Indonesia
NovelToon NovelToon
"OTORITAS TANPA BATAS: SAGA EMPAT DEWA MULTIVERSE"

"OTORITAS TANPA BATAS: SAGA EMPAT DEWA MULTIVERSE"

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:333
Nilai: 5
Nama Author: Mara Nata

Asap kelabu dari sisa pembakaran minyak mesin siber menyelinap masuk melalui celah pilar obsidian Aula Gerhana, berputar-putar menciptakan bayangan kaku di atas lantai batu yang dingin. Di luar menara istana, langit Planet Akuma sedang memuntahkan badai hujan merkuri cair yang paling pekat sepanjang satu abad sejarah klan Shinto. Ketukan logam mendidih yang menghantam atap baja terdengar konstan, menciptakan simfoni bising yang meredam detak kehidupan normal. Dengan gaya tarik bumi yang bekerja seratus kali lipat lebih ekstrem, atmosfer di dalam bilik bersalin itu terasa begitu menjepit raga, memaksa setiap hela napas yang keluar dari tenggorokan terasa berat dan membakar sistem pernapasan seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gugurnya Sang Pelindung

Ketegangan politik di tanah Akuma memuncak saat Ryuken menginjak umur tujuh tahun. Malam di planet batu hitam ini tidak lagi sekadar membawa badai merkuri yang bising. Hawa pengkhianatan dari Sektor Delapan merayap pelan di antara lorong-lorong kuil yang gelap. Tepat di sepertiga malam, sirene darurat di sepanjang menara istana meraung nyaring, memutus keheningan dan menyebarkan kepanikan.

Kabar buruk datang dari batas atmosfer: dinding dimensi kuno jebol. Celah besar peninggalan perang purba itu menganga, mengancam akan memuntahkan pasukan monster serigala raksasa ke alam manusia. Sebagai pemimpin tertinggi, Raja Juro Shinto tidak punya pilihan. Beliau harus memimpin langsung armada kapal perang utama untuk menutup celah tersebut.

Sebelum menaiki tangga besi kapal induknya, Juro menyelinap diam-diam menuju gudang penyimpanan kayu yang lapuk di bagian belakang. Langkah kaki besinya terhenti di ambang pintu. Di dalam ruangan yang dingin, Ryuken sedang duduk bersila di atas lantai batu hitam. Tubuh kurusnya dipaksa menahan himpitan gravitasi planet yang ekstrem, murni mengandalkan ketebalan tekadnya. Tangan mungilnya menggenggam sebilah ranting kayu sepanjang satu meter yang dibalut perban kumal penuh noda darah.

Juro merendahkan tubuh raksasanya di hadapan sang putra sulung. Ada wibawa pemimpin besar sekaligus penyesalan mendalam seorang ayah di balik tatapannya. Ia meletakkan sepasang tangan besinya yang penuh kapalan di atas pundak kurus Ryuken.

"Ryuken, putra mahkotaku," ucap Juro Shinto. Suaranya yang berat menembus langsung ke dalam batin anaknya. "Jantung acakmu itu bukan kutukan seperti yang diucapkan para pengecut di Dewan Tetua. Itu adalah takdir besar yang belum bisa dipahami oleh teknologi Kekaisaran Vorash. Jika suatu hari langit planet ini berubah gelap dan ayah tidak pernah kembali, berjanjilah... tetaplah genggam pedangmu dengan tanganmu sendiri. Jangan pernah menukar jiwamu demi zirah mesin palsu."

Jubah hitam Juro. Air matanya menetes membasahi gaun sutra Solari miliknya yang kusam. "Juro... firasatku mengatakan ada rencana busuk di balik perintah keberangkatan darurat ini," desis Hana gemetar. "Kaelen sengaja menguras pasukan pelindung agar kompleks kuil ini kosong."

Juro tersenyum tenang—seulas senyum ksatria veteran yang menolak takut pada maut. "Jika Dewan Tetua memilih jalan pengkhianatan, maka hukum alam yang akan menghapus nama mereka dari sejarah. Hana, jaga putra kita." Juro membalikkan tubuh, melangkah tegas menembus kabut menuju pusat pertempuran di luar angkasa.

Tragedi yang dikhawatirkan meletus tiga hari kemudian. Sebuah siaran darurat dari luar atmosfer muncul di seluruh layar monitor kuil, menampilkan rekaman video yang bergoyang penuh kepulan asap. Kapal induk Juro Shinto dikepung brutal oleh puluhan kapal perang Kekaisaran Vorash yang ternyata telah bersekongkol dengan faksi pengkhianat Sektor Delapan. Di saat yang sama, monster serigala raksasa menghantam lambung kapal, menelan seluruh tubuh sang panglima ke dalam kegelapan hampa udara. Raja Juro gugur.

Mendengar berita tersebut, Hana tidak diberi waktu untuk berkabung. Pintu gerbang istananya dihantam hancur oleh rentetan ledakan bom pasukan pemberontak pimpinan Tetua Kaelen dan Renka. Tiga puluh pendekar elit bersenjata pedang ungu merangsek masuk, mengunci seluruh jalan keluar.

"Mantan Pemimpin Besar sudah mampus!" raung Tetua Kaelen, wajah mekanisnya berkilat merah penuh kesombongan. "Serahkan semua pasokan kristal suci, Putri Hana! Dan biarkan anak cacat itu kami buang ke tempat pembuangan limbah!"

Hana bangkit dengan keanggunan putri matahari yang menolak tunduk. Ia mendorong Ryuken ke balik tiang batu hitam tersembunyi, lalu meledakkan seluruh sisa tenaga dalamnya. Kobaran api merah membubung tinggi, menciptakan badai panas yang membakar hangus sepuluh pendekar musuh dalam sekejap. Namun, zirah mesin milik Renka mendadak melepaskan tembakan cahaya hitam yang menusuk telak dada kiri Hana, membuatnya terkapar bersimbah darah.

Ryuken menyaksikan pembantaian sadis itu dari balik celah tiang. Air matanya mengering menahan rasa sakit jiwa yang melampaui batas kewajaran anak seusianya. Sebelum napas terakhirnya habis, Hana menatap ke arah tempat Ryuken bersembunyi dengan senyum terakhir yang menyayat hati.

"Lari... Ryuken... hiduplah... tempa... tempa pedangmu..." bisik ibunya, sebelum tubuhnya perlahan meluruh menjadi debu keperakan yang hanyut ditiup angin malam.

Kematian kedua orang tuanya merenggut semua pelindung yang dimiliki Ryuken. Status pangeran mahkotanya hancur total. Tubuh kecilnya dilemparkan kembali ke dalam jurang pengasingan gudang lapuk di bawah injakan kaki kediktatoran baru Sektor Delapan. Sang anak buangan kini memendam bara dendam murni di dalam tulangnya, mempererat cengkeraman tangan kecilnya pada gagang ranting kayu Akuma di tengah malam yang membeku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!