Luka yang Hilang dalam Pelukan Sang Mafioso
Hujan tipis turun di atas taman-taman rapi kediaman Morgan Vanderbilt pada pagi musim gugur yang dingin itu. Jendela-jendela kaca raksasa memantulkan langit kelabu, sementara para pelayan melintas tanpa suara di koridor, sudah terbiasa dengan kemegahan dan aturan ketat rumah itu.
Namun bagi Lilith Miller, kediaman itu tidak pernah sekadar tempat mewah.
Itu rumahnya.
Lilith Miller (protagonis)
Lilith tumbuh di antara koridor-koridor luas, lampu gantung keemasan, dan taman-taman yang selalu sempurna. Tetapi meski ia mengenal setiap sudut properti itu, ia tahu persis di mana tempatnya.
Sayap para pegawai.
Ayahnya, Franklin Miller, adalah sopir keluarga Vanderbilt sekaligus orang yang paling dipercaya oleh Pak Christopher Morgan Vanderbilt.
Christopher Vanderbilt
Franklin pendiam, setia, dan luar biasa berdedikasi. Christopher memercayainya lebih daripada banyak eksekutif di perusahaan keluarga mereka sendiri.
Lilith selalu mengagumi ayahnya.
Pria itu adalah satu-satunya yang ia punya.
Ibunya, Ana Maria Souza, seorang wanita Brasil yang manis dan lembut, meninggal saat Lilith baru berusia satu tahun. Lilith tidak menyimpan kenangan tentangnya, hanya beberapa foto lama dan cerita-cerita yang Franklin kisahkan pada malam-malam paling berat.
Meski begitu, Lilith tidak tumbuh dikelilingi sikap dingin.
Camile Vanderbilt
Camile Vanderbilt, istri Christopher, selalu memperlakukan gadis kecil itu dengan kasih sayang. Christopher sendiri tidak pernah membedakan Lilith dari anak-anak kandungnya.
Liam Vanderbilt.
Michele Vanderbilt.
Michele Vanderbilt
Michele bahkan menjadi sahabat terbaiknya sejak kecil. Mereka tumbuh bersama, bersekolah di tempat yang sama, berbagi rahasia, tawa, dan mimpi.
Namun Liam...
Liam Vanderbilt
Liam selalu berbeda.
Sejak masih sangat muda, Lilith memendam perasaan rahasia kepada ahli waris keluarga Vanderbilt itu. Mungkin semuanya bermula ketika Liam membelanya dari beberapa anak laki-laki di sekolah. Atau mungkin saat Liam menghapus air matanya setelah ia jatuh dari sepeda di taman kediaman.
Lilith tidak pernah benar-benar tahu.
Ia hanya tahu bahwa ia mencintai Liam dalam diam.
Ia juga tahu cinta itu mustahil.
Liam tampan, populer, arogan secukupnya, dan pewaris imperium bernilai miliaran. Sementara Lilith hanyalah putri seorang sopir.
Meski begitu, kadang Liam membuatnya bingung.
Ada saat-saat ketika Liam seolah benar-benar melihatnya.
Tatapan yang bertahan terlalu lama.
Senyum yang samar.
Candaan yang menggoda.
Namun Lilith selalu menekan harapan apa pun sebelum harapan itu tumbuh terlalu besar. Lagi pula, hidup sudah mengajarinya terlalu cepat bahwa mimpi yang indah biasanya berakhir dengan luka.
Ia baru berusia empat belas tahun ketika kehilangan ayahnya.
Malam itu, Franklin pergi menjemput Christopher dari sebuah rapat di luar kota. Mobilnya tergelincir di jalanan basah. Kecelakaan itu merenggut nyawanya.
Lilith tidak akan pernah melupakan kehampaan dini hari itu.
Keheningan.
Perasaan bahwa ia benar-benar sendirian di dunia.
Ia menangis sampai tidak punya tenaga lagi.
Christopher Vanderbilt-lah yang memeluknya ketika ia runtuh.
"Kamu tidak sendirian, Nak," janji Christopher, memegang wajahnya dengan tegas. "Selama aku masih hidup, aku akan menjagamu."
Dan Christopher menepati janji itu.
Lilith tetap tinggal di kediaman itu. Ia belajar di sekolah-sekolah terbaik, mendapatkan kenyamanan, perlindungan, dan kesempatan yang tidak pernah ia bayangkan.
Namun meski keluarga Vanderbilt menyayanginya, Lilith tidak pernah melupakan siapa dirinya.
