Indonesia
NovelToon NovelToon
SESALMU YANG TERLAMBAT

SESALMU YANG TERLAMBAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

mata mata ibu raka

Ruang kerja pribadi Ibu Raka—yang di rumah itu semua orang memanggilnya Ibu Retno—selalu terasa dingin, bukan hanya karena pendingin ruangan yang selalu diatur pada suhu rendah, tapi juga karena suasana yang tercipta dari cara wanita itu memandang segala sesuatu: terukur, penuh perhitungan, tanpa ruang untuk kejutan.

Pagi itu, ia memanggil sopir pribadinya, seorang pria paruh baya bernama Pak Darto yang sudah bekerja untuk keluarga itu lebih dari lima belas tahun.

"Foto-foto ini," kata Ibu Retno, menyodorkan ponselnya ke arah Pak Darto, "kamu ambil sendiri, atau ada yang bantu?"

"Saya ambil sendiri, Bu. Sesuai perintah Ibu, saya ikuti terus ke mana Mas Raka pergi."

"Gadis ini," Ibu Retno menunjuk salah satu foto, "kamu tau namanya?"

"Kalau tidak salah dengar, namanya Laras, Bu. Kerja part time di kedai kopi dekat kampus."

Ibu Retno menatap foto itu lama, memperhatikan setiap detail—pakaian sederhana yang dikenakan Laras, cara ia tersenyum, cara ia berjalan berdampingan dengan Raka tanpa ada jarak canggung di antara mereka.

"Cari tau lebih banyak tentang dia," perintahnya akhirnya. "Keluarganya, latar belakangnya, semuanya."

"Baik, Bu."

Pak Darto mengangguk, lalu keluar dari ruangan dengan langkah cepat, meninggalkan Ibu Retno yang kembali menatap layar ponselnya sendirian. Ada sesuatu di matanya yang sulit didefinisikan—bukan hanya kemarahan, tapi juga semacam ketakutan yang tersembunyi rapat di balik ekspresi tenangnya.

Tiga hari kemudian, Pak Darto kembali menghadap dengan sebuah map berisi kertas-kertas hasil penyelidikannya. Ibu Retno membukanya perlahan, membaca setiap detail dengan seksama.

"Larasati," gumamnya, membaca nama lengkap yang tertera. "Anak dari Slamet Riyadi, mantan buruh pabrik tekstil yang bangkrut tiga tahun lalu. Sekarang kerja serabutan." Ia melanjutkan membaca, alisnya berkerut semakin dalam. "Ibunya jualan kue kecil-kecilan. Rumah kontrakan di gang sempit."

"Begitu informasi yang saya dapat, Bu."

Ibu Retno menutup map itu dengan gerakan pelan namun tegas, seperti sedang menutup sebuah keputusan yang sudah bulat di kepalanya.

"Terima kasih, Darto. Kamu boleh keluar."

Setelah Pak Darto pergi, Ibu Retno duduk sendirian, menatap jendela besar yang menghadap ke taman rumahnya yang luas. Pikirannya melayang jauh ke masa lalu, ke pernikahannya sendiri yang penuh dengan pertimbangan bisnis dan status, ke bagaimana ia sendiri dulu harus mengalahkan berbagai perasaan pribadi demi menjaga nama baik keluarga.

Ia tidak ingin anaknya mengulangi kesalahan yang sama seperti yang pernah ia lihat menimpa keluarga-keluarga lain—pewaris yang jatuh cinta pada orang yang "tidak sepadan", lalu berakhir dengan skandal, kehilangan reputasi, atau bahkan kehilangan kendali atas bisnis keluarga karena keputusan yang diambil berdasarkan emosi semata.

Bukan karena aku benci gadis itu secara pribadi, pikirnya, mencoba meyakinkan diri sendiri. Tapi karena aku tau bagaimana dunia ini bekerja. Cinta saja tidak cukup untuk bertahan di tengah tekanan yang akan mereka hadapi.

Malam harinya, saat makan malam keluarga, Ibu Retno mengamati Raka dengan seksama—cara putranya makan dengan pikiran yang jelas melayang ke tempat lain, cara ia sesekali tersenyum sendiri saat ponselnya bergetar menerima pesan.

"Raka," panggilnya, memecah keheningan.

"Ya, Ma?"

"Kamu inget kan soal makan malam minggu depan?"

