Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?
~Halo! Saat ini novel ini masih dalam tahap merintis, jadi cover sementara dibuat menggunakan bantuan AI. Jika novel ini berkembang baik, penulis berkomitmen untuk menggantinya dengan karya ilustrator manusia asli. Terima kasih atas dukungannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 — Retak di Bawah Tekanan
Markas terasa terlalu kecil untuk menampung ketegangan yang memenuhi setiap sudutnya. Semua orang berkumpul di meja panjang, peta kanal bawah tanah kota yang berhasil dipinjam Ness dari arsip Balai Guild terhampar di tengah, garis-garisnya rumit dan sebagian tidak lengkap, beberapa bagian bahkan hanya ditandai dengan tulisan tangan "tidak terpetakan" yang mencoret area luas di bawah distrik pelabuhan.
Lentera di atas meja berkedip pelan, minyaknya mulai menipis setelah menyala sepanjang malam tanpa henti. Tidak ada yang sempat menggantinya, semua perhatian tertuju pada peta dan wajah-wajah lelah yang mengelilinginya, masing-masing menahan beban yang berbeda tapi sama beratnya.
Ilena duduk paling dekat dengan peta itu, jarinya menelusuri jalur-jalur gelap yang mungkin dilalui penculik adiknya, matanya merah tapi keringnya sudah mulai kembali sejak beberapa jam lalu, digantikan sesuatu yang lebih dingin dan tekun.
"Kita perlu masuk malam ini juga," kata Ilena, suaranya tegas menahan getar, jarinya berhenti di satu titik peta yang ditandai sebagai persimpangan besar di bawah distrik pelabuhan.
"Kita tidak bisa masuk tanpa persiapan," jawab Arden, berdiri di ujung meja, tangannya bertumpu di kayu yang dingin. "Kanal itu gelap total, jalurnya tidak lengkap di peta ini, dan kita tidak tahu berapa banyak Ashcloak yang menunggu di bawah sana."
"Berapa lama lagi kita akan bicara soal persiapan?" tanya Ilena, suaranya mulai bergetar lebih jelas. "Setiap jam yang lewat, kemungkinan dia masih hidup semakin kecil."
"Aku tahu itu," jawab Arden, matanya bertemu mata Ilena sesaat, penuh permintaan maaf yang tidak sepenuhnya bisa ia ucapkan. "Tapi kalau kita masuk sekarang dan mati semua di bawah sana, itu tidak akan membantu Wick sama sekali."
"Kau selalu punya alasan untuk menunggu," kata Petra, suaranya sudah naik sejak kalimat pertama, melangkah dari sudut ruangan tempat ia berdiri sejak tadi.
Ruangan itu langsung hening.
"Petra," tegur Corym pelan, tapi tidak dengan nada menahan penuh seperti biasanya.
"Tidak, aku serius." Petra melangkah maju, menatap Arden langsung. "Kita menunggu waktu yang tepat di Hollowreach, dan aku hampir mati. Kita menunggu bukti cukup soal Draymoor, dan lima orang sudah lebih dulu mati di Greywood. Sekarang kita menunggu persiapan sementara Wick ada di bawah sana entah dalam kondisi apa."
Brann dan Yuna berdiri di sudut ruangan, tidak berani ikut bicara, hanya bertukar pandang cemas satu sama lain. Tomas menyilangkan tangan di dada, matanya berpindah dari Arden ke Petra bergantian, wajahnya tegang tapi diam. Halden berdiri paling dekat pintu, rahangnya mengeras tapi tidak bergerak untuk melerai, seolah tahu apa pun yang ia katakan sekarang tidak akan cukup.
"Itu tidak adil," kata Arden, rahangnya mengencang.
"Adil?" Petra hampir tertawa, getir. "Kau tahu apa yang tidak adil? Setiap kali kita bergerak terlambat karena kau terlalu takut mengambil risiko, seseorang membayar harganya. Bukan kau. Orang lain."
"Kau pikir aku tidak takut kehilangan siapa pun?" Arden membalas, suaranya naik untuk pertama kalinya malam itu, jauh dari nada tenang yang biasa ia jaga di depan tim. "Kau pikir aku menikmati berdiri di sini menunggu, sementara Wick entah di mana?"
