Indonesia
NovelToon NovelToon
3 NASIB YANG SAMA

3 NASIB YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Balas Dendam
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Kal Ipah

tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri




#bl
#bxb

yang gak suka gak usah baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27.

Sepanjang jalan menuju mobil, Brian terus memukuli punggung kekar Caesar dengan frustrasi. Namun, bagi Caesar, pukulan itu tidak lebih dari sekadar tepukan manja. Begitu sampai di depan mobil hitamnya, Caesar membuka pintu penumpang dengan satu tangan bebas, lalu mendudukkan Brian di kursi dengan paksa namun tetap hati-hati.

Klik. Caesar dengan cepat memasangkan sabuk pengaman sebelum Brian sempat kabur.

"Woi! Motor gue gimana, kampret?!" teriak Brian dari dalam mobil, wajahnya sudah memerah antara kesal dan malu ditonton beberapa satpam di area kompleks.

Caesar menutup pintu, berjalan memutari mobil dengan santai, lalu masuk ke kursi kemudi. "Nanti saya suruh orang rumah mengantarkannya ke rumah kamu. Atau ke kafemu."

Mobil mewah itu mulai melaju membelah jalanan pagi. Brian melipat kedua tangannya di depan dada, memalingkan wajah ke arah jendela dengan cemberut. Suasana di dalam mobil mendadak hening, hanya terdengar suara mesin yang halus dan deru AC.

"Gak usah pasang muka begitu. Kamu terlihat seperti bebek," ucap Caesar memecah keheningan tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.

"Bebek pala lo peyang! Lagian lo ngapain sih ikut-ikut gue? Kurang kerjaan banget tahu gak! Gue bisa pulang sendiri," cerocos Brian berapi-api.

Caesar menghentikan mobilnya di lampu merah. Dia menoleh, menatap lekat ke arah Brian yang masih mengomel. Tatapan matanya yang tajam dan dingin perlahan melunak. "Saya hanya ingin memastikan calon pacar saya sampai dengan selamat."

"Uhuk—!" Brian tersedak air liurnya sendiri. Dia menatap Caesar dengan mata melotot, horor sekaligus syok. "C-calon apa?! Heh, tiang! Kan tadi gue udah bilang di meja makan, gue itu masih lurus! Gue suka cewek! Lo denger gak sih?!"

Caesar tidak menjawab. Dia hanya mengulurkan tangan kanan, lalu dengan santai mengacak-acak rambut Brian sebelum kembali memegang setir karena lampu sudah berubah hijau. "Saya tidak peduli. Selera kamu bisa berubah setelah bersama saya."

"Gak akan pernah, jurig!" Brian menggosok-gosok kepalanya yang habis diusap Caesar dengan wajah memerah sampai ke telinga. 'Sialan, kenapa jantung gue malah jadi ikutan berisik begini sih?' rutuk Brian dalam hati, merutuki detak jantungnya sendiri yang mendadak tidak ramah lingkungan.

Sekitar lima belas menit kemudian, mobil Caesar berhenti tepat di depan sebuah kafe bernuansa estetik dengan papan nama bertuliskan 'Tian's Cafe'.

Baru saja mobil berhenti sempurna, Brian langsung melepas sabuk pengamannya dengan terburu-buru. "Makasih tebengannya, dan jangan pernah jemput gue lagi!"

Namun, sebelum tangan Brian sempat menyentuh gagang pintu, terdengar suara klik—Caesar mengunci pintu mobil secara otomatis dari kendali kemudi.

"Apalagi sih, Caesar?!" Brian menoleh dengan sisa kesabarannya yang sudah setipis tisu dibagi dua.

Caesar mendekatkan wajahnya, membuat Brian refleks memundurkan kepalanya hingga menempel ke sandaran kursi. Caesar mengulurkan tangan, bukan untuk menerkam Brian, melainkan untuk merapikan kerah baju Brian yang agak berantakan akibat insiden "karung beras" tadi.

"Pulang jam berapa?" tanya Caesar pelan, suaranya terdengar sangat rendah dan berat di dekat wajah Brian.

"J-jam empat sore," jawab Brian tanpa sadar, terhipnotis sesaat oleh ketampanan pria di depannya. Begitu tersadar, dia langsung menggelengkan kepala. "Eh, ngapain gue kasih tahu lo?! Kepo banget!"

Caesar memberikan senyum miring tipis—jenis senyuman yang selalu berhasil membuat Brian merinding sekaligus kesal setengah mati. Pintu mobil akhirnya tidak lagi terkunci.

"Saya jemput jam empat," ucap Caesar final.

"Gak usah! Gue bisa pulang bareng Kak Tian!" ketus Brian sambil cepat-cepat keluar dari mobil dan membanting pintunya dengan sedikit emosi.

Dari dalam mobil, Caesar hanya menatap punggung tegap Brian yang berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam kafe sambil mengomel sendiri. Caesar terkekeh pelan. "Menggemaskan."

