Indonesia
NovelToon NovelToon
TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Penyelamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: achmad abdur roufur rokhim

Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.

​Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.

​Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Penjara Kebohongan yang Manis dan Ketakutan Sang Penguasa

​Sinar matahari pagi kembali menyapa distrik selatan, menembus kaca jendela anti-peluru dan jatuh tepat di atas permukaan lantai semen yang bersih.

​Di dalam rumah kontrakan berukuran tiga kali empat meter itu, suasana pagi terasa sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Udara tidak lagi canggung. Sisa-sisa kehangatan dari pelukan semalam—pelukan pertama yang menghancurkan seluruh dinding pemisah di antara mereka—seolah masih tertinggal dan melayang-layang di udara, membuat setiap helaan napas terasa lebih manis.

​Senja Kirana sedang berdiri di depan kompor gasnya, menyeduh dua gelas teh hangat. Wajah gadis itu tampak sangat cerah, secerah langit pagi tanpa awan. Sesekali ia tersenyum sendiri, dan rona merah tipis akan menghiasi pipinya setiap kali ingatannya berputar pada detik-detik saat ia menangis di pelukan pria besar itu semalam.

​Di sudut ruangan, Arga Danendra duduk bersandar di dinding. Mata elangnya yang tajam dan biasanya dipenuhi kilat intimidasi, kini melembut bagaikan genangan air danau yang tenang. Ia tidak melepaskan pandangannya sedetik pun dari punggung Senja.

​Melihat gadis itu bersenandung kecil sambil menyiapkan sarapan untuknya, sebuah perasaan damai yang belum pernah Arga rasakan selama tujuh tahun terakhir mengalir memenuhi relung dadanya. Ini adalah kehidupan domestik yang sederhana, namun bagi Arga, ini adalah surga yang tak ternilai harganya.

​"Teh hangat dan setangkup roti tawar sisa kemarin dari kedai sudah siap, Kak Arga!" seru Senja, berbalik dan membawa sarapan itu ke atas meja kecil di tengah ruangan.

​Senja duduk bersila di hadapan Arga. Ia menatap pria itu dengan binar mata yang memancarkan kepercayaan penuh, seolah Arga adalah pahlawan yang telah menolongnya dari keterpurukan.

​"Makanlah yang banyak, Kak. Hari ini aku akan berangkat kerja dengan perasaan yang sangat tenang," ucap Senja riang. "Pak Yanto mengirim pesan pagi ini, dia bilang jadwal kerjaku dikurangi sedikit agar aku tidak terlalu lelah, tapi gajiku tetap sama. Sungguh keajaiban, kan?"

​Mendengar kata 'keajaiban', sudut bibir Arga berkedut membentuk senyum tipis. Bukan keajaiban, Senja. Pria tua itu hanya terlalu takut pada ancaman asistenku, batin Arga. Namun tentu saja, ia tidak mengucapkannya.

​"Itu karena kau gadis yang baik, Senja. Kau pantas mendapatkannya," jawab Arga lembut. Ia menerima gelas kaleng berisi teh hangat itu, dan jari mereka bersentuhan pelan. Keduanya saling bertatapan, dan untuk sepersekian detik, dunia seakan berhenti berputar.

​Setelah sarapan usai, Senja bersiap berangkat. Ia mengambil tas kain usangnya, berdiri di ambang pintu, dan melambaikan tangan dengan senyum termanisnya.

​"Aku berangkat kerja dulu ya, Kak! Jaga rumah dan jangan kemana-mana. Kalau lukamu terasa nyeri, obatnya ada di atas meja. Dah, Kak Arga!"

​Pintu kayu jati itu pun tertutup rapat.

​Keheningan seketika menyergap ruangan tersebut. Senyum di wajah Arga perlahan memudar, seiring dengan hilangnya presensi Senja dari pandangannya.

​Arga menatap gelas kaleng yang baru saja dipakai Senja untuk minum. Ia kemudian menatap lipatan selimut motif bunga di atas kasur busa, dan beralih pada jahitan kasar di kemeja putihnya—jahitan yang dibuat oleh tangan kecil Senja yang kelelahan.

