"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______
"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______
Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.
Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.
Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.
Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#18
Dua minggu telah berlalu sejak insiden tawa di atas balkon Sayap Barat. Dua minggu yang berjalan bagaikan neraka dingin yang menyiksa jiwa Savea.
Demi Tuhan, selama empat belas hari ini Savea menahan dirinya mati-matian untuk tidak meledak, menahan jemarinya agar tidak mencekik leher ibu susu putranya.
Di balik pintu kamarnya yang tertutup rapat, ia mengurung diri bersama paranoia yang kian membusuk. Ia sengaja memasang mata dan telinga, mengamati dari jauh untuk mencari bukti interaksi antara suaminya—pria yang selama tiga tahun ia duga gay atau impotent—dengan para pelayan wanita di istana.
Namun, tanda merah pekat di leher Arthur yang waktu itu membakar cemburunya kini telah hilang tanpa bekas. Pria itu kembali bersikap dingin, berjarak, dan tak tersentuh.
Satu pertanyaan liar terus berputar-putar di dalam kepalanya tanpa henti: Dari mana Arthur mendapatkan tanda merah itu? Apakah dari wanita di dalam istana... atau dari tempat maksiat di luar istana?
Savea berpikir keras hingga kepalanya serasa mau pecah. Ia mencurigai Snow, mencurigai Eve, bahkan mencurigai setiap pelayan wanita muda yang berpapasan dengannya. Namun celakanya, orang-orang suruhan yang dibayarnya mahal untuk menyelidiki latar belakang Snow sama sekali tidak memberikan hasil.
Rekam jejak wanita bernama Snow itu bersih rapi—terlalu bersih, seolah-olah dipoles oleh tangan kekuasaan yang tak kasatmata.
Dan hari ini, di bawah curahan sinar matahari pagi yang cerah, benteng pertahanan dan akal sehat Savea hancur berkeping-keping.
Ia sudah tidak tahan lagi.
Bukan hanya karena kegagalannya menemukan bukti, melainkan karena sebuah kenyataan mengerikan yang kian nyata di depan matanya setiap hari: Pangeran Ocean.
Bayi mungil yang kini menginjak usia hampir tiga bulan itu mendadak menunjukkan garis wajah yang teramat familiar. Alisnya yang tegas, hidungnya yang mancung, hingga bentuk bibir bawahnya... makin hari makin mirip bagaikan pinang dibelah dua dengan Arthur Blackwood!
Darah Savea berdesir hebat setiap kali menatap boks bayi. Bagaimana bisa?! batinnya berteriak gila.
Savea tahu betul rahasia busuk di balik kelahiran anak itu. Ia tahu Ocean terlahir dari rahim Snow. Ocean bukanlah anak kandungnya, dan tentu saja bukan anak kandung Arthur!
Mana mungkin anak yang lahir dari rahim pelayan miskin itu bisa memiliki kemiripan sempurna dengan Pangeran Blackwood?!
Atau... apakah ada sihir dan pengkhianatan raksasa yang terjadi di belakang punggungnya?!
Pikiran Savea hancur total. Dengan mata merah menyala dan napas terengah-engah bagai kesetanan, Savea melangkah lebar menerjang koridor menuju halaman depan Sayap Barat—tempat di mana Snow biasa menjemur Ocean di bawah paparan matahari pagi.
Di pelataran rumput yang asri, Snow sedang berdiri anggun membawa keranjang bayi. Wajahnya tenang saat membiarkan sinar hangat pagi menerpa kulit mulus Pangeran Ocean yang tertidur lelap.
"SNOW!" jerit Savea, suaranya melengking memecah ketenangan pagi.
Snow tidak tersentak. Ia perlahan menoleh, menatap Savea yang berjalan terburu-buru menghampirinya dengan raut wajah hancur dan penuh kebencian yang mematikan.
"Kau..." napas Savea memburu saat ia berhenti tepat dua langkah di hadapan Snow. Tatapannya berganti-ganti antara wajah Snow dan wajah bayi mungil di dalam keranjang. "Kau datang kemari untuk bermimpi menjadi seorang selir dari suamiku, kan?!"
Snow tetap membisu, memiringkan kepalanya tipis tanpa menunjukkan riak ketakutan sedikit pun.
"Setelah wanita rendahan seperti mu aku izinkan masuk ke dalam istana ini hanya untuk memberi makan anak ini, kau pikir kau bisa mengubah derajat murahanmu menjadi tinggi?!" teriakan Savea menggelegar ke sekeliling halaman, membuat para pelayan yang sedang menyapu dan mengurus taman terhenti kaku.
"Cuih! Dalam mimpimu, pelacur!"
