Zhafira Nayara Humaira, gadis berparas cantik, namun yatim piatu. Memiliki kepribadian lembut, ramah dan tegas dalam bersikap. Kini sedang berkuliah lewat jalur beasiswa.
Tak sedikit Mahasiswa yang ingin menjadikan pacar tapi selalu ia tolak secara halus, karena ia tak ingin fokusnya terganggu. Hingga ia menerima Bryan, pria yang selalu ada untuknya. Mereka memutuskan untuk menikah siri dan tinggal di aparteman yang sama.
Setelah wisuda selesai, Bryan izin pulang ke Jakarta, Zhafira sering mual dan muntah. Di tengah ketidaknyamanan, Zhafira tak sengaja menyaksikan siaran langsung di TV. Brian, suaminya sedang melangsungkan pertunangan dengan wanita cantik, elegan.
Seketika dadanya seperti tertusuk jarum besar, perih dan menyakitkan. Bersamaan itu ia baru saja mengetahui kalau dirinya sedang hamil.
Bagaimana ia menghadapi kenyataan pahit itu? Mampukah ia bertahan demi nyawa yang dikandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 KELAHIRAN BAYI KEMBAR
SELAMAT MEMBACA !!!
Mata Bryan seketika terbuka lebar, "AP...PA?!" teriak Bryan sangat shock mendengar Dokter itu mengatakan kontraksi seperti orang yang akan melahirkan.
"Tak mungkin saat Fira pergi dia sedang hamil. Ya Allah ampuni dosa hamba ya Allah, yang telah menyia-nyiakan istri hamba ya, Allah. Lindungi dia dimanapun dia berada ya, Allah. Hamba terima sakit ini jika ini bisa mengurangi rasa sakitnya ya, Allah," serunya lirih dengan suara bergetar penuh penyesalan.
☆☆☆♡♡♡♡☆☆☆
Di Negara Belanda, Fira sudah siap melahirkan. Ia ditemani Nyonya Sintya.
"Semangat, Sayang. Sebentar lagi kita akan ketemu dengan kedua buah hatimu. Selalu lafalkan doa untuk kelancaran melahirkan buah hatimu!" seru Nyonya Sintya berada di sebelah kepalanya Fira.
Fira tersenyum dan menganggukan kepalanya, "Siap, Ma. Selalu doakan aku ya, Ma. Tapi sakitnya kok mendadak hilang ya, Ma!" seru Fira dengan lirih.
Nyonya Sintya mengangguk, "Biarkan, Papanya yang merasakannya, Sayang. Kedua anakmu sangat pintar membagi rasa sakitnya. Cepat keluar ya sayangnya, Oma. Bantu kerja samanya ya, Sayang!" ucap Nyonya Sintya sambil mengusap perutnya Fira.
Di luar ruangan itu, Amanda mondar mandir gelisah, takut terjadi apa-apa dengan Fira dan kedua anaknya.
"Kamu harus tenang, Sayang. Jangan sampai waktu Fira keluar, kamu malah sakit dengan rasa gelisah kamu, sendiri. Duduklah dan bantu doa, semoga baik-baik saja!" perintah Haikal kepada istrinya.
Baru saja duduk di kursi sebelahnya Haikal tiba-tiba terdengar suara tangis bayi.
"Oek...Oek...Oek."
"Alhamdulillah ya Allah!" seru Haikal dan Amara dengan rasa syukur, bayi Fira sudah lahir satu.
Selang lima menit tangis bayi terdengar lagi.
"Oek...Oek...Oek."
"Alhamdulillah, Mas. Mereka sudah lahir semua!" seru Amara dengan meneteskan air matanya, ia langsung memeluk tubuh suaminya.
Pintu dibuka dari dalam, keluarlah Nyonya Sintya. Haikal dan Amara langsung berdiri menghampiri Mamanya. "Bagaimana keadaannya Fira dan kedua anaknya Ma?" tanya Amara dengan semangat tapi dalam hatinya masih deg-degan.