​Tiba-tiba, rasa sesak yang luar biasa mencekik tenggorokan sang CEO.

​Itu bukan rasa sakit dari luka fisiknya. Itu adalah rasa bersalah. Rasa bersalah yang sangat pekat, gelap, dan beracun, mulai menggerogoti hati nuraninya.

​Arga Danendra, pria yang menguasai perekonomian kota, pria yang kekayaannya tidak akan habis tujuh turunan, kini sedang membohongi seorang gadis yatim piatu yang bekerja banting tulang hanya untuk memberinya makan.

​Gadis itu menangis darah karena dituduh mencuri uang sepuluh juta, sementara pria yang ia lindungi memegang kartu hitam tanpa batas yang bisa menarik uang miliaran rupiah dalam hitungan detik. Gadis itu menahan lapar dan rela makan sebungkus mi instan dibagi dua, sementara pria yang disuapinya bisa menyewa satu restoran bintang lima hanya untuk memakan hidangan pembuka.

​Aku adalah bajingan, rutuk Arga dalam hati, memejamkan matanya kuat-kuat, merutuki keegoisannya. Aku menipunya demi egoku sendiri.

​Arga merogoh ponsel satelitnya dan berjalan menuju jendela kaca. Ia menekan nomor Raka.

​"Halo, Bos. Suatu keajaiban kau meneleponku di pagi hari, biasanya kau sedang asyik bermain peran menjadi pria miskin amnesia dengan bidadarimu," sapa Raka dari seberang sana dengan nada menyindir yang khas.

​"Diam kau, Raka," desis Arga pelan, menekan pangkal hidungnya yang berdenyut pening. "Bagaimana situasi di luar?"

​Terdengar suara Raka membalik-balik halaman dokumen. "Wijaya Group sudah di ambang kebangkrutan. Skandal pajak yang kita sebar kemarin sore menghantam mereka seperti tsunami. Saham mereka anjlok tujuh puluh persen pagi ini. Tuan Wijaya tua itu sekarang sedang diperiksa oleh kejaksaan dan dewan anti-korupsi. Anjing-anjing bayarannya yang kemarin memburumu sudah ditangkap polisi karena kasus kepemilikan senjata ilegal. Singkat cerita, jalanan sudah bersih, Bos."

​Arga mengembuskan napas panjang. Berita itu seharusnya membuatnya puas. Musuh terbesarnya telah hancur. Balas dendamnya tuntas.

​"Jadi, kapan kau akan pulang ke istanamu, Tuanku?" tanya Raka serius. "Kau tidak bisa terus-terusan bersembunyi di gubuk kecil itu. Perusahaan membutuhkan tanda tangan fisikmu. Dewan direksi mulai curiga. Dan... kau tidak mungkin terus-terusan membohongi gadis itu, kan?"

​Pertanyaan Raka tepat mengenai jantung pertahanan Arga.

​"Aku tahu," jawab Arga serak.

​"Ga, dengarkan aku sebagai sahabatmu," nada bicara Raka berubah menjadi sangat dalam dan penuh empati. "Kau sudah membereskan rentenir yang mengganggunya. Kau sudah membersihkan namanya dari fitnah di kedai roti. Musuhmu sudah hancur. Tidak ada lagi alasan untuk bersembunyi. Pulanglah, bawa Senja bersamamu, dan katakan yang sebenarnya."

​Arga mencengkeram kusen jendela kuat-kuat. "Kau pikir itu mudah, Rak?"

​"Apa yang susah? Kau tinggal bilang, 'Hai Senja, aku bukan gembel amnesia, aku adalah CEO miliarder, mari kita menikah dan hidup mewah selamanya'. Wanita mana yang tidak akan bahagia mendengar hal itu?"

​"Senja tidak seperti wanita-wanita murahan yang biasa kau kencani, Brengsek!" potong Arga penuh amarah. Napasnya memburu. "Dia berbeda!"