Sementara itu, di dalam kafe, Tian—pemilik kafe sekaligus bos Brian—langsung menyambut Brian dengan senyuman menggoda. Tian sudah berdiri di dekat meja kasir sambil memperhatikan mobil mewah yang baru saja menurunkan karyawannya itu.

"Ciyee... diantar siapa tuh, Bri? Mewah banget mobilnya. Pacar baru ya?" goda Tian sambil menaik-turunkan alisnya.

Brian yang masih emosi langsung memakai celemek kerjanya dengan kasar. "Pacar matamu, Kak! Itu tadi setan kabupaten, nyebelin banget! Bikin darah tinggi pagi-pagi!"

Tian hanya tertawa terbahak-bahak melihat brian yang berotot kekar tapi bertingkah seperti remaja yang sedang salah tingkah. Namun, baru saja Brian mau mulai bekerja di mesin kopi, ponsel di saku celananya bergetar.

Ada satu pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

[Unknown Number]

Semangat kerjanya, Brian. Jangan terlalu merindukan saya. Ingat, jam 4 saya sudah di depan kafemu.

Brian melempar ponselnya ke atas meja dapur kafe dengan wajah yang kini benar-benar matang seperti kepiting rebus. "CAESAR SIALAAAAAN! DAPET NOMOR GUE DARI MANA LAGI TUH ANAK?!"

" HAHAHA HAHAHAHA,cieee cieee ayang sms tuh ya "tawa revangga

 "Pastinya dari yayang bebeb tiang kabupaten, wkwkwk!" sahut Elvian memanas-manasi.

"DIAM LO PADA! GUE BUANG KE LAUT KALIAN BERDUA BIAR DIMAKAN HIU, BARU TAU RASA!" teriak Brian kesal.

Para pengunjung kafe yang mendengar teriakan membahana Brian langsung menoleh serempak ke arah mereka bertiga. Suasana kafe mendadak hening sesaat.

"Silakan dilanjutkan minumnya ya, Bapak, Ibu," ucap Tian dengan senyum sopan seraya menundukkan kepala kepada para pelanggan.

Setelah memastikan para pengunjung kembali tenang, Tian langsung memelototi asistennya itu. "Brian, kenapa berteriak? Lihat, pelanggan jadi terganggu dengar teriakan kamu!"

"Mereka berdua ini, Kak, yang bikin gue kesal!" gerutu Brian dengan wajah merengut.

"Kalian apakan si Brian?" tanya Tian beralih menatap Elvian dan seorang rekan kerja lainnya.

"Kami cuma bercanda doang, Kak. Dasarnya Brian aja tuh yang lagi PMS," celetuk Elvian sambil terkekeh.

"Gue cowok ya, Suketi!" semprot Brian.

"Suketi? Emang gue setan! Dasar pacar Caesar!" balas Elvian tidak mau kalah.

"Gue lama-lama sumpal juga tuh mulut pakai cabai rawit biar dower! Heran gue, hobi banget nyari ribut," ketus Brian yang tingkat kekesalannya sudah di ubun-ubun.

"Sudah, sudah. Jangan menjahili Brian lagi, nanti dia malah ngamuk betulan. Ayo, kembali ke tempat masing-masing," penengah Tian dengan tegas. Mereka akhirnya bubar dan mulai fokus bekerja.

Sementara itu, di tempat lain...

Suasana di dalam mansion Helena tampak sangat kacau balau. Barang-barang berhamburan di lantai, hiasan dinding copot, dan pecahan kaca serta keramik berserakan di mana-mana.

Helena sedang mengamuk sejadi-jadinya. Perusahaan yang dia bangun susah payah dari nol mendadak bangkrut total. Secara misterius, beberapa kolega besar yang selama ini bekerja sama dengannya membatalkan kontrak sepihak tanpa alasan yang jelas.

"Arghhhhh! Sialan mereka semua! Gara-gara mereka perusahaan saya bangkrut!" teriak Helena histeris layaknya orang kesetanan.

Bruk!

Brak!

Prang! Pyar!

Para pelayan dan penjaga mansion hanya bisa terdiam kaku di sudut ruangan. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani mendekat atau menenangkan Helena yang sedang murka. Mereka hanya menonton dalam kecemasan sambil mendengarkan bunyi barang-barang mahal yang hancur berkeping-keping.

"Kalau Nyonya Helena bangkrut, gimana dengan nasib kita?" bisik salah satu pelayan dengan wajah pucat.

"Iya, nasib kita gimana sekarang? Gaji bulan ini aman gak ya?" sahut pelayan yang lebih muda dengan suara bergetar.

"Kalau memang beneran bangkrut, kita pergi aja cari pekerjaan baru. Lagian kalau kita bertahan di sini, siapa yang mau menggaji kita?" timpal pelayan tertua di sana.

Para pelayan dan penjaga itu mulai berbisik-bisik, sibuk mengkhawatirkan kelanjutan nasib pekerjaan mereka yang tampaknya akan segera lenyap

1
fakhri
Lanjutkan, semangat berkarya 😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!