Indonesia
NovelToon NovelToon
Supir Ketos Nona Manja

Supir Ketos Nona Manja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.

Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.

Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.

Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Rahasia Lembaran Kuning dan Bayangan Masa Lalu

Selesai mengikrarkan sumpah penuh kesetiaan di hadapan Pak Frans Sanjaya, aku merapikan jas hitamku, menjepit map kuning berharga itu rapat-rapat di bawah lenganku, lalu melangkah keluar dari ruangan kerja privat yang megah itu. Tanggung jawab yang kini bertengger di pundakku terasa berkali-kali lipat lebih berat, namun di saat yang sama, darahku berdesir hangat dialiri tekad yang makin membara.

​Aku berjalan menyusuri koridor berkarpet tebal, melangkah masuk ke dalam lift khusus executive, hingga akhirnya menapakkan kaki kembali di area lobi utama gedung Sanjaya Group yang megah.

​Saat aku melintasi marmer mengilap menuju arah pintu keluar, mataku menangkap dua sosok yang teramat familiar sedang berjalan anggun dari arah pintu masuk menuju deretan lift privat. Itu adalah Nona Fania dan pengawalnya, Egi. Tante dari Clara itu tampak sangat memesona dengan setelan busana kerja yang elegan, sementara Egi berjalan tegap dua langkah di belakangnya dengan sikap sigap yang penuh kewaspadaan.

​Begitu jarak kami makin dekat, aku segera menghentikan langkah, menyilangkan tangan di depan tubuh, lalu menundukkan kepala dengan gestur tubuh penuh kesopanan.

​"Selamat pagi, Bu Fania!" sapaku penuh hormat dengan nada suara yang tenang dan halus.

​Nona Fania menghentikan langkahnya sejenak. Wajah cantiknya mengukir senyuman hangat yang teramat ramah. Ia menganggukkan kepalanya pelan tanpa menghentikan ritme jalannya.

"Selamat pagi, Arkan," balasnya lembut sebelum kembali melanjutkan langkah anggunnya menuju lift executive.

​Di saat yang sama, mataku dan mata Egi saling bertautan. Tanpa perlu banyak kata, kami saling melemparkan sapaan lewat sebuah anggukan kepala yang singkat namun sarat akan rasa saling menghormati antar sesama pengawal. Egi menyunggingkan senyum tipis yang penuh makna—sebuah isyarat menguatkan bahwa kami berdua kini mengemban tugas berat yang sama di bawah naungan keluarga Sanjaya.

​Setelah mereka menghilang di balik pintu lift, aku kembali mengayunkan langkah keluar dari kemewahan gedung Sanjaya Group menuju pelataran parkir. Map kuning tebal pemberian Pak Frans kupeluk erat. Informasi di dalamnya terlalu krusial untuk dibiarkan terlihat oleh sembarang orang.

​Begitu pintu mobil sedan hitam kubuka, aku melompat masuk ke kursi kemudi, lalu menyimpan map tebal itu dengan sangat hati-hati di dalam kompartemen tersembunyi di balik laci dasbor mobil yang terkunci rapi.

​Sebelum meluncur menuju sekolah Clara, aku mengarahkan kemudi terlebih dahulu ke sebuah minimarket Indomaret yang berada di seberang jalan. Suasana toko yang sejuk dan aroma khas roti bakar menyambutku saat melangkah masuk.

Aku mengambil beberapa bungkus makanan ringan—keripik kentang, roti isi cokelat—serta dua kaleng kopi dingin dari dalam lemari pendingin, lalu membayarnya di kasir.

​Dengan amunisi makanan ringan di samping kursi kemudi, aku kembali melajukan mobil sedan hitam membelah kelancaran lalu lintas kota menuju area SMA Tiara Nusa. Sebagai pengawal pribadi yang bertanggung jawab, aku harus tiba lebih awal untuk memantau situasi sekitar sebelum jam istirahat atau jam pulang sekolah tiba.

​Beberapa puluh menit kemudian, mobil yang kukemudikan meluncur mulus memasuki area parkir khusus luar yang berjarak tidak jauh dari gerbang utama sekolah. Pohon rindang di sudut parkiran menjadi tempat persembunyian yang pas untuk memantau pergerakan tanpa menarik perhatian banyak orang.

​Aku mematikan mesin mobil, menyalakan pendingin cadangan, lalu meraih kaleng kopi dingin dan meminumnya hingga separuh. Setelah itu, aku membuka dasbor, mengambil kembali map kuning berkerak itu, lalu membukanya lebar-lebar di atas lingkar kemudi.

​Sembari mengunyah keripik kentang dengan santai, mataku mulai meneliti lembar demi lembar riwayat hidup dua musuh bebuyutan Pak Frans.