​"Aku tahu dia berbeda, Ga! Itulah masalahnya!" Raka membalas tak kalah tegas. "Dia tulus padamu. Dan orang yang tulus, adalah orang yang paling benci dibohongi. Semakin lama kau menyimpan kebohongan ini, akan semakin hancur hatinya saat dia mengetahui kebenarannya nanti. Dia akan merasa kau mempermainkan kemiskinannya, mempermainkan simpatinya. Kau ingin dia menatapmu dengan rasa jijik dan kecewa?"

​Mendengar kalimat itu, seluruh tubuh Arga menegang. Membayangkan mata bulat Senja yang biasanya berbinar penuh pemujaan, berubah menjadi tatapan kebencian dan rasa jijik... itu lebih menakutkan bagi Arga daripada kematian itu sendiri.

​"Aku... aku tidak bisa, Raka," bisik Arga, sebuah pengakuan kekalahan yang tak pernah ia ucapkan di medan perang mana pun. Sang Tiran menundukkan kepalanya. "Aku takut."

​Di seberang sana, Raka terdiam. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, ia mendengar kelemahan dari mulut sahabatnya.

​"Aku seorang pengecut," Arga melanjutkan, suaranya bergetar menahan gejolak emosi yang mengamuk di dadanya. "Jika aku mengatakan siapa aku yang sebenarnya, semua ini akan hancur. Kehangatan ini akan hilang."

​"Kenapa kau berpikir begitu? Dia mencintaimu, Ga."

​"Karena dia mencintai 'Kak Arga' si pria miskin yang sebatang kara! Bukan Arga Danendra si Iblis Korporat!" raung Arga dengan suara tertahan.

​Trauma masa lalunya kembali menyeruak, mencekik lehernya. Arga teringat pada Natasha. Dulu, wanita itu meninggalkannya karena ia miskin. Luka itu menanamkan sebuah doktrin kejam di kepala Arga: Orang-orang hanya peduli pada uangmu, bukan pada dirimu.

​"Jika dia tahu aku kaya raya... bagaimana jika dia berubah, Rak? Bagaimana jika tatapannya yang tulus itu berubah menjadi tatapan serakah seperti wanita lainnya? Aku tidak akan sanggup melihatnya. Dan yang lebih menakutkan lagi... bagaimana jika dia justru membangun tembok pemisah? Bagaimana jika dia merasa rendah diri, mundur teratur, dan menolakku karena merasa dunia kita terlalu berbeda? Jika itu terjadi, aku akan benar-benar kehilangan dia."

​Arga mengusap wajahnya dengan kasar. Pria yang memegang kendali atas ribuan nyawa karyawannya ini, kini tak berdaya di hadapan ketakutannya sendiri akan cinta.

​"Di ruangan sempit ini, dia memelukku karena aku adalah manusia biasa yang membutuhkannya. Dia merawatku, dia tertawa bersamaku tanpa ada jarak. Jika aku membongkar identitasku sekarang, kemurnian itu akan tercemar. Dia tidak akan lagi berani membentakkku untuk minum obat. Dia tidak akan lagi berbagi mi instan denganku. Aku... aku belum siap kehilangan semua itu, Raka."

​Terdengar helaan napas panjang dan berat dari Raka.

​"Kau sudah jatuh terlalu dalam, Ga. Terlalu dalam hingga logikamu mati," ucap Raka pasrah. "Tapi ingatlah satu hal: Rahasia itu seperti bom waktu. Kau tidak bisa menahannya selamanya. Aku beri kau waktu tiga hari. Bereskan masalahmu, temukan keberanianmu, dan akui semuanya pada gadis itu sebelum takdir yang membongkarnya dengan cara yang menyakitkan. Tiga hari, Arga. Setelah itu, aku sendiri yang akan menjemputmu dengan iring-iringan mobil kepresidenan."

​Klik.

​Panggilan ditutup.