"Inget, Ma."

"Ibu udah konfirmasi ke keluarga Pak Hartono. Mereka juga excited banget kamu bakal ketemu Melati."

Raka mengangguk singkat, tidak menunjukkan antusiasme yang diharapkan ibunya, namun juga tidak menunjukkan penolakan terang-terangan.

"Kamu kenapa akhir-akhir ini sering senyum-senyum sendiri liat HP?" tanya Ibu Retno, nadanya dibuat santai meski matanya menatap tajam.

Raka tersentak sedikit, cepat-cepat menyimpan ponselnya. "Nggak ada apa-apa, Ma. Cuma temen kantor."

"Temen kantor yang mana? Ibu kenal?"

"Bukan orang penting, Ma."

Ibu Retno tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Kalau bukan orang penting, kenapa kamu keliatan seneng banget?"

Raka terdiam, mencoba mencari jawaban yang aman. "Ya... lucu aja obrolannya."

"Oh gitu." Ibu Retno melanjutkan makan, seolah tidak ada yang mencurigakan dari jawaban itu. Namun dalam hatinya, keyakinannya semakin bulat—ada sesuatu yang disembunyikan putranya, dan ia sudah tahu persis apa itu.

Ayah Raka, yang sejak tadi hanya diam menyantap makanannya, akhirnya angkat bicara. "Sudahlah, biarkan Raka sendiri yang menentukan. Yang penting dia hadir di makan malam nanti, kenalan sama Melati. Selebihnya, biar waktu yang menentukan."

"Aku setuju, Pa," jawab Raka cepat, berharap topik ini segera berakhir.

Ibu Retno tidak melanjutkan perdebatan, meski di dalam hatinya, ia sudah menyusun rencana yang jauh lebih rumit daripada sekadar makan malam perkenalan.

Malam itu, setelah makan malam selesai, Raka menyempatkan diri menelepon Laras dari balkon kamarnya, suara pelan agar tidak terdengar siapa pun.

"Kamu udah makan?" tanya Raka begitu sambungan tersambung.

"Udah. Kamu?"

"Baru aja."

"Kedengerannya capek."

"Sedikit," Raka menghela napas panjang. "Ibuku terus nanya-nanya soal makan malam minggu depan."

"Kamu ngomong apa?"

"Aku bilang bakal dateng."

Ada jeda sejenak di seberang telepon sebelum Laras kembali bersuara. "Raka, aku mikir terus soal ini. Mungkin... mungkin emang lebih baik kamu fokus dulu ke keluarga kamu. Kita bisa—"

"Jangan," potong Raka cepat. "Jangan mulai lagi soal itu."

"Aku cuma realistis, Raka. Aku takut kalau nanti—"

"Laras," Raka memotong lagi, suaranya melembut namun tegas. "Aku udah bilang, hatiku tetep di kamu. Nggak peduli berapa banyak makan malam yang harus aku hadiri, nggak peduli berapa banyak perempuan yang dikenalin ke aku. Itu nggak akan mengubah apa pun."

"Aku percaya kamu," jawab Laras pelan, "tapi kadang aku takut, percaya aja nggak cukup buat ngelawan tekanan sebesar itu."

"Kasih aku waktu. Aku janji, aku bakal cari cara yang tepat buat ngomong ke Ibu."

"Aku harap kamu bener-bener nemuin cara itu, secepatnya."

Raka tersenyum kecil mendengar nada suara Laras yang meski penuh kekhawatiran, tetap menyimpan kepercayaan yang tulus. "Aku janji."

Mereka melanjutkan percakapan itu hingga larut malam, membicarakan hal-hal kecil yang tidak ada hubungannya dengan tekanan keluarga atau ketakutan akan masa depan—hanya dua orang yang berusaha menikmati kebersamaan sederhana di tengah badai yang perlahan mulai terbentuk di kejauhan, tanpa mereka sadari seberapa dekat badai itu sebenarnya sudah berada.

Sementara di ruang kerjanya yang dingin, Ibu Retno masih terjaga, menyusun rencana di atas kertas dengan tulisan tangan yang rapi dan tegas—rencana yang, jika berhasil dijalankan, akan mengubah segalanya bagi dua orang muda yang sedang jatuh cinta tanpa menyadari bahaya yang mengintai dari kegelapan rumah besar itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!