Indonesia
NovelToon NovelToon
Luka yang Hilang dalam Pelukan Sang Mafioso

Luka yang Hilang dalam Pelukan Sang Mafioso

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Tamat
Popularitas:52
Nilai: 5
Nama Author: Edina Gonçalves

Lilith pernah percaya bahwa cinta pertamanya akan menjadi rumah. Namun sebuah taruhan kejam, pernikahan yang dingin, dan kehilangan putri kecilnya menghancurkan seluruh hidup yang ia kenal. Dengan hati yang patah, ia meninggalkan masa lalu dan membangun ulang dirinya di Milan, berusaha hidup tanpa berharap pada cinta lagi.
Lalu Alessandro Morelli Conti masuk ke hidupnya. Ia berbahaya, berkuasa, dan ditakuti sebagai pemimpin Cosa Nostra. Namun di balik nama besar dan dunia gelap yang mengikutinya, Alessandro melihat luka Lilith tanpa memaksanya sembuh. Ia menawarkan perlindungan, kesabaran, dan cinta yang tidak perlu disembunyikan.
Saat rahasia lama keluarga, perang mafia, dan bayang-bayang masa lalu kembali mengejar, Lilith harus memilih: tetap menjadi perempuan yang hancur oleh kehilangan, atau berdiri sebagai wanita yang dicintai, dilindungi, dan akhirnya berani merebut kebahagiaannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Narasi Liam

Setelah aku kembali dari Italia, aku mengambil keputusan tersulit dalam hidupku: aku tidak akan mencari Lilith lagi.

Keputusan itu menyakitkan.

Lebih menyakitkan daripada apa pun yang pernah kuhadapi.

Aku tahu aku sudah datang terlambat.

Terlambat untuk meminta kesempatan kedua.

Terlambat untuk mencoba memperbaiki semua yang telah kuhancurkan.

Terlambat untuk merebut kembali tahun-tahun yang telah kurampas darinya.

Dan terutama, terlambat untuk mengembalikan putri kami.

Sebesar apa pun penyesalanku, seberat apa pun rasa bersalah yang kubawa setiap hari, ada luka-luka yang tidak akan pernah bisa dihapus.

Lilith sudah melanjutkan hidup.

Dan aku harus menghormatinya.

Dengan pikiran itulah, begitu mendarat di New York, aku langsung pergi ke pemakaman.

Aku harus melihat putriku.

Harus bicara dengannya.

Harus meminta maaf sekali lagi.

Dengan buket bunga putih di tangan, aku berjalan menyusuri lorong sunyi di antara makam-makam.

Angin bertiup lembut.

Langit mendung.

Seolah dunia sendiri ikut berbagi kesedihan yang kupikul.

Ketika aku tiba di depan batu nisan Victoria, jantungku menegang.

Bunga yang kubawa bukan satu-satunya yang ada di sana.

Ada rangkaian bunga yang masih baru.

Seseorang baru saja datang belum lama ini.

Mungkin ayahku.

Mungkin Michele.

Mungkin ibuku.

Aku berjongkok perlahan dan meletakkan bungaku di samping yang lain.

Kususuri nama yang terukir di batu itu dengan jari.

Victoria Vanderbilt.

Gadis kecilku.

Putri kecilku.

Anak yang kucintai.

Anak yang kutinggalkan.

Anak yang meninggal sambil menungguku.

Air mata datang sebelum bisa kutahan.

"Hai, Putri..."

Suaraku tercekat.

"Papa datang menjengukmu."

Aku memejamkan mata.

Kenangan datang seperti longsoran.

Langkah-langkah pertamanya.

Kata-kata pertamanya.

Tawanya.

Pelukannya.

Saat-saat ia berlari kepadaku ketika aku muncul.

Dan semua saat ketika aku memilih berada di tempat lain.

Dadaku terbakar.

"Maafkan Papa, Sayang..."

Air mata mengalir bebas.

"Maafkan Papa karena tidak menjadi ayah yang pantas kamu dapatkan."

Aku jatuh berlutut di depan makam itu.

Aku menangis seperti belum pernah menangis sebelumnya.

Tanpa harga diri.

Tanpa topeng.

Tanpa menyembunyikan apa pun.

Hanya seorang pria yang hancur di hadapan rasa bersalahnya sendiri.

Aku tidak tahu berapa lama aku berada di sana.

Menit.

Mungkin jam.

Sampai aku merasakan seseorang mengamatiku.

Aku mengangkat wajah.

Saat itulah aku melihatnya.

Seorang wanita berdiri beberapa meter di depan.

Rambut pirang.

Mata biru yang intens.

Wajah halus.

Ia menggenggam bunga di tangannya.

Ketika tatapan kami bertemu, ia tampak sama terkejutnya denganku.

