Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dosen / Duda
Popularitas:24.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Sore itu, rombongan BEM akhirnya tiba di desa tujuan. Udara pedesaan yang sejuk langsung menyambut mereka. Angin berembus pelan membawa aroma tanah dan pepohonan, sementara jalanan yang masih berdebu menjadi bukti bahwa desa itu masih asri dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan.

Satu per satu mobil dan angkot yang membawa para mahasiswa berhenti di area parkir dekat balai desa. Di sekitar mereka suasana masih relatif sepi. Warga belum banyak berkumpul. Hanya terlihat beberapa perangkat desa dan pemuda karang taruna yang sedang sibuk mempersiapkan lokasi penyambutan sekaligus membagi tempat tinggal bagi para mahasiswa.

"Pintunya pelan-pelan, ya!" Suara Ihsan terdengar memberi instruksi. "Jangan lupa cek lagi barang masing-masing. Kalau ada yang ketinggalan di mobil langsung lapor."

"Siap, Kak!" sahut beberapa anggota hampir bersamaan.

Pintu mobil mulai terbuka. Satu per satu mahasiswa turun sambil membawa tas ransel, koper, kardus logistik, hingga perlengkapan kegiatan.

Azel ikut turun dari mobil. Berbeda dengan pagi tadi, wajahnya kini sudah jauh lebih segar.

Azel baru saja menurunkan tas ranselnya ketika Sarah berjalan mendekat. Di wajahnya terukir senyum tipis yang sama sekali tidak ramah.

Ia berhenti tepat di samping Azel, lalu berbisik pelan agar hanya mereka berdua yang mendengar.

"Ck, jangan sok caper lo di sini."

Azel menoleh dengan dahi berkerut. "Hah?"

Sarah mendengus pelan. "Lo tau sendiri kan? Dari tadi Kak Fariz perhatian terus sama lo. Jangan pura-pura nggak sadar."

Azel menghela napas pelan. "Siapa yang caper sih, Kak? Gue cuma ngerjain tugas."

Sarah tertawa sinis. "Iya, tugas. Tapi kok yang dibantu terus cuma lo?"

Azel mulai merasa kesal. "Emang saya yang minta dibantu? Nggak, kan? Itu Kak Fariz yang nawarin. Kalau Kak Sarah nggak suka, ya jangan ngomong ke saya. Ngomong aja langsung ke Kak Fariz."

Sarah langsung membelalak. "Berani juga lo sekarang."

"Saya cuma jawab sesuai kenyataannya."

Belum sempat Sarah membalas, suara berat seseorang terdengar dari belakang mereka.

"Sarah."

Keduanya spontan menoleh.

Ibra berdiri beberapa langkah dari mereka dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan ketegasan.

"Apa yang sedang kalian lakukan?"

Sarah langsung tersenyum canggung. "Nggak ada apa-apa, Pak."

Ibra mengalihkan pandangan kepada Azel. "Kamu?"

Azel menggeleng pelan. "Nggak ada, Pak."

Ibra menghela napas tipis. "Kalau memang tidak ada berarti kalian punya waktu luang. Kalau begitu Sarah, bantu Bella menyusun konsumsi."

"Iya, Pak."

"Azel."

"Iya, Pak?"

"Kamu ikut saya. Kita cek lokasi balai desa sekaligus koordinasi dengan perangkat desa."

"I-iya, Pak."

Sarah menggigit bibirnya pelan melihat Azel justru diminta ikut oleh Ibra.

Sebelum melangkah, Ibra kembali berucap. "Di sini kita membawa nama kampus. Saya tidak ingin ada masalah pribadi sekecil apa pun mengganggu kegiatan. Fokus pada tugas masing-masing."

Kalimat itu terdengar seperti ditujukan kepada semua orang. Namun Sarah tau, itu juga merupakan teguran halus untuknya.

***

Mereka berjalan berdampingan menuju balai desa. Jalan setapak yang mereka lewati diapit hamparan sawah hijau. Sesekali angin sore berembus pelan, membuat suasana terasa jauh lebih tenang dibandingkan keramaian di area parkir.

Beberapa langkah berlalu tanpa satu pun dari mereka berbicara.nKeheningan itu justru terasa canggung.

Hingga akhirnya Ibra membuka suara lebih dulu.

"...Kamu marah sama saya?"

Azel yang sedang memperhatikan jalan langsung menoleh. "Hah? Saya?"

Ibra mengangguk pelan. "Iya."

"Kenapa harus marah, Pak?"

Ibra terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata pelan, "Ucapan saya beberapa hari yang lalu di ruangan saya."

