Di mata dunia, mereka hanya keluarga kecil yang bahagia: Chiko si karyawan kantor yang penakut, Mila si ibu rumah tangga yang lembut, dan Lala si kecil berusia empat tahun yang konyol dan menggemaskan.
Namun, di balik pintu rumah mereka, kebenaran tersembunyi dengan rapat:
Chiko Leonhart: CEO miliarder yang sedang menyamar untuk menghancurkan musuh bisnisnya.
Mila Leonhart: Viper, ketua mafia legendaris yang menguasai dunia bawah tanah.
Lala Leonhart: Subjek eksperimen rahasia ber-IQ 210 yang menyembunyikan kejeniusannya di balik kecintaannya pada biskuit panda.
Disatukan oleh ketidaksengajaan dan takdir yang rumit, ketiganya saling menyembunyikan identitas asli demi menjaga misi masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tetangga Baru di Nomor 14A dan Misi Memasak Bersama
Senin pagi di perumahan Griya Indah Permai disambut udara sejuk dan suara mesin truk pindahan yang berhenti tepat di seberang jalan, di rumah nomor 14A.
Chiko yang bersiap berangkat ke kantor Leonhart Tower menyipitkan mata dari balik kacamata tebalnya saat menyiram tanaman di teras. Melalui Lensa Pintar-nya, ia memindai secara refleks dua pria berbadan tegap yang sedang mengangkut kardus-kardus besar dari truk.
[Pindaian Siber: Terdeteksi 2 Individu. Postur Tubuh: Pelatihan Militer Khusus. Identitas: Sisa Organisasi Bayangan Bintang Hitam.]
‘Sisa-sisa sindikat Bintang Hitam?’ batin Chiko dingin. ‘Mereka menyamar jadi tetangga baru untuk mengawasi rumah ini dari jarak dekat? Berani sekali mereka mengganggu ketenangan kompleks perumahan kami.’
Di saat bersamaan, Mila yang keluar membawa tempat sampah melihat salah satu dari pria tersebut menjatuhkan kardus yang tampak sangat berat. Hidung peka Mila langsung menangkap aroma tipis lubrikan minyak senjata tipe khusus yang keluar dari celah kardus tersebut.
‘Aroma minyak pembersih senapan laras panjang...’ batin Mila menyipitkan matanya anggun seraya memasang senyum ibu rumah tangga yang sangat ramah. ‘Rupanya ada tikus-tikus baru yang mencoba membuat sarang di seberang rumahku. Aku harus memastikan mereka tidak sempat menyentuh gerbang rumah nomor 12B.’
Lala yang keluar membawa ransel pandanya melirik truk pindahan itu. Bando telinga pandanya memancarkan kedipan biru mikro yang sangat halus.
‘Oho... Paman-paman tetangga baru bawa kardus isi mainan tembak-tembakan ya?’ batin Lala tertawa riang di dalam hati. ‘Nanti kalau Paman main ke rumah, Lala kasih racikan kue buatan Bunda yang paling mantap!’
Sore harinya, Mila berpura-pura menjadi tetangga yang baik dengan membuat sepiring penuh bolu kukus pandan yang harum.
"Papa, ayo kita antar bolu kukus ini ke tetangga baru di nomor 14A. Sekaligus menyapa mereka," ajak Mila manis.
"Ide bagus, Bunda! Mari Papa yang bawakan piringnya," jawab Chiko penuh semangat dengan cengiran kaku.
Mereka bertiga berjalan melintasi jalan kompleks menuju rumah nomor 14A. Seorang pria berotot dengan kemeja kaku keluar membukakan pintu. Pria itu—yang sebenarnya merupakan agen elit organisasi Bintang Hitam—menatap keluarga Leonhart dengan pandangan terkejut dan waspada.
"Selamat sore, Paman!" seru Lala polos sambil tersenyum paling manis. "Kami tetangga dari rumah nomor 12B! Bunda buatkan bolu kukus pandan untuk Paman!"
