Indonesia
NovelToon NovelToon
I Love You Mas Mayor Galak

I Love You Mas Mayor Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.

Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Ketika Bunga Bertemu Loreng

BAB 3: Ketika Bunga Bertemu Loreng

Pagi berikutnya, Sabtu yang cerah berawan, niatku murni dan sangat mulia: membeli dua bungkus kue lupis kesukaanku yang disiram kuah gula merah melimpah di toko Bu Maya, lalu pulang ke rumah untuk menikmati akhir pekan sambil menonton acara televisi.

Namun, sepertinya radar kecerobohan yang tertanam dalam diriku memang memiliki sensor otomatis untuk kumat di saat dan lokasi yang paling tidak tepat.

Sambil berjalan pulang menelusuri trotoar di samping dinding pembatas asrama Batalyon, mataku sibuk menikmati gigitan pertama kue lupis yang kenyal dan manis.

Lidahku dipenuhi rasa gurih parutan kelapa berpadu legitnya cairan gula aren. Aku sungguh terbuai dalam kenikmatan kuliner pagi itu, sampai-sampai sama sekali tidak memperhatikan situasi sekitar.

Aku tidak sadar bahwa sebuah mobil jip dinas berwarna hijau tua mengilap baru saja berhenti meluncur dengan mulus persis di samping gerbang utama.

SRET!

Bencana kecil itu terjadi hanya dalam hitungan detik. Sandal jepit warna merah muda gambar kelinci yang kupakai tiba-tiba tersangkut di antara celah penutup selokan trotoar yang agak renggang.

Kakiku terhenti mendadak, sementara tubuh atasku masih melaju ke depan. Keseimbanganku langsung hilang seratus delapan puluh derajat!

"Aduuuh! Tolong, bumi bergoyang!" seruku histeris.

Refleks, kedua mataku terpejam erat di balik kacamata tebal.

Tanganku mengayun liar di udara bebas berusaha mencari pegangan apa saja, sementara tangan kiriku masih memegangi plastik kue lupis yang gembung oleh saus gula merah cair.

Dalam pikiranku aku hanya pasrah, aku sudah bersiap menerima nasib mendarat secara tragis dan tidak estetis di atas aspal kotor, lengkap dengan bonus wajah tercelup kuah gula merah.

Namun, rasa sakit yang sudah kubayangkan ternyata tidak pernah tiba.

Grebeg!

Sebuah lengan kokoh berbalut kain seragam loreng dengan cepat menangkap pinggangku dari samping, menahan bobot tubuhku tepat beberapa sentimeter sebelum menyentuh tanah.

Cengkeraman tangannya sangat kuat, stabil, dan sigap seperti cengkeraman tiang baja yang tak tergoyahkan. Tubuhku tertahan dalam posisi menengadah yang cukup canggung di udara.

Aku terpaku beberapa detik. Suasana di sekitarku mendadak hening, hanya terdengar deru mesin jip dinas yang masih menyala halus di dekat gerbang.

Saat mataku perlahan terbuka, hal pertama yang kulihat adalah barisan pangkat tiga melati berwarna emas yang berkilau di bahu kemeja dinasnya.

Lalu pandanganku naik menelusuri dada bidangnya yang tegap, lehernya yang kokoh, rahangnya yang tegas... dan akhirnya bermuara pada wajah tampan dengan tatapan mata paling dingin yang pernah kulihat seumur hidupku ini.

Alis tebalnya bertaut amat erat. Wajahnya keras, kaku, tanpa ada sedikit pun pendar ramah atau senyuman.

Aura intimidasi khas seorang komandan perang terpancar begitu kuat dari dirinya.

"Kamu kalau jalan pakai mata, bukan pakai mulut," suara berat, dalam, dan dingin itu menembus telingaku dengan sangat jelas.

Aku berkedip polos dua kali di bawah lindungan kacamata tebal.

Jarak wajah kami hanya terpaut belasan sentimeter. Bukannya takut, gemetar, atau buru-buru meminta maaf seperti orang normal pada umumnya, otak ajaibku justru merespons hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan keselamatan jiwaku.

"Wah... galak banget, tapi kok gantengnya kebangetan begini ya? Hidungnya mancung seperti perosotan anak TK," batinku jujur tanpa rasa berdosa.

Nahasnya, pemikiran jujur itu tidak hanya tersimpan rapat di dalam hati.

"Mas Mayor galak banget, tapi ganteng, deh! Makasih ya sudah jadi pahlawanku pagi ini!" ucapku blak-blakan dengan senyum paling manis dan mata yang berbinar-binar.

Pria itu Mayor Aris seketika membeku di tempat.

Matanya yang tajam sempat melebar sedikit, terkejut luar biasa mendengar ucapan super absurd dari gadis asing yang baru saja ditolongnya.

Dua prajurit penjaga pos piket yang berdiri di seberang jalan tampak melotot ketakutan.

Wajah mereka pucat pasi, menahan napas menyaksikan kenekatanku yang sama sekali tidak memiliki rasa segan pada komandan baru mereka yang terkenal galak.

Mayor Aris dengan cepat menghentakkan tangannya, menegakkan tubuhku kembali ke posisi berdiri tegak, lalu melangkah mundur satu meter untuk menjaga jarak.

Wajahnya berusaha dibuat segalak dan sekaku mungkin, walau aku sempat melihat ujung telinganya mendadak berubah warna menjadi sedikit kemerahan.

"Jaga bicaramu. Ini kawasan militer, bukan tempat untuk bergurau sembarangan," tegurnya dengan suara bass yang tegas, sambil membetulkan posisi seragam lorengnya yang sedikit terlipat.