Langkah Azel sedikit melambat. Ia langsung tahu ucapan yang dimaksud. Kalimat yang hingga kini masih sering terlintas di kepalanya.

"Kalau laki-laki itu saya, bagaimana?"

Dan... "Dia calon istri saya."

Azel mengembuskan napas kecil. "Saya sempat kaget."

"Hanya kaget?"

"Iya. Bapak tiba-tiba ngomong begitu. Saya kan bingung."

Ibra menatap lurus ke depan. "Maaf. Saya seharusnya tidak menyeret kamu ke masalah pribadi saya. Saya juga seharusnya tidak mengatakan hal seperti itu di depan mantan istri saya."

Nada suaranya terdengar tulus.nAzel menatap wajah dosennya beberapa detik. Baru kali ini, ia melihat Ibra meminta maaf tanpa mempertahankan egonya.

"Saya nggak marah, Pak. Cuma..."

"Apa?"

"Saya takut."

Ibra menoleh. "Takut?"

"Iya."

"Takut nanti Bapak kena masalah."

"Maksudnya?"

"Bapak dosen. Saya mahasiswa. Kalau ada yang salah paham bisa jadi fitnah."

Langkah Ibra kembali terhenti. Ia memandang Azel beberapa saat. Gadis itu benar-benar tidak memikirkan dirinya sendiri. Yang pertama kali ia khawatirkan justru nama baik orang lain.

Ibra tersenyum tipis. "Kamu selalu memikirkan orang lain, ya?"

Azel menggaruk pelan pipinya. "Kan memang harus begitu. Kata Abi menjaga nama baik orang itu juga bagian dari amanah."

Ibra mengangguk pelan. "Abi kamu mendidikmu dengan sangat baik."

Azel tersenyum kecil. "Iya. Tapi..." Kini Azel menatap Ibra dengan wajah sedikit lebih serius. "Saya juga mau minta satu hal sama Bapak."

"Apa?"

"Kalau nanti ada masalah seperti kemarin lagi jangan jadikan saya tameng."

Ibra terdiam. Kalimat itu menusuk hatinya. Ibra terdiam beberapa saat.

Kalimat Azel membuat langkahnya ikut terhenti.

"Saya tidak menjadikan kamu tameng, Acel."

Tanpa sadar, nama kecil itu kembali keluar dari bibirnya.

Azel sedikit tertegun mendengarnya. Sudah bertahun-tahun tidak ada yang memanggilnya dengan nama itu, selain beberapa orang terdekat di masa kecil.

Ibra melanjutkan dengan suara yang jauh lebih pelan. "Ucapan saya waktu itu serius. Saya benar-benar ingin—"

"Pak." Azel memotong ucapannya dengan lembut. Ia menatap Ibra tanpa ada sedikit pun kemarahan di wajahnya.

"Tolong jangan bicarakan hal itu sekarang. Saya ingin fokus sama kegiatan ini. Mahasiswa datang ke sini buat mengabdi. Bapak juga datang sebagai dosen pembina. Kalau kita membahas masalah pribadi, saya takut nanti malah mengganggu amanah kita di sini."

Angin sore kembali berembus pelan. Beberapa helai daun padi bergoyang mengikuti arahnya. Ibra menatap gadis di hadapannya cukup lama.

Ia ingin mengatakan banyak hal. Tentang perasaannya. Tentang alasan mengapa ia tak lagi bisa menganggap Azel hanya sebagai "Acel" kecil yang dulu dikenalnya.

Namun ia juga sadar. Apa yang dikatakan Azel tidak salah. Mereka sedang berada dalam kegiatan resmi kampus.

Ia mengembuskan napas panjang. "Maaf. Kamu benar."

Azel yang sejak tadi berjalan di samping Ibra tiba-tiba teringat pada seseorang. "Arjun sama siapa, Pak?"

Ibra menoleh sekilas. "Saya titip sama ART di rumah."

"Oh..." Azel mengangguk pelan. "Terus Arjun nggak rewel?"

Ibra terkekeh kecil. "Awalnya menolak. Dia malah minta ikut ke sini."

Azel tersenyum. "Serius?"

"Iya. Katanya mau ketemu kamu."

Azel langsung menggeleng geli. "Anak itu... Tapi akhirnya dia mau ditinggal?"

"Dengan susah payah saya membujuknya. Setelah itu dia malah meminta pergi ke rumah Opa kamu."

Azel langsung menoleh. "Ke rumah Opa?"

Ibra mengangguk. "Iya katanya mau bermain sama Opa. Saya pikir daripada dia terus merengek, lebih baik saya izinkan."