Atau di mana tempatnya.
Tahun-tahun berlalu.
Lilith tumbuh dewasa.
Gadis pemalu itu berubah menjadi perempuan muda yang memukau. Rambut cokelatnya jatuh bergelombang di punggung, matanya menyimpan intensitas langit menjelang badai, dan kelembutannya menyembunyikan kekuatan yang sunyi.
Ia berusia delapan belas tahun dan sedang menjalani tahun terakhir sekolah menengah ketika segalanya mulai berubah.
Terutama Liam.
Tiba-tiba, Liam mulai memandangnya dengan cara yang berbeda.
Sangat berbeda.
Pujian Liam menjadi lebih sering.
Sentuhannya bertahan lebih lama.
Godaan-godaannya terasa lebih berani.
Lilith berusaha bertahan.
Ia mencoba mengabaikan debar jantungnya setiap kali Liam mendekat.
Namun Liam tahu persis bagaimana meruntuhkan pertahanannya.
Liam membuatnya tertawa.
Membuatnya merasa istimewa.
Diinginkan.
Dicintai.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Lilith membiarkan dirinya percaya bahwa mungkin cinta yang mustahil itu tidak semustahil yang ia kira.
Lalu datanglah ciuman pertama.
Itu terjadi di perpustakaan kediaman, pada malam yang hening. Liam memegang wajahnya dengan lembut dan berkata bahwa ia lelah berpura-pura tidak merasakan apa-apa.
Lilith percaya.
Ya Tuhan...
Betapa ia percaya.
Lalu datang pesan-pesan rahasia.
Pertemuan-pertemuan sembunyi-sembunyi.
Pernyataan cinta yang palsu.
Sampai akhirnya, Lilith menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Liam.
Malam itu, Lilith merasa sedang hidup di dalam mimpi.
Liam penuh gairah.
Penuh kasih.
Hati-hati.
Dan Lilith tidak hanya menyerahkan tubuhnya, tetapi juga hatinya.
Seluruhnya.
Keesokan paginya, Lilith bangun dalam euforia.
Hatinya terasa ringan.
Ia berkali-kali tersenyum sendiri saat berjalan melewati kediaman itu.
Akhirnya Liam mencintainya.
Akhirnya perasaannya terbalas.
Atau begitulah yang ia pikirkan.
Sore itu, Lilith sedang belajar di perpustakaan ketika ia mendengar suara beberapa pria memasuki ruangan. Terkejut, ia bersembunyi di balik tumpukan kotak dekat rak-rak buku.
Lalu ia mendengar namanya sendiri.
Tubuhnya membeku.
Itu Liam.
Liam sedang tertawa bersama dua teman kuliahnya.
"Sudah kubilang, ini akan mudah," komentar Liam di sela tawa. "Gadis itu praktis memujaku sejak kecil."
Jantung Lilith mulai berdetak begitu keras sampai terasa sakit.
"Jadi kau berhasil?" tanya salah satu temannya.
"Tentu saja berhasil," jawab Liam dengan arogan. "Aku memenangkan taruhan."
Dunia Lilith runtuh.
Saat itu juga.
Lewat kata-kata itu.
Lilith merasa udara lenyap dari paru-parunya.
Namun ia terus mendengarkan.
Setiap kata kejam.
Setiap tawa.
Setiap detail menjijikkan tentang betapa mudahnya membawa Lilith ke ranjang.
Ketika percakapan mereka akhirnya selesai, Lilith keluar perlahan dari balik kotak-kotak itu.
Ketiganya terdiam.
Wajah Liam langsung pucat saat melihatnya.
"Lilith..."
Lilith tidak menangis.
Tidak berteriak.
Tidak memohon.
Ia hanya menatap langsung ke arah Liam.
Dan itu terasa lebih buruk daripada skandal apa pun.
"Bagus juga aku tahu bahwa bagimu aku tidak lebih dari taruhan," katanya dengan suara mantap, meski di dalam dirinya sesuatu sedang sekarat. "Semoga kau menikmati hadiahnya."
Liam mencoba mendekat.
"Lilith, tunggu..."
Lilith mengangkat tangan.
"Mulai hari ini, aku tidak mau kamu menatapku lagi. Tidak pernah."
Keheningan yang memenuhi perpustakaan itu menghancurkan.
Liam tampak syok.
Namun Lilith hanya berbalik dan pergi.
Ketika sampai di kamar, ia runtuh.
Ia menangis seperti belum pernah menangis sebelumnya.
