Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.
(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.
Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?
SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 NIAT DI BALIK MEMORI
Setelah cukup lama membiarkan dirinya larut dalam pelukan angin malam, kedamaian Zaki terpecahkan oleh sayup-sayup nada dering dari arah ruang tamu. Ia baru teringat, ponselnya sedari tadi sedang diisi daya di atas bufet di sana.
Zaki bergegas bangkit, melangkah masuk ke dalam rumah untuk menyambar benda pipih tersebut, lalu kembali ke teras. Ia menggeser ikon angkat telepon di layar, tepat saat tubuhnya kembali terhempas santai di atas kursi kayu.
"Assalamu'alaikum... Pakde," sapa Zaki.
Tertera nama 'Pakde Mardi' di layar panggilannya. Beliaulah kakak dari mendiang ibunya yang selama ini tinggal di Jakarta, sosok yang paling berjasa menopang hidup Zaki di kerasnya kehidupan ibu kota.
"Wa'alaikumsalam, Zaki... Maaf ya, Pakde baru sempat nelepon kamu," sahut suara santai Pakde Mardi dari seberang sambungan.
"Iya, Pakde. Nggak apa-apa kok, Zaki tahu pasti Pakde seharian ini sibuk kerja," jawab Zaki santai.
"Iya, nih... Gimana perjalananmu? Lancar?"
"Alhamdulillah, Pakde. Aman dan lancar jaya."
"Alhamdulillah kalau gitu, Zak. Rumah peninggalan Ibumu udah kamu bersihin semua? Kamu udah makan belum?" cerocos Pakde Mardi, rentetan pertanyaannya mengalirkan kehangatan seorang pengganti ayah.
"Udah bersih semua kok, Pakde... Aku juga barusan udah makan. Makan biskuit, hehehe," kekeh Zaki seraya kembali menyilangkan sebelah kakinya dengan santai.
"Hahahaha! Mana bisa kenyang perut bujangmu itu kalau cuma diisi biskuit, Zak? Memangnya kamu nggak masak?"
"Kalau masak makanan berat, belum Pakde...."
"Loh, kenapa? Kamu nggak belanja tadi sore?" tanya Pakde Mardi mulai terdengar heran.
"Belanja kok. Aku tadi sore nyempetin ke warung."
"Ya sudah, masak dong buat makan malam... Nanti malah masuk angin kamu kalau perut dibiarin kosong kena angin malam!" titah Pakdenya protektif.
"Hehehe... Iya, gampang, nanti aja ah, Pakde. Masih pegal banget badanku habis nyapu debu seisi rumah."
"Oooh, gitu. Ya sudah, istirahat dulu," balas Pakde Mardi maklum.
"Pakde sendiri gimana kerjaannya seminggu ini? Lancar?" Zaki berbalik melontarkan tanya.
"Ya begitulah, Zak... Kayak yang kamu tahu sendiri, hahahaha," keluh Pakde Mardi diiringi tawa renyahnya.
"Hahaha... Yang sabar ya, Pakde. Risiko kerja jadi tim tarikan leasing mobil kan emang gitu, tiap hari bikin capek hati! Hahaha..." ledek Zaki.
Pakde Mardi memang bekerja di lapangan sebagai tim "penagih" atau eksekutor penarikan mobil bagi para konsumen nakal yang menunggak cicilan. Pekerjaan kasar yang menuntut urat syaraf baja.
"Ya gitulah, Zak... Dibawa enjoy aja, yang penting kan kita tetap seger kewarasan... Hahahaha," balas Pakdenya lepas.
Beberapa menit ke depan, obrolan mengalir begitu santai dan hangat.
Zaki kembali menyesap teh celupnya yang mulai menghangat dan mengunyah sisa biskuit, betul-betul menikmati momen mengobrol jarak jauh ditemani syahdunya malam pedesaan.
Namun, tawa di seberang sana perlahan mereda. Nada suara Pakde Mardi mendadak berubah, frekuensinya turun menjadi lebih berat dan serius.
"Oh iya, Zak... Ada hal yang Pakde kelupaan mau omongin ke kamu sebelum kamu berangkat kemarin. Sekarang Pakde ngomong lewat telepon aja, ya. Nggak apa-apa, kan?" kata Pakde Mardi, temponya melambat.
