Indonesia
NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN PUTRI TERLUPAKAN

KEBANGKITAN PUTRI TERLUPAKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: S RIANA

Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.

Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.

Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang - Bayang

Matahari pagi bersinar terang, menghalau sisa-sisa asap hitam yang sempat menyelimuti Sungai Naga Tidur. Tiga bulan telah berlalu sejak malam berdarah di Gerbang Air Selatan. Ibu kota Kekaisaran Han kini telah sepenuhnya bersolek; toko-toko kembali dibuka, pasar rakyat ramai oleh gelak tawa, dan panji-panji magnolia putih berkibar anggun di setiap sudut kota, melambangkan era kedamaian yang baru di bawah kepemimpinan Maharani Shen Xianle.

Di dalam Istana Kencana, suasana tampak begitu tenang. Namun, bagi Xianle, ketenangan adalah kemewahan yang harus diwaspadai.

Ia duduk di balik meja giok Aula Utama, mengenakan jubah sutra hitam bersulam benang perak berbentuk bunga magnolia yang mekar sempurna. Jemarinya yang pucat menelusuri lembaran-lembaran laporan wilayah pasca-perang. Di sampingnya, Long Junwei berdiri bersedekap, menatap keluar jendela ke arah pelataran istana tempat para prajurit baru sedang dilatih.

"Selatan telah sepenuhnya pulih, Xianle," ucap Junwei, suara baritonnya yang berat memecah keheningan ruangan. "Sisa-sisa pengikut Shen Chia telah menyerahkan persenjataan mereka, dan lumbung padi yang sempat mereka sembunyikan kini telah didistribusikan kembali kepada rakyat."

Xianle meletakkan kuas tintanya, lalu menghela napas panjang. "Semua tampak terlalu sempurna, Junwei. Dan itulah yang membuatku tidak bisa tidur nyenyak. Instingku mengatakan bahwa badai yang sesungguhnya belum benar-benar mereda."

"Apa maksudmu?" Junwei membalikkan badannya, menatap lurus ke dalam sepasang mata jernih Xianle.

Sebelum Xianle sempat menjawab, pintu Aula Utama diketuk dengan tergesa-gesa. Xiaoyu melangkah masuk dengan wajah yang dipenuhi kecemasan, membawa sebuah kotak perak kecil yang terkunci rapat.

"Yang Mulia Maharani, Jenderal Pangeran," Xiaoyu berlutut khidmat, menyodorkan kotak tersebut. "Sebuah kiriman misterius baru saja ditemukan di depan gerbang Paviliun Anggrek. Penjaganya tidak melihat siapa yang meletakkannya, namun kotak ini disegel dengan lambang yang sangat asing."

Xianle menyipitkan matanya. Ia memberi isyarat agar Xiaoyu mendekat. Saat kotak itu diletakkan di atas meja, Junwei maju dan menggunakan ujung belatinya untuk merusak kunci perak tersebut dengan hati-hati, memastikan tidak ada jebakan jarum beracun di dalamnya.

Klek.

Tutup kotak terbuka, mengeluarkan aroma harum kelopak bunga kering yang sudah sangat akrab di ingatan Xianle aroma bunga anggrek bulan, bunga kesukaan mendiang ibunya, Selir Lin. Di dalam kotak itu, terletak selembar surat sutra tua dan sebuah gelang giok hijau yang retak di satu sisinya.

Jantung Xianle mendadak berdegup kencang. Ia mengenali gelang giok itu; itu adalah gelang yang dipakai oleh ibunya pada malam sebelum beliau dikabarkan wafat karena sakit belasan tahun lalu.

Xianle mengambil surat sutra tersebut dengan jemari yang sedikit bergetar, lalu membaca deretan kalimat yang tertulis di dalamnya.

“Xianle, putriku yang malang... Jika kau membaca surat ini, berarti kau telah berhasil menghancurkan mereka yang menindasmu. Namun, ketahuilah bahwa musuh terbesarmu bukanlah Permaisuri atau Perdana Menteri Shen. Mereka hanyalah bidak kecil. Kematianku bukanlah karena racun istana belakang, melainkan karena rahasia darah keluarga Lin yang diincar oleh persekutuan rahasia di luar perbatasan benua ini. Jangan pernah mempercayai siapa pun, bahkan mereka yang menggendongmu keluar dari kegelapan...”

Surat itu terputus di sana, meninggalkan noda darah kering yang samar di ujung kain sutra.

Ruangan seketika di liputi oleh keheningan yang mencekam. Kalimat terakhir dalam surat mendiang ibunya bagaikan petir yang menyambar fondasi kepercayaan yang baru saja ia bangun. Jangan pernah mempercayai siapa pun, bahkan mereka yang menggendongmu keluar dari kegelapan...

Orang yang menggendongnya keluar dari kegelapan jurang malam itu tidak lain adalah Long Junwei.

Xianle perlahan mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata elang milik Long Junwei. Di bawah temaram cahaya matahari pagi, tatapan pria itu tampak begitu dalam, misterius, dan penuh rahasia yang belum terungkap sepenuhnya.

Badai politik baru saja usai, namun selembar surat dari masa lalu nya kini menanamkan benih keraguan yang sangat mematikan di antara sepasang penguasa tertinggi Dinasti Magnolia Baru.

1
aku
xianle yg berdialog bw pedang aq yg berasa kereennn 😁😁
SRIANA: terima kasih sudah mampir, semoga suka sampai akhir. selamat membaca🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!