​Arga menjatuhkan ponselnya ke atas kasur. Ia merosot turun dan duduk di lantai semen yang dingin, menekuk lututnya, dan menenggelamkan wajahnya di antara kedua tangannya.

​Sang Penguasa Dunia Malam itu terkurung di dalam penjara kebohongannya sendiri. Penjara yang begitu manis, hangat, dan memabukkan, hingga ia rela membuang kunci penjara tersebut agar tidak pernah keluar.

​[Pesan Tersembunyi untuk Pembaca:]

(Ada sebuah kutipan psikologis yang sangat mendalam: "Kita tidak berbohong karena kita jahat, kita berbohong karena kita takut." Arga adalah representasi dari manusia-manusia yang pernah dihancurkan oleh trauma masa lalu.

​Ketika seseorang akhirnya menemukan cinta sejati dan kebahagiaan murni setelah sekian lama berada dalam kegelapan, ketakutan terbesar mereka bukanlah kehilangan harta atau kekuasaan, melainkan ketakutan bahwa kebahagiaan itu hanyalah ilusi yang akan lenyap jika kebenaran terungkap. Kebohongan Arga bukan lahir dari niat untuk menyakiti, melainkan dari keputusasaan seorang pria kesepian yang sedang memeluk erat-erat satu-satunya sumber cahaya di hidupnya. Namun di situlah letak tragedi sebuah kebohongan; betapapun kuatnya kau memeluknya demi cinta, kebohongan pada akhirnya selalu menuntut bayaran berupa air mata dari orang yang paling kau cintai.)

​Sore harinya, langit berwarna jingga keemasan saat pintu kayu jati itu kembali berderit terbuka.

​Senja melangkah masuk dengan senyum yang jauh lebih lebar dari pagi tadi. Ia membawa sebuah kantong plastik putih di tangannya. Begitu melihat Arga yang sedang duduk di atas kasur menyambutnya dengan senyum tipis, seluruh rasa lelah Senja menguap tanpa sisa.

​"Aku pulang, Kak!" seru Senja, meletakkan sepatunya dengan rapi di rak kayu kecil.

​"Selamat datang kembali, Bidadari. Bagaimana hari pertamamu bekerja setelah badai kemarin?" tanya Arga, matanya melembut menatap wajah ceria gadis itu.

​"Luar biasa!" Senja berjalan menghampiri Arga, duduk bersila di depan pria itu dengan antusiasme yang meletup-letup. "Pak Yanto menepati janjinya! Aku tidak disuruh mengepel lagi. Hari ini aku diajari menguleni adonan roti manis dan mengatur suhu oven. Semua karyawan lain tiba-tiba sangat baik dan menghormatiku. Bahkan pelanggan yang kemarin menghinaku, hari ini datang khusus untuk meminta maaf! Rasanya seperti mimpi, Kak!"

​Mendengar cerita antusias itu, Arga tersenyum. Tentu saja semua orang menghormatinya. Siapa yang berani berbuat jahat pada Nyonya Besar dari pemilik baru kedai tersebut?

​"Aku ikut senang mendengarnya," usap Arga pada puncak kepala Senja.

​"Ah! Aku hampir lupa!" Senja menepuk jidatnya sendiri. Ia menarik kantong plastik putih yang tadi ia bawa, dan mengeluarkan sebuah bungkusan kertas kado yang dibungkus dengan sangat sederhana.

​Ia menyodorkan bungkusan itu ke pangkuan Arga dengan wajah tersipu malu.

​"Apa ini?" Arga mengernyit bingung.

​"Bukalah," Senja memilin ujung rambutnya dengan gugup. "Kemarin kan aku hanya memberimu kue sisa. Jadi hari ini, setelah aku menerima gajiku... aku membelikanmu hadiah ulang tahun yang sesungguhnya."

​Tangan Arga yang biasanya kokoh saat menandatangani dokumen akuisisi perusahaan, kini bergetar samar saat merobek kertas kado murah tersebut.