Saat itulah matanya yang tajam tidak sengaja melirik ke bawah, ke arah dada kemeja dinas hijau zaitunnya yang tadinya licin dan rapi tanpa noda.

Deg.

Di sana, tepat di bagian dada sebelah kanan kemeja dinas Mayor Aris, terdapat bercak noda cokelat pekat yang cukup lebar. Saus gula merah cair dari kue lupisku tumpah dan meleber sempurna sewaktu tubuhku membentur dadanya saat ditangkap tadi.

Bahkan parutan kelapa gurihnya ada yang menempel anggun di atas kancing depan kemejanya!

"Astaga! Mas Mayor! Gula merahku nempel di baju gantengnya!" seruku panik.

Tanpa berpikir panjang, aku refleks mengambil segulung tisu dari saku celana kulot polkadotku, lalu bermaksud mengelap noda lengket di dada bidang Mayor Aris secara langsung dengan tanganku sendiri.

"Jangan disentuh!" potong Aris dengan suara menggelegar, seraya menahan pergelangan tanganku di udara sebelum jariku menyentuh dadanya.

Genggamannya di pergelangan tanganku terasa hangat dan mantap.

Matanya menatapku tajam, seolah-olah aku baru saja melakukan pelanggaran berat dalam pertahanan negara.

"Eh, mau dibersihkan, Mas Mayor. Nanti dikerubungi semut rangrang, lho! Gula merah Bu Maya ini manisnya tiada tara," ujarku polos sambil menunjuk noda cokelat itu dengan jari telunjukku.

Mayor Aris menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan.

Beliau memejamkan mata selama beberapa detik, tampak sedang mengerahkan seluruh tenaga dan kesabarannya untuk tidak meluapkan emosi di pagi pertama akhir pekannya ini. Suasana di depan pintu gerbang terasa begitu tegang, tetapi bagiku justru terasa menggemaskan.

"Siapa nama kamu? Dan kamu tinggal di mana?" tanya Aris akhirnya dengan nada dingin dan penuh selidik.

Matanya menatapku dari ujung kepala yang acak-acakan hingga ke sandal kelinci merah mudaku.

Aku menyunggingkan senyum paling lebar, membetulkan letak kacamataku yang agak miring, lalu menunjuk ke arah rumah sederhana bernuansa krem di ujung jalan dengan penuh semangat.

"Nama aku Mayang, Mas Mayor! Aku tinggal di rumah cat krem di sana bersama Mbak Rina. Dan jawaban untuk pertanyaan kedua, aku calon masa depan Mas Mayor eh, maksudnya tetangga baru Mas!" jawabku riang tanpa ada keraguan sedikit pun.

Prajurit piket di pos penjagaan refleks terbatuk-batuk mendengar jawaban "calon masa depan" yang meluncur bebas dari mulutku.

Mayor Aris memijat pangkal hidungnya pelan. Raut wajahnya menunjukkan tingkat kepusingan yang sangat amat mendalam.

Selama bertahun-tahun bertugas di berbagai daerah konflik dan markas militer, beliau tentu sudah terbiasa menghadapi musuh, latihan berat, atau prajurit membandel. Namun, menghadapi gadis ajaib bernama Mayang ini sepertinya berada di luar seluruh kurikulum akademi militer mana pun.

"Dengar, Mayang," ucap Aris dengan nada rendah namun penuh wibawa yang tak tertandingi.

"Lain kali kalau jalan, gunakan matamu dengan benar. Jangan berkeliaran di sekitar pintu gerbang markas dengan penampilan seperti ini. Dan yang paling penting... jangan pernah panggil saya 'Mas Mayor'."

"Lalu aku harus panggil apa dong? Sayang?" celotehku jujur tanpa disaring.

Mata Mayor Aris membelalak.

"Mayor Aris! Panggil saya Mayor Aris!" serunya memotong cepat sebelum imajinasiku makin liar.

"Oke, siap! Mayor Aris Ganteng!" balasku sambil memberikan hormat kaku dengan meletakkan tangan kanan di dahi posisi hormat yang salah total karena jariku menekuk tidak beraturan.

Mayor Aris hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Rahangnya mengeras menahan rasa gemas dan frustrasi.

Tanpa mengacuhkan hormat asalku, beliau melepaskan pergelangan tanganku, berbalik badan dengan tegap, lalu melangkah masuk ke dalam area markas dengan langkah-langkah lebar yang sangat tegas.

"Piket! Bersihkan area depan!" perintah Aris tegas pada prajurit penjaga saat melewati pos.

"Siap, Komandan!" jawab kedua prajurit dengan posisi siap sempurna.

Aku masih berdiri di atas trotoar dengan sandal kelinci merah muda dan bungkus kue lupis yang sudah agak penyok.

Mataku memperhatikan punggung tegap berbalut seragam loreng itu hingga menghilang di balik belokan bangunan markas.

Aku tertawa kecil sendiri. Noda gula merah di dadanya tadi terasa seperti stempel takdir yang sah.

"Ternyata Mas Mayor Aris kalau lagi pusing makin kelihatan ganteng," gumamku gembira sambil memakan sisa kue lupis yang masih tersisa.

"Mbak Rina harus tahu kalau tetangga baru kita ini sangat berpotensi jadi pahlawan impian!"

Aku melangkah pulang dengan hati yang berbunga-bunga.

Di kepala ajaibku, berbagai rencana unik dan kehebohan baru sudah mulai tersusun rapi untuk menyapa sang Mayor Galak di hari-hari mendatang. Perjodohan takdir manis antara gadis ceroboh dan komandan kaku ini resmi dimulai hari itu!

1
pena putih
seru banget ditunggu updatenya ya
pena putih
Yuk mampir👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!