[SEASON 3]
"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)
"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)
"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)
"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)
Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.
Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.
Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Kehilangan Kesabaran
"Aku sendiri tidak tahu apa mau kedua kakak kandungku yang menyebalkan itu terhadapmu. Tapi aku? Aku hanya ingin memastikan bahwa Mate-ku tidak pingsan atau mati konyol di tengah jalanan sepi ini sebelum ia sampai ke tempat tujuannya."
"Mate? Kau ini sedang bicara omong kosong apa, atau otak vampirmu itu memang sudah tidak waras?!"
Elisa mendesis rendah, wajahnya yang sembab akibat tangis kini dipenuhi oleh kerutan kebingungan yang mendalam. Istilah asing itu terdengar sangat aneh di telinganya, namun entah mengapa, cara Josiah melafalkan kata tersebut terdengar sangat sakral, berat, dan... mengikat jiwanya.
Josiah menurunkan tubuhnya dari sepeda, membiarkan kendaraan berkarat itu berdiri tegak di sampingnya. Ia menatap Elisa dengan intensitas yang mutlak, sejenak menanggalkan total kesan playboy tengil yang biasa ia pamerkan di depan Scarlett.
"Ah, aku hampir lupa kalau kau ini hanyalah seorang gadis manusia biasa yang tumbuh besar di balik selimut dongeng fana yang membosankan," Josiah terkekeh pelan dengan suara serak, namun sepasang matanya tetap mengunci pergerakan kornea mata Elisa.
"Mate adalah sebuah istilah sakral dari kaum kami—kaum Immortal—untuk menyebut pasangan sejati yang telah digariskan oleh alam semesta. Itu bukan sekadar perihal cinta fana, ketertarikan fisik, atau obsesi biasa, Elisa. Itu adalah sebuah ikatan jiwa kuno yang tertulis secara absolut di dalam kode darah kita."
Josiah mengambil langkah maju, mendekati tubuh Elisa secara perlahan. Anehnya, kali ini Elisa tidak bergerak mundur untuk melarikan diri; ia seolah-olah terpaku di tempatnya berdiri akibat getaran otoritas magis yang mengalun dalam nada suara pemuda itu.
"Di dunia kami, dunia para makhluk abadi yang menguasai malam, alam semesta telah memilihkan satu orang spesifik untuk menjadi belahan jiwa dari masing-masing entitas sejak mereka terlahir. Saat seorang Immortal mencium aroma tubuh dari Mate-nya, jantung supranatural kami yang mati akan berdetak kembali hanya untuk orang itu. Darah kami akan mendidih hebat karena dorongan hasrat primal untuk melindungi—atau memiliki sepenuhnya,"
Josiah menghentikan langkah kakinya tepat satu jengkal di depan dada Elisa. Aroma laut asin bercampur besi yang maskulin dari tubuh tegap pemuda itu kini kembali menyelimuti indra penciuman Elisa secara total.
"Aroma bunga lili murni yang menguar dari pori-pori kulitmu... itu adalah sinyal mutlak bagi insting vampirku bahwa pencarian panjangku atas pasangan sejati telah berakhir tepat padamu. Kau adalah takdir abadi yang dikirimkan untukku, Elisa. Itulah alasan ilmiah kenapa kekuatan manipulasi memorimu terasa tumpul dan gagal padaku, dan kenapa insting terdalamku tidak akan pernah bisa membiarkanmu terluka oleh apa pun."
Elisa menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba menepis segala rentetan kenyataan gila nan absurd yang baru saja menghujam rungu manusianya.
"Dunia Immortal? Jadi... kalian bertiga benar-benar bukan manusia fana? Vampir, Mermaid, Demon... semua dongeng menyeramkan itu nyata?"
"Jauh lebih nyata dari helaan napas yang sedang kau hirup dari paru-parumu saat ini, Elisa," jawab Josiah dengan nada suara yang teramat tenang namun tegas.
"Dunia tempatmu berpijak ini luar biasa luas, Elisa. Ras manusia fana hanya hidup dan menetap di permukaannya yang dangkal, sementara kami... kami adalah para pemilik malam yang sesungguhnya. Dan kau, tanpa kau sadari sedikit pun, baru saja melangkahkan sepasang kaki kecilmu masuk ke tengah-tengah medan perang insting berdarah antara aku dan kedua kakak laki-lakiku."
