Indonesia
NovelToon NovelToon
Bercerai Dari Suami Keji, Demi Calon Anakku.

Bercerai Dari Suami Keji, Demi Calon Anakku.

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Rumah Tangga
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Raisa Adiratna akhirnya menyerah akan pernikahannya, karena selalu mendapatkan KDRT dari sang suami---Dion Raharja. Dion seorang Pengacara kondang terkenal, di jodohkan atas desakan orangtuanya. Ada satu alasan kuat kenapa Dion membenci istrinya, sampai Dion mengancam jika sampai Raisa hamil maka tak segan Dion akan mengaborsi kandungan itu. Raisa yang mendengar itu ketakutan, wanita yang sudah menjadi yatim piatu itu terpaksa meminta cerai dari Dion karena dirinya hanya memiliki anak di kandungannya, tanpa di ketahui oleh Dion jika Raisa sedang hamil muda. Setelah bertahan di bawah hinaan Dion dan teman-temannya termasuk gundik suaminya---Chelsea. Chelsea seorang wanita yang bekerja sebagai LC di sebuah club. Setelah berhasil menceraikan Raisa, Pria itu menikahi gundiknya. Namun Karma dibayar konstan Dion mengalami kecelakaan yang membuatnya mandul hingga Chelsea meninggalkannya. Dion berusaha mencari mantan istrinya demi mendapatkan maaf, lalu apakah Dion sadar sudah punya anak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Baru saja Raisa keluar kamar mandi, dengan rambut basah yang terbungkus handuk dan tubuhnya mengenakan handuk lain menyerupai kemben.

Kali ini kamar ini di gantikan oleh aura dominasi Dion, tanpa menunggu lama pria itu melangkah menuju lemari.

Untuk mengambil sepotong lingerie lalu di lempar kasar ke wajah Raisa.

"Pakai itu!!" teriak Dion, suaranya menggelegar memecah kesunyian malam yang seharusnya damai.

Raisa menangkap kain itu dengan tangan gemetar, sontak Raisa membelakangi Dion untuk mengenakan lingerie berwarna hitam pekat itu.

Lingerie itu memiliki model kemben yang pendek sampai batas pahanya.

Raisa melepas handuk yang melekat di tubuhnya, dan mengenakan lingerie itu dengan posisi membelakangi Dion.

Dirinya memunggungi Dion mencoba mencari sisa-sisa privasi untuk mengenakan lingerie itu, dan di belakang merasa ada tatapan dari suaminya.

Entah mengapa Raisa merasa jika dirinya adalah sebuah manekin, yang bisa di dandani sesuka hati untuk memuaskan ego Dion.

Setelah selesai Raisa melepas handuk dan mengenakan lingerie itu, dari belakang Dion melepaskan handuk di kepala Raisa.

Rambut Raisa masih basah, dengan mengenakan lingerie.

Dari belakang Dion sudah memeluknya, dan Raisa merasakan tubuh Dion yang atasnya tanpa sehelai benang, dan bawahnya mengenakan boxer.

Di bagian bawahnya Raisa seolah merasa ada yang keras menekan bokongnya.

Dion kini hanya mengenakan celana boxer hitam sepanjang lutut, tubuhnya nampak atletis.

Kedua tangannya terlihat melingkar di pinggang ramping Raisa, tangannya dengan nakal meraba setiap bagian depan miliknya.

"Kamu harum sekali, aku suka aroma shampomu," bisik Dion di telinga kirinya.

Lalu Dion mencium leher Raisa, dan merasakan jika jambang tipis itu sensasi geli dan tajam.

Raisa berdiri mematung sambil mengigit bibirnya sendiri seolah menahan amarah yang ingin berontak.

"Apa Dokter Hassan melakukan ini padamu?" bisiknya.

Raisa yang seolah lelah dengan pengulangan pertanyaan dari Dion hanya diam, dan tak mau bicara lagi.

Dion tiba-tiba melepaskan pelukannya lalu menarik paksa pergelangan tangan istrinya.