Azel tersenyum kecil. "Untung Opa memang suka anak-anak. Terutama Arjun. Kelihatannya Arjun juga nyaman sama Opa."

Ibra mengangguk. "Itu yang membuat saya tenang. Daripada dia sendirian di rumah."

Azel mengangguk setuju. "Iya. Kalau begitu nanti selesai kegiatan, saya telepon Opa. Mau tanya Arjun."

Ibra menatap Azel beberapa detik sebelum kembali mengarahkan pandangan ke depan. "Dia pasti senang kalau kamu yang menelepon."

Azel tersenyum. "Semoga dia nggak minta macam-macam lagi."

Ibra tertawa kecil. "Sepertinya itu sulit."

Azel ikut tertawa. "Jangan-jangan nanti dia minta saya pulang dari desa."

"Kalau itu terjadi..." Ibra menahan senyum. "...saya yang akan membujuknya."

Azel mengangkat alis. "Pak Ibra bisa membujuk Arjun?"

Ibra menatapnya datar. "Jangan meragukan kemampuan saya."

Azel terkekeh. "Ya, tapi kalau urusan obat kayaknya tetap kalah sama saya."

Ibra mendengus pelan. "Jangan dibanggakan."

"Faktanya memang begitu."

Percakapan mereka kali ini kembali terasa seperti dulu.

Ringan. Saling menyela. Bahkan hampir seperti dua orang yang tidak pernah mengalami kecanggungan beberapa hari terakhir.

***

Malam semakin larut di desa pegunungan yang tenang, namun suasana malam ini sangat berbeda. Desa yang biasanya sunyi kini dipenuhi dengan gelak tawa dan keramaian. Lampu-lampu kecil yang digantung di sepanjang jalan desa berkelap-kelip, memberikan kesan hangat di tengah udara yang dingin. Para panitia dan tokoh penting desa sudah berkumpul di aula terbuka yang sederhana namun dihiasi dengan ornamen khas Sunda. Para pimpinan BEM berdiri di depan panggung, siap memberikan perkenalan dan pengarahan.

Azel berdiri di antara mereka, matanya terus mengamati keadaan di sekitar panggung. Sebagai ketua divisi Humas, ia lebih banyak bekerja di belakang layar, memastikan segala sesuatunya berjalan lancar. Ia sibuk berinteraksi dengan tokoh-tokoh desa yang ada di belakang panggung, berbicara singkat dengan beberapa ibu-ibu yang menyambut mereka, memastikan mereka merasa dihargai dan nyaman.

Saat acara dimulai, suara ketua BEM yang bersemangat mengisi udara malam. Ia berbicara lantang memperkenalkan program yang akan dilakukan selama pengabdian masyarakat. Di sisi kanan panggung, Ibra berdiri tenang dengan tangan diselipkan di saku celananya. Ada aura kepemimpinan yang jelas terasa darinya, dan semua mata tertuju padanya saat ia melangkah maju untuk memberikan sambutan.

Ibra dengan postur tegap dan wajah serius namun penuh kehangatan mulai berbicara, "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pak RW dan juga bapak-bapak RT yang kami hormati, juga warga desa beserta tokoh-tokoh penting di desa yang kami hormati, serta teman-teman mahasiswa BEM yang saya banggakan." Suaranya bergaung dalam keheningan malam yang sejuk. "Kami berterima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk melakukan pengabdian masyarakat di sini. Semoga apa yang kami lakukan bisa bermanfaat bagi desa ini. Saya juga ingin mengingatkan bahwa kami siap untuk berkolaborasi dengan warga, jadi jangan ragu untuk berbicara jika ada hal-hal yang perlu diperbaiki."

Seorang tokoh desa, Pak Jajang yang mengenakan ikat kepala khas Sunda, segera merespon, "Alhamdulillah Pak dosen. Kami teh bungah pisan nampi kadokapangan mahasiswa-mahasiswa ti kota ka ieu desa. Warga desa teh pastina bakal ngarojong sagala program anu badé dilaksanakeun, mugia pengabdian ieu tiasa masihan manfaat anu gedé ka urang sadayana."

Suasana semakin hangat dengan tepuk tangan meriah dari warga desa yang hadir. Warga yang lebih tua terlihat tersenyum senang, bahkan beberapa ibu-ibu menyambut mereka dengan suguhan teh manis hangat dan kacang goreng. Semua terasa begitu menyenangkan penuh rasa persaudaraan yang erat.