"Iya Pakde, santai aja. Emangnya ada apa, Pakde?" sahut Zaki.
Firasatnya mulai meraba dan mengetahui ke mana arah pembicaraan Pakdenya itu akan bermuara.
"Sebelum kamu berangkat ke desa, kamu kan sempat bilang ke Pakde, kalau kamu ada niatan kuat buat ngejual rumah peninggalan orang tuamu itu. Nah, berhubung sekarang kamu udah ada di sana... Pakde mau tanya sekali lagi. Kamu beneran yakin mau ngelepas rumah itu, Zak?"
Pertanyaan itu meluncur telak, membuat Zaki seketika terdiam.
Ia menelan ludahnya yang terasa kasar karena kunyahan biskuit.
Tatapannya menerawang ke arah halaman, menimbang-nimbang kembali rencana yang awalnya terasa begitu matang saat ia masih berada di Jakarta.
Kenyataannya, Zaki memang pulang ke desa masa kecilnya ini dengan dua tujuan utama.
Pertama, untuk menuntaskan kerinduannya yang menggunung pada rumah masa kecilnya dan memori indah bersama almarhum orang tuanya.
Kedua... Zaki berencana untuk menjual properti tua ini secepatnya.
Bukan tanpa alasan. Secara logika, ia merasa tak akan sanggup merawat dan mengurus rumah yang jaraknya ratusan kilometer dari kehidupannya saat ini di ibu kota.
Seandainya saja Zaki memiliki saudara kandung, seorang kakak atau adik, pasti ia akan dengan senang hati menyerahkan rumah ini untuk ditempati dan dirawat.
Namun, ia hanya hidup sebatang kara. Meninggalkan rumah ini kosong bertahun-tahun lagi hanya akan membuatnya kian lapuk dan hancur dimakan usia.
"Zak? Zaki?"
Panggilan Pakde Mardi dari speaker ponsel menyentak Zaki dari lamunannya.
"Zak? Kok diam aja, sih? Pakde nanya loh ini," desak pria paruh baya itu.
"Eh, hehehe... Maaf, maaf, Pakde. Barusan Zaki ke belakang sebentar matiin tungku," kilah Zaki berbohong, berusaha menutupi kebingungannya.
"Oooh... Jadi gimana? Kamu belum jawab pertanyaan Pakde, Zak."
"Emmm... Kalau soal itu... Aku kok sekarang malah jadi agak ragu ya, Pakde?" aku Zaki pelan.
"Ragu kenapa? Padahal sebelum berangkat, kamu kayaknya udah bulat banget tekadnya mau jual rumah itu. Makanya sekarang Pakde pastiin lagi sama kamu, Zak."
"Nggak tahu nih, Pakde. Pas aku udah nginjak kaki lagi di sini... kok rasanya berat banget ya buat ngelepasnya? Hehehe," jawab Zaki, tawanya terdengar hambar menutupi gejolak hatinya.
Terdengar helaan napas panjang dari seberang telepon.
"Hmmm... Ya sudah. Pakde kan juga sebelumnya udah berkali-kali nyaranin ke kamu, rumah warisan kayak gitu nggak usah buru-buru dijual. Sayang memori orang tuamu. Lebih baik kamu minta tolong satu orang tetangga atau kerabat yang bisa kamu percaya di sana buat nempatin dan rawatin rumahnya. Kita nggak pernah tahu takdir, Zak. Siapa tahu suatu saat di masa depan, kamu malah butuh rumah itu buat tempat pulang."
Penuturan bijak dari Pakde Mardi itu bagai palu yang makin mempertebal dinding keraguan di hati Zaki.
Kepalanya berdenyut memikirkan dilema tersebut.
Tak ingin larut dalam perdebatan batin lebih jauh malam itu, Zaki pun tertawa pelan dan buru-buru mengalihkan pembicaraan ke topik lain yang lebih ringan.
Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.
Selamat Datang di Cirebon Yuli.
semangat yul💪💪
seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull
( duhh aku komen apa sihh) next aja ya