Savea benar-benar membabi buta. Seluruh kecemburuan, kegilaan, dan ketakutan akan rahasianya sendiri meledak tanpa terkontrol lagi. Di depan belasan pelayan yang mulai berkumpul di kejauhan, Savea merancak membongkar semua kebodohan dan kegilaannya.
"Anak ini... bayi ini bukan anakku!" jerit Savea histeris, menunjuk kasar ke arah keranjang Ocean. "Aku tahu kau yang melahirkannya! Tapi kenapa... KENAPA DIA KIAN HARI MALAH MAKIN MIRIP DENGAN SUAMIKU?!"
Kata-kata itu berhembus bagaikan badai. Para pelayan yang mendengar jeritan itu membelalakkan mata tak percaya. Bisik-bisik ketakutan mulai menjalar.
"Jawab aku, Bitch!" Savea maju satu langkah lagi, mencengkeram bahu Snow dengan kuat hingga kuku-kukunya menancap di kain gaun Snow. "Berapa kali kau tidur dengan suamiku di belakangku?! Katakan! Berapa kali kau mendesah kenikmatan setiap kali Arthur menghentakkan tubuhnya padamu?! Katakan padaku, dasar wanita rendahan!"
Cengkraman Savea begitu kasar, namun raut wajah Snow sama sekali tidak menunjukkan rasa sakit. Tidak ada kepanikan, tidak ada ketakutan, dan tidak ada ekspresi memohon untuk dikasihani.
Justru, sepasang mata bening milik Snow memancarkan kilatan dingin yang amat tajam. Sebuah senyum tipis—senyum ejekan yang teramat kejam—perlahan terukir di bibirnya yang merah.
Snow memiringkan kepalanya, mendekatkan wajahnya sedikit ke telinga Savea. Dengan nada suara yang teramat kecil, sangat lirih, namun sarat akan racun kelam yang mematikan, Snow berbisik:
"Kau tidak pernah merasakan rasanya, kan? Makanya kau menanyakannya padaku..."
Savea mematung. Napasnya tertahan.
Snow melanjutkan bisikannya, penuh penekanan yang menusuk ulu hati Savea hingga ke dasar terbawah: "...biar kuberitahu: Arthur sangat senang membuatku tidak bisa berjalan setiap malam."
DUARRR!
Bagaikan disambar petir di siang bolong, dunia Savea runtuh hancur menjadi serpihan tak berbentuk. Kalimat pendek itu menghantam jantungnya dengan telak, meremukkan seluruh harga dirinya sebagai seorang istri sah yang tak pernah disentuh selama tiga tahun.
"BRENGSEK! KAU PEREMPUAN HINA!!!" jerit Savea dalam histeria paling puncak. Ia melepaskan cengkeramannya dan memukuli dadanya sendiri, meraung bagai serigala terluka. "Kau Membohongiku! Kalian Bersekongkol? Katakan Padaku, Ocean Bukan Anak Arthur, Kan???! Arthur tidak pernah menyentuh mu! arthur hanya milikku dan dia tidak boleh menyentuh siapa pun! anak ini bukan darah daging blackwood! kau sama hinanya dengan putramu! BAWA PERGI PUTRAMU DARI SINI, SIALAN!"
"SAVEA!"
Suara menggelegar yang sarat akan wibawa tak terbantahkan mendadak memotong jeritan histeris itu.
Dari belokan lorong utama, Yang Mulia Ratu Baxeena melangkah cepat didampingi oleh sepuluh pengawal istana dan beberapa Pelayan Istana.
Wajah sang Ratu yang biasanya tenang kini pucat pasi, matanya membelalak lebar memancarkan amarah sekaligus syok yang luar biasa. Sang Ratu telah berdiri di sana cukup lama untuk mendengar setiap kalimat, setiap jeritan, dan pengakuan gila yang keluar dari mulut menantunya sendiri.
Ratu Baxeena berhenti tepat di depan Savea, tubuhnya bergetar hebat menghadapi skandal paling mengerikan yang pernah menguncang dinasti mereka.
"Apa yang baru saja kau katakan, Savea?!" suara Ratu Baxeena bergetar menahan ledakan emosi. "Ocean... cucuku... bukan anak dari Arthur?!"
Seluruh pelayan menunduk dalam-dalam, bersimpuh di atas tanah dalam ketakutan yang mencekam. Di tengah lingkaran kekacauan, histeria Savea, dan amarah sang Ratu, Snow berdiri dengan anggun. Ia merapikan gaunnya yang kusut akibat cengkraman Savea, lalu mengangkat Pangeran Ocean ke dalam pelukannya.
Di balik tundukan kepalanya yang terkesan patuh, Snow menyunggingkan senyum kemenangan. Babak kehancuran Savea... resmi dimulai.