kenyataan yang terbongkar ini bukanlah sebuah kebetulan semata. Tanpa sepengetahuan Snow maupun Savea, Ratu Baxeena telah secara diam-diam memerintahkan Dokter David untuk turut mengambil sampel Snow pagi tadi.
Teringat akan bagaimana tatapan mata putranya yang teramat protektif dan penuh gelora pada wanita itu, serta klaim liar dan histeris Savea semalam bahwa Ocean adalah anak Snow bersama kekasih gelapnya, Sang Ratu mengambil keputusan cepat untuk menguji seluruh kemungkinan demi menjaga martabat istana.
Dan hasil dari lembaran kertas itu kini menghantam akal sehat semua orang yang hadir di aula tersebut.
"Bagaimana mungkin?!" jerit Savea mendadak. Amarahnya meledak hebat hingga sepasang matanya memerah kilat bagaikan iblis yang kelaparan. Ia melangkah pincang dan menunjuk Snow dengan jari bergetar hebat. "Apa kalian sudah berselingkuh sejak lama, ha?! Apa Ocean memang putra kalian berdua sejak bertahun-tahun lalu?! Dan wanita jalang ini sudah membohongiku?!"
"Savea, jaga bicaramu!" gertak Ratu Baxeena, namun suaranya sendiri bergetar menahan guncangan fakta ini.
"Tidak! Ini konspirasi kotor!" Savea mengamuk gila di tengah aula. Ia menghempaskan vas bunga porselen mahal di sampingnya hingga hancur berkeping-keping menghantam lantai marmer.
"Kalian semua gila! Bagaimana bisa bayi yang kulahirkan dalam keadaan mati mendadak tergantikan oleh putra kandung Arthur dari wanita murahan ini?!"
Di sisi lain ruangan, Arthur sendiri terpaku rapat. Beribu pertanyaan berkecamuk gila dan saling bertabrakan di kepala pria itu. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Bukan tak mungkin baginya memiliki anak dengan Snow karena mereka pernah memadu kasih di masa lalu. Namun fakta bahwa Ocean baru berusia beberapa bulan, dan merupakan bayi yang lahir dari skema program bayi tabung yang seluruhnya diurus dan diawasi oleh Savea... membuat kenyataan ini menjadi teka-teki gila yang sama sekali tidak masuk akal!
Bagaimana bisa Ocean adalah putra kandungku bersama Snow?! Kapan ini terjadi?! batin Arthur histeris, menatap Snow dengan riak kehancuran yang tak bertepi.
Ratu Baxeena menghentakkan tongkat kerajaannya ke lantai marmer dengan amat keras. Suara dentuman besi dan kayu itu bergema membungkus ruangan, wajah Sang Ratu merah padam oleh kemurkaan yang tak tertahan lagi.
"CUKUP!" bentak Ratu Baxeena menggelegar, membuat seluruh pengawal menunduk ketakutan. Sang Ratu berpaling tajam, menatap Snow dengan pandangan yang sanggup membunuh seketika. "Ini adalah penghinaan terbesar bagi garis keturunan Istana Blackwood! Katakan pada kami, Snow... bagaimana semua kegilaan yang membodohi keluarga kerajaan ini bisa terjadi?!"
Savea yang makin hilang kendali menerjang maju hendak mencakar wajah Snow. "Mati kau, jalang!"
Namun sebelum jemari Savea menyentuh Snow, dua pengawal kerajaan bersenjata dengan sigap mencengkeram kedua lengan Savea dan menahannya secara paksa.
"Aku melahirkan bayi yang telah mati!" raung Savea histeris di dalam cengkraman keras pengawal, air mata amarah dan kemurkaan membasahi wajahnya yang kacau berantakan. "Dan bagaimana bisa KAU yang melahirkan putra Arthur, ha?! Wanita jalang murahan! Kau mencuri bayiku! Kau mencuri takhtaku!"
Di tengah amukan liar Savea yang melengking memenuhi aula, dan di bawah tatapan menuntut yang amat menekan dari Raja, Ratu, serta Arthur, Snow berdiri amat tegap.
Tidak ada sekelumit pun ketakutan di paras cantiknya yang pucat.
Tidak ada getar ragu pada bahunya. Ia memajukan satu langkah anggun ke depan, melangkah keluar dari barisan pelayan.
Sepasang mata beningnya menatap Ratu Baxeena dan Raja Alistair dengan pandangan yang amat jernih, melankolis, namun sarat akan kebangkitan dingin yang siap meruntuhkan takhta kerajaan.
"Saya siap menerima hukuman apa pun yang ingin Anda jatuhkan, Yang Mulia," ucap Snow. Suaranya tidak keras, begitu tenang dan mengalir datar, namun setiap kata yang keluar bergaung magis menyusup ke telinga setiap orang di ruangan itu.
Snow melirik tipis ke arah Savea yang masih meronta-ronta bagai orang gila dalam cengkraman pengawal. Sebuah senyuman miring yang amat dingin dan penuh kemenangan terukir samar di bibirnya.
"Satu tahun lalu..." ulas Snow, merangkai kalimat untuk membongkar rahasia paling kelam yang selama ini dipendamnya rapat-rapat di balik kegelapan. "...proses bayi tabung yang dilakukan oleh Savea bersama Pangeran Arthur tidak pernah berjalan sebagaimana mestinya."
Ratu Baxeena membelalak. Arthur menahan napasnya.
"Benih milik Pangeran Arthur yang disimpan di laboratorium..." lanjut Snow dengan intonasi yang menohok, memancarkan racun dendam yang telah matang, "...telah saya manfaatkan demi ambisi dan dendam pribadi saya sendiri. Saya telah menukar sampel sel telur di laboratorium tempat dokter kepercayaan Savea bekerja. Saya memerintahkan mereka untuk menyuntikkan benih Arthur ke dalam sel telur saya sendiri, lalu... menanamkan embrio legitimasi itu langsung ke dalam rahim saya!"
Deg!
Suasana aula sidang mendadak menjadi sangat sunyi, seolah waktu dibekukan secara paksa. Bahkan jeritan Savea terhenti seketika, matanya membelalak horor mendengar kebenaran gila tersebut.
"Dan Ocean..." sambung Snow, suaranya bergetar oleh emosi melankolis namun senyum dinginnya kian melebar sewaktu ia memandangi wajah Arthur yang kian hancur, "...memang putra kandung dari Pangeran Arthur... dan juga putra kandung yang kukandung dan kubesarkan dari rahimku sendiri."
Snow menengadahkan kepalanya tinggi-tinggi. Aura seragam pelayan murahan yang melekat di tubuhnya mendadak menguap tanpa sisa, berganti dengan wibawa dan keanggunan berdarah bangsawan murni yang selama ini sengaja ia sembunyikan di balik bayang-bayang.
"Saya bukan sekadar ibu susu biasa... Saya juga bukan pelayan murahan yang bisa kalian rendahkan begitu saja..." desis Snow dengan nada suara yang begitu tajam, menusuk tepat ke jantung keluarga Ashford.
"Nama saya adalah Snow dari keluarga Hawthorne..." potong Snow tegas, matanya berkilat membakar. "...putri di luar nikah yang sah dari Silas Hawthorne!"
DUARRR!
Pernyataan terakhir dari bibir Snow meledak bagaikan dentuman meriam yang menghancurkan dinding-dinding Istana Blackwood.
Rahasia identitas yang selama ini tersembunyi, kini berdiri tegap menantang takhta, meninggalkan seluruh keluarga kerajaan terperangah yang tak terelakkan.