Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Pagi itu, halaman rumah Laurent terasa begitu tenang. Sinar matahari yang masih lembut menyentuh rerumputan yang basah oleh embun. Udara segar bergerak perlahan, membawa aroma bunga dari taman di sekitar rumah.
Vivienne duduk santai di kursi panjang yang diletakkan di bawah sinar matahari. Kehamilannya telah memasuki usia tiga puluh enam minggu. Perutnya terlihat semakin besar, membuat setiap gerakannya harus dilakukan dengan hati-hati.
"Pelan-pelan, Sayang," ujar Vivienne sambil tersenyum. "Jangan menendang terlalu kuat."
Bayi itu kembali bergerak.
Vivienne terkekeh kecil. "Kamu sudah tidak sabar bertemu Mama?"
Satu tangannya mengusap perutnya perlahan, sementara tangan lainnya memegang segelas jus buah.
"Sebentar lagi kita bertemu," ujar Vivienne lembut sambil menundukkan wajahnya ke arah perut.
Senyum hangat muncul di bibirnya. Vivienne benar-benar merasa bahagia.
Banyak hal dalam hidupnya memang belum selesai. Perceraian dengan Dominic masih menunggu waktu. Kasus Dominic juga belum berakhir. Keluarga Aschroft masih bisa saja membuat masalah.
Namun, setiap kali merasakan gerakan kecil di dalam perutnya, semua kekhawatiran itu seolah menjauh. Ia memiliki seseorang yang sedang menunggunya. Seseorang yang belum pernah melihat wajahnya, tetapi sudah berhasil membuat hidupnya terasa lebih berarti.
"Mama sudah menyiapkan banyak hal untukmu."
Ada kebahagiaan yang sulit disembunyikan setiap kali membayangkan bayi itu lahir ke dunia. Setelah melewati begitu banyak hal, akhirnya ia sampai di titik ini. Namun, di balik kebahagiaan itu, ada sedikit kesedihan yang tiba-tiba menyelinap.
"Seandainya Mama dan Papa masih ada ...." Suara Vivienne mengecil.
Vivienne mengangkat wajah dan menatap langit pagi. Entah kenapa, suasana tenang seperti ini selalu membuat kenangan lama kembali bermunculan.
Kenangan tentang keluarganya. Tentang orang-orang yang dahulu selalu ada di sisinya, tetapi kini hanya tersisa dalam ingatan.
***
Hari itu adalah ulang tahun Vivienne yang ketujuh belas. Rumah dipenuhi tawa dan suasana hangat. Sebuah kue ulang tahun berada di atas meja dengan tujuh belas lilin yang menyala terang. Vivienne berdiri di depan kue, sementara kedua orang tuanya berada di sampingnya.
"Tiup lagi, Vivi!" ujar ibunya sambil tertawa dan mengangkat kamera.
Vivienne yang baru saja meniup lilin mengerucutkan bibir. Ia menatap ibunya dengan wajah tidak mengerti.
"Kenapa lagi, Ma?" tanya Vivienne sambil mengerutkan kening.
"Karena Mama belum dapat foto yang bagus," jawab ibunya sambil tertawa kecil.
Ayah Vivienne yang berdiri di samping mereka ikut tertawa. "Sudahlah, Sayang. Turuti saja Mama," ujar ayahnya dengan nada menggoda.
Vivienne menghela napas, tetapi akhirnya menurut. Ia kembali berdiri di depan kue dan menarik napas panjang.
"Baiklah. Tapi ini yang terakhir," kata Vivienne sambil menunjuk ibunya.
Ibunya tertawa. "Iya, iya."
Vivienne kembali meniup lilin. Kali ini, ibunya berhasil mendapatkan foto yang diinginkan. Mereka bertiga kemudian tertawa bersama.
Malam itu menjadi salah satu malam paling bahagia dalam hidup Vivienne.
Namun, keesokan harinya, semuanya berubah.
Telepon datang ketika Vivienne baru saja bangun. Suara di seberang sana terdengar terbata-bata saat menyampaikan sebuah kabar buruk.
"Ada kecelakaan."
Vivienne langsung mengerutkan kening.
"Kecelakaan siapa?" tanya Vivienne dengan suara bingung.
"Mobil yang ditumpangi kedua orang tua Anda mengalami kecelakaan," jawab suara di seberang dengan hati-hati.
Tubuh Vivienne seketika membeku. Ia bahkan tidak mengingat bagaimana dirinya sampai di rumah sakit. Yang ia ingat hanya lorong panjang, bau obat yang menusuk hidung, lampu putih yang terasa menyilaukan, dan seorang dokter yang berdiri di hadapannya dengan wajah muram.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin," ujar dokter itu dengan suara pelan.
Kalimat tersebut membuat tubuh Vivienne membeku.
