Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Malam pesta pertunangan yang seharusnya jadi malam paling membahagiakan, **Laras Wirasena**—pianis muda dari keluarga terpandang—malah memergoki tunangannya sendiri, **Radithya Adiwangsa**, pewaris Grup Adiwangsa, sedang bermain api dengan asistennya di balik pintu yang terbuka sedikit.

Belum sempat Laras mengamankan bukti, ponselnya direbut dan videonya dihapus—oleh **Bramantya**, adik kandung Radit yang terkenal nakal, urakan, dan tak kenal aturan. Bukannya membela, cowok itu malah menyeringai menantang:

> *"Menggodaku buat balas dendam ke abangku?"*

Laras cuma menginginkan satu hal: membatalkan tunangan dan lepas dari keluarga yang menjualnya demi sebuah proyek bisnis raksasa. Tapi malam itu mengubah segalanya. Sekali, dua kali... lalu malam-malam rahasia yang tak terhitung lagi jumlahnya.

Yang tak Laras sadari: di balik topeng *bad boy* itu, Bram menyimpan sebuah bekas luka di pinggang, sebuah tato Latin di jarinya, dan satu rahasia yang telah ia pendam bertahun-tahun. Pria yang katanya cuma cari senang ini ternyata pernah menahan sebuah peluru demi menyelamatkan nyawanya di sebuah gedung konser di luar negeri—dan telah mencintainya diam-diam, jauh sebelum takdir "mempertemukan" mereka.

Ketika perselingkuhan sang tunangan meledak di depan seluruh undangan, ketika kembang api pecah di atas panggung juaranya, ketika satu ciuman viral mengguncang seluruh negeri—Laras akhirnya harus memilih: terus berpura-pura, atau mengakui bahwa satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya justru adik dari pria yang mengkhianatinya.

Tapi Bram tak datang hanya untuk mencintainya. Ia datang untuk merebut kembali segalanya—dan menjatuhkan abangnya sendiri, sampai ke titik terdalam.

> *"Sekarang dia mantan tunanganmu, pacarku, dan calon adik iparmu. Kenapa, Mas?"*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19

Bukan Karena Hamil

Laras memilih diam.

Bram menunggu beberapa detik, lalu tiba-tiba membungkuk dan mengangkatnya. Laras refleks memegang bahunya ketika kedua kakinya meninggalkan tanah.

"Turunkan saya."

"Jawab dulu."

"Saya mau pulang."

"Bohong."

Ia memasukkan Laras ke kursi penumpang, tetapi tidak menutup pintu. "Aku antar ke rumahmu atau ke rumahku. Pilih."

Laras menatap cincin tetesan air di jarinya. Di rumah, orang tuanya pasti menunggu untuk membicarakan unggahan media dan jadwal foto resmi. Di sisi lain, rumah Bram adalah satu-satunya tempat ia bisa melepaskan wajah pengantin bahagia.

"Pondok Indah," katanya.

Bram menutup pintu tanpa menyembunyikan senyum puas.

Kembang api pertama mekar di kejauhan saat mobil melintasi jalan yang dipenuhi orang. Tepat tengah malam, klakson dan sorak menyambut tahun baru. Laras hanya melihat pantulan lampu kota di jendela.

Begitu mereka sampai di ruang depan vila, Bram kembali mendekat. Laras menahan dadanya.

"Kemejamu bau rokok."

Bram menunduk mencium kerah sendiri. "Masih?"

"Sangat. Lepas."

Ia membuka kancing tanpa protes. Laras baru sempat menarik napas ketika lelaki itu meraih pinggangnya lagi.

"Rambutmu juga bau," katanya.

"Itu namanya diskriminasi."

"Mandi."

Bram menatapnya seolah sedang memastikan ia tidak bercanda, lalu menunjuk ke lantai atas. "Kalau aku keluar dan kamu kabur, aku jemput lagi."

"Silakan coba."

Mereka mandi di kamar berbeda. Laras membersihkan riasan panggung, melepaskan gaun, dan menaruh cincin Radit di dalam kotak kecil. Ketika keluar dengan jubah mandi, ia melihat Bram sudah duduk di tempat tidur mengenakan celana tidur bermotif daun tropis. Tubuh bagian atasnya telanjang, rambut masih basah, dan sebuah buku tebal berbahasa Inggris terbuka di tangannya.

Laras membaca judulnya. The Count of Monte Cristo.

"Kamu membaca itu?"

"Kenapa? Wajahku cuma cocok lihat menu bar?"

"Celanamu tidak cocok dengan sastra klasik."

"Aku laki-laki dengan banyak lapisan."

Laras mendekat untuk melihat halaman yang sedang dibaca. Bram menutup buku, menarik pergelangan tangannya, dan membuatnya jatuh di kasur.

"Sekarang sudah nggak bau," katanya.

"Saya belum memeriksa."

"Periksa."