Elisa terdiam seribu bahasa, hatinya mendadak mencelos hancur. Jika seluruh rentetan kalimat yang diucapkan Josiah adalah sebuah kebenaran mutlak, maka melarikan diri dari tempat ini bukan lagi menjadi sebuah pilihan yang realistis. Ia sudah terlanjur jatuh dan terjebak di dalam jaring laba-laba raksasa milik para penguasa kegelapan.
"Waktu yang kau miliki untuk menyelamatkan panti asuhanmu tinggal sedikit lagi, bukan? Si tua bangka kikir bernama Louis itu akan segera datang membawa buldozer ke pantimu dalam waktu kurang dari satu jam," Josiah melirik sekilas ke arah jam tangan mewah berlogo mahal yang melingkari pergelangan tangan kirinya.
"Naiklah. Aku akan membawamu bergerak menuju panti asuhanmu lebih cepat daripada lesatan sebutir peluru. Anggap saja tindakan ini sebagai layanan proteksi pertama dari Mate-mu."
"Tidak! Aku masih belum bisa percaya sepenuhnya pada seluruh ucapan konyol dan dongeng mistismu itu!" seru Elisa keras kepala.
Ia memaksakan sepasang tungkai kakinya yang sebenarnya sudah mulai mati rasa dan gemetar untuk kembali berbalik dan berlari sekuat tenaga menyusuri aspal.
Ia tidak memedulikan lagi apakah Josiah akan melompat dan menyerang lehernya dari belakang; bagi Elisa saat ini, setiap detik waktu yang terbuang sia-sia di hutan ini adalah ancaman kematian nyata bagi nyawa Ibu Iris dan belasan adik kecilnya di panti.
Kesabaran Josiah akhirnya mencapai batas maksimalnya. Dengan satu sentakan tangan kekarnya yang dipenuhi urat-urat supernatural, ia menyambar sepeda butut berkarat milik Elisa, melempar benda logam itu ke udara hingga melayang tinggi dan mendarat dengan dentuman keras tepat satu sentimeter di depan ujung kaki Elisa yang sedang berlari.
BRAKK!
Elisa terlonjak kaget setengah mati, tubuh manusianya nyaris saja jatuh tersungkur mencium aspal jika ia tidak segera menyeimbangkan posisi tubuhnya dengan sigap.
Ia menatap nanar ke arah benda rongsokan sepedanya yang kini tampak ringsek di atas tanah, lalu memutar kepalanya menoleh ke arah Josiah yang kini berdiri tegak dengan bauran aura kegelapan yang jauh lebih pekat dan mengintimidasi.
"Kau... kau benar-benar adalah gadis fana paling bodoh sekaligus keras kepala yang pernah kutemui sepanjang sejarah hidupku!" geram Josiah, sepasang manik mata hitam pekatnya berkilat tajam memancarkan dominasi yang berbahaya.
"Seingatku, dari seluruh barisan mantan kekasih manusiaku di kota ini, tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki tabiat menyebalkan sepertimu. Kesabaranku sudah habis, Elisa Morpheana!"
Elisa mendadak mematung di tempatnya berdiri, seluruh tubuh manusianya gemetar hebat dilingkupi rasa ngeri yang teramat sangat. Ia memejamkan kedua matanya rapat-rapat, bersiap pasrah jika kali ini sepasang taring tajam milik pemuda itu akan benar-benar menembus kulit vena lehernya dan menghisap darahnya sampai habis.
Namun, alih-alih sengatan gigitan maut yang ia bayangkan, Elisa justru merasakan sepasang lengan yang rasanya sekeras batangan baja menyambar pinggang kecil dan lipatan lututnya dengan gerakan yang luar biasa cepat namun lembut.
Dalam satu kedipan mata, Josiah telah mengangkat tubuh Elisa ke atas udara, mendekapnya erat dalam sebuah gendongan bridal style yang kokoh.
"Kyaaa! Kau vampir gila! Apa-apaan yang sedang kau lakukan padaku?!" jerit Elisa histeris, separuh jiwanya terguncang akibat kejutan instan ini.
Ia mulai meronta-ronta dengan brutal di dalam dekapan Josiah, memukul-mukul dada bidang pemuda itu menggunakan kedua kepalan tangan kecil manusianya yang rasanya sama sekali tidak berpengaruh apa-apa bagi Josiah yang memiliki tubuh sekeras batu pualam.
"Turunkan aku sekarang juga, Dasar Makhluk Brengsek! Lepaskan aku!"