"Budget nya ini terlalu berlebihan, harus lebih efisien!"
Kenzo Swara, memberikan revisi untuk Rain Edelweis tak terhitung jumlahnya.
Lelah dan ingin marah, tapi nasib sial Rain memang ada di tangan Teman Rival kantornya itu. Kepala Tim Marketing vs Kepala Tim Perencanaan memang sering bentrok.
Di sisi lain, ada Divisi Humas yang selalu jadi penengah.
Apa jadinya kalau rival kantor Rain malah diam diam suka sama Rain?
Padahal setiap hari Rain selalu mencacinya.
Simak kisah mereka disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumor
Senin pagi, suasana kantor terasa berbeda dari biasanya. Bukan karena gosip receh soal hubungan pribadi seperti yang sering terjadi, tapi karena sebuah rumor besar yang mulai menyebar cepat di antara karyawan, rumor tentang rencana merger perusahaan dengan salah satu kompetitor besar di industri yang sama.
"Katanya, kalau merger ini beneran kejadian, bakal ada perampingan struktur," bisik Sari kepada Rain begitu mereka bertemu di pantry. "Bisa aja beberapa posisi digabung, atau malah dihapus."
Rain merasa jantungnya berdebar mendengar itu. Proyek besar yang selama ini dia dan Kenzo perjuangkan bersama, kerja keras yang mereka bangun dari nol, tiba-tiba terasa terancam oleh ketidakpastian yang jauh lebih besar dari sekadar masalah teknis proyek.
"Ini baru rumor, kan? Belum resmi?" tanya Rain, berusaha tetap tenang.
"Belum resmi, tapi katanya minggu ini bakal ada pengumuman dari direksi," jawab Sari, wajahnya juga menyiratkan kekhawatiran yang sama.
---
Siang harinya, Rain bertemu Kenzo di ruangan proyek mereka, mendapati Kenzo tampak lebih serius dari biasanya, sibuk membaca sesuatu di layar laptopnya.
"Kamu udah denger soal rumor merger?" tanya Rain, duduk di kursi biasanya.
"Udah," jawab Kenzo singkat, menutup laptopnya. "Dan ini bukan cuma rumor. Aku dapat informasi dari orang dalam direksi, ini beneran sedang dalam tahap negosiasi serius."
Rain merasa perutnya bergejolak mendengar konfirmasi itu. "Terus, gimana nasib proyek kita? Nasib tim kita?"
"Belum ada kepastian," Kenzo menjawab jujur, meski nada suaranya tetap berusaha tenang untuk meyakinkan Rain. "Tapi kemungkinan besar, perusahaan hasil merger bakal melakukan evaluasi ulang semua divisi, termasuk proyek-proyek yang sedang berjalan."
"Termasuk proyek kita?" Rain bertanya, suaranya mulai gemetar.
"Termasuk," Kenzo mengakui, meski dia segera menambahkan, "tapi proyek kita udah nunjukin hasil positif yang signifikan. Angka-angka kita bagus, ROI-nya jelas. Itu jadi nilai plus kalau evaluasi beneran terjadi."
Rain menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri meski kekhawatiran masih menggantung berat di pikirannya. "Kalau misalnya proyek kita dihentikan, gimana nasib tim kita? Nasib kita?"
Kenzo terdiam sejenak, tampak berpikir keras sebelum menjawab dengan hati-hati. "Aku nggak bisa janji apa-apa soal itu, Rain. Tapi apa pun yang terjadi, aku janji kita hadapi bareng-bareng."
---
Beberapa hari berikutnya dipenuhi dengan ketegangan dan spekulasi yang terus berkembang di kantor. Rapat demi rapat internal diadakan, sementara karyawan-karyawan mulai membicarakan kemungkinan terburuk, PHK massal, restrukturisasi besar-besaran, atau bahkan perubahan total budaya kerja yang selama ini mereka kenal.
Di tengah kekacauan itu, Pandu mendekati meja Rain suatu sore, membawa ekspresi serius yang jarang terlihat di wajahnya.
"Kamu udah denger soal daftar posisi yang bakal dievaluasi?" tanya Pandu, suaranya pelan seperti berbagi rahasia.
"Belum, ada apa?" Rain langsung waspada.
"Katanya, posisi manajer di beberapa divisi bakal digabung jadi satu, termasuk kemungkinan Marketing dan Finance disatuin di bawah satu manajemen," jelas Pandu. "Kalau itu beneran terjadi, salah satu dari kalian, kamu atau Kenzo, mungkin harus... ya, kamu tahu sendirilah."