Menangisi penghinaan itu.
Cinta yang dihancurkan.
Gadis naif yang pernah percaya pada janji-janji kosong.
Malam itu, di depan cermin, dengan mata merah dan hati hancur, Lilith mengucapkan janji sunyi kepada dirinya sendiri:
Ia tidak akan pernah lagi membiarkan siapa pun memperlakukannya seperti orang bodoh.
Hari-hari berikutnya terasa dingin.
Menyakitkan.
Lilith menepati janjinya.
Ia tidak pernah lagi memandang Liam.
Tidak pernah lagi menjawab setiap usaha Liam untuk bicara.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Liam-lah yang mulai menderita karena jarak itu.
Namun dua bulan kemudian, takdir memutuskan untuk menghancurkan sekali lagi sisa kedamaian yang masih dimiliki Lilith.
Lilith sedang menuruni tangga kediaman ketika vertigo hebat menyerang tubuhnya.
Segalanya berputar.
Ia kehilangan keseimbangan.
Lalu jatuh.
Ketika membuka mata lagi, ia sudah berada di kamar rumah sakit.
Bau obat yang tajam memenuhi hidungnya.
Christopher Vanderbilt duduk di sisi tempat tidur.
Agak jauh dari sana, Liam duduk dengan siku bertumpu pada lutut dan kepala tertunduk.
Udara di kamar itu berat.
Mengerikan.
"Apa yang terjadi?" tanya Lilith, bingung.
Christopher menarik napas dalam sebelum menjawab.
"Kamu hamil, Nak."
Lilith kehilangan reaksi.
Tidak.
Ini tidak mungkin terjadi.
"Tidak... pasti ada kesalahan..."
"Tidak ada kesalahan apa pun," jawab Christopher tegas.
Keheningan berubah menyesakkan.
Lalu Christopher menatap langsung ke arah Liam.
Ekspresinya mengeras.
"Dan anak tidak bertanggung jawab ini akan menikahimu."
Liam langsung berdiri.
"Ayah, aku..."
"Diam!" raung Christopher. "Kau sudah membuat cukup banyak kerusakan."
Kepala Lilith terasa berputar.
Hamil.
Ia hamil.
Dan ia mengandung anak dari pria yang menghancurkan hatinya.
Liam masih mencoba membantah, tetapi Christopher tidak memberinya pilihan.
"Kau menikah dengannya, atau aku akan mengambil semuanya darimu."
Lima belas hari kemudian, Lilith menjadi istri Liam Vanderbilt.
Tanpa cinta.
Tanpa kebahagiaan.
Tanpa mimpi.
Upacara itu hanya berlangsung di kantor catatan sipil, sederhana dan hening.
Pada malam yang sama, Lilith menyadari betapa besar kesalahan yang sedang ia jalani.
Liam meninggalkannya sendirian pada malam pengantin.
Dan terus meninggalkannya pada hari-hari berikutnya.
Minggu-minggu berikutnya.
Bulan-bulan berikutnya.
Pernikahan mereka berubah menjadi penjara sunyi.
Rumah yang dingin.
Hubungan yang kosong.
Lilith tahu persis di mana suaminya berada setiap malam.
Bersama Emma Stone.
Emma Stone (kekasih Liam)
Emma cantik, manipulatif, dan sepenuhnya tergila-gila pada status yang bisa Liam berikan. Liam bahkan tidak berusaha menyembunyikan hubungan itu.
Semua itu menghancurkan Lilith sedikit demi sedikit.
Namun ia bertahan.
Demi bayi itu.
Hanya demi bayi itu.
Lalu, beberapa bulan kemudian, Victoria lahir.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Lilith melihat emosi yang tulus di wajah Liam.
Liam menggendong putrinya seolah bayi itu adalah hal paling berharga di dunia.
Pada detik itu, Lilith percaya mungkin semuanya bisa berubah.
Mungkin Liam akhirnya akan dewasa.
Mungkin ia akan jatuh cinta pada keluarga yang telah mereka ciptakan.
Namun Lilith salah.
Sebab meski mencintai putrinya, Liam tetap bersama Emma.
Dan pada saat itu, Lilith benar-benar menyerah.
Menyerah menunggu cinta.
Menyerah menunggu perubahan.
Menyerah pada Liam.
Sejak saat itu, ia hidup hanya untuk putrinya.
Tanpa membayangkan bahwa takdir masih menyimpan rencana yang jauh lebih kejam untuk mereka berdua.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments