Indonesia
NovelToon NovelToon
Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:778
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.

Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.

Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.

Ia salah besar.

Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:

**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**

Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.

Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.

Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.

Kali ini, dialah yang memegang pisau.

*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3: Malam yang Tak Bisa Kuceritakan

Dua malam kemudian, hujan memukul atap rumah kami seperti seseorang yang menuntut dibukakan pintu.

Listrik padam tiga kali sejak magrib. Setiap menyala kembali, lampu lorong berkedip dan membuat bayangan lemari bergerak di dinding. Ibu mengeluh soal gardu, Ayah sibuk mencari lilin, sedangkan aku berusaha meyakinkan diri bahwa suara petir tidak ada hubungannya dengan rasa gelisah yang sudah menempel sejak Lebaran.

Damar datang sore tadi untuk membicarakan rencana lamaran. Hujan terlalu lebat, jalan menuju hotel tergenang, dan Ibu bersikeras ia menginap di kamar tamu bawah.

"Masa calon menantu dibiarkan menerobos banjir?" katanya.

Tidak ada yang meminta pendapatku.

Mbak Laras memilih tidur bersamaku. Katanya ia ingin bernostalgia seperti saat kami kecil, meski separuh kasurku langsung habis oleh tubuhnya dan tas kerjanya.

"Kamar kamu makin sempit," komentarnya sambil menatap kardus di atas lemari.

"Kamarnya tetap. Barang titipan keluarga yang makin banyak."

"Nanti kalau aku menikah, kamu bisa pakai kamarku."

Aku menoleh. "Serius?"

"Kalau Ibu mengizinkan."

Kami sama-sama tertawa kecil, bukan karena lucu.

Di luar, petir mengoyak langit. Lampu padam lagi. Mbak Laras menyalakan senter ponsel dan meletakkannya menghadap plafon. Cahaya pucat menyebar di kamar, cukup untuk membuat wajah kami terlihat seperti dua orang yang sedang bercerita di dalam tenda.

"Mas Damar baik, kan?" tanyaku.

Mbak Laras tersenyum tanpa ragu. "Baik. Kenapa kamu tanya terus?"

"Nggak. Cuma penasaran."

"Dia memang kaku. Kadang aku sendiri susah menebak apa yang dia pikirkan." Ia menarik selimut hingga dagu. "Tapi dia selalu menepati janji. Itu lebih penting daripada laki-laki yang manis di mulut."

Aku teringat tatapan di pintu kaca, lalu memunggunginya.

Ibu tadi membuat teh bunga untuk kami semua. Katanya supaya tubuh hangat dan tidur lebih nyenyak. Cangkirku masih menyisakan aroma serai dan bunga kering di meja kecil. Sejak meminumnya, kelopak mataku terasa berat. Aneh, sebab suara hujan biasanya membuatku sulit tidur.

"Kalau nanti aku pindah ke Surabaya, kamu harus sering datang," kata Mbak Laras.

"Dengan ongkos siapa?"

"Nanti aku belikan tiket."

"Wah, calon nyonya konglomerat memang beda."

Ia mencubit lenganku. Aku membalas, dan beberapa detik kami tertawa seperti saudara yang tak pernah dipisahkan oleh kamar besar dan kamar gudang, oleh baju baru dan baju bekas, oleh pujian dan perbandingan.

Kemudian Ibu memanggil dari kamar sebelah.

"Laras!"

Suara itu lemah, diikuti batuk panjang. Mbak Laras langsung bangun.

"Ibu kenapa?"

Ayah menjawab dari lorong bahwa kepala Ibu pusing dan mual. Mungkin terlalu banyak makanan bersantan. Mbak Laras meraih ponselnya.

"Aku lihat sebentar. Kamu tidur saja."

"Panggil aku kalau perlu bantuan."

Pintu terbuka, membiarkan sepotong cahaya lilin masuk, lalu tertutup lagi.

Aku mendengar langkah Mbak Laras menjauh. Suara Ayah. Suara pintu kamar Ibu. Setelah itu hanya hujan dan detak jam murah di dinding.

Tubuhku terasa tenggelam ke kasur.

Aku mencoba meraih ponsel, ingin mengirim pesan pada Rangga hanya untuk mengganggunya. Jemariku menyentuh tepi meja, tetapi jaraknya seperti bertambah jauh. Layar ponsel menyala sesaat, menampilkan pukul 00.47, lalu gelap karena tak berhasil kugenggam.