Ia mendekat perlahan, memberi ruang bagi Laras untuk menjauh. Laras justru menyentuh rambut basahnya, lalu mengecup bibirnya sendiri.

Ciuman itu berbeda dari yang terjadi di bawah lampu jalan. Tidak ada penonton, cincin, atau rasa rokok. Hanya suara kembang api jauh dan dua orang yang sama-sama tahu mereka sedang melangkah melewati batas yang selama ini selalu dihentikan.

Bram beberapa kali bertanya dengan mata dan kata-kata pendek. Laras menjawab tanpa ragu. Saat tubuhnya menegang karena rasa asing, Bram berhenti, mengusap pipinya, dan menunggu sampai tangannya menarik dia kembali.

Malam bergerak pelan. Tidak ada perlombaan atau kemenangan. Bram memperlakukan jemari Laras seperti sesuatu yang harus dilindungi dan setiap napasnya seperti jawaban yang wajib didengar. Ketika air mata tipis muncul karena campuran nyeri dan emosi, ia menghapusnya dengan ibu jari.

"Berhenti?"

Laras menggeleng. "Pelan."

"Iya."

Untuk pertama kalinya, kedekatan mereka tidak berhenti di tengah jalan.

Sesaat dunia menjadi sangat sunyi. Di luar jendela, orang-orang meneriakkan hitung mundur kedua dari pesta lain, lalu langit kembali dipenuhi cahaya. Laras berbaring dengan pipi di dada Bram dan mendengar detak jantung yang sama cepatnya dengan miliknya.

"Jangan bilang apa-apa," katanya.

"Aku belum bicara."

"Wajahmu mau bicara."

"Kamu bahkan nggak lihat wajahku."

"Saya bisa merasakannya."

Bram tertawa pelan. Ia menarik selimut sampai bahu Laras, lalu mengecup rambutnya tanpa menggoda. Sikap lembut itu justru terasa lebih berbahaya daripada semua kalimat nakal yang pernah ia ucapkan. Jika Bram hanya menginginkan tubuhnya, Laras tahu cara menutup pintu. Ia tidak tahu cara menghadapi seorang lelaki yang mengingat suhu minumannya, melindungi tangannya, dan memandangnya seperti tahun baru benar-benar dimulai dari napasnya.

"Selamat tahun baru, Ras."

Laras memejamkan mata. "Jangan berharap terlalu banyak."

"Terlambat."

Sesudahnya, Laras belum sempat menertawakan dirinya sendiri ketika nyeri tajam mencengkeram perut bagian bawah. Ia meringis dan membungkuk.

"Ras?"

"Tunggu. Sakit."

Bram langsung menjauh. Saat melihat noda darah, wajahnya berubah.

Laras teringat percakapan Kirana tentang kista dan pecahnya korpus luteum. Jantungnya berdegup liar. "Bisa jadi kista pecah."

"Kita ke rumah sakit."

"Mungkin cuma haid."

"Kamu tadi bilang sakit."

Bram sudah mengambil pakaian. Ia membantu Laras mengenakan celana longgar tanpa menyentuh lebih dari yang diperlukan, lalu mengangkatnya menuju lift.

"Saya bisa jalan."

"Nggak perlu."

Di dalam lift, ia menatap angka lantai dengan rahang keras. "Maaf. Tadi aku nggak nahan."

Laras memahami maksudnya. Pada kesempatan-kesempatan sebelumnya, Bram selalu menahan diri lebih jauh daripada yang ia sadari. Rasa takut dan malu bercampur menjadi kesal. Ia menyembunyikan wajah di bahu Bram, lalu memukulnya sekali.

"Itu buat apa?"

"Supaya diam."

Bram tidak membalas. Pelukannya justru mengencang.

Mobil melaju cepat, tetapi ia tetap berhenti di lampu merah dan menelepon unit gawat darurat dalam perjalanan. Laras mengenakan masker dari kompartemen mobil, lalu memakaikan satu lagi kepada Bram.

"Kamu lebih butuh," katanya.

"Kenapa?"

"Wajahmu terlalu mudah dikenali."

"Kamu juga terkenal."

"Saya masih punya alasan berada di rumah sakit. Kamu tidak."

"Jadi menurutmu aku memalukan?"

"Kamu baru sadar?"

Candaan kecil itu tidak mengurangi pucat di wajah Bram.

Di unit gawat darurat, dokter memeriksa tanda vital, lokasi nyeri, jumlah perdarahan, serta riwayat siklus Laras. Sampel darah diambil untuk menilai anemia dan hormon kehamilan. Karena Laras menyebut kemungkinan kista, dokter meminta ultrasonografi.

Petugas administrasi meminta identitas dan kontak darurat. Bram menyerahkan dokumen Laras dari tas kecil yang dulu ia siapkan saat demam, lalu memilih pembayaran pribadi agar tagihan tidak masuk ke asuransi keluarga Wirasena. Laras memperhatikan ia melakukan semuanya tanpa perlu bertanya lagi.