​Di dalam bungkusan itu, terdapat sebuah kemeja kotak-kotak berbahan katun biasa, berwarna biru gelap. Harganya mungkin tidak lebih dari lima puluh ribu rupiah di pasar malam. Bahannya sedikit kasar dan jahitannya tidak serapi kemeja desainer langganan Arga.

​Namun bagi Arga, kemeja itu seolah memancarkan cahaya emas.

​"Kemeja putihmu sudah hancur penuh noda darah, dan jahitan kasarku pasti membuatmu tidak nyaman," jelas Senja dengan suara pelan, takut Arga tidak menyukainya. "Aku membelinya di pasar diskon depan jalan raya tadi. Aku tidak tahu ukuran pastimu, tapi kupikir karena pundakmu sangat lebar, ukuran yang paling besar pasti muat. Apakah... Kakak menyukainya?"

​Arga menunduk, menatap kemeja murah itu cukup lama. Rahangnya terkatup rapat. Matanya terasa panas. Rasa bersalah yang tadi pagi menggerogotinya kini kembali menghantam dadanya seperti palu godam.

​Gadis ini... gadis yang baru saja mendapatkan kembali pekerjaannya dan harus menyambung hidup untuk sebulan ke depan, justru menghabiskan uang hasil keringatnya untuk membelikan baju baru bagi pria pembohong ini.

​Aku menipumu, Senja. Aku memiliki puluhan kemeja sutra di lemariku. Kau tidak seharusnya menghabiskan uangmu untukku, jerit Arga dalam hati, tersiksa oleh kebaikan murni gadis itu.

​"Kak Arga? Kakak tidak suka warnanya ya?" tanya Senja cemas melihat Arga terdiam.

​Arga mendongak. Ia memaksakan sebuah senyuman yang menyembunyikan ribuan jarum penyesalan di hatinya.

​"Tidak, Senja. Ini sempurna. Sangat sempurna," suara Arga serak. Ia meletakkan kemeja itu di sampingnya, lalu tanpa aba-aba, ia menarik pergelangan tangan Senja, membuat gadis itu jatuh ke depan, langsung ke dalam pelukannya.

​Senja terkesiap, dadanya menabrak dada bidang Arga. Pria itu memeluknya sangat erat, menyurukkan wajahnya di perpotongan bahu Senja, menghirup aroma gadis itu seolah ia sedang mencari oksigen untuk bernapas.

​"K-Kak Arga? Ada apa?" tanya Senja bingung, meski ia membalas pelukan itu dan mengusap punggung lebar Arga. Jantungnya berdetak kencang merasakan hawa panas dari tubuh pria raksasa ini.

​"Biarkan aku memelukmu seperti ini sebentar saja," bisik Arga, suaranya sarat akan keputusasaan yang tidak dimengerti oleh Senja. "Terima kasih, Senja. Untuk kemejanya. Untuk semuanya."

​Mereka berpelukan dalam diam selama beberapa menit. Senja merasa ada yang aneh dengan suasana hati Arga. Ia bisa merasakan pria itu sedang memikul sebuah beban yang sangat berat, sesuatu yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.

​Perlahan, Senja melonggarkan pelukannya. Ia menatap wajah Arga dari jarak dekat. Hidung mancung pria itu, alisnya yang tebal, dan mata elangnya yang memikat.

​"Kak Arga..." Senja memecah keheningan, suaranya sangat pelan, berhati-hati. "Apakah... apakah ada sesuatu dari masa lalumu yang mulai kau ingat?"

​Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Senja menanyakannya dengan campuran antara harapan agar pria ini menemukan kembali jati dirinya, dan rasa takut yang diam-diam menggerogoti hatinya—takut bahwa jika Arga mengingat masa lalunya, pria ini akan memiliki keluarga, istri, atau kekasih yang akan menjemputnya dan membawanya pergi dari rumah sempit ini selamanya.

