Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.
Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.
Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.
"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”
Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"
“Mas, panggil saya mas Bara.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAH
BAb 4
“SAH”
Bara dan orangtua Ruby terlihat menghela nafas. Menyayangkan pernikahan terjadi karena situasi dan kondisi darurat begini. Apalagi Ruby adalah putri satu-satunya, banyak harapan dan ekspektasi untuk gadis itu. Sungguh bukan pernikahan impian siapapun.
Isi pikiran Bara masih berkecamuk. Bagaimana menyampaikan pada keluarga dan kampusnya, begitupun menghadapi warga sekitar. Meski ijab qabul itu terlaksana tertutup, menghormati keluarga dari Bara dan Ruby. Pak Kades paham kalau situasi saat itu bukan kepergok sedang melakukan perbuatan asusila, tapi bersalah karena melanggar aturan jam malam.
Sikap Ruby lebih tenang dan biasa saja melewati ijab qabul tadi. Bertolak belakang dengan rengekan dan ocehan menolak sejak malam tadi. Sudah memiliki siasat meski mama tidak mendukungnya, pernikahan bukan sebuah drama apalagi permainan. Momen sakral akan menjadi pengingat dan garis start untuk jenjang kehidupan berikutnya.
Doa pernikahan sudah dilantunkan, penghulu mengarahkan Ruby untuk mencium tangan Bara.
“Ayo, mbak. Simbol bakti pada suami.”
Bara dan Ruby pun saling berhadapan, momen cium tangan itu diabadikan oleh Mama. Bara menyentuh kepala Ruby, dengan mata terpejam bibirnya melantunkan doa. begitu lirih.
“Totalitas banget sih, sampai jakarta tinggal talak saya … beres,” bisik Ruby.
Dahi Bara langsung mengerut mendengar rencana istrinya, ya Ruby sudah sah menjadi istrinya. “Talak?”
“Sssttt.”
“Mas Bara dan Mbak Ruby, pernikahan ini baru sah secara agama. Silahkan segera urus legalitasnya,” ujar Pak Kades.
“Baik, nanti kami urus.”
Ruby langsung menoleh dan mendelik pada Bara, bangkan menginjak kaki suaminya. Menunjukan kalau dia tidak setuju dengan niat itu.
“Jangan pernah berpikir menyudahi atau mengabaikan pernikahan apalagi bercerai. Pernikahan ini bukan permainan. Kalian sudah SAH disaksikan oleh kami,” jelas penghulu.
“Kalau memang nggak cocok, gimana pak?”
“Ruby,” tegur Mama.
“Ketidakcocokan itu kalau sudah dijalani, bukan baru menikah langsung bilang tidak cocok.”
Wajah Ruby kembali cemberut, rencananya gagal dan kini ia sudah sah menjadi istri dari Barata Airlangga. Mimpi apa kemarin malam, rencana bimbingan skripsi malah menjadi istri.
***
Bara mengakhiri kegiatannya di desa itu, pulang ke Jakarta bersama Ruby dan keluarganya. Tidak butuh waktu lama untuk membereskan pakaian dan perlengkapan miliknya. Pak Kades bahkan sudah menyiapkan mobil dinas desa untuk mengantar ke bandara.
Jangan tanya apa yang dilakukan Ruby, sejak tadi tantrum macam bocah. Bara bahkan harus sabar menghadapinya dengan diam saja. Mendengar perdebatan kecil orangtua Ruby, bisa disimpulkan kalau pasangan itu sudah berpisah. Saling menyalahkan kenapa hal ini bisa terjadi. Nyatanya meski lahir dari keluarga broken home, Ruby cukup mandiri, manja seperti gadis pada umumnya. Tentu saja cantik, tidak ada yang bisa menyangkal akan hal itu. Mungkin itu alasan dia fokus pada pekerjaan sebagai model dibandingkan dengan kuliahnya.
“Sayang, mas kawin dari nak Bara, tadi mama simpan di koper kamu,” ujar mama dari kabin tengah.
“Iya,” sahut Ruby. Pandangannya tertuju keluar jendela. Ia dan Bara menempati kabin belakang.
“Nak Bara, nanti beli cincin ya. Simbol kalau kalian sudah terikat sebagai suami dan istri.”
“Baik, nanti saya siapkan.”
Ruby menoleh lalu beradu tatap dengan Bara, ia mencibir. “Siapkan apa? Aku nggak mau pake cincin nikah.”
