Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.
Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.
Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelisahan
“Mawar… sekeras apa pun mereka berusaha memisahkan kita, hatiku tetap hanya milikmu seorang, tak akan pernah berubah, tak akan pernah terbagi,” ujar Gala lembut, sambil mengusap perlahan rambut hitam panjang yang jatuh berantakan menutupi dahi gadis itu. Jemarinya bergerak dengan penuh kasih sayang, seolah sedang menyentuh benda paling berharga di dunia.
Mawar tersenyum bahagia, matanya berbinar cerah berkilauan memantulkan cahaya lampu yang redup, wajahnya berseri-seri penuh ketenangan. “Aku tahu, Gala… aku percaya padamu sepenuhnya. Terima kasih sudah bertahan, terima kasih sudah berjuang demi kita. Aku akan tetap bersamamu, apa pun risikonya, apa pun rintangannya, sampai kapan pun.”
Gala tersenyum balik, senyum yang tulus dan hangat, lalu ia menunduk perlahan dan mendaratkan ciuman lembut di kening Mawar. “Kamu adalah harta paling berharga, anugerah terindah yang pernah kumiliki. Meski aku tak kaya raya, aku berjanji akan menjagamu seumur hidupku, akan berusaha sekuat tenaga agar kamu selalu tersenyum setiap hari, dan aku berjanji tak akan pernah menyakitimu sedikit pun, tak akan pernah membuatmu menangis karena aku.”
“Aku tahu,” bisik Mawar pelan, lalu ia melingkarkan kedua tangannya erat di pinggang pria itu, menyandarkan wajahnya dengan tenang di dada bidang Gala, mendengarkan detak jantung yang berirama tenang dan kuat di sana.
“Kekayaan, kemewahan, dan kedudukan tak akan pernah bisa menggantikan ketenangan hati, yang hanya bisa aku dapatkan di dekatmu. Di sini saja aku sudah merasa memiliki segalanya.”
Gala kembali mengecup puncak kepala gadis itu, gerakannya lembut namun penuh rasa memiliki yang mendalam. “Kita akan segera menikah, Mawar. Dan setelah ikrar itu terucap, tak ada lagi yang bisa memisahkan kita."
Kalimat itu keluar bersamaan dengan tawa kecil yang hangat dan kemesraan yang terlihat begitu nyata, namun hal itu justru menusuk hati Bima seperti puluhan jaram tajam yang tertancap sekaligus. Di balik daun pintu kayu yang tertutup rapat itu, tangan Bima semakin terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Seluruh tubuhnya gemetar menahan amarah, rasa cemburu, dan kebencian yang berkobar hebat.
“Mereka tidak boleh bersama… tidak boleh! Mawar itu milikku, hanya milikku!” jerit suara batin Bima, bergema liar di kepalanya. Matanya menatap tajam ke dalam celah pintu, di mana Gala sedang menyeka lembut ujung mata Mawar yang berkaca-kaca karena haru.
Pemandangan itu bagaikan pisau tajam yang berputar terus-menerus di dalam dada Bima, mengiris dan merobek setiap inci perasaan gelap yang selama ini ia coba sembunyikan rapat-rapat dari semua orang, bahkan dari istrinya sendiri.
“Ini tidak bisa dibiarkan berlanjut, tidak boleh menikah. Aku harus mencegahnya, apa pun caranya,” gumam Bima lagi dalam hati, giginya bergemeretak menahan kemarahan. Ia tak sanggup lagi berdiri diam melihat kemesraan yang menurutnya adalah penghinaan besar, pengkhianatan, dan perampasan atas apa yang ia anggap sudah menjadi miliknya. Dengan napas yang memburu berat dan kacau, Bima berbalik badan dengan kasar, langkah kakinya terdengar berat saat menjauh, lalu ia menutup pintu dengan hentakan keras yang membuat dinding sedikit bergetar, menyisakan keheningan mendadak di balik pintu itu.