​Arga menatap bola mata cokelat itu. Ini adalah momennya. Raka benar. Ia harus mengatakannya sekarang. Ia bisa berkata, 'Ya, aku ingat. Aku Arga Danendra. Aku bukan pria miskin, dan aku tidak memiliki istri. Aku menipumu karena aku butuh perlindungan dari musuhku.'

​Ia bisa mengakhiri kebohongan ini sekarang juga.

​Arga membuka bibirnya. Kata-kata kebenaran itu sudah berada di ujung lidahnya. Namun, saat ia melihat kilat ketakutan akan kehilangan di mata Senja, sebuah ketakutan yang sama besarnya juga meledak di dalam dada Arga.

​Jika ia jujur, ilusi domestik yang indah ini akan pecah. Tatapan memuja Senja mungkin akan berubah menjadi kemarahan. Kepercayaan gadis itu, yang baru saja hancur oleh Siska dan dibangun kembali oleh Arga semalam, akan hancur untuk yang kedua kalinya oleh tangan Arga sendiri.

​Aku tidak bisa, batin Arga menyerah pada kelemahannya. Belum. Biarkan aku menjadi Kak Arga si pria miskin untuknya beberapa hari lagi.

​Arga mengulurkan tangannya, menyelipkan anak rambut Senja ke belakang telinganya. Ia menggeleng pelan, mengukuhkan kebohongannya dan semakin dalam menjerumuskan dirinya ke dalam jurang penipuan yang manis.

​"Tidak, Senja," jawab Arga, matanya menatap tajam, meyakinkan kebohongan itu. "Aku tidak mengingat apa pun. Kepalaku masih kosong. Aku tidak memiliki siapa-siapa di masa laluku."

​Mendengar jawaban itu, entah mengapa, bahu Senja merosot pelan—sebuah kelegaan yang egois, yang diam-diam Senja syukuri dalam hatinya. Ia merasa bersalah karena bersyukur atas amnesia Arga, namun ketakutannya kehilangan pria ini jauh lebih besar.

​Senja tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sedikit dipaksakan namun tulus. Ia memberanikan diri menangkupkan kedua tangan kecilnya ke rahang Arga yang kokoh.

​"Tidak apa-apa, Kak," bisik Senja, matanya berkaca-kaca oleh luapan kasih sayang. "Selama Kakak tidak mengingat masa lalu Kakak, dan selama Kakak tidak memiliki tempat untuk pulang... Kakak bisa tinggal di sini. Selamanya. Aku... aku akan bekerja keras untuk kita. Aku tidak akan membiarkan Kakak kelaparan."

​Kalimat itu, "Aku akan bekerja keras untuk kita", adalah deklarasi cinta paling murni yang pernah diucapkan seorang manusia di telinga sang CEO miliarder.

​Dada Arga seolah dihantam godam ribuan ton. Cinta gadis ini begitu besar, begitu tulus, hingga rela menanggung beban hidup seorang pria dewasa yang ia anggap tak berdaya. Arga merasa menjadi pria paling hina di dunia karena membohonginya, sekaligus menjadi pria paling beruntung di alam semesta karena dicintai sedemikian rupa.

​Tak sanggup lagi menahan gejolak emosi yang membakar kewarasannya, Arga mencondongkan wajahnya dengan cepat.

​Ia memangkas jarak yang tersisa di antara mereka, mendaratkan bibirnya tepat di atas dahi Senja. Sebuah ciuman yang sangat dalam, posesif, dan sarat akan penyesalan. Ciuman itu bertahan cukup lama, membuat Senja memejamkan matanya, meresapi rasa hangat yang menjalar dari keningnya hingga ke seluruh aliran darahnya.

​Arga menarik wajahnya beberapa sentimeter, napas hangatnya menyapu wajah Senja yang kini merona merah padam.

​"Kau tidak perlu bekerja keras sendirian lagi, Senja," bisik Arga parau, ibu jarinya membelai bibir bawah Senja dengan gerakan yang memabukkan. "Mulai sekarang, aku yang akan menjagamu. Aku yang akan menanggung dunia ini untukmu. Pegang janjiku, karena nyawaku adalah taruhannya."

