Indonesia
NovelToon NovelToon
Mari Bercerai, Mas!

Mari Bercerai, Mas!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:2.7M
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Mari bercerai, Mas!”

Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.

Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.

“Apa katamu?!”

Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”

Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.

Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.

Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.

Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 27

Wulan terbaring di atas ranjang dengan wajah yang dibuat sepucat mungkin. Kedua matanya terpejam erat, sementara bibirnya terus mengeluarkan rintihan kecil yang terdengar sangat menyedihkan.

Begitu pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok Harsa yang masuk dengan napas memburu panik, Wulan langsung membuka matanya. Ia menyentak tubuhnya sedikit ke atas, lalu dengan cepat merengek ketakutan sembari memeluk erat lengan kekar Harsa yang baru saja duduk di tepi ranjangnya.

“Mas Harsa, jangan tinggalkan aku, Mas! Aku takut sekali,” rengek Wulan dengan suara bergetar, menyembunyikan wajahnya di balik pundak tegap Harsa.

Harsa yang masih diliputi rasa panik akibat teriakan ibunya tadi langsung mengusap bahu Wulan, mencoba menenangkan.

“Tenang, Wulan. Tenanglah. Ada apa sebenarnya? Bagian mana yang sakit?”

Wulan mendongak, menatap Harsa dengan sepasang mata yang sudah berkaca-kaca.

“Tadi... tadi saat aku sedang mencoba memejamkan mata untuk menahan sakit di kakiku, aku seolah melihat ada bayangan hitam besar yang bergerak di balik tirai jendela itu, Mas. Aku takut sekali... Aku tidak mau malam ini ditinggal sendirian di kamar ini.”

“Bayangan?” Harsa mengernyitkan dahi, melirik ke arah jendela kamar yang tertutup rapat. “Mungkin itu hanya bayangan pohon di luar yang tertiup angin, Wulan. Kaki kamu bagaimana? Kata ibu tadi nambah bengkak dan badanmu panas?”

“Iya, Harsa! Lihat ini, kaki Wulan sampai merah begini!” timpal Ratna yang baru saja masuk membawa sebaskom air hangat dan kain kompres. Beliau meletakkan baskom itu di atas nakas dengan wajah gusar.

“Kamu ini bagaimana, sih? Sudah tahu adik iparmu sedang sakit dan ketakutan begini, jangan malah dibantah! Harusnya kamu temani dia di sini malam ini sampai dia tenang!”

Harsa terdiam sejenak. Ia melepaskan perlahan cengkeraman tangan Wulan dari lengannya, merasa ada sesuatu yang tidak benar.

“Tapi, Bu... tidak baik kalau aku menemani Wulan di dalam kamar ini semalaman. Bagaimanapun juga, aku ini kakak iparnya, dan ada Rania di lantai atas. Apa kata orang nanti?”

Mendengar penolakan halus dari Harsa, Wulan langsung menggigit bibir bawahnya, memasang wajah yang teramat malang seolah dirinya baru saja ditolak mentah-mentah.

“Maaf, Mas... maaf kalau ketakutanku ini malah membuatmu tidak nyaman. Aku tidak bermaksud membuat mbak Rania marah lagi. Kalau Mas Harsa keberatan, tidak apa-apa tinggalkan aku sendiri saja di sini. Biar... biar aku tahan rasa takut dan sakit ini sendiri.”

Ratna yang melihat menantu kesayangannya merajuk langsung mendelik tajam ke arah Harsa.

“Astaga, Harsa! Otak kamu itu sudah dicuci sama Rania ya, sampai-sampai rasa kemanusiaanmu hilang?! Wulan ini janda dari adik kandungmu sendiri! Dia ketakutan karena sakit, bukan mau macam-macam denganmu!”

“Bukan begitu, Bu. Aku hanya memikirkan batasan,” bela Harsa, mencoba mempertahankan sisa logika kepalanya yang mulai carut-marut.

“Tidak ada batasan-batasan untuk keluarga sendiri!” putus Ratna. “Gavin mumpung sudah tidur pulas, biar malam ini dia tidur di kamar Ibu saja. Jadi, kamu bisa bebas menemani Wulan di sini sampai dia benar-benar bisa tertidur tanpa ketakutan. Ibu tidak mau tahu, Harsa. Kamu sudah berjanji pada mendiang Bima untuk menjaga mereka, kan? Sekarang buktikan!”

Wulan yang mendengarkan pembelaan dari mertuanya diam-diam menyunggingkan senyuman kemenangan. Ia kembali merosotkan tubuhnya, memegang ujung kemeja Harsa dengan sisa-sisa binar air mata palsunya.

“Mas... tolong, temani aku sebentar saja. Sampai mataku benar-benar bisa terpejam. Kakiku juga masih sangat nyeri, Mas...”

Harsa, dengan segala kebodohan dan egonya yang malam ini sedang terluka parah oleh keputusan cerai Rania, akhirnya mengembuskan napas kalah. Ia merasa, jika ia kembali ke lantai atas, ia hanya akan menghadapi dinding dingin bernama Rania yang terus menuntut perpisahan.

Sementara di sini, di kamar tamu ini, ia setidaknya merasa sangat dibutuhkan sebagai seorang pelindung.

“Ya sudah. Aku akan duduk di kursi sebelah ranjangmu malam ini,” putus Harsa akhirnya, memilih untuk mempercayai kebohongan dan sandiwara manis yang disajikan oleh Wulan.

“Terima kasih banyak, Mas Harsa... kamu memang pria yang sangat baik,” ucap Wulan dengan manja, sedangkan di dalam hatinya ia bersorak riang karena berhasil menjauhkan Harsa sepenuhnya dari Rania malam ini.