Setelah sesi perkenalan selesai, para panitia dan tokoh desa saling berbincang dan berfoto bersama, meninggalkan Ibra dan beberapa pimpinan BEM yang mulai mengemas barang-barang mereka.

Azel baru saja selesai membantu membereskan beberapa dokumen ketika terdengar suara Ibra.

"Azel."

Azel menoleh.

"Bisa saya bicara sebentar?"

"Iya, Pak."

Azel mengikuti Ibra menuju area parkiran yang mulai sepi.

Begitu sampai, Ibra mengeluarkan ponselnya. "Arjun tadi menghubungi saya. Dia minta kamu meneleponnya."

Azel langsung menepuk dahinya. "Ya Allah... Saya lupa. Ponsel saya juga tadi saya tinggal ngecas."

Ibra mengangguk. "Makanya saya panggil kamu. Silakan."

Azel segera mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Arjun.

Tak lama kemudian panggilan tersambung.

"Kak Azel!" Suara riang Arjun langsung terdengar dari seberang.

Azel tersenyum. "Hai, ganteng. Kamu di mana?"

"Aku baru pulang dari rumah Opa Kakak. Tadi sore aku main di sana."

"Wah... Seru nggak?"

"Seru banget! Tapi lebih seru kalau ada Kakak."

Azel terkekeh. "Iya, nanti Kakak pulang. Sekarang Kakak masih ada kegiatan."

"Beneran Kak?"

"Iya sayang. Ya sudah nanti kita telepon lagi, ya?"

"Iya, Kak. Dadah. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Panggilan berakhir.

Azel mengembalikan ponsel Ibra. "Terima kasih, Pak."

"Sama-sama."

Ibra masih berdiri di hadapannya. "Azel."

"Hm?"

"Jaga diri baik-baik selama di sini."

Azel mengangkat alis. "Kenapa Bapak bilang begitu?"

"Karena kamu jauh dari rumah."

"Saya bukan anak kecil, Pak."

"Saya tau."

"Terus kenapa harus dikhawatirkan?"

"Karena tetap saja kamu punya tanggung jawab terhadap diri sendiri."

Azel mendengus kecil. "Kalau begitu semua anggota juga harus Bapak khawatirkan dong."

"Saya memang mengawasi semuanya."

"Termasuk saya?"

"Termasuk kamu."

Azel menyipitkan mata. "Kayaknya perhatian Bapak ke saya lebih banyak."

Ibra terdiam sesaat. "Jangan percaya diri."

Azel langsung tersenyum puas. "Nah, kan. Bapak mulai galak lagi."

"Saya memang selalu begini."

"Enggak. Biasanya Bapak malah ngajak saya debat."

"Dan kamu selalu menang?"

Azel terkekeh. "Ya jelas."

Ibra mengangkat alis. "Percaya diri sekali."

"Fakta, Pak."

"Kalau begitu..." Ibra melangkah sedikit lebih dekat, tetapi tetap menjaga jarak yang pantas. "...kamu juga boleh percaya diri dengan ucapan saya beberapa hari lalu."

Senyum Azel perlahan menghilang. Ia tau persis maksud perkataan itu.

"Pak... Saya kan sudah bilang, jangan bahas itu dulu."

"Saya tau." Ibra mengangguk pelan. "Tapi saya hanya ingin bertanya."

"Apa?"

Tatapan Ibra berubah serius. "Kalau saya berhasil mendapatkan kata 'iya' dari empat laki-laki dalam hidup kamu..."

Ia berhenti sejenak. "...apa kamu akan menerima saya?"

Azel terdiam. Ia benar-benar tidak menyangka pertanyaan itu akan kembali muncul.

"Entahlah. Saya nggak tahu."

Ibra mengernyit. "Kenapa tidak tahu?"

Azel berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab santai. "Karena Bapak kaku."

Ibra langsung terdiam. "Kaku?"

"Iya."

"Menurut kamu saya kaku?"

Azel mengangguk mantap. "Banget."

"Kalau ngomong selalu serius. Kalau ngajarin mahasiswa juga tegas. Kalau sama saya debat terus."

Ibra menatapnya datar. "Lalu?"

Azel mengangkat bahu. "Ya itu."

Ibra menghela napas pelan. "Itu hanya kepada orang lain."

Azel mengerutkan kening. "Maksudnya?"

Tatapan Ibra kembali kepadanya. "Tidak dengan istri saya nanti."

Azel langsung membulatkan mata. "Hah?"

Ibra hanya tersenyum tipis. "Kenapa?"

"Bapak ngomongnya jangan sembarangan."

"Saya serius."