Mungkin aku benar-benar lelah.

Mungkin teh itu terlalu kuat.

Mungkin aku tertidur.

Aku tidak tahu berapa lama waktu berlalu sebelum mendengar bunyi gagang pintu.

Klik.

Mataku terbuka, atau setidaknya kupikir terbuka. Kamar sepenuhnya gelap. Senter Mbak Laras sudah mati. Hujan menelan hampir semua suara, tetapi aku yakin ada langkah kaki di lantai.

"Mbak?"

Tidak ada jawaban.

Aku mencoba bangun. Bahuku hanya bergerak sedikit. Kepalaku berat, lidahku kering, dan tubuhku terlambat mengikuti setiap perintah dari otak.

Sosok itu berhenti di tepi kasur.

Aroma dingin menyentuh udara. Bukan minyak kayu putih Ayah. Bukan parfum bunga milik Mbak Laras. Sesuatu yang bersih, tajam, seperti kayu setelah hujan.

"Siapa?"

Suaraku nyaris tidak terdengar.

Kasur turun di satu sisi.

Aku mengangkat tangan, tetapi sebuah telapak menahan pergelanganku. Tidak kasar. Justru terlalu tenang, terlalu yakin bahwa aku tak akan mampu melawan.

Panik meledak di dalam tubuh yang tidak mau bergerak.

Aku mencoba memanggil Ayah. Yang keluar hanya napas patah. Bayangan itu menutup cahaya tipis dari bawah pintu. Ada kain dingin menyentuh pipiku, bunyi napas orang lain, dan tekanan yang membuat dadaku seolah dikunci dari luar.

Tidak.

Aku menggeliat. Jemariku mencakar seprai. Suara hujan semakin keras, menampar kaca, menelan bunyi sekecil apa pun yang mungkin berhasil kubuat.

"Diam."

Satu kata, sangat pelan.

Aku mengenal suara itu.

Atau mungkin aku hanya bermimpi mengenalnya.

Kesadaranku pecah menjadi potongan yang tidak utuh: kilat putih di balik tirai, tangan di pergelangan, aroma kayu yang dingin, berat yang membuatku sulit bernapas, bunyi jam yang terus berdetak seolah tak ada apa-apa yang terjadi.

Aku tidak bisa menentukan kapan mimpi berubah menjadi gelap sepenuhnya.

Ketika terbangun, hujan telah melemah.

Langit di jendela berwarna abu-abu kotor. Tubuhku kaku. Selimut melilit kakiku, bantal tergeletak di lantai, dan pintu kamar terbuka selebar dua jari.

Aku tidak langsung bergerak.

Jam menunjukkan 04.51.

Tempat di sebelahku kosong. Mbak Laras belum kembali.

Aku duduk perlahan. Rasa mual naik begitu cepat hingga aku harus menutup mulut. Pergelangan kiriku memerah, membentuk jejak samar seperti bekas genggaman. Ada nyeri tumpul di tubuhku dan rasa asing yang membuat kulitku ingin lepas dari tulang.

"Cuma mimpi," bisikku.

Kalimat itu terdengar bodoh bahkan di telingaku sendiri.

Aku meraih bantal. Di sarungnya tertinggal aroma yang sama, dingin dan tajam. Bukan milikku. Bukan milik Mbak Laras.

Di meja kecil, cangkir tehku sudah kosong. Aku yakin masih ada setengah ketika memejamkan mata. Pada dasar cangkir menempel serpihan bunga pucat yang tidak kulihat pada cangkir Mbak Laras sebelumnya. Tanganku bergerak hendak mengambil foto, tetapi ponselku tergeletak di lantai dengan daya tinggal dua persen.

Kamera terbuka, lalu layar mati sebelum sempat menyimpan gambar.

Aku menahan suara yang hampir keluar dari tenggorokan. Bahkan benda-benda di kamar itu seperti menolak menjadi saksi.

Di depan cermin sempit, aku membuka kardigan dan memeriksa diri tanpa benar-benar berani melihat. Ada garis kemerahan di bahu, rambutku kusut, dan satu kancing baju tidur terbuka. Tidak ada satu tanda yang bisa menerangkan semuanya. Justru ketidakjelasan itu membuat kepalaku berputar. Kalau seseorang bertanya apa yang terjadi, aku hanya punya potongan yang bisa dibantah satu per satu.