Entah kenapa, jantungku mempercepat irama.

Ia mendekat perlahan.

"Maaf mengganggu."

Aku cepat-cepat menghapus wajahku.

"Kamu tidak mengganggu."

Ia melihat batu nisan itu.

"Putrimu?"

Aku mengangguk.

"Ya."

Ia menundukkan kepala.

"Aku turut berduka."

Ada rasa sakit dalam suaranya.

Rasa sakit yang nyata.

Lalu aku bertanya,

"Dan kamu?"

Ia menatap makam di sebelah.

"Suamiku."

Giliranku merasakan duka.

"Aku turut berduka."

Ia tersenyum muram.

"Hidup tidak selalu baik."

Tidak.

Jelas tidak.

Kami berbicara selama beberapa menit.

Namanya Sofia.

Ia kehilangan suaminya dalam kecelakaan dua tahun sebelumnya.

Sejak saat itu, ia mengunjungi makamnya setiap hari Minggu.

Ada sesuatu yang tenang dalam dirinya.

Sesuatu yang memancarkan kedamaian.

Sebelum pergi, kami bertukar nomor telepon.

Kupikir hanya sampai di situ.

Sebuah percakapan.

Sebuah kebetulan.

Namun hari-hari berlalu.

Dan kami terus berbicara.

Awalnya lewat pesan.

Lalu lewat telepon.

Kemudian datanglah pertemuan.

Kopi.

Jalan-jalan.

Tawa.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku mulai tersenyum sungguhan.

Sofia mengetahui seluruh kisahku.

Aku menceritakan semuanya.

Tanpa menyembunyikan apa pun.

Aku bercerita tentang Lilith.

Tentang Victoria.

Tentang Emma.

Tentang kesalahan-kesalahanku.

Tentang kepengecutanku.

Tentang rasa bersalah.

Ia mendengarkan semuanya.

Dan tetap tinggal.

"Kamu memang bodoh," katanya suatu kali.

Aku tersenyum tanpa humor.

"Aku tahu."

"Bodoh sekali."

"Itu juga aku tahu."

Ia menggenggam tanganku.

"Tapi kamu menyesal."

"Itu tidak mengubah apa pun."

"Tidak mengubah masa lalu."

Ia meremas jari-jariku.

"Tapi bisa mengubah siapa dirimu mulai sekarang."

Kata-kata itu tinggal bersamaku.

Bulan-bulan berlalu.

Dan persahabatan kami akhirnya berubah menjadi cinta.

Hari ini Sofia adalah pacarku.

Dan aku bersedia membangun hidup baru di sisinya.

Bukan karena aku sudah melupakan Lilith.

Melainkan karena akhirnya aku menerima bahwa bab kami telah berakhir.

Aku ingin bahagia.

Dan aku juga berharap Lilith bahagia.

Malam itu, berbaring di tempat tidur, aku memikirkan Sofia.

Memikirkan bagaimana ia muncul dalam hidupku saat aku paling tidak menduganya.

Memikirkan bagaimana aku ingin membangun masa depan bersamanya.

Begitulah aku tertidur.

Lalu mimpi itu dimulai.

Aku sedang berjalan di tempat yang indah.

Sebuah taman raksasa.

Bunga warna-warni di mana-mana.

Kupu-kupu beterbangan di udara.

Langit tampak keemasan.

Semuanya memancarkan kedamaian.

Lalu aku mendengar tawa.

Tawa yang kukenal.

Jantungku berhenti.

Aku mengenal tawa itu.

"Papa!"

Aku langsung berbalik.

Dan melihatnya.

Victoria.

Putriku.

Ia berlari ke arahku.

Persis seperti dalam ingatanku.

Rambutnya bergoyang.

Senyumnya menerangi wajahnya.

Matanya penuh sukacita.

Aku jatuh berlutut.

Air mata meledak.

"Victoria!"

Ia melemparkan diri ke dalam pelukanku.

Dan aku memeluknya.

Ya Tuhan.

Betapa aku merindukannya.

Betapa aku merindukan pelukan itu.

Aku menangis putus asa.

"Maafkan Papa..."

Tangan-tangan kecilnya memegang wajahku.

Lalu ia tersenyum.

"Jangan menangis, Papa."

Suaranya lembut.

"Aku baik-baik saja."

Aku menggeleng.

"Papa sangat merindukanmu."

Ia membelai wajahku.

"Aku tahu."

Air mata kembali datang.

"Papa mencintaimu, Putri."

"Aku juga mencintai Papa."

Ia tersenyum.

Senyum yang begitu murni hingga menghancurkan hatiku.

"Papa tahu... semuanya memang harus terjadi seperti ini."

Aku mengernyit.

"Apa?"

"Aku tahu Papa dan Mama menderita karena aku pindah tinggal di surga."