"Kalau kau benar-benar takut kehilangan, kau akan bergerak lebih cepat," balas Petra, tidak mundur sedikit pun, suaranya bergetar antara marah dan takut sekaligus. "Bukan berdiri di sini menghitung risiko seperti biasa."
Arden merasakan sesuatu di dadanya mulai mengencang, bukan karena marah pada Petra, tapi karena setiap kata itu menemukan celah kecil yang sudah lama ia coba tutup rapat-rapat, celah yang terbentuk sejak 13 tahun lalu dan tidak pernah sepenuhnya sembuh.
"Aku mencoba melindungi kalian semua," katanya, suaranya lebih pelan dari yang ia inginkan.
"Dengan cara membiarkan Wick diculik?" Petra tidak menyerah. "Dengan cara membiarkan kita selalu satu langkah di belakang?"
Corym berdiri dari sandarannya, melangkah maju satu langkah, cukup untuk membuat semua mata beralih padanya. Tangannya terkepal sesaat di sisi tubuh sebelum ia sengaja membukanya kembali, seolah sadar gerakan itu akan terbaca sebagai kemarahan yang tidak ia maksudkan.
"Dia tidak sepenuhnya salah, Arden," katanya, suaranya rendah tapi jelas terdengar di seluruh ruangan.
Waktu seolah berhenti sesaat. Bahkan suara napas di ruangan itu seakan menghilang.
Arden menoleh cepat ke arah Corym, matanya melebar, sesuatu di wajahnya retak untuk pertama kalinya malam itu. "Corym."
"Aku tidak bilang kau salah total." Corym mengangkat tangan, mencoba melunakkan kalimatnya sendiri, tapi kerusakan sudah terjadi begitu kata-kata itu keluar. "Tapi sejak Hollowreach, aku terus memikirkan ini. Kehati-hatianmu menyelamatkan kita berkali-kali. Tapi kali ini taruhannya berbeda, dan aku tidak yakin caramu yang biasa cukup untuk situasi seperti ini."
"Jadi kau memihaknya," kata Arden, suaranya nyaris tidak terdengar.
"Aku tidak memihak siapa pun. Aku cuma bilang yang sebenarnya."
Ilena menatap keduanya bergantian, tangannya berhenti di atas peta, tidak yakin harus berpihak atau tetap diam, pikirannya terlalu penuh dengan Wick untuk sepenuhnya mengikuti perpecahan yang baru saja terbuka di depannya. Ia teringat kembali percakapannya sendiri dengan Arden bertahun-tahun lalu, ketika ia berjanji memantau kondisinya diam-diam, sebuah rahasia yang kini terasa jauh lebih berat mengingat apa yang sedang terjadi di depan matanya.
"Arden," katanya pelan, mencoba menarik perhatiannya kembali dari Corym. "Kau perlu duduk. Sekarang."
Arden tidak mendengarnya, atau mungkin mendengar tapi tidak sanggup memproses lebih dari satu hal sekaligus. Matanya masih terpaku pada Corym, sahabat yang sudah bersamanya sejak kelompok ini berdiri, kini berdiri di sisi yang berbeda untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun.
Dada Arden mulai terasa sesak, bukan sesak fisik biasa, tapi sesuatu yang lebih dalam, familiar, sesuatu yang sudah lama tidak muncul tanpa pertarungan mendahuluinya. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya tanpa perintah sadar, dan sesuatu di balik tulang dadanya mulai terasa seperti pintu yang perlahan mengunci sendiri, sama seperti yang pernah ia rasakan di lantai menengah Menara Verlanth, tapi kali ini tanpa monster, tanpa pedang terhunus, tanpa apa pun selain kata-kata yang menekan dari segala arah.
Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya, menetes pelan di sepanjang rahangnya yang mengeras. Penglihatannya sedikit mengabur di pinggiran, seperti tenaga di dalam dirinya sendiri berusaha keluar tapi ditahan paksa oleh sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan, meronta di dalam dadanya seperti burung terperangkap dalam sangkar yang terlalu kecil. Ia menghitung napasnya sendiri dalam diam, mencoba trik lama yang biasa membantunya menenangkan diri, tapi kali ini tidak berhasil sepenuhnya.
Ilena mengangkat kepala dari peta, matanya menyipit menatap Arden. "Arden, kau baik-baik saja?"