​Malam itu, di bawah cahaya temaram, keduanya terhanyut dalam euforia cinta yang baru mekar. Mereka saling berpegangan tangan, menolak kenyataan dunia luar.

​Senja mengira ia telah menemukan pelindungnya dalam diri seorang pria amnesia yang malang. Arga mengira ia bisa menahan bom waktu kebohongannya sedikit lebih lama.

​Namun takdir selalu memiliki cara yang kejam untuk menertawakan rencana manusia. Di sebuah hotel mewah di pusat kota, Natasha—wanita masa lalu yang telah menorehkan luka terdalam di hati Arga—tengah memegang sebuah foto paparazzi. Foto buram yang menampilkan sosok Arga menembus hujan di malam badai di distrik selatan.

​Bom waktu itu tidak lagi menghitung hari. Ia mulai menghitung mundur dalam hitungan jam, bersiap meledakkan surga kecil yang dibangun di atas fondasi kebohongan tersebut.

1
𝐀⃝🥀Weny
kira² apa yang mau dilakukan Natasya ya🤔
𝐀⃝🥀Weny: astaga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sebelumnya kuracuun dirimu🤣🤣😜😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
aduuuh... mama Rini gangguin aja, kan Arga sudah menahan diri lama😜😜😜😜🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang luka yg ditorehkan masa lalu tidak bisa hilang begitu saja... jadi kamu harus bersabar senja dan bangunlah kepercayaan kembali untuk Arga 😊
𝐀⃝🥀Weny
Alhamdulillah.. mamanya Arga gak kayak orang kaya yg jahat🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
ya pastinya kamu Raka 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya senja sudah memaafkan Arga... semoga Arga tidak membuat ulah lagi 😅🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkin permintaan senja, kalau memang Arga mencintainya jangan pernah ikut campur urusannya.. biarlah waktu mengalir sebagaimana mestinya...
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ren₂₄🏡s⃝ᴿ M⃟3💋
mampir
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 😍😍😍🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
hempaskan saja si hama itu, bikin sakit mata saja😅😅😅
𝐀⃝🥀Weny: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 4 replies
𝐀⃝🥀Weny
demi mengejar cinta, apa saja akan ku lalui ... ahaaaay🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
heemmm.. padahal cinta, kenapa gengsi😅🤣🤣🤣jangan pantang menyerah Arga, kejarlah trs😄
𝐀⃝🥀Weny
wah bakalan seru nih, si Natasha juga sudah balik dan mau menemui Arga 😄 aduh senja, meskipun kamu menyamar gak bakalan bisa lari dari Arga Karena dia punya insting yang bagus🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: preeeett 😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
larilah sejauh yang kamu mau senja, tapi ingatlah sejauh apa pun kamu lari.. pasti ditemukan juga sama Arga.. kecuali yang membantumu lari itu musuhnya Arga 😅🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: asek aseeeek... cinta palsu🤣🤣🤣😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
sudah dikasih kebebasan sesuai keinginan kenapa gak langsung keluar😅 sekarang menyesalkan, tadi aja sok²an gak mau😏🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
sejatinya kebahagiaan tidak di ukur dengan harta, tapi nek gak punya harta Yo meh ngenesss/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: ooooooooooooooo
total 5 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang yg di butuhkan bukan kemewahan, melainkan sederhanaan dan kedamaian 🥰
𝐀⃝🥀Weny
sebuah kekuasaan memang pemenangnya 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: 😪😪😪😪😪
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
tuhkan... senja kecewa😅 harusnya sebelum pergi tu alasan kalau ingatanya sudah pulih, gak langsung pergi gitu aja😪🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkinkah Arga pura² tidak kenal senja untuk mengelabuhi musuh soal kelemahannnya🤔
𝐀⃝🥀Weny
kasihan senja ditinggal gitu aja😪 bersabarlah senja, suatu saat nanti kamu pasti tau kebenaran tentang Arga😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!