Nyonya Sintya mengusap kepala menantunya. "Alhamdulillah mereka sehat semua, Sayang. Adikmu sedang dibersihkan dan kedua bayinya sebentar lagi akan dibawa keluar oleh suster untuk dibersihkan dulu," jawab Nyonya Sintya dengan tersenyum cerah, kebahagiaannya bertambah dengan kehadiran kedua cucunya.
Di belakang mereka suster mendorong ranjang box yang berisi kedua buah hatinya Fira.
"Maaf, sus. Apa kami boleh melihat sebentar dan mengambil satu gambarnya?" tanya Haikal dengan penuh permohonan.
"Silahkan Tuan, Nyonya. Nanti akan saya bersihkan dulu, baru saya akan antar ke ruang Nyonya Fira," jawab suster itu mengizinkan.
Haikal dan Amata tak menyia-nyiakan kesempatan itu, mereka langsung mendekat ke arah dua bayi yang sedang tidur itu.
"Masya Allah tampan dan cantiknya, Mas. Aku sudah tak sabar ingin menggendongnya, Mas, Ma!" teriak heboh Amara tatapannya fokus kedua bayi kecil yang baru dilahirkan itu.
Suster meminta izin membawa kedua bayi itu untuk dibersihkan lebih dulu. Haikal dan Amara langsung mundur memberi jalan kepada suster itu.
Ia melihat hapenya melihat foto yang diambilnya tadi. Langsung dibuat wallpaper hapenya. Amara semangat segera mengirimkan ke grup keluarga, di sana juga sudah ada Tasya dan Elena.
Hape Amara tak berhenti berbunyi dari semenjak, ia mengirimkan foto bayi kembar yang tampan dan cantik itu.
Dari ruang bersalin, ranjang Fira di dorong oleh dua suster, membawanya ke ruang VIP yang sudah dipesan oleh Haikal.
Sesampainya di ruangan itu, Amara langsung memeluk tubuhnya Fira sambil menangis haru, "Selamat, Dek. Kamu sudah menjadi Mama dari dua bayi yang tampan dan cantik!" seru Amara dengan suara serak, karena dia sambil menangis.
Fira membalas pelukan Kakaknya itu. "Terima kasih, Kak. Selamat juga buat Kak Amara sudah menjadi Mommynya anak-anak," jawab Fira.
Amara tambah keras tangisnya saat mendengar ucapannya Fira yang mengizinkan dirinya juga menjadi Mommynya.
Pintu diketuk dari luar, masuklah kedua suster yang mendorong ranjang box khusus bayi. "Maaf, Nyonya Fira. Nanti kalau bayinya menangis tolong diberikan Asinya ya. Jika kalian belum bisa memberikan Asinya, tolong hubungi kami ya, Nyonya, Tuan!" pesan suster itu.
"Baik, sus. Terima kasih," jawab mereka berempat.
Fira menatap wajahnya Haikal, ia berucap, "Abang, boleh Fira minta tolong untuk mengadzani mereka berdua. Seharusnya Mas Bryan..."
Haikal maju mendekat ke arah Fira. "Sudah, jangan dipikirkan lagi. Abang yang akan mengadzani mereka, sebagai Daddynya," ucap Haikal menenangkan hatinya Fira.
Haikal dibantu Mamanya mengambil bayi laki-laki dulu, karena ia yang lahir duluan, "Pelan-pelan, Nak. Nak Amara tolong ambilkan bantal itu untuk alasnya!" perintah Nyonya Sintya.
Amara dengan sigap memberikan bantal kepada mertuanya tapi Nyonya Sintya menyuruh menaruhnya di tangannya Haikal, lalu bayi laki-laki itu di letaknya di atas bantal.
Haikal mulai mengumandangkan suara adzan dan diakhiri iqamah. Begitupun dengan bayi perempuan. Mereka hanya bergerak tapi tak menangis.