"oh ya? Buktinya..." Azel melipat kedua tangannya di depan dada. "...sama Arjun saja Pak Ibra kaku."

Ibra terdiam.

Azel melanjutkan dengan wajah polos. "Bapak tidak bisa berekspresi. Senyum aja adalah hal yang langka."

Ibra membuka mulut, tetapi tidak ada satu pun kata yang keluar.

Azel tersenyum puas. "Kenapa diam, Pak?"

Ibra mengembuskan napas panjang.

Untuk beberapa detik, ia hanya menatap Azel.

Kemudian akhirnya... "Baik."

"Hm?"

"Saya akui."

Azel langsung tersenyum kemenangan. "Skakmat."

Ibra menggeleng kecil. "Jangan senang dulu."

"Kenapa?"

"Karena kalau suatu hari nanti kamu benar-benar menjadi istri saya..."

Ia menatap Azel dengan senyum tipis. "...kamu akan tahu sendiri apakah saya benar-benar kaku atau tidak."

Senyum Azel seketika menghilang. Wajahnya memerah.

"Pak Ibra!"

Ibra terkekeh pelan. "Kenapa?"

"Itu..." Azel menunjuknya dengan wajah kesal sekaligus malu. "Bapak mulai aneh lagi."

"Katanya saya kaku."

"Yang tadi bukan kaku!"

"Lalu?"

Azel terdiam. Ia tidak menemukan jawaban yang tepat.

Ibra justru tersenyum semakin lebar. "Sudah kehabisan argumen?"

Azel mendengus. "Enggak. Malas debat sama Bapak."

"Takut kalah?"

"Enggak!"

"Terus?"

Azel memalingkan wajah. "Pokoknya enggak."

Ibra terkekeh. Ia merasa percakapan sederhana dengan Azel ternyata bisa membuat malamnya jauh lebih menyenangkan.

1
Aidil Kenzie Zie
aih si pak duda ternyata nggak sabar mau unboxing Azel 🤭🤭🤭
tor Ibra jangan manggil saya lagi sama Azel
Fegajon: pelan pelan panggilannya nanti berubah hehe
total 1 replies
Syti Sarah
jun ,kamu jngan jdi satpam dulu daah.ayak kamu udh lpar sama haus bnget tuh,udh trllu lama puasa nya 🤣🤣🤣
Syti Sarah: aduuuh ksian pak duda 🤣🤣🤣
total 2 replies
syora
alhamdulillah ya allah😍😍😍😍😍😍
Fegajon: yuhuuu🥰😋
total 1 replies
cutegirl
pak duda udah lama berpuasa🤣
cutegirl
celamat pak duda😋
syora
alhamdulillah somaga samawa till jannah
Syti Sarah
Alhamdulillah 😍😍😍aku mau siap2 dulu Thor,mau kondangan tempat azel dan Ibra 🤣🤣🤣
Syti Sarah: shuuut 🤫🤫 , 🤣🤣🤣
total 4 replies
Aidil Kenzie Zie
si pak duda udah nggak sabaran 🤭🤭🤭🤭
Syti Sarah
smoga lancar smuanya smpai hari H 😊
Fegajon: tadinya mau buat gitu tapi gak ah nanti aja cobaan mereka pas setelah nikah 🤣
total 3 replies
Syti Sarah
pak duda udh mulai mngluarkn jurus gomblan maut nya 🤣🤣🤣🤣
syora
alhamdulillah ya allah😍😍😍😍😍
Syti Sarah
Alhamdulillah 😊😊
Syti Sarah
jawab aja sesuai kata hati kamu zel 😊
Syti Sarah: itu juga jawaban author yg atur 🤣🤣
total 2 replies
cutegirl
ibra asbun bgt🤣
Fegajon: wkwk🤣
total 1 replies
Syti Sarah
BDAN nya yg bsar mksud nya 🤣🤣🤣Oalah anak nya ken trnyta .tdi aku slah lgi 😆😆
Syti Sarah: hahahaha ngakak brjamaah Thor 🤣🤣🤣psti pkiran udh traveling kmna2 kn 😆😆
total 2 replies
just a grandma
bgus❤️
Anak manis
Aku slalu suka karya kk author ini/Casual/
Anak manis
Kia terjangkit virus Aryan /Curse/
anakkeren
yuhyyy
cutegirl
Cerita soal Ibra dan Azel ini,buat saya lebih lucu dan bagus yg ini ketimbang yg pernah kakak hapus. Sebab, yg sebelumnya tdk mencerminkan prilaku dosen dan seorang ning aja.
yg sebelumnya lebih ke mes*m aja sih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!