Mila tersenyum sangat anggun. "Selamat datang di kompleks kami, Pak. Semoga betah ya di sini." ‘Satu langkah salah yang kamu buat ke arah anakku, pisau titanium ini akan memotong urat lehermu sebelum kamu sempat berteriak,’ batin Mila mendoakan dengan aura Ratu Viper yang mematikan.
Chiko mengulurkan tangan untuk berjabat tangan sambil tersenyum lugu. "Saya Chiko, ini istri saya Mila, dan ini putri kami Lala."
Saat telapak tangan mereka bertemu, Chiko menyentuhkan mikrocip frekuensi peretas dari jam tangannya langsung ke telapak tangan pria itu.
BZZZZT.
Secara instan, seluruh sistem peralatan penyadap dan kamera pengintai yang baru saja dipasang di dalam rumah nomor 14A mengalami korsleting total dari jauh, membakar seluruh memori data musuh!
Pria itu terkejut merasakan sengatan listrik halus di tangannya, lalu menatap jam tangannya yang mendadak mati total. "A-ah... terima kasih banyak... Saya, Budi..." jawab pria itu dengan nada tegang dan peluh dingin mengucur di dahinya.
Lala melangkah mendekat, lalu menepuk-nepuk lutut pria itu dengan tangan kecilnya.
"Paman Budi! Makan bolu kukusnya sampai habis ya!" bisik Lala imut. "Soalnya kalau tidak dihabiskan... nanti kata bando panda Lala, rumah Paman bisa kena petir dari langit!"
Pria itu semakin merinding mendengar ucapan bocah kecil tersebut tanpa memahami artinya.
Malam harinya, di dalam rumah nomor 14A, pria bernama Budi dan rekannya panik luar biasa.
"Semua kamera dan alat penyadap kita rusak terbakar!" terikat rekannya. "Bahkan seluruh senjata di dalam kardus mendadak terkunci otomatis! Ada apa dengan keluarga di seberang jalan itu?!"
Belum sempat mereka memproses kebingungan tersebut, pintu rumah mereka diketuk pelan dari luar. Ketika dibuka, tidak ada orang... hanya ada surat resmi dari kepolisian dan intelijen negara yang menyatakan bahwa rumah tersebut telah dikepung oleh tim gabungan siber Leonhart Enterprises dan tim eksekusi Black Crimson dari dua arah berbeda.
Dalam waktu kurang dari satu jam, dua pengintai Bintang Hitam itu menyerahkan diri tanpa sempat melepaskan satu tembakan pun, melarikan diri dari kompleks perumahan tersebut dengan rasa trauma mendalam!
Di ruang tengah rumah nomor 12B, suasana terasa sangat damai dan hangat.
Chiko duduk di sofa sambil memangku laptop kearsipannya (yang sebenarnya sedang membersihkan sisa-sisa dokumen organisasi Bintang Hitam dari peta dunia).
Mila menyandarkan kepalanya di bahu Chiko sambil merajut syal tipis berwarna merah muda untuk Lala. Dan di atas karpet empuk, Lala sedang sibuk menata mainan pandanya sambil mengunyah bolu kukus sisa sore tadi.
"Wah, tetangga baru di nomor 14A tadi kelihatannya terburu-buru sekali ya Papa? Malam ini langsung pindah lagi," ujar Mila ramah dan polos.
"Iya, Bunda... Mungkin mereka salah pilih perumahan," jawab Chiko sambil tertawa canggung dan membetulkan kacamatanya.
Lala menoleh ke arah Papa dan Bundanya, lalu tertawa riang sambil memeluk boneka pandanya.
"Tidak apa-apa Papa, Bunda! Yang penting rumah nomor 12B selalu ramai dan penuh biskuit panda!" seru Lala gembira. Puk-puk-puk.
Chiko dan Mila saling bertatap mata, lalu tersenyum penuh kasih sayang. Rahasia besar boleh saja menyelimuti identitas mereka, tetapi bagi Keluarga Leonhart, tidak ada tempat lain yang lebih aman, lebih hangat, dan lebih bahagia daripada rumah kecil mereka tercinta.
Bersambung..