​"Mari kita lihat..." gumamku pelan pada diri sendiri seraya membetulkan letak pencahayaan map.

"Alex Wijaya..."

​Profil pertama menampilkan foto pria berusia sekitar lima puluh tahunan dengan garis muka tegas, mata licik, dan rambut klimis yang sudah memutih di bagian pelipis. Alex Wijaya adalah konglomerat saingan utama Sanjaya Group di bidang properti dan energi.

​"Hmm... Jadi si Alex ini punya seorang putra bernama Jack Wijaya," gumamku seraya mengunyah keripik dengan kening bertaut. "Uianya masih seumuran sama Nona Clara... Dan saat ini statusnya masih berada di luar negeri untuk menempuh pendidikan."

​Aku mangut-mangut, mencerna informasi tersebut. Jack Wijaya berada di luar negeri, yang berarti untuk saat ini ancaman langsung dari anak Alex Wijaya relatif kecil, meski tidak menutup kemungkinan ia dikirim sewaktu-waktu sebagai mata-mata.

​Jemariku lalu membalik lembaran dokumen ke bagian profil kedua. Foto seorang pria berwajah dingin dengan bekas luka tipis di sudut alisnya terpampang jelas. Denzo Rajasa.

​"Nah... Sekarang bagaimana dengan Denzo Rajasa?" bisikku makin penasaran, menatap deretan teks yang menceritakan riwayat perselisihan kelam masa lalu.

​Dokumen itu menyebutkan bahwa Denzo Rajasa dulunya adalah rekan bisnis Pak Frans sebelum sebuah pengkhianatan dan tragedi besar memecahkan hubungan mereka menjadi dendam kesumat yang membara.

​"Dia juga sama... memiliki seorang putra," lanjut gumamku membatin seraya membaca baris demi baris cerita tragis keluarga Rajasa. "Tapi bedanya... putranya dikabarkan menghilang secara misterius sejak masih kecil saat konflik bisnis mereka memuncak belasan tahun yang lalu."

​Aku menghentikan kunyahan keripiknya sejenak. Jariku menelusuri kalimat bercetak miring di dalam berkas itu.

​"Dan gila... Si Denzo ini ternyata menyalahkan Pak Frans sebagai dalang utama di balik penculikan dan hilangnya putra kandungnya itu!" cetusku kaget. "Pantas saja dendamnya begitu mengakar sampai sekarang! Dia menganggap Pak Frans yang merenggut anaknya!"

​Aku menyandarkan punggungku ke kursi, meneguk kembali kopi kalengku hingga kandas, lalu melanjutkan membaca baris terakhir profil Denzo Rajasa.

​"Selain putra yang hilang itu... Denzo juga memiliki seorang putri kandung," lanjutku membaca dengan seksama. "Dan bedanya, putrinya yang satu ini saat ini sudah dewasa dan bekerja aktif bersama ayahnya di dalam lingkaran bisnis kelam Rajasa Group..."

​Aku menutup map kuning itu dengan suara hempasan pelan. Pandanganku menerawang menatap gerbang SMA Tiara Nusa yang berdiri kokoh di kejauhan.

​Peta konflik ini makin jelas dan makin rumit dari yang kubayangkan. Di satu sisi ada Alex Wijaya dengan kekuatan finansialnya yang licik, dan di sisi lain ada Denzo Rajasa yang didorong oleh dendam kesumat atas kehilangan anak laki-lakinya. Dan di tengah-tengah lingkaran api pertikaian orang-orang dewasa yang berbahaya ini, ada sosok Clara Adelin—gadis polos, manja, dan kekanak-kanakan yang menjadi target empuk untuk dijadikan alat pembalasan dendam.

​Aku mengunci kembali map kuning itu rapat-rapat di dalam dasbor mobil, lalu merapikan jas hitamku di depan cermin.

​"Ternyata bahaya yang mengintai Nona Clara jauh lebih nyata dari sekadar gertakan," bisikku pada diri sendiri dengan senyuman dingin yang mengukir di bibir. "Tapi tenang saja, Pak Frans... Mau itu anak Alex Wijaya, putri Denzo Rajasa, atau seluruh pasukannya sekalipun... mereka harus melangkahi mayat Arkan Jaya dulu sebelum bisa menyentuh Nona Muda."

​Aku menyalakan mesin mobil, bersiap menantikan lonceng jam pulang sekolah berbunyi, siap menyambut sang nona muda dengan kewaspadaan penuh yang kini berlipat ganda.

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭🤭
Markario Putra: malas nih,kok cerita aku nggak ada yang mau baca sih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!