Hal yang dilakukannya adalah mengambil seutas tali kain, dan mengikat kedua tangan Raisa di depan tubuhnya.

"Sini," perintah Dion dengan nada dingin.

Dion menyuruh Raisa duduk di tepi ranjang, dan membuat Raisa berbaring di atas pangkuannya dengan posisi tertelungkup.

Tangan Dion menyibak lingerie warna hitam pekat itu, dan memperlihatkan dua bokong Raisa yang menggoda.

Plak!

Pukulan keras mendarat di bokong Raisa, membuat wanita itu menjerit tertahan.

Kedua tangannya mencengkeram sprei ranjang dengan posisi tangannya masih terikat.

Raisa merasa panas seketika di kulitnya.

Plak!

Pukul Dion sekali lagi, Raisa hanya mengigit bibir bawahnya saat dirinya merasakan pukulan kedua kalinya.

Pukulan itu terasa sampai berulang kali, sampai tangan Raisa yang meremas ujung sprei dalam keadaan terikat.

"Ini hukuman kamu karena sudah berani membangkang dan berduaan di rumah sakit dengan Dokter itu!" geram Dion, suaranya serak oleh kecemburuan yang irasional.

Sekali lagi tangannya mengayun, memukul pantat Raisa berkali-kali.

"Mas! Aku capek ama kamu! Gimana lagi cara aku jelasin! Kalo aku ama Dokter Hassan itu nggak ada apa-apa!" teriak Raisa.

Setiap kali Raisa mengatakan nama Hassan, kemarahan Dion kembali meledak dalam bentuk pukulan yang meninggalkan rasa perih dan panas yang mendalam.

Setelah beberapa saat yang terasa selamanya, Dion berhenti.

Napas keduanya memburu, lalu Dion melakukan hal yang tak terduga.

Mendudukkan tubuh Raisa dan membaringkannya diatas ranjang---tubuh Raisa sudah lemas dan Dion menindihnya.

Seolah memiliki kepuasan saat menatap wajah istrinya yang merah dan matanya sembab, lalu Dion menindih tubuh Raisa.

Bibir keduanya saling tertaut satu sama lain, kali ini Dion secara spontanitas melepaskan ikatan yang membelenggu tangan istrinya.

Dion dengan tak sabar mendaki gunung yang padat itu, dan mencoba kuncup bunga yang ada di atas gunung---menyapa dengan lidah dan bibirnya.

Kuncup bunga yang ada di atas gunung, Raisa memejamkan matanya seolah malam ini sang suami hanya ingin berhubungan biasa----Tanpa penyiksaan.

Tangan Raisa membelai lembut kepala sang suami, dengan tangannya yang halus---rambut sang suami tipis kaya potongan buzzcut.

Lalu Dion kembali menenggelamkan wajahnya di antara dua gunung itu, seolah sangat menikmati istrinya.

Setelah puas menikmati pemandangan diatas gunung itu, Dion menarik tangan istrinya---keduanya diatas ranjang berdiri dengan menggunakan lutut.

Dua gunung itu sudah basah, karena Dion menikmati kedua kuncup bunga edelweis itu menggunakan bibir dan lidahnya.

Dion mengusap pipi Raisa dengan satu tangan, lalu bibirnya merengkuh manisnya bibir istrinya.

"Kamu sangat manis malam ini," ucapnya, membelai lembut pipi istrinya.

Kini, posisi Dion duduk dan Raisa duduk di atas kaki Dion dengan aktivitas berkuda.

Dion pelan-pelan menancapkan patok miliknya diantara kedua pilar putih mulus milik Raisa.

"Akhhh," ucap keduanya bersiap untuk berkuda, tubuh keduanya berhadapan---dan langsung saja Dion mengendarai kudanya menuju lembah tersembunyi.

Kedua tangan Raisa menggalung di leher dan bahu Dion, dan bagian pinggang terus bergerak mengikuti irama orang berkuda.

Kuda itu sudah masuk ke bagian terdalam lembah tersembunyi milik Raisa, debu, panas, dan tentu sungai juga ada disana.