Terserah, ucap Bara meski dalam hati. Ia berusaha tetap waras menghadapi istrinya. Saat ini Bara mengenakan pakaian casual, menanggalkan batik yang tadi dikenakan saat ijab qabul. Namun, Ruby masih memakai kaftan. Definisi mempersulit diri sendiri, kesulitan saat menaiki tangga pesawat dan turun dari mobil. Di pesawat ia menolak duduk di samping Bara, memilih duduk dengan mama.
Dua jam dalam pesawat, akhirnya mereka tiba di Jakarta. Banyak nasehat dari mama hanya direspon Ruby dengan mengangguk.
“Jaga diri dan sikap kamu Ruby,” tegur Papa. “Bara, bimbing dia. Papa serahkan Ruby pada kamu.”
“Sekalian kasih tau tips biar cerai seperti kalian.”
“Ruby,” tegur Bara dan Mama hanya bisa geleng kepala menghadapi putrinya itu.
“Wajar kamu berjodoh dengan dosen, memang perlu dididik. Mulut kamu itu … ck.” Papa menggeleng pelan.
Bara dan Ruby masih berdiri, menatap Mama dan Papa meninggalkan bandara dijemput oleh supir masing-masing.
“Tidak usah aku jelaskan, Pak Bara sudah paham dengan hubungan mereka ‘kan?”
“Hm. Kamu tinggal di mana?”
“Kemang Apartemen,” sahut Ruby.
“Kita ke tempatmu, ada yang harus kita bicarakan.”
Masih dengan tangan bersedekap, Ruby menoleh. “Masalah talak, ya pak?”
Bara menghela nafas, menghadapi istri kecilnya ini akan lebih sulit dari menghadapi dua anaknya. Menggunakan mobil Ruby di mana Bara yang mengemudi menuju apartemen. Tidak mungkin Bara membawa Ruby pulang, khawatir orang tuanya kena serangan jantung karena mendadak membawa istri hasil pernikahan paksa. Dia pun perlu bicara pada kedua anaknya, secepatnya.
“Mau bahas apa?” tanya Ruby saat memasuki apartemen. Bara melepas sepatunya mendapati rak tidak jauh dari pintu lalu berganti sandal rumah yang kekecilan di kakinya. Jangan tanya tuan rumah yang langsung melepas sepatunya begitu saja juga meninggalkan koper, menghempaskan tubuhnya di sofa. Wajahnya cemberut, tangannya memeluk bantal di depan dada.
Bara menggeser kedua koper itu lalu ikut duduk di sofa, berseberangan dengan Ruby.
“Sementara kamu tetap tinggal di sini ….”
“Ya iyalah, emang mau kemana. Masa balik lagi ke rumah pak Kades,” cetus Ruby menyela kalimat Bara.
“Kamu di sini sampai saya bisa menjelaskan pernikahan kita pada orang tua dan anak-anak saya,” jelas Bara. Ruby menarik nafas enggan menatap Bara yang menatap lekat ke arahnya. “Secepatnya saya akan urus pernikahan ini.”
“Serius amat, pak. Mereka nggak akan tahu kita di sini kayak gimana.”
“Karena masa depan kita taruhannya. Saya tidak mau masalah ini mencoreng nama keluarga saya dan keluarga kamu. Saya bukan laki-laki pengecut yang lari dari masalah. Saya akan bertanggung jawab, atas ijab qabul yang sudah kita jalankan.”
“Dengan cara?” Kali ini Ruby berani menatap Bara.
“Menjalani pernikahan ini dan belajar menerima kamu sebagai istri saya.”
“Hah, maksudnya saya juga harus terima bapak sebagai suami?”
“Tentu saja?”
“Tapi diantara kita tidak ada rasa cinta, lalu kita harus … begituan?” cecar Ruby dengan gusar.
“Begituan! Maksudnya?”
Ruby berdecak. “Nggak usah sok polos, anak bapak udah dua. Masa nggak tahu begituan. ML pak, making love.”
“Mungkin.”
“Eh?”
\=\=\=\=\=\=\=
Hai, ketemu lagi 🤭,, baru menyapa di bab 4. Semoga suka dengan ceritanya ya, kalau udah sampai sini harus sampai tamat, kalau gak ... Cubit nihhhh. Jangan lupa jejaknya. love seabreg bareng untuk kalian 🥰
Terus jadi kompor mleduk bwt Bara Meldy 💪
Awas ya kamu .....🤭