Napasku tercekat.

"Tapi aku bahagia di sini."

Ia menunjuk taman itu.

"Aku punya teman."

"Aku bermain setiap hari."

"Dan aku tidak pernah sakit."

Jantungku terasa diremas.

"Aku tahu Papa mencintaiku."

Ia menggenggam tanganku.

"Tapi sekarang fase baru dalam hidup Papa sudah tiba."

Aku menatapnya tanpa memahami.

"Sebentar lagi Tante Sofia akan punya bayi."

Mataku melebar.

"Apa?"

Victoria hanya tersenyum.

"Papa akan bahagia."

Sebelum aku sempat menjawab, ekspresinya berubah serius.

"Tapi aku perlu Papa memperhatikan."

Seluruh tubuhku menegang.

"Seorang pria jahat ingin menyakiti Mama."

Darahku membeku.

"Apa?"

"Mama akan membutuhkan bantuan Papa."

"Bagaimana?"

Victoria menunjuk ke kejauhan.

"Pergilah ke rumah tempat Kakek Franklin dulu tinggal."

Aku mengernyit.

"Rumah itu?"

Ia mengangguk.

"Di bawah tempat tidurnya ada sebuah kotak."

Jantungku berpacu.

"Kotak?"

"Ya."

Ia tersenyum.

"Nama Mama tertulis di sana."

"Lalu?"

"Papa harus menyerahkannya kepada Mama."

"Kenapa?"

Victoria kembali serius.

"Karena kotak itu akan menyelamatkan nyawa Mama."

Napasku tercekat.

"Dan nyawa Tante juga."

"Kiara?"

Ia hanya mengangguk.

Aku terguncang.

"Putriku..."

Ia memegang wajahku.

"Ini misi Papa."

Aku memejamkan mata.

"Aku berjanji kepada ibumu tidak akan pernah kembali lagi ke hidupnya."

Victoria tersenyum.

"Tapi kali ini bukan untuk Papa."

Ia menyentuh dadaku.

"Ini untuk Mama."

Air mata kembali terasa di mataku.

"Papa harus pergi."

"Papa akan pergi."

Senyum lebar terbuka di wajahnya.

"Aku tahu."

Lalu ia menambahkan,

"Dan Papa juga akan menyelamatkan nyawa adik laki-lakiku."

Jantungku menghentak.

"Adik laki-lakimu?"

Namun sebelum aku bisa menanyakan apa pun, semuanya mulai menghilang.

Taman itu.

Bunga-bunga.

Kupu-kupu.

Putriku.

"Victoria!"

Aku mengulurkan tangan.

"Papa..."

Suaranya menjadi jauh.

"Aku mencintai Papa."

Lalu semuanya berubah putih.

Aku terbangun dengan napas memburu.

Berkeringat.

Jantung berdebar kencang.

Aku langsung duduk di tempat tidur.

Dan mimpi itu masih hidup di pikiranku.

Setiap detail.

Setiap kata.

Setiap ekspresi.

Itu tidak terasa seperti mimpi.

Lebih seperti pesan.

Saat itu juga aku bangkit.

Aku menyetir ke rumah lama Franklin Miller.

Rumah itu sudah terkunci selama bertahun-tahun.

Aku masuk.

Jantungku berdetak keras.

Aku langsung menuju kamar.

Mendekati tempat tidur.

Berlutut.

Melihat ke bawahnya.

Dan membeku.

Ada sebuah kotak.

Persis di tempat yang Victoria katakan.

Tanganku gemetar saat menariknya.

Lalu aku melihatnya.

Tertulis di tutup kotak.

Dengan huruf-huruf tua.

Lilith.

Seluruh tubuhku meremang.

Ini nyata.

Kudekap kotak itu ke dada.

Dan pada saat itu aku tahu apa yang harus kulakukan.

Aku harus kembali ke Italia.

Harus menemukan Lilith.

Harus menyerahkan kotak itu.

Keesokan harinya aku menelepon Sofia dan menceritakan semuanya.

Benar-benar semuanya.

Mimpi itu.

Rumah itu.

Kotak itu.

Ia mendengarkan dalam diam.

Ketika aku selesai, suaranya terdengar rendah,

"Aku merinding."

"Aku juga."

"Kamu harus pergi."

Aku mengangguk.

"Aku tahu."

Ada hening beberapa detik.

Lalu ia bertanya,

"Mau aku ikut?"

Aku tersenyum.

"Mau."

Ia ragu beberapa saat.

Namun kemudian menjawab,

"Kalau begitu kita pergi."

Keesokan harinya kami berangkat ke Italia.

Tujuan:

Milan.

Tanpa tahu bahwa kotak sederhana itu bisa mengubah hidup Lilith, Kiara... dan kami semua sepenuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!