Langkah kaki Bima terasa berat seolah kakinya diikat batu besar, namun pikirannya berpacu jauh lebih cepat, berputar liar dan kacau. Di sepanjang lorong rumah yang megah dan panjang itu, ribuan skema jahat dan rencana licik berputar di kepalanya.
“Bagaimana cara memisahkan mereka? Apa aku harus menanamkan kebencian di hati Mawar agar ia membenci Gala? Atau mungkin, aku harus membuat Gala sendiri yang pergi meninggalkan Mawar dengan sukarela. Aku akan melakukan apa saja, asalkan Gala tak pernah lagi menjadi alasan senyum Mawar setiap hari.”
Langkah Bima terhenti seketika di ambang pintu kamar utama milik Jingga. Matanya kini tertuju pada sosok sang istri yang sedang duduk tenang di depan meja rias. Cahaya lembut dari lampu gantung di atas kepala memantul indah ke wajah Jingga yang tampak teduh, namun Bima sama sekali tidak melihat kelembutan itu. Matanya masih merah menyala, kabur oleh amarah dan rasa cemburu yang belum padam.
Jingga terlihat sedang sibuk mengusap sisa riasan di wajahnya dengan kapas berisi cairan pembersih, sesekali menghela napas pelan dan panjang, merenungkan segala kejadian yang bergejolak seharian ini. Ia sama sekali tidak menyadari kehadiran sang suami yang berdiri diam di sana, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Dengan tiba-tiba, Bima melangkah masuk ke dalam kamar. Bunyi langkah kakinya yang berat dan cepat menggetarkan lantai keramik, membuat Jingga tersentak kaget dan segera menoleh ke belakang. Wajah Bima tampak bengis dan tegang, rahangnya mengeras kuat, dan sorot matanya menyiratkan badai besar yang siap meledak kapan saja.
“Sayang,” suara Bima terdengar parau, namun penuh tekanan, seolah menahan amarah yang siap meluap ke mana saja, “kamu tidak seharusnya merestui hubungan Mawar dan pria miskin itu! Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya tersembunyi di balik senyum dan kata-kata manisnya!”
Jingga meletakkan kapas dan botol cairan pembersih perlahan di atas meja rias, lalu menatap sang suami lekat-lekat dengan kebingungan yang semakin mendalam.
“Tapi mereka berdua saling mencintai dengan tulus, Mas,” jawab Jingga dengan nada yang tetap tenang dan lembut, berusaha menenangkan suasana yang mendadak memanas.
“Walaupun Gala hanya pria sederhana dan belum punya apa-apa, dia pekerja keras, sopan, jujur, dan benar-benar tulus mencintai Mawar. Aku bisa melihat ketulusan itu dari matanya. Aku yakin Gala bisa membahagiakan adikku, bisa menjaganya dengan baik setelah mereka menikah nanti. Lagipula, kita juga sudah sepakat memberi mereka kesempatan, bukan?” Jingga berusaha menjelaskan dengan sabar.
“TIDAK BOLEH! MEREKA TIDAK BOLEH MENIKAH!”
Nada suara Bima meledak keras, bergema menggetarkan seluruh ruangan. Jingga terlonjak kaget hingga tubuhnya bergetar, tangannya terlepas begitu saja, dan kapas yang tadi dipegangnya jatuh berguling ke lantai tanpa disadarinya. Wajah Jingga kini pucat pasi, matanya terbelalak lebar menatap sang suami yang belum pernah sekalipun berteriak sekeras itu padanya selama mereka menikah.
“Maksud kamu apa, Mas?” Jingga perlahan mulai meninggikan nada bicaranya, suara itu bercampur antara rasa kaget, takut, dan mulai kesal.
“Kamu tidak punya hak untuk melarang hubungan mereka! Aku dan Ibu saja sudah sepakat memberikan restu, kamu kenapa malah menjadi penghalang keras di sini? Apa sebenarnya yang ada di pikiranmu?” Jingga menarik napas panjang, mencoba menata perasaannya yang mulai kacau, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih tegas dan berani.