"Pintarnya kamu, Sayang!" seru Haikal mencium kening bayi perempuan itu.
Sementara Amara menggendong bayi laki-laki, ia duduk di sofa takut bayinya jatuh. Fira yang melihat kedua bayinya banyak yang tulus menyayanginya mereka, hatinya sangat dipenuhi rasa syukur yang begitu banyak. Matanya berkaca-kaca melihat pemandangan di hadapannya.
"Lihatlah, Mas. Kita sudah dikaruniai dua anak yang sangat lucu dan sempurna," ucapnya lembut didalam hati, seolah berbicara langsung dengan Bryan suaminya atau bahkan sudah mantan suaminya.
"Meski, kamu tak ada di sini, kasih sayang untuk mereka tak akan pernah kurang sedikit pun," ucapnya lagi.
Tiba-tiba suara tangis bayi yang digendong oleh Haikal. Nyonya Sintya langsung berdiri sigap mengambil bayi perempuan itu. "Mau minum asi ya, Sayang?" tanyanya pada bayi perempuan itu.
Nyonya Sintya melangkah menghampiri Fira yang duduk bersandar di sandaran ranjang, ia memberikan bayi itu pada Fira. Kemudian menutup tirai karena di sana ada putranya.
Fira mulai mengeluarkan sumber kehidupan anaknya. Bayi itu langsung menghisapnya dengan kencang. Fira meringis kesakitan.
"Pelan-pelan, Sayang. Mama kesakitan, pelan-pelan ya. Abang masih tidur jadi pelan-pelan minum asinya!" seru Nyonya Sintya membantu Fira memegang bantal untuk penyangga bayi itu.
Setelah bayi perempuan itu kenyang, gantian bayi laki-laki yang menangis minta minum asi. Gantian bayi perempuan dipangkuan Amara.
Hapenya terdengar video gabungan dari sahabatnya Fira.
"Assalamualaikum," sapa mereka yang tak sabar ingin melihat bayinya Fira.
"Walaikumsalam, Dek. Kalian ini sangat kompak sekali!" jawab Haikal dengan tersenyum.
"Bang, mana si kembar?" tanya Tasya.
Kamera langsung di arahkan ke bayi perempuan yang berada dipangkuan Amara.
"Ini yang cewek ya, Kak. Cantik banget keponakannya Aunty Sasa?" tanya Tasya.
Amara menganggukan kepalanya.
"Terus yang bayi laki-lakinya kemana, Bang?" gantian Elena.
"Tunggu sebentar, dia lagi minum asi. Kapan kalian mau terbang ke sini?" tanya Haikal.
"Kita ngikut bos Zafran, Bang. Bagaimana Fran, kapan kita terbang ke Belanda?"
"Kalau dua hari lagi, bagaimana apa kalian bisa?" tanya balik Zafran.
Di belakang Haikal ada Nyonya Sintya sedang menggendong bayi laki-laki. Haikal mengarahkan kameranya ke bayi laki-laki Fira.
"Masya Allah ini mah Bryan junior sebelas dua belas wajahnya!" seru Elena saat melihat layar hapenya berubah dengan bayi laki-laki yang mirip Bryan.
"Iya ini, minionnya Bryan. Bagaimana kabarnya Fira, Bang?"
Haikal langsung memberikan hapenya kepada Fira.
"Assalamualaikum, semua,"
"Walaikumsalam, Besty. Selamat ya Fir, kamu sudah menjadi Mama dari bayi yang tampan dan cantik."
"Terima kasih untuk semuanya. Aku tunggu kalian ke sini ya. Jangan lupa kadonya buat si kembar hehehehe,"
"Oke, siap. Kalau begitu kami tutup teleponnya, kamu harus istirahat supaya cepat sembuh, Assalamualaikum.
"Walaikumsalam."
Layar hape berubah jadi hitam, Fira menyodorkannya kepada Haikal. Nyonya Sintya menyuruh Fira untuk istirahat sebentar, mumpung kedua anaknya sedang tidur.