Arden tidak menjawab segera. Napasnya memendek, jari-jarinya sedikit gemetar saat ia mencoba menyembunyikan tangannya di balik punggung.
"Aku baik-baik saja," katanya, meski suaranya terdengar seperti dipaksakan lewat tenggorokan yang menyempit.
Petra tidak menyadari perubahan itu, masih terlalu tenggelam dalam kemarahannya sendiri, air mata frustrasi sudah mengalir tanpa ia usap. "Kau bahkan tidak bisa jujur soal itu sekarang."
"Petra, cukup," kata Corym, mencoba menahan sekarang, menyadari sesuatu berubah di wajah Arden yang tidak ia mengerti, suaranya kini penuh kekhawatiran alih-alih kemarahan.
"Tidak akan cukup sampai kita benar-benar bertindak," balas Petra, suaranya semakin keras, air mata frustrasi mulai berkumpul di sudut matanya tanpa ia sadari. "Wick ada di bawah sana, mungkin terluka, mungkin lebih buruk, dan kita berdiri di sini berdebat soal peta yang tidak lengkap!"
"Aku tahu!" Suara Arden pecah lebih keras dari yang pernah didengar siapa pun sepanjang tujuh tahun terakhir, mengejutkan bahkan dirinya sendiri. Ruangan itu membeku total.
Tangannya gemetar di sisi tubuhnya, dan sesuatu di dalam dadanya terasa seperti akan meledak dan terkunci dalam waktu bersamaan, dua kekuatan berlawanan yang saling menekan tanpa jalan keluar. Ia meraih tepi meja untuk menahan tubuhnya sendiri, buku-buku jarinya memutih menahan kayu itu erat-erat.
Semua orang di ruangan itu diam, terkejut melihat Arden yang biasanya begitu terkendali kini berdiri dengan napas tersengal, matanya berkilat sesuatu yang jarang sekali terlihat siapa pun, keringat dingin membasahi keningnya meski udara ruangan tidak panas.
Doran melangkah mundur setengah langkah tanpa sadar, Ashe yang tidur di sudut ruangan tiba-tiba terbangun, kepalanya terangkat merasakan sesuatu yang berubah di udara, familiar itu mendengus gelisah, cakarnya mencengkeram lantai kayu.
Yuna melangkah maju, tangannya nyaris terangkat seperti hendak menggunakan cahaya pemurniannya, tapi ragu di tengah jalan, tidak yakin apakah ini situasi yang membutuhkan sentuhan penyembuhan atau hanya butuh dibiarkan reda dengan sendirinya, matanya penuh kekhawatiran yang tidak terucap.
Ilsa, yang sejak tadi berdiri diam di sudut ruangan mengamati semuanya tanpa berkata apa-apa, akhirnya melangkah maju, suaranya memotong tegas ke tengah keheningan yang mencekam. Langkahnya pelan tapi pasti, sepatu botnya berbunyi jelas di lantai kayu yang sunyi, satu-satunya suara selain napas tersengal Arden.
"Kalian mau bertengkar," katanya, menatap Petra lalu Corym lalu Arden bergantian, suaranya cukup keras untuk menghentikan siapa pun yang berpikir untuk membalas, "atau mau dengar apa yang sebenarnya terjadi 13 tahun lalu?"
Ruangan itu jatuh dalam diam total. Bahkan Petra, yang beberapa detik lalu masih penuh amarah, kini berdiri kaku, matanya berpindah dari Ilsa ke Arden dengan kebingungan yang jelas, tangannya perlahan terkulai di sisi tubuh, kemarahannya tergantikan rasa penasaran yang tidak terduga.
Arden menatap Ilsa, dadanya masih naik turun cepat, tapi sesuatu di matanya berubah, seolah kalimat itu sendiri sudah cukup untuk menahan sesuatu yang hampir lepas kendali beberapa detik sebelumnya. Perlahan, sesak di dadanya mulai mereda, seperti pintu yang tadinya mengunci paksa kini terbuka sedikit demi sedikit, memberinya ruang bernapas kembali.
Corym mendekat, tangannya ragu sesaat sebelum akhirnya menepuk bahu Arden pelan, tidak berkata apa-apa, tapi sentuhan itu sendiri terasa seperti permintaan maaf yang belum bisa ia ucapkan lewat kata-kata.