"Nama pendamping?" tanya petugas.

Bram membuka mulut, tetapi Laras menjawab lebih dulu, "Teman."

Pulpen di tangan Bram berhenti. Ia tetap menulis namanya di kolom yang ditunjuk, lalu mengembalikan formulir tanpa protes.

Di balik masker, Laras tidak bisa melihat senyumnya hilang. Ia hanya melihat buku-buku jarinya memutih ketika memegang map pendaftaran.

Bram menunggu di luar ruang pemeriksaan sambil berjalan mondar-mandir. Ketika pintu terbuka, ia berdiri terlalu cepat.

Laras sempat ditinggal sendirian beberapa menit sebelum dokter kembali membawa hasil awal. Di bawah lampu putih, ketakutannya berubah bentuk. Bukan hanya takut pada nyeri atau kemungkinan operasi. Ia takut hasil tes menunjukkan kehamilan, lalu hidupnya sekali lagi ditentukan oleh sebuah ikatan yang tidak sempat ia pilih dengan jernih.

Ia juga teringat Tiara yang memegang perut di koridor. Perempuan itu melihat kandungannya sebagai tangga menuju keluarga Adiwangsa. Laras justru merasa tenggorokannya tertutup hanya dengan membayangkan dua garis. Mereka berada di sisi berbeda dari pengkhianatan yang sama, tetapi sama-sama menghadapi dunia yang akan memakai tubuh perempuan sebagai alat tawar.

Ketika dokter berkata tes kehamilan negatif, bahu Laras turun seperti baru dilepaskan dari beban yang tidak terlihat.

"Tidak terlihat kista pecah atau perdarahan di rongga perut," jelas dokter. "Tidak ada cedera. Tes kehamilan juga negatif."

Laras mengembuskan napas panjang.

"Lalu darahnya?" tanya Bram.

Dokter memeriksa kembali catatan. "Pasien pernah minum pil kontrasepsi darurat beberapa minggu lalu?"

Laras mengangguk.

"Obat itu dapat mengubah jadwal menstruasi. Bisa lebih cepat, lebih lambat, atau menimbulkan perdarahan di luar jadwal. Dari hasil pemeriksaan, kemungkinan besar menstruasinya datang lebih awal. Nyeri sudah menurun?"

"Sudah."

"Pantau jumlah darah dan nyerinya. Kalau nyeri kembali berat, pingsan, demam, atau perdarahannya sangat banyak, segera kembali."

Bram baru terlihat bernapas normal. Namun wajahnya kembali gelap ketika dokter menambahkan, "Pil darurat boleh digunakan sesekali sesuai petunjuk, tapi bukan metode kontrasepsi rutin. Kalian perlu memilih perlindungan yang konsisten."

"Kami mengerti," jawab Laras cepat.

Dokter lalu menjelaskan pilihan perlindungan dan menyarankan konsultasi lanjutan jika Laras ingin metode yang sesuai kondisi tubuhnya. Bram mendengarkan tanpa membuat lelucon. Ia bahkan meminta instruksi tanda bahaya dituliskan agar tidak ada yang terlewat ketika mereka pulang.

Sebelum keluar, ia memastikan sekali lagi bahwa perdarahan bukan akibat luka. Dokter menjawab tegas bahwa pemeriksaan tidak menunjukkan cedera dan gejala paling sesuai dengan perubahan siklus akibat pil darurat.

Dalam perjalanan pulang, Bram tidak banyak bicara. Laras juga diam. Rasa lega karena tidak hamil dan tidak mengalami cedera seharusnya mengakhiri malam dengan baik. Sebaliknya, setiap kali ia melirik profil Bram, lelaki itu tampak sedang menyalahkan dirinya sendiri.

"Dokter bilang bukan karena kamu," kata Laras akhirnya.

"Aku dengar."

"Jangan pasang wajah seperti habis divonis."

"Aku hampir bikin kamu kenapa-kenapa."

"Tidak. Obatnya yang mengubah siklus."

"Kalau sakit lagi, kita balik."

"Iya."

Sesampainya di vila, Bram memastikan ia minum air hangat dan menaruh obat pereda nyeri sesuai arahan dokter di meja samping. Ia mengganti seprai tanpa membiarkan Laras membantu.

"Saya tidak rapuh," protes Laras.

"Aku juga nggak bilang begitu."

"Wajahmu bilang."

"Wajahku memang bagus buat banyak hal."

"Termasuk menyebalkan."

Laras naik ke ranjang dan membelakanginya. Lampu padam. Beberapa menit hanya terdengar pendingin ruangan.

Kemudian satu lengan melingkar di pinggangnya dan menarik tubuhnya perlahan ke dada hangat.

"Masih ngambek?" bisik Bram di belakang telinganya.

Jari Laras yang semula kaku perlahan mencengkeram lengan itu, tetapi ia belum menjawab.

Untuk malam ini, gerakan kecil tersebut sudah cukup menjadi jawaban bagi keduanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!