Sementara, di bawah sana Dion masih berkuda dengan wajahnya yang selalu mengarah ke dua gunung di depan lembah.

"Menyingkir sedikit sayang, dua benda ini menghalangiku," ucap Dion.

Raisa menjauhkan depan dadanya sedikit, dan Dion langsung mengambil bunga edelweis itu untuk di hisap.

Satu di genggamannya dan satu lagi di hisap, sementara Raisa merasakan surga nirwana dari bagian lembah tersembunyi miliknya.

"Gerakin," pinta Dion agar Raisa mengambil alih arah kuda mereka.

Raisa perlahan memegang kendali dengan menggerakkannya, sudah tiga hari ini Raisa ikut berkuda dengan suaminya---hal yang membuatnya terlatih bagaimana membuat suaminya terhibur.

Tak mudah karena suaminya selalu ingin dirinya menghibur lebih lama, dengan berkuda.

"Raisa berhenti sebentar aku mau pipis," pintanya, Raisa menghentikan arah laju kudanya dan Dion langsung mencari tempat pipis di area lembah tersembunyi itu.

Sampai puncak pelepasan, Dion menjerit saat mulai pipis.

"Akhhh...Akhhh, oh shittt!" teriak Dion karena pipisnya keluar banyak.

Raisa hanya diam, kedua tangannya mencengkram kedua bahu besar Dion---terlihat Raisa masih duduk manis di atas kuda.

Posisi keduanya masih duduk bersama, di atas kuda belum mau menyudahinya.

Dion mengigit kuncup bungan edelweis itu, dan menenggelamkan wajahnya di antara dua gunung kembar Raisa.

"Kita kembali sayang ke arah dua pilar itu," ucap Dion.

Dion mengendalikan arah kemudi kudanya, namun saat mau di sudahi---Raisa menjerit hebat---hujan turun dengan gerimis.

Seketika tangannya mencengkram kuat bahu Dion, "Mas...aku...akh," ucapan Raisa terhenti saat Dion memeluknya hanya agar Raisa tak melepas kudanya.

Raisa---pertama kalinya di peluk oleh Dion, keduanya masih seperti itu diam di atas kuda dengan gerimis dari lembah tersembunyi milik Raisa.

Napas keduanya tersengal hebat.

Malam semakin larut, keduanya menyudahi aktivitas berkuda---saat patok di lepas yang paling menjerit keras adalah Raisa.

Keduanya kini posisi berbaring di atas kasur yang berantakan, karena aktivitas berkuda mereka yang membuat debu-debu berterbangan.

Raisa yang lingerienya sudah di benarkan oleh Dion yang hanya mengenakan boxer hitam.

Wanita ini kini tidur memeluk Dion, sementara Dion memeluk tubuh itu yang sudah lelah.

Mencium puncak kepala Raisa, meski dirinya membenci sang istri tak bisa di pungkiri jika dirinya sangat terobsesi dengan tubuh Raisa.

Di bawah cahaya lampu tidur yang hangat, suasana tampak seperti kemesraan sepasang suami istri biasa.

Namun bagi Raisa, pelukan itu terasa seperti lilitan rantai yang tak terlihat, mengikatnya dalam kegelapan yang seolah tidak akan pernah bertemu fajar.

*

*

*

*

1
Sunarti Narti
Thor ini ceritanya ganti judul,tapi tokonya masih sama,tapi Thor jangan banyak kekerasan dalam rumah tangga, serem baca nya,🙏🙏🙏🙏👍👍👍👍😍😍😍😍😍😍😍😍😍
Putri Sabina: yang ini KDRT, ceritaku yang mayor nggak ada kok kak🥲
total 1 replies
Ma Em
Raisa kamu jgn lemah dong lawan Dion kalau Raisa takut maka Dion akan semakin senang melihat hdp Raisa tersiksa , makanya lawan jgn cuma menangis sdh tanggung Raisa diam tdk melawan disiksa dipukul kalau melawan dipukul wajar tapi kalau diam dan menangis saja lbh parah .
Putri Sabina: gimana mau lawan kak, kan nggak punya penghasilan🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!