*

*

Keesokan paginya, sebelum azan subuh berkumandang, Rania sudah terbangun dan menyelesaikan mandinya. Air dingin yang menyentuh kulitnya terasa menyegarkan tubuhnya yang kian melemah.

Di dalam kepalanya, pesan dari Jonathan kembali terngiang.

[Ran, kalau mau mulai terapi sebelum kemo, usahakan sering mandi subuh ya. Itu bagus untuk melancarkan sirkulasi darah dan meningkatkan imun tubuhmu]

Bagas pun sempat menyetujui saran itu melalui pesan singkat semalam.

Nyatanya, hingga fajar menyingsing, Harsa tak kunjung kembali ke kamar utama mereka. Rania tersenyum getir menatap sisi ranjang yang kosong. Ia tahu persis, suaminya telah menghabiskan malam di lantai bawah, menemani Wulan.

Namun, Rania sudah berada di titik mati rasa. Apa pun yang mereka lakukan, ia tak peduli lagi.

Rania berdandan rapi. Ia mengenakan terusan berpotongan elegan yang menyamarkan tubuh kurusnya, lalu memulas riasan tipis untuk menutupi wajah pucatnya. Saat ia melangkah turun ke lantai bawah, suasana rumah masih sangat sunyi. Belum ada satu pun orang yang terbangun.

Didorong rasa penasaran yang mendadak melintas, langkah kaki Rania terhenti di depan kamar tamu. Pintunya ternyata sedikit terbuka, menyisakan celah kecil. Rania mengintip ke dalam.

Di atas ranjang, Wulan tampak tertidur lelap dengan posisi miring, sementara kedua tangannya mendekap erat genggaman tangan Harsa. Harsa sendiri tertidur dalam posisi duduk di kursi sebelah ranjang, dengan kepala yang bersandar lelah di tepi kasur.

Tangan mereka bertautan begitu erat, seolah tak mau terpisahkan oleh apa pun.

Deg!

Sesak.

Dadanya terasa sangat sesak bagai dihantam batu besar. Rania mencengkeram dadanya yang mendadak ngilu. Semalaman penuh, Harsa rela menahan kantuk dan tidur dalam posisi tidak nyaman seperti itu demi menjaga Wulan. Sesuatu yang bahkan tidak pernah Harsa lakukan lagi untuknya selama setahun terakhir ini.

Rania mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga buku jarinya memutih. Air mata yang sempat menggenang langsung ia seka dengan kasar.

“Jika suatu saat nanti aku masih diizinkan untuk sembuh dan bertahan hidup... bolehkah aku membalas semua rasa sakit hatiku ini, Tuhan?” gumam Rania.

1
Dini
bener" ceritamu menguras emosi pembaca thor'semangat thor 👍 💪
Senja: Hehe makasih kk
total 1 replies
Dini
ini gambaran d dunia nyata pun pelakor lbh unggul 😄
Dini
bagus rania aku setuju👍👍 udah fisik sakit bathin jg sakit'mending lepas salah satu fokus buat ksehatan
Dini
baru baca udh ikut ngaheng ni otak'lanjut thor 👍🤣
Ika Yanti Unyil
seneng banget ketika rania bisa hidup dan bahagia bersama dokter jo.apalagi dikasih anak kembar sepasang.setelah mendapatkan perlakuan yg menyakitkan pada rumah tangga sebelumnya.awal2 membaca bener2 bikin nyesek.rania wanita kuat.
terus semangat berkarya thor ❤️🥰❤️🥰
hariyoo: mampir kk hehe ke chat story aku dong jadilah pembacaku kak /Frown/
total 1 replies
enungdedy
maaf..bukan nya dibab2 sbelumnya ktanya usaha harsa disokong sm keluarga rania krn papa rania melihat harsa punya potensi makanya keluarga rania mau membantu usaha harsa
koq skg critanya mlah beda
Lesmana
berkat elu , nenek tua 😤😤 emosi dah gw
Ernawati
aku bacanya jam 02:13 tgl 20 Agustus 3026
Wahyu Arfyanti
papa rania beraeti founder ya,kan pemilik,..klo ceo bukan pemilik.klo ga salah ya.🙏
oss
Kan udah pernah ketemu mamanya di toko perhiasan, masa si wulan lupa
Nur Aulia
peran utamanya terlalu lemah lembut
Senja: Sesuai tema kakak, yg bada ada KETIKA ISTRI PENDIAMKU BERUBAH BAR BAR
total 1 replies
Gembul Mbulz
gimana seh... Bagas kan eng dokter hebat kangker🤨😒🤨😒
Erna Fkpg
bagus Rania jangan jd sosok yg lemah jadilah sosok wanita yg kuat dan td mudah ditindas
Gembul Mbulz
wis.... meninggoy si Gavin.😕😕
Gembul Mbulz
sepertinya itu Wulan dan Gavin,yg secara gak mau hidup miskin. 🤣🤭
Rini Marwanti manurung
saya sh tim yg ngikutin apa kata author aja.. menikmati semua karya para author.. gk pake ekspektasi2an..😊
Senja: heheh makasih kk
total 1 replies
Dewa Nara
jangan lupa posis mereka difoto ya Rania
Dewa Nara
rasain tuh Wulan, kamu terlalu lancang dan berani
Dewa Nara
katanya Harsa peka, kalau Harsa memang peka, jauh2 hari harusnya sudah tau Rania sakit
Dewa Nara
semangat, Rania 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!