"Papa ... Mama," bisik Vivienne dengan bibir bergetar.
Tidak ada jawaban yang ingin didengarnya. Vivienne melangkah mundur. Pandangannya mulai berkunang-kunang. Kakinya kehilangan tenaga.
"Vivienne!" seru seseorang.
Namun tubuhnya sudah lebih dulu jatuh sebelum sempat ditahan.
Sejak hari itu, hidup Vivienne berubah. Ia beberapa kali pingsan. Ketika sadar, ia menangis. Setelah itu, tubuhnya kembali lemas hingga tidak sadarkan diri.
Estelle dan Killian selalu berada di sisinya.
Suatu ketika, Estelle duduk di samping tempat tidur sambil menggenggam tangan Vivienne.
"Vivi, aku di sini," ujar Estelle lembut.
Vivienne hanya menatap kosong ke depan. Matanya sembap akibat terlalu sering menangis.
"Papa sama Mama sudah tidak ada," bisik Vivienne.
Estelle menggigit bibirnya. Ia berusaha menahan tangis agar tidak ikut menangis di depan sahabatnya.
"Iya," jawab Estelle lirih.
Vivienne menatap langit-langit kamar dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa mereka pergi?" tanya Vivienne dengan suara kecil.
Estelle terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Vivienne kembali memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, ia membuka mata dan menatap Estelle.
"Estelle."
"Hm?" sahut Estelle sambil menggenggam tangannya lebih erat.
"Aku sendirian," ujar Vivienne lirih.
Estelle langsung menggeleng. "Tidak. Kamu tidak sendirian," jawab temannya itu dengan suara tegas.
Killian yang berdiri tidak jauh dari tempat tidur kemudian ikut mendekat. "Kami ada di sini," ujar pria itu dengan suara rendah.
Vivienne menatap Killian.
"Kalian tidak akan pergi?" tanya Vivienne dengan tatapan penuh kekhawatiran.
Killian menggeleng. "Tidak."
Waktu terus berjalan. Vivienne tumbuh dewasa. Ia belajar berdiri tanpa kedua orang tuanya. Luka itu perlahan ia simpan di dalam hati dan berusaha menjalani kehidupannya seperti biasa.
Sampai akhirnya, ketika usianya menginjak dua puluh lima tahun, luka lama kembali terbuka. Neneknya meninggal karena sudah tua.
Vivienne kembali kehilangan sosok yang selama ini menjadi bagian penting dalam hidupnya. Di pemakaman, Vivienne berdiri dengan wajah pucat. Matanya menatap makam neneknya dengan tatapan kosong.
"Kalian jangan pergi juga," bisik Vivienne dengan suara bergetar. Tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan.
"Vivi ...!" panggil Estelle sambil segera memegang bahunya.
Vivienne menoleh dengan mata penuh air mata. Tangisnya akhirnya pecah.
"Aku belum siap! Aku belum siap kehilangan Nenek." Vivienne meraung.
Estelle memeluknya dengan erat. "Vivi ...!"
Tubuh Vivienne semakin lemas. Beberapa saat kemudian, ia tidak sadarkan diri. Tiga hari Vivienne terbaring tanpa membuka mata. Ketika akhirnya sadar, ia kembali harus menerima kabar buruk.
Tiga bulan kemudian, kakeknya pun meninggal. Kali ini, Vivienne seperti kehilangan seluruh kekuatannya. Ia tidak lagi menangis. Ia hanya duduk diam dan tatapannya kosong menatap ke depan.
Estelle dan keluarganya sendiri sedang berada dalam masa berduka karena kehilangan anggota keluarga mereka. Untuk sementara waktu, mereka juga harus menghadapi kesedihan masing-masing.
Dan saat itulah Vivienne merasa benar-benar sendirian. Hari-harinya menjadi suram. Ia sering linglung dan kurang fokus. Pekerjaan yang biasanya bisa ia lakukan dengan mudah mulai terasa berat. Ia sering duduk termenung tanpa menyadari waktu telah berlalu. Senyumnya semakin jarang terlihat. Semangatnya perlahan menghilang. Vivienne seperti hanya menjalani hari demi hari tanpa benar-benar menikmatinya.
Sampai suatu hari, seseorang datang ke dalam hidupnya, Dominic. Pertemuan itu perlahan mengubah kehidupan Vivienne. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia kembali merasakan semangat yang pernah hilang. Hidupnya yang terasa suram mulai kembali memiliki warna.
Dan tanpa Vivienne sadari, pria yang datang ketika dirinya sedang berada di titik paling rapuh itu kelak akan menjadi bagian terbesar dari kebahagiaan sekaligus luka yang paling dalam dalam hidupnya.
Ara pasti sangat menggemaskan pakai baju princess