Rain merasa dadanya semakin sesak mendengar kemungkinan itu. Bukan cuma soal kariernya sendiri yang dipertaruhkan, tapi juga hubungan kerja sama yang selama ini dia bangun begitu erat dengan Kenzo.
"Makasih infonya, Pandu," kata Rain, mencoba tetap tenang meski dalam hati mulai panik.
"Semoga semuanya baik-baik aja, Rain," Pandu menjawab tulus, menunjukkan dukungan yang kini murni sebagai sahabat, jauh dari rasa canggung yang dulu sempat menghantui hubungan mereka pasca penolakan.
---
Malam itu, Rain menceritakan semua kekhawatirannya kepada Kenzo lewat telepon, suaranya bergetar menahan tangis yang hampir pecah.
"Aku takut, Kenzo," aku Rain jujur. "Bukan cuma soal posisi aku. Aku takut, kalau salah satu dari kita harus 'mengalah', itu bakal ngerusak semua yang udah kita bangun bareng-bareng baik di kerjaan, maupun di hubungan kita."
"Rain, dengerin aku," kata Kenzo, suaranya tenang namun penuh keyakinan. "Apa pun keputusan direksi nanti, itu nggak akan pernah mengubah apa yang aku rasain ke kamu. Kalaupun salah satu dari kita harus pindah posisi, atau bahkan pindah perusahaan sekalipun, itu nggak akan mengubah komitmen aku sama kamu."
"Tapi gimana kalau ternyata yang harus 'mengalah' itu kamu? Kamu kan yang punya masa depan lebih jelas di perusahaan keluarga kamu sendiri," Rain bertanya, mencoba realistis menghadapi kemungkinan terburuk.
"Kalaupun itu terjadi, aku nggak keberatan," jawab Kenzo tegas. "Karir aku penting, tapi bukan segalanya. Aku lebih peduli sama masa depan kita berdua, dibanding sekadar posisi atau jabatan."
Rain terdiam, terharu mendengar ketulusan itu. "Aku nggak nyangka kamu bakal seyakin itu."
"Karena aku emang yakin," Kenzo menjawab sederhana. "Apa pun tantangan yang datang, kita hadapin bareng. Itu janji aku dari awal, dan aku nggak akan mundur dari itu."
---
Seminggu kemudian, pengumuman resmi akhirnya disampaikan oleh direksi dalam rapat besar seluruh karyawan. Merger memang benar-benar terjadi, namun berbeda dari kekhawatiran awal, restrukturisasi yang dilakukan justru mempertahankan sebagian besar tim yang sudah menunjukkan performa baik, termasuk tim proyek yang dipimpin Rain dan Kenzo, yang justru dijadikan contoh model kolaborasi lintas divisi yang akan diterapkan di seluruh perusahaan hasil merger.
"Proyek yang dipimpin Saudari Rain dan Saudara Kenzo," kata direktur utama perusahaan hasil merger dalam pidatonya, "adalah contoh nyata bagaimana kolaborasi lintas divisi bisa menghasilkan hasil optimal. Kami berencana menjadikan model kerja sama ini sebagai standar baru di seluruh perusahaan."
Rain dan Kenzo saling bertukar pandang, keduanya merasa lega yang luar biasa, hampir tidak percaya bahwa ketakutan yang mereka rasakan selama seminggu terakhir berakhir dengan kabar yang jauh lebih baik dari yang mereka bayangkan.
Begitu rapat besar itu berakhir, mereka berdua keluar bersama, berjalan menyusuri koridor kantor yang kini dipenuhi suasana lega dari banyak karyawan lain yang juga merasakan hal yang sama.
"Kita berhasil lagi," bisik Rain, menggenggam tangan Kenzo erat.
"Kita selalu berhasil, selama kita hadapin bareng-bareng," jawab Kenzo, tersenyum lembut ke arah Rain.
Sore itu, dengan beban besar yang akhirnya terangkat dari pundak mereka, Rain dan Kenzo menyadari sekali lagi betapa kuatnya fondasi yang telah mereka bangun bersama, bukan hanya sebagai pasangan, tetapi juga sebagai rekan kerja yang saling melengkapi dalam menghadapi setiap badai yang datang menerjang.
se mistery apa dia...
biasany kalo rival gitu kan harus deket buat saling cekcok 🤭 tpi nyatanya ada hati disana...