Mungkin kancingnya terbuka saat aku tidur.

Mungkin pergelanganku terjepit tubuh sendiri.

Mungkin aroma itu terbawa dari ruang tamu.

Mungkin suara yang kukenal hanya lahir dari ketakutanku.

Aku menarik napas, tetapi dadaku menolak mengembang penuh. Di luar kamar, Ayah batuk. Suara biasa itu hampir membuatku menangis. Jarak kami hanya beberapa meter, namun malam tadi terasa seperti berlangsung di tempat yang tak bisa dijangkau siapa pun.

Aku menyambar tisu, membungkus sisa bunga dari cangkir, lalu memasukkannya ke saku kardigan. Aku tidak tahu untuk apa. Mungkin agar ada satu benda yang tidak bisa diperbaiki Ibu, dirapikan Mbak Laras, atau dijelaskan orang lain sebagai mimpi burukku.

Kakiku menyentuh lantai. Lututku hampir gagal menyangga. Aku memungut kardigan dari kursi, mengenakannya di atas baju tidur, lalu mencari sandal. Hanya satu yang ada di bawah meja. Aku tak sanggup membungkuk lebih lama.

Dari kamar Ibu terdengar suara Mbak Laras berbicara pelan. Ia masih di sana. Ayah mungkin tertidur di kursi. Rumah kami belum benar-benar bangun.

Aku bisa mengetuk pintu itu.

Aku bisa menunjukkan pergelanganku.

Aku bisa berkata ada seseorang masuk ke kamarku.

Lalu apa?

Ibu akan bertanya kenapa pintuku tidak kukunci. Mbak Laras akan melihatku dengan mata yang tadi malam penuh kepercayaan saat menyebut nama tunangannya. Ayah akan panik. Semua orang akan meminta penjelasan, sedangkan aku bahkan tidak bisa memastikan bagian mana yang nyata.

Aku melewati lorong sambil menempel ke dinding.

Di ujung tangga, pintu kamar tamu tertutup. Tidak ada cahaya di bawahnya.

Langkahku berhenti.

Jantungku berdetak begitu keras sampai telinga berdenging. Aku melihat gagang pintu itu, menunggu sesuatu bergerak. Tak ada apa-apa.

Aku turun satu anak tangga.

Lalu satu lagi.

Pintu kamar tamu terbuka.

Aku membeku.

Damar berdiri di sana dengan kemeja gelap dan rambut rapi, seolah ia sudah bangun sejak lama. Tidak ada kantuk di wajahnya. Tangannya memasang jam di pergelangan. Gerakannya berhenti ketika melihatku.

"Mau ke mana?" tanyanya.

Suaranya datar.

Sama seperti satu kata dalam gelap.

Aku mundur. Tumit telanjangku tergelincir di anak tangga, tetapi tanganku berhasil meraih pegangan.

Damar melangkah mendekat.

"Sekar?"

Cara ia menyebut namaku membuat tengkukku membeku.

"Jangan dekat-dekat."

Itulah kalimat pertama yang berhasil keluar dengan utuh. Matanya bergerak ke pergelangan tanganku yang kemerahan. Hanya sepersekian detik, tetapi aku melihatnya.

Ia tahu.

Atau aku ingin percaya ia tahu karena aku membutuhkan wajah untuk ditempelkan pada mimpi buruk itu.

Aku berbalik dan berlari ke pintu depan. Kunci bergetar di tanganku. Damar tidak mengejar, tetapi aku bisa merasakan tatapannya menempel di punggung.

Udara subuh menerpa wajah. Jalan di depan rumah basah dan sepi. Aku turun tanpa sandal, menginjak genangan, tidak peduli kerikil menusuk telapak kaki.

"Sekar."

Suara itu datang dari belakang.

Aku menoleh meski seluruh tubuhku menolak.

Damar berdiri di ambang pintu, separuh wajahnya tertutup bayangan rumah. Cahaya fajar yang pucat hanya menyentuh matanya.

Sepasang mata hitam yang sama sedang memandangku.

1
ceuceu
ga jelas lah,maaf thor aku skip
ceuceu
membungungkan antara cerita dan dialog
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!