“Sebenarnya ada apa denganmu, Mas? Kalau orang yang tidak mengenalmu dengan baik melihat sikapmu ini, mungkin mereka akan berpikir… kalau kamu cemburu. Cemburu melihat kedekatan Gala dan Mawar.”
Satu kalimat sederhana itu bagaikan petir menyambar tepat di siang bolong. Wajah Bima seketika berubah pucat pasi, seputih kain kertas, dadanya terasa sesak berat seolah tertindih batu raksasa, napasnya tertahan dan tiba-tiba ia mulai terbatuk-batuk hebat dan keras hingga bahunya berguncang kuat. Bima segera menunduk dalam, menutupi mulutnya dengan punggung tangan, berusaha sekuat tenaga menyembunyikan kepanikan yang melintas jelas di matanya.
“Apakah Jingga mulai curiga? Apakah dia sudah mengetahui rahasia yang selama ini aku sembunyikan? Bagaimana kalau dia tahu bahwa Mawar bukan sekadar adik ipar bagiku? Bahwa aku sudah lama menginginkannya? Hati Bima berteriak panik dan gelisah tak karuan.
Dengan susah payah dan berat, Bima berusaha menghentikan batuknya perlahan. Ia mengangkat wajah kembali, lalu mencoba menyunggingkan senyum, namun senyum itu terlihat kaku, dipaksakan, dan sama sekali tidak alami.
“Cemburu?” ulang Bima dengan nada tertawa yang terdengar aneh.
“Mana mungkin aku cemburu pada mereka berdua. Itu omong kosong, tidak masuk akal.” Bima menarik napas panjang, berusaha menstabilkan suaranya agar terdengar setenang mungkin, meski kedua tangannya masih gemetar.
“Aku hanya merasa… merasa Gala itu tidak pantas untuk Mawar. Mawar adalah adikmu, gadis yang berasal dari keluarga terhormat. Mawar berhak mendapatkan pria yang jauh lebih baik, lebih mapan, pria yang bisa menjamin masa depannya dengan layak, bukan pria miskin yang bahkan belum tentu bisa membelikan makanan yang layak untuk dirinya sendiri. Benar kan? Aku hanya ingin yang terbaik bagi Mawar, dan bagi nama baik kita semua,” Bima berusaha beralasan, berusaha menutupi jejak kegelisahannya.
Jingga terdiam sejenak, menatap pantulan wajah sang suami di cermin besar di depannya dengan tatapan yang masih menyisakan keraguan dan ketidakpercayaan yang mendalam. Perlahan ia menggeleng pelan, matanya menatap tajam ke arah Bima.
“Iya, mungkin kamu benar soal status sosial dan kemapanannya, Mas. Tapi kamu harus tahu satu hal, semakin kita melarang dan memisahkan mereka berdua dengan cara paksa, justru mereka akan semakin nekat, semakin bersikeras untuk tetap bersama, bahkan melakukan hal-hal yang berisiko. Lihat saja kejadian hari ini! Padahal Ibu sudah melarang keras Gala bertemu Mawar, bahkan mengunci pintu kamar, tapi dia nekat masuk ke kamar Mawar lewat jendela belakang di tengah malam. Entah apa yang akan mereka lakukan jika terus dihalangi seperti ini… Aku justru takut hal terburuk terjadi. Aku takut Mawar akan hamil sebelum mereka menikah, dan itu akan menjadi aib besar bagi keluarga kita."
Kata-kata terakhir Jingga, khususnya kalimat hamil sebelum menikah, seolah menghantam Bima dengan kekuatan yang berkali-kali lipat lebih besar dari sebelumnya. Mata pria itu membelalak lebar, napasnya tersendat di tenggorokan, dan batuknya kembali menyerang, kali ini jauh lebih parah, keras, dan lama hingga Bima harus memegang tepi meja rias dengan kuat agar tidak jatuh terjerembap ke lantai. Wajahnya berubah merah padam, lalu kembali pucat pasi, seolah baru saja mendengar berita kematian yang mengerikan.
Pikiran gelap yang melintas di kepalanya membuat